Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia: madrasah
Headlines News :

Latest Post

Showing posts with label madrasah. Show all posts
Showing posts with label madrasah. Show all posts

KSM Ditutup dengan Acara Bakar Menag dan 6 Pesan Penutup

Friday, August 29, 2014 | 7:54 PM



Khalifahlife.com - Kompetisi Sains Madrasah (KSM) tingkat nasional yang diselenggarakan sejak 25 Agustus lalu resmi di tutup pada hari Kamis malam (28/8) di Clarion Hotel, Makassar oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.  KSM kali ini adalah yang ke-3 kali digelar oleh Direktorat Pendidikan Madrasah, Ditjend Pendis.  

Dalam acara penutupan tersebut, Menteri Agama Lukman Hakim Saiguddin tampak “pasrah” digiring ke depan panggung, kemudian Dengan tangan terentang ke samping, Menag dikelilingi dua gadis penari berpakaian adat khas Makassar. Dua gadis tersebut membawa obor dengan api yang menyala-nyala. Api tersebut lantas didekatkan kepada seluruh tubuh Menag selama beberapa menit.

Wajah Menag tampak sedikit tegang, sementara para hadirin tertawa, ngeri, dan ada yang bertepuk tangan. Dengan sedikit tersenyum, Menag tampak pasrah coba dibakar para penari. Beruntung, sama sekali api tak membakar secuil pun pakaiannya. Aksi “bakar-membakar” pun usai, Menag kembali duduk disambut tepuk tangan ribuan hadirin.

Aksi coba “bakar” Menag bukanlah tanpa alasan. Itu merupakan rangkaian dari tarian khas Makassar, tepatnya dari Kesultanan Gowa-Tallo’. Nama tarian tersebut Pepe-Pepeka ri Makka. Kesenian ini berasal dari desa yang terletak di tengah-tengah Kota Makassar bernama Paropo.

Nuansa Islami begitu terasa sepanjang pertunjukan kesenian Kesenian Pepe-Pepeka ri Makka. Hal ini tampak dari mantera-mantera yang di ucapkan oleh para pemainnya. Di antara mantra tersebut, misalnya berbunyi: “Pepe-pepeka ri makka lenterayya ri Madina Ya Allah Paroba Sai Na Takakbere dunia.”

Dalam sejarahnya, Makka, merupakan kesenian tradisional yang terinspirasi dari kisah Nabi Ibrahim Alaihi Salam yang dibakar oleh raja Namrud. Namun atas kuasa Allah Swt, api yang membakar tubuh Nabi Ibrahim menjadi dingin sehingga sang nabi tak terbakar. Tarian ini muncul seiring dijadikannya Islam sebagai agama resmi Kerajaan Gowa-Tallo pada 1605 – 1607 Masehi.

Dalam kesempatan tersebut, Menag juga menyampaikan beberapa pesan dan harapan. Pertama, Menag mengajak seluruh stakeholder madrasah untuk memacu peningkatan mutu madrasah secara berkesinambungan.Kedua, Menag berharap KSM mampu menjadi salah satu barometer keberhasilan dalam peningkatan mutu akademik.

Ketiga, KSM harus berdampak pada upaya perbaikan dan peningkatan pembelajaran sains, SDM guru dan optimalisasi sarana prasarana pendukung pembelajaran sains, serta tradisi dan kultur bagi berkembangnya calon-calon saintis.

Keempat, Menag meminta Madrasah mampu berperan aktif sebagai benteng bagi masuknya paham dan gerakan radikalisme Islam yang mengancam kedaulatan NKRI. Kelima, kepada para siswa, Menag mengingatkan untuk memanfaatkan waktu untuk membaca, mengaji dan mengkaji berbagai ilmu dan pengetahuan.

“Kembangkan dan matangkan intelektualitasmu,” tegas Menag.

“Terakhir, saya sebagai Menag, meminta Direktur Pendidikan Madrasah untuk melakukan kajian serius, kemungkinan menyelenggarakan kompetisi sains madrasah di ajang yang lebih luas, regional maupun nasional. Minimal, di kalangan negara-negara muslim yang mengelola madrasah,” papar Menag.

KSM di Makassar merupakan gelaran yang ketiga KSM, setelah sebelumnya dilaksanakan di Bandung pada 2012 dan di Malang pada 2013. Tahun depan, KSM akan diselenggarakan di Palembang, Provinsi Sumatera Selatan. KSM Makassar 2014 yang mengangkat slogan, “Lebih Baik Madrasah, Madrasah Lebih Baik” ini, memperebutkan 198 medali dari 11 mata lomba, dari MI, MTs hingga MA. Setiap mata lomba disediakan 3 medali emas, 6 perak dan 9 perunggu.

Sebagai penghargaan, para siswa juara, berhak mendapatkan hadiah berupa piagam, medali dan dana pembinaan, masing-masing Rp 15 juta untuk peraih medali emas, Rp 10 juta untuk perak dan peraih perunggu mendapatkan dana pembinaan sebesar Rp 8 juta.

Selain itu, ada penghargaan tambahan dalam katagori the best overall, the best theory dan the best experiment. Masing-masing pemenang katagori mendapatkan dana pembinaan sebesar Rp 17 juta. Terakhir, ada hadiah hiburan sebesar Rp 500 ribu dan sertifikat bagi para peserta yang tidak mendapatkan medali. [wn/kemenag]

Perbedaan Madrasah dan Islamic School

Wednesday, August 27, 2014 | 2:36 PM



Khalifahlife.com – Pendidikan adalah hal yang sangat penting, bahkan setiap lima tahun sekali kita akan mendengar pendidikan menjadi salah satu program jualan bagi para calon petinggi di negeri ini. Para orang tua selalu berusaha untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi putra putrinya dengan memasukkan mereka ke sekolah-sekolah pilihan atau sekolah favorit yang terkenal dengan kualitasnya atau kurikulum sekolah dan tenaga pengajarnya.

Tahun 2000-an mulai dikenal istilah Islamic school dan Sekolah Dasar Islam (SDI) atau SMPIT dan SMAIT yaitu sekolah dengan basis pendidikan pada ajaran dan pengetahuan Islam dengan konsep full day school. Jauh sebelum adanya istilah-istilah tersebut, madrasah telah hadir sebagai sekolah dengan basis pendidikan Agama Islam. Namun, madrasah dinilai hanya menitikberatkan pada pendidikan agama dan kurang dalam pengetahuan umum. Hal inilah yang kemudian mendorong munculnya Sekolah-sekolah Islam swasta dengan beragam keunggulan.
Kurikulum yang dikembangkan di Madrasah sebagian besar adalah kurikulim murni Kementrian agama. Ada madrasah yang menambahkannya dengan kurikulum yayasan sebagai suplemen dan ciri khusus madrasah yang bersangkutan, misalnya seperti materi baca tulis Al Quran (BTQ), keterampilan batik dan Nahwu Sharuf. Hal ini sifatnya selain untuk menambah kualitas unggulan lulusan, juga sebagai sarana pewarisan ideologi pergerakan bagi para kader. Penambahan kurikulum ciri khusus ini merupakan hal yang wajar bagi lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan yayasan tertentu.
Berbeda dengan Islamic School yang memiliki konsep full day school. Kurikulum di sekolah-sekolah tersebut pada umumnya berlandaskan kepada kurikulum nasional yang diperkaya dengan pendekatan dan isi yang sesuai dengan pijakan filosofis, visi dan tujuan pendidikan Islam. Tambahan muatan pada pelajaran Agama Islam, pelajaran membaca dan menghafal Al Quran, serta mempertajam kurikulum kepanduan dalam rangka pembentukan karakter.
Sementara pada kurikulum SDI yang juga berkarakter full day school bersifat lebih dinamis dengan dikemas sedemikian rupa sebagai bentuk riil mensikapi dinamika sosial dan untuk menarik anak didik. Pengembangan  kurikulum bervariasi sesuai dengan karakter lokal dan ciri khusus yayasan penyelenggaranya. Kurikulum tambahan ini pula yang kadang menjadi daya tarik dari sekolah tersebut, seperti misalnya kurikulum tahfidz Quran, pendidikan dengan basis tauhid, entrepreneurship dan lain-lain.
Di SDI dan Islamic school, implementasi kurikulum juga diwujudkan dalam bentuk kegiatan terprogram yang dilaksanakan secara rutin oleh sekolah, misalnya dengan kegiatan super camp, out bond, field trip, parenting day, market day, mabit, pesantren ramadhan dan lain sebagainya.
Dari sisi tenaga pengajar, guru-guru madrasah adalah PNS dan juga guru honorer. Sedangkan untuk SDI dan Islamic  school guru-gurunya merupakan pegawai swasta yang dipilih melalui rekrutmen yang cukup ketat terlebih untuk sekolah-sekolah yang telah memiliki nama. Dari segi usia pun, rata-rata guru-guru di SDI adalah tenaga pengajar yang masih muda dan mempunyai semangat kerja serta semangat juang yang tinggi.
Jumlah murid di madrasah dan SDI sangat berbeda. Di Madrasah tidak jauh berbeda dengan sekolah umumnya yang di tiap kelas rata-rata berjumlah 30-38 murid dengan satu guru, sedangkan di SDI dan Islamic school rata-rata per kelas hanya dibatasi  mulai 10-20 murid dengan 2 guru.
Dari segi fasilitas sekolah, madrasah umumnya hanya memiliki fasilitas standar sekolah umumnya dengan ruang kelas dan ruang guru. Sementara itu di SDI dan Islamic full day school  rata-rata telah dilengkapi dengan fasilitas penunjang seperti lab computer, perpustakaan, lapangan olah raga bahkan mushola atau mesjid. Namun, di kota-kota besar ada pula madrasah modern yang telah memiliki fasilitas cukup lengkap seperti SDI.
Semua fasilitas dan kurikulum yang ada di sekolah tentunya akan berbanding lurus dengan biaya pendidikan. Madrasah adalah suatu bentuk sekolah dari pemerintah sama seperti sekolah negeri yang disediakan pemerintah dan tentunya pemerintah pun akan terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas kurikulum dan tenaga pengajar untuk menghasilkan sumber daya yang lebih baik. Dan bagi orang tua yang tidak puas dengan model pendidikan madrasah yang dirasa kurang cukup untuk menambah karakter pendidikan Islam bagi putra-putrinya dapat mencari SDI atau Islamic School yang sesuai. [wn/berbagai sumber]

KSM Ajang Kreativitas Bagi Siswa Madrasah

Tuesday, August 26, 2014 | 9:19 AM

Khalifahlife.com - Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam menggelar Kompetisi Sains Madrasah (KSM) dan Expo Madrasah ketiga di Makasar.

Peserta KSM Tingkat Nasional adalah juara I perwakilan tiap provinsi per mata pelajaran yang dilombakan. Untuk sampai ke Tingkat Nasional, siswa madrasah itu harus lolos dari Kompetisi Tingkat Madrasah, Kompetisi Tingkat Kabupaten/Kota, dan Kompetisi Tingkat Provinsi.

Mata pelajaran yang dilombakan dalam KSM, yakni tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) meliputi Matematika dan IPA; tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) meliputi Matematika, Biologi, dan Fisika; serta tingkat Madrasah Aliyah (MA) terdiri atas Matematika, Biologi, Fisika, Kimia, Ekonomi, dan Geografi.

Pelaksana Tugas Dirjen Pendis  sekaligus Sekjen Kemenag Nur Syam mengatakan bahwa Kompetisi Sains Madrasah (KSM) merupakan ajang kreativitas siswa-siswa madrasah dalam bidang sains dengan menjunjung tinggi kreativitas dalam memahami sains. 

“Ajang kompetisi ini  diharapkan dapat memotivasi siswa madrasah agar dapat selalu meningkatkan ilmu spritualnya, serta dapat memberikan kesempatan yang sama bagi setiap siswa dalam belajar, berkreativitas, dan berprestasi,” terang Nur Syam saat memberikan sambutan dalam pembukaan KSM di Makassar, Senin (25/08).
Menurutnya, KSM merupakan upaya Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Madrasah untuk meningkatkan pendidikan sains di Madrasah dan sebagai ajang kreativitas sains bagi siswa dan siswi madrasah. Nur Syam menambahkan, diselenggarakannya KSM juga untuk memberikan wahana bagi pengembangan bakat dan minat siswa-siswi madrasah, sehingga  mereka bisa lebih mencintai sains.
Lebih lanjut, Nur Syam menjelaskan, KSM juga untuk memberikan kesempatan yang bagi madrasah dalam berkreativitas.  “Kami berharap dengan adanya KSM dan yang menjadi agenda tahunan itu, madrasah tidak hanya mengenal hal-hal yang bersentuhan dengan agama, tetapi juga ilmuwan. Semoga kedepan madrasah juga menjadi lumbung atlet nasional yang berprestasi di kancah nasional maupun internasional,” harapnya.
“Tentu semua ini diharapkan berujung pada pebaikan kualitas pendidikan Madrasah, khsususnya yang berkaitan dengan sains,” tambahnya. 
Acara pembukaan kali ini dihadiri perwakilan peserta masing-maisng 11 orang dari 33 Provinsi di seluruh Indonesia yang akan berkompetisi sesuai cabang mata pelajaran yang dilombakan. Tampak hadir juga sebanyak sekitar 2.500 orang, termasuk penggembiran.
KSM Tingkat Nasional ketiga di Makasar ini akan diikuti sekitar 363 siswa dan siswi madrasah tingkat MI, Mts, dan MA.

Peserta itu akan merebutkan 198 medali untuk 11 lomba mata pelajaran. Setiap lomba disediakan tiga medali emas, enam medali perak, dan sembilan medali perunggu.

Selain medali, panitia juga memberikan hadiah uang untuk pemenang medali emas sebesar Rp15 juta, perak Rp10 juta, dan perunggu Rp8 juta.

KSM untuk pertama kalinya digelar di Kota Bandung tahun 2012 sementara yang kedua diselenggarakan di Malang Jawa Timur, sedangkan yang ketiga diadakan di Kota Makasar Sulawesi Selatan pada 25-29 Agustus 2014. [wn/antara/kemenag]

Kompetisi Sains Madrasah Dibuka Wamenag di Makasar

Khalifahlife.com — Kompetisi Sains Madrasah (KSM) yang diikuti oleh 363 siswa dari berbagai daerah secara resmi dibuka oleh Wamenag Nasaruddin Umar. Wamenag menjelaskan bahwa dalam sejarah, Rasulullah juga dikenal sebagai seorang seniman di samping sebagai seorang saintist. 
“Seniman itu sejajar dengan tokoh,” hal ini disampaikan Wamenag saat memberikan sambutan pada pembukaan KSM di Hotel Clarion, Makassar, Senin 25 agustus kemarin.

Pada sambutannya, Wamenag menjelaskan acara KSM ini dilaksanakan di Makassar, bukan karena wakil menteri agamanya dari Makassar, bukan pula karena sektretaris Ditjennya dari Makassar. Tampak hadir dalam acara teresbut, Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang, Direktur Pendidikan Madrasah M. Nur Kholis Setiawan, staf ahli Menag, pejabat esslon I dan II Kemenag, Rektor ITB, para Kepala Kankemenag se Sulsel, serta ribuan siswa madrasah binaan Kemenag Provinsi Sulsel.
KSM yang mengusung tema “Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah”, menurut Wamenag mengandung arti bahwa madrasah sesungguhnya tidak sama dengan sekolah. Sekolah merupakan tempat mencari ilmu pengetahuan dari seorang guru, lebih dari itu,  madrasah merupakan tempat mencari pengetahuan dari Allah Swt.

Selanjutnya, Wamenag mengatakan bahwa dalam Bahasa Arab, murid itu adalah padanannya madrasah, orang yang menuntut ilmu nya Allah Swt. Istilah muridun, mursyidun, mursyid tidak sekedar berarti siswa, tapi juga mengandung makna spritual. “Madrasah adalah tempat mengejawantahkan ayat-ayat Allah Swt,” jelas Wamenag.

Secara umum, Wamenag mengatakan madrasah dan sekolah tidak ada perberbedaan. Namun jika ditelisik lagi,  sekolah lebih kepada menuntut ilmunya guru, sementara pendidikan madrasah mencari ilmunya Allah SWT. 

“Pendidikan di Madrasah dapat menembus isi dan substansi pengetahuan. Oleh karenanya  anak Madrasah harus belajar tidak hanya dari kulit luarnya saja, sehingga madrasah betul-betul menjadi tempat mengejewantahkan ilmu Allah,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut Wamenag, siswa madrasah tidak boleh hanya asal belajar tetapi harus mampu menghayati ilmu yang dipelajari dan mampu mengamalkannya. “Inilah keunggulan yang dimiliki oleh madrasah dari pada sekolah lain,” ucapnya.

Kompetisi Sains yang akan berlangsung sejak 25-29 Agustus ini, kata Wamenag, juga diharapkan dapat terus meningkatkan dan  memperbaiki kualitas Madrasah sehingga bisa melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar di bidang sains seperti masa lalu.  “Sebab, sejatinya Rasulullah merupakan ahli dan pecinta sains,” jelas Wamenag.

Dalam kesempatan yang sama Wagub Sulsel Agus Arifin Nu’mang mengatakan penempatan KSM di kota Makassar sudah sangat baik. Makassar adalah ibu kota Sulsel yang penduduknya 1,5 juta jiwa. Wagub mengaku bahwa dirinya  melihat perkembangan madrasah di Makassar sangat signifikan, bahkan cenderung memperlihatkan bahwa madrasah memang lebih baik dari sekolah-sekolah lainnya dan harus lebih baik.

“Saya yakin dengan program pendidikan yang lebih baik, akan menjadikan Indonesia lebih baik,” katanya.

Selaku Wagub Sulsel, Agus Arifin Nu’mang berharap semoga segala perbuatan yang diperbuatnya dinilai amal ibadah oleh Allah SWT.

Selain itu, Rektor ITB  Akhmaloka yang pada kesempatan itu memberikan saran dan wejangan kepada siswa-siswa peserta KSM,  menegaskan bahwa pendidikan itu sangat penting dalam kehidupan.

“Bersekolah di Madarasah, jangan membuat adek-adek minder, kurang PD, karena adek-adek adalah sama dengan yang lainnya,” pesannya.

Memotivasi semangat siswa madrasah, Akhmaloka berkisah bahwa dirinya juga merupakan murid lulusan Madrasah Ibtidaiyyah. “Yang pinter itu adalah yang mau pinter,” tambahnya.

“Peserta KSM adalah putra putri terbaik Indonesia. Jikalau kita mau, pasti kita bisa,” katanya.[wn/kemenag]
end:
 
KANAL : REDAKSI | IKLAN | HUBUNGI KAMI
Copyright © 2011. Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger