Di
lain waktu, Yanto menaruh udang petai di dalam mobil, serta lauk yang
dimakannya setengah tanpa ditutup rapat, diletakkan dibawah jok mobil. Alhasil
ketika keesokan harinya mobil yang beraroma udang petai itu dipakai oleh Sari
untuk menjemput ayahnya yang apik dan bersih, maka Sari dengan wajah bersungut-sungut
dan marah setengah mati, mengomeli suaminya panjang lebar lewat telepon, tak
peduli Yanto suaminya berkali kali minta maaf dan mengatakan akan menelepon
kembali karena pada saat itu Yanto tengah rapat mingguan dengan divisi
marketing tempatnya bekerja.
Lain
waktu, kekesalan Sari membuncah karena bau badan suaminya yang menganggap remeh
kebersihan, membuat Sari mengutuk dan tega mengatakan kalimat-kalimat yang
kasar pada suaminya. “Aduuh, mas yang bener aja, deh, kenapa sih gak pakai
deodoran, kasihan kan anak-anak kalau digendong kamu, kayak digendong tukang
sapi, bau gembel, parah banget sih mas…” celetuk Sari. Dan lagi-lagi Sari
merutuk untuk kesekian kalinya yang ditanggapi Yanto dengan acuh tak acuh,
namun sebetulnya dalam hati Yanto merasa cukup sakit hati.
Sari
datang dari keluarga yang apik dan rapi. Ayah ibunya tertib dan mengajarkan
kedisiplinan dari sejak anak-anaknya masih kecil. Keluarga Sari dibentuk untuk
saling menyayangi dan membantu serta dididik dengan tertib, rapi dan bersih. Kalau
tak ada pembantu, semua dilakukan sendiri oleh ayah ibunya. Maklumlah ayahnya
yang berlatar belakang dari kalangan tentara, memang menerapkan
kedisiplinan yang membuat Sari harus meneruskan apa yang dialamainya dirumah
kepada anak-anaknya, sementara Yanto berbeda, dia datang dari keluarga yang
sangat demokratis, cuek dan apa adanya, semua dilakukan tanpa aturan, bisa
terawa terbahak, makan bakso ramai-ramai, dan bisa langsung tidur tanpa gosok
gigi walaupun dengan sisa cabai menempel di gigi. Mereka sekeluarga walaupun
miskin namun sangat bahagia, karena tidak ada tekanan aturan yang mengikat
serta kedisiplinan yang mencekam.
Keinginan
dan harapan Sari terus-menerus diungkapkan dan menjadi bahan perdebatan
sepanjang hari. Sari yang disiplin dan Yanto yang cuek, akhirnya membuat perang
dingin berlangsung lama. Mereka hanya berkumpul bersama bila bertemu dengan
keluarga besar dan sisanya lebih banyak diam, tidak bicara sepatah katapun.
Sampai
kapan..? Akhirnya ketika booming Blackberry
muncul, reuni demi reuni diadakan ketika grup demi grup terbentuk, maka
pertemuan dengan kawan lama, berhaha-hihi
membuka sekali peluang bagi Yanto untuk mencari wanita lain yang lebih memahami
dirinya. Wanita yang lebih cuek, tidak mengatur ini itu serta lebih bebas yang merupakan hal
yang menyenangkan didapatnya di luar rumah, daripada dengan istrinya yang selalu
cemberut bila berjumpa, malas senyum dan selalu menyiarkan kalimat-kalimat yang
pedas atas semua kekurangan Yanto.
Dan
nasi goreng kemudian akhirnya menjadi bubur, bisa diselamatkan oleh koki yang
tangguh agar bubur menjadi enak dimakan bagi siapa saja. Yaa, akhirnya Yanto menjalin hubungan kasih sayang
yang saling memerlukan antara dirinya dengan kawan lamanya di SMP dulu.
Bila
keimanan Yanto tidak ditingkatkan, dan Sari tidak mau mengubah caranya untuk
tidak berharapan dan menuntut suami terlalu tinggi sesuai harapannya, maka
jangan salahkan siapapun bila perceraian kembali melanda satu lagi pasangan
muda ini. Semua kembali pada sang istri, selamatkan rumah tangga dengan mengubah
sikap dan akhlak dan kembali pada Allah, banyak berdoa dan berdoa agar Allah
kembalikan suaminya yang dulu dan mau mengubah dirinya sesuai dengan apa yang
diinginkan Sari.
…isteri-isteri kamu;
adalah Pakaian bagimu, dan kamupun adalah Pakaian bagi mereka …. (QS: Al
baqarah: 187)
Penulis : Fifi P. Jubilea ( Founder and Conceptor Jakarta Islamic School)

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !