Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia: Kebun Hati
Headlines News :

Latest Post

Showing posts with label Kebun Hati. Show all posts
Showing posts with label Kebun Hati. Show all posts

Salam Cinta Kepada Para Murabbi

Thursday, September 17, 2015 | 9:44 AM

Chanelmuslim.com - Saya pernah menghadiri reuni akbar aktifis dakwah Kota Semarang. Waktu itu, gedung LPMP Banyumanik yang menjadi lokasi acara terasa padat. Perkiraan saya, ada seribuan aktifis dakwah hadir dalam acara itu. Acaranya bertajuk: "Kilas Balik Dakwah Kota Semarang".


Awalnya saya menganggap tema itu biasa saja. Diluar dugaan, acara itu berhasil mengaduk-aduk emosi yang hadir, termasuk saya.

Suasana "merinding" muncul saat dihadirkan para tokoh dakwah senior ke panggung. Para muasis dakwah ini berjalan diiringi nasyid "Sang Murabbi". Entah disengaja atau tidak oleh panitia, suasana ini membuat yang hadir tercekat haru. Saya sendiri tidak mampu membendung mata yang berkaca-kaca.

Lirik nasyid "Sang Murabbi" sangat pas untuk menggambarkan perjuangan pembangun pondasi dakwah ini. Dulu mereka mengisi kajian liqoat, bukan berjarak satu kecamatan. Tapi antar Kabupaten dan Kota. Padahal liqoat ta'lim itu mungkin hanya dihadiri 6 atau 8 orang.

Membuka ladang-ladang dakwah baru di setiap daerah. Dengan biaya dari kantong mereka sendiri. "Sunduquna juyubuna" Padahal mereka bukan orang yang bergelimang harta. Bahkan ada yang berkorban sampai kuliahnya terbengkalai. Karena benar-benar disibukkan dalam dakwah.

Mereka bersabar, tanpa lelah membina ummat. Sehingga menjadi sebuah gerakan dakwah yang besar. Sekarang, ribuan santrinya berkumpul ditempat itu.

Para Murabbi dakwah itu (Ust Nurul Khamdi dan Ust Zuber Safawi) bercerita, bagaimana pondasi dakwah dibangun. Penuh suka duka. Gelak tawa dan haru.

Sesi yang mengaduk emosi adalah saat Ustadzah Aisyah Dahlan dan Ustadzah Mia Inayati Rachmania terisak-isak mengucapkan terima kasih atas bimbingan Ustadzah Diah Rahmati (Istri Ust Zuber). Sebagai Ustadzah Ummahat senior, mereka tidak ragu mengungkapkan penghormatannya kepada Sang Murabbiyyah. Akhlaq aktifis dakwah tulen. Menunjukkan keteladanan bagaimana adab kepada gurunya. Walaupun saat itu juga hadir juga ratusan "santriwati" mereka.

Disinilah saya menemukan salah satu kekuatan jama'ah dakwah. Hubungan mesra dan penuh hormat antara Santri dan Kyai, Mutarobbi dan Murabbi.

Begitulah Salafus Shalih mengajarkan kita. Umar bin Khotob menasehati :

ุชูˆุงุถุนูˆุง ู„ู…ู† ุชุนู„ู…ูˆู† ู…ู†ู‡

“Tawadhulah kalian terhadap orang yang mengajari kalian”.

Saya heran dengan aktifis dakwah yang hilang kesantunannya kepada Murabbinya, mereka menganggap Sang Guru seperti teman mainnya. Kurang rasa hormat dan tidak ada rasa segan.

Imam Syafi'i rahimahullah, karena hormatnya, membuka kitab dihadapan Imam Malik pelan-pelan. Karena rasa hormat pula Imam Nawawi rahimahulloh pernah menolak sebuah undangan makan. Karena khawatir mengambil makanan yang diinginkan gurunya.

Itulah kenapa Saya heran membaca sebuah postingan seorang aktifis dakwah. Dia melampiaskan kecaman atas keputusan Murabbinya di akun socmed-nya. Aktifis dakwah model apa ini? Gerakan dakwah tidak bisa dibangun oleh orang-orang semacam ini.

Lihatlah akhlaq Imam An Nawawi: ”Ya Allah, tutuplah aib guruku dariku, hingga aku tidak melihat kekurangan beliau dan tidak ada orang lain yang menyampaikan kepadaku mengenai aib beliau “. (Lawaqih Al Anwar Al Qudsiyah, hal. 29)

***

Saya masih mengenang acara itu sampai sekarang. Yang mengingatkan saya kepada jasa besar Para Murabbi. Karena jasa mereka banyak orang merasakan manisnya iman.

Saya mencintai mereka semua karena Alloh.

Ya Rabb, berilah selalu petunjuk pada guru-guru Kami.
Istiqomahkan mereka di jalan dakwah. Pertemukan kami di syurga-Mu kelak.

Oleh: Ust. Budi Hidayat

Seni Mewujudkan Mimpi

Wednesday, January 7, 2015 | 8:26 AM

ChanelMuslim.com - Doakan Dia Dalam Diam...

Guru saya pernah mengatakan:

Bila engkau menginginkan sesuatu, maka berdo'alah agar Allah mengaruniakan hal itu untuk saudaramu, karena malaikat akan mengaminkan do'amu dan memohonkan permintaan yang sama untukmu. Sehingga saudaramu mendapatkan do'a darimu sementara engkau mendapatkan do'a dari malaikat.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ. وَلَكَ بِمِثْلٍ.

‘Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya adalah do’a yang mustajab (akan dikabulkan). Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdo’a untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’” (HR. Muslim)

Catatan:

Dalam mendoakan orang lain tidak ada ketentuan bahwa jarak antara anda dan orang yang didoakan harus berjauhan, yang terpenting adalah orang yang kita doakan itu tidak mengetahui kalau kita sedang mendoakan kebaikan untuknya. Jadi meskipun dia berada dihadapan kita, lalu kita mendoakannya dengan suara lirih tanpa sepengetahuannya, maka kita termasuk orang yang di maksud pada hadits di atas. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Al Adzim Abadi dalam Aun Al Ma'buud: 04: 275-275

Wallahu a'lam
----------

Ditulis oleh Ustadz Aan Chandra Thalib. حفظه الله تعالى
Sumber Grup ] BBG طالب العلم اخوات  |

Seni Mewujudkan Mimpi

ChanelMuslim.com - Doakan Dia Dalam Diam...

Guru saya pernah mengatakan:

Bila engkau menginginkan sesuatu, maka berdo'alah agar Allah mengaruniakan hal itu untuk saudaramu, karena malaikat akan mengaminkan do'amu dan memohonkan permintaan yang sama untukmu. Sehingga saudaramu mendapatkan do'a darimu sementara engkau mendapatkan do'a dari malaikat.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ. وَلَكَ بِمِثْلٍ.

‘Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya adalah do’a yang mustajab (akan dikabulkan). Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdo’a untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’” (HR. Muslim)

Catatan:

Dalam mendoakan orang lain tidak ada ketentuan bahwa jarak antara anda dan orang yang didoakan harus berjauhan, yang terpenting adalah orang yang kita doakan itu tidak mengetahui kalau kita sedang mendoakan kebaikan untuknya. Jadi meskipun dia berada dihadapan kita, lalu kita mendoakannya dengan suara lirih tanpa sepengetahuannya, maka kita termasuk orang yang di maksud pada hadits di atas. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Al Adzim Abadi dalam Aun Al Ma'buud: 04: 275-275

Wallahu a'lam
----------

Ditulis oleh Ustadz Aan Chandra Thalib. حفظه الله تعالى
Sumber Grup ] BBG طالب العلم اخوات  |

Ketika , Ketulusan Seorang Ulama Diuji

Monday, December 22, 2014 | 12:28 PM

ChanelMuslim.com -  Menemukan ulama yang cinta akan ilmu karena Allah Taala sangatlah sulit di zaman sekarang ini, apalagi ketika dirinya diuji dengan kelulusan menyebarkan Ilmu yang hanya dihadiri oleh aatu orang.

Kali ini, Kisah Nyata ketika seorang ulama diuji ketulusannya datang dari Syaikh Muhammad Sidy Muhammad As-Syinqity -hafidzahullah- (salah satu pengajar di masjid nabawi).

Beliau tetap mengajar sekalipun yang hadir di majelisnya hanya satu orang.

Disini ketulusan itu diuji...
Pelajaran berharga bagi para pengemban dakwah untuk tidak pilih-pilih majelis.

Ada atau tidaknya orang yang datang ke majelismu jangan sampai menyulutkan semangat dan tekadmu untuk terus berkhidmat pada ummat, meski dalam sunyi sekalipun.

Karena keberkahan sebuah majelis tidak dilihat dari banyaknya orang yang hadir, namun berapa generasi unggul yang lahir dari kesunyian itu.

Ingat.... Pada hari kiamat nanti akan ada nabi yang dibangkitkan sendiri tanpa seorang pengikut.

Foto oleh : Saudinews50 10 November 2014 M

Kisah ini diceeitakan oleh Aan Chandra Thalib, Mahasiswa Fakultas Syariah Semester 8 Universitas Islam Madinah dalm fanpage Komunitas Mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Madinah "Di Kota Nabi"

[red]

Sedekah Untuk di Dunia atau di Akhirat [1]

Friday, October 24, 2014 | 4:47 PM



Khalifahlife.com - Sebuah cerita penggugah jiwa…

Dikisahkan ada seorang laki laki yang merasakan kesakitan di sekitar jantungnya...
Lalu pergilah ia ke London untuk memeriksakan rasa sakitnya, setelah melalui proses pemeriksaan yang cukup panjang maka dokter spesialis jantung menjelaskan kalau ada penyempitan di salah satu pembuluh jantungnya maka harus dilakukan operasi untuk melebarkan pembuluh jantungnya.

Sebelum dilakukan operasi ia memohon untuk kembali ke negerinya dengan keperluan bertemu keluarganya terlebih dahulu.

Maka pulanglah laki-laki tersebut untuk bertemu dengan keluarganya.
Beberapa hari sebelum berangkat ke London duduklah laki-laki tersebut dengan temannya dan di depannya ada toko penjual daging, dia melihat seorang wanita tua yang sedang memunguti pecahan tulang dan serpihan daging. Melihat kejadian aneh tersebut pergilah laki-laki tadi ke wanita tua dan bertanya tentang perbuatanya tersebut. Lalu wanita tua tadi menjawab: “suamiku telah meninggal dan aku harus menghidupi 6 orang anak wanita, sudah berbulan bulan mereka tidak pernah merasakan makan daging.”

Mendengar perkataan wanita tadi laki-laki tersebut merasa sedih sekali kemudian ia berkata kepada penjual daging: “berikan kepada wanita ini daging setiap pekan sesuai dengan yang ia butuhkan!”

Setelah mendengar apa yang dikatakan laki-laki tersebut, maka wanita tua tadi langsung mengangkat tangannya dan berdoa dengan penuh keikhlasan untuknya.

Laki-laki tersebut pulang ke rumahnya dan merasakan kebahagiaan yang luar biasa dan kekuatan di badannya sampai dia berfikir untuk tidak pergi ke London, akan tetapi istri dan anak-anaknya memaksanya untuk tetap pergi ke London dan menjalani operasi jantung di sana.

Setelah sampai di London kemudian diperiksa ulang, ternyata penyakitnya telah sembuh tanpa harus dioperasi! Mendengar kenyataan tersebut laki-laki itu menangis tanpa bisa dia tahan, seraya berkata: “sungguh aku telah beruntung berjual beli dengan Rabbku.”

Apa yang dikisahkan diatas adalah benar dan betul (dengan berlindung kepada AlLah dari segala jenis perasaan bathin yang tidak diridhai oleh-Nya), bahwa berdasarkan pengalaman pribadi, setelah beberapa kali berusaha membantu orang lain untuk merealisasikan harapan dan keinginannya yang mungkin hanya hal biasa untuk kita, tetapi menjadi sesuatu yang luar biasa bagi pihak yang dibantu.

Mungkin inilah rahasia dari apa yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW dalam beberapa sabda nya... “Allijuu Mardhakum Bish Shadaqah...!! Obatilah Penyakit Kalian Dengan Banyak Bershadaqah.”

Suatu ketika saya pernah mengisi sebuah ta’lim dan sedikit menyinggung tema sedekah atas permintaan panitia, agar mendorong jamaah memberikan infaq untuk mesjid. Seusai ta’lim panitia memberitahu bahwa pendapatan infaq meningkat cukup signifikan.Alhamdulillah.

Tetapi ketika saya jalan keluar mesjid menuju pulang, jamaah yang baru saja mengikuti ta’lim menyebar mengerumuni bazaar yang terdapat di halaman mesjid. Tak sengaja saya melihat seorang jamaah menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribu kepada penjual busana muslim. Dan jamaah lain pun tanpa membawa kantong-kantong plastik hasil belanjaan. Dalam hati saya berkata “Panitia mesjid yang baru saja menerima infaq dengan peningkatan tidak lebih dari dua kali lipatnya sudah merasa senang, dan jamaah pun tenang telah memberikan infaqnya. Tetapi, bandingkanlah infaq yang diberikan dengan hasil belanjaan yang dibawanya, Astagfirullah…hamba ternyata masih belum dapat seperti RasulMu ya Allah yang mampu mengajak para sahabatnya menjadi ahli sedekah yang terbaik.”

Di lain waktu, saya khusus membicarakan tentang sedekah ini pada jamaah yang sudah cukup umur, rata-rata jamaah adalah pensiunan dari berbagai profesi. Para jamaah merasa tersentuh mendengar kisah-kisah keajaiban sedekah. Bahkan salah seorang jamaah kemudian berkata, “mengapa tidak dari dulu saya mendengar tentang hal ini ketika saya masih menjadi pejabat dan masih makmur.”
Ketika panitia memberitahu bahwa bapak yang mantan pejabat tersebut saat ini pun sebenarnya masih lapang, tinggal di rumah yang besar dengan mobil yang berderet.

Sungguh, saya merasa gagal dalam memotivasi orang-orang untuk bersedekah atas kesadaran mereka, tanpa berharap balasan dan embel-embel meski itu adalah janji Allah yang Maha Benar. Sedekah adalah bukti keimanan kita sebagaimana Rasul dan para sahabatnya yang gemar berinfaq dan sedekah bukan karena berharap menjadi orang yang kaya. Karena tentunya jika Rasul bersedekah untuk mendapat balasan di dunia, maka ia dan para sahabatnya adalah orang-orang yang sangat kaya. Rasul bersedekah dan mencontohkan sedekah pada umatnya sebagai keimanan mengikuti perintah Allah, dan memberikan panduan agar kita selalu berharap pertolongan hanya dari Allah semata. Wallahu’alam bishawab. [bersambung]

Sumber : Kisah seorang penuntut ilmu yang ingin berbagi ilmu BB

Berhemat Karena Allah

Wednesday, October 22, 2014 | 7:09 PM

KhalifahLife.com- Bumi, alam, energi dan semua kekayaan yang ada di dalamnya adalah milik Allah. Allah atur sekehendak Allah.

Allah berjanji
(dan Allah selalu menepati janjiNya) :

ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﻥَّ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟْﻘُﺮَﻯٰ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﺍﺗَّﻘَﻮْﺍ ﻟَﻔَﺘَﺤْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢ ﺑَﺮَﻛَﺎﺕٍ ﻣِّﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka
berkah dari langit dan bumi (Al A'raf: 96)

Inilah bedanya seorang mukmin ketika menjalankan "hemat
energi", motivasi mereka adalah keimanan dan ketakwaan,
ketika Allah melarang mereka untuk menjadi orang yang
mubazir, maka mereka pun menjauhinya.

Adapun orang yang hanya berpikir materi, mereka "hemat
energi" karena khawatir :

- khawatir energinya habis
- khawatir manusianya tambah banyak
- khawatir kebutuhan energi semakin besar

ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻳَﻌِﺪُﻛُﻢُ ﺍﻟْﻔَﻘْﺮَ ﻭَﻳَﺄْﻣُﺮُﻛُﻢ ﺑِﺎﻟْﻔَﺤْﺸَﺎﺀِ ۖ ﻭَﺍﻟﻠَّـﻪُ ﻳَﻌِﺪُﻛُﻢ ﻣَّﻐْﻔِﺮَﺓً ﻣِّﻨْﻪُ
ﻭَﻓَﻀْﻠًﺎ
Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir);
sedang Allah menjadikan untukmu ampunan dan karunia
(al Baqarah: 268)

(Sumber Facebook ukhti Ummu Humaira Asri Yati dari kajian by ust. Amrullah Akadhinta)

Istriku, Engkau Berhak Dapatkan Nyawaku

KhalifahLife.com - Dikota Jeddah ada seorang wanita yang menghadapi masalah dalam rumah tangganya. Iavpun terlibat percekcokan dengan suaminya. Keributan memuncak hingga sang suami angkat tangan dan memukul sang istri. Menangislah wanita ini.

Tiba-tiba terdengar bunyi seseorang yang mengetuk pintu.

“Tok..tok..tok..”

Segeralah sang suami melihat siapa yang datang lewat lubang intip pintu. Tak di duga, Mertua alias orang tua si wanita ada di depan pintu datang bertamu.

Dalam keadaan berderai air mata, wanita inipun masuk ke
dalam kamar. Ia sapu air matanya dan ia bersihkan wajahnya.

Sang suami pun membukakan pintu dan mempersilahkan
mertua masuk kedalam rumah. Tak lama, keluarlah wanita ini menemui ibu dan bapaknya dengan sisa air mata yang tak mampu ia tahan.

Diciuminya ibu dan bapaknya sedang air mata terus mengalir di pipinya. Betapa terkejut ibu bapaknya melihat anaknya keluar dalam keadaan menangis

“Kenapa kamu menangis nak ?” Tanya ibu kepada anaknya.
Wanita inipun menjawab,

“Umii..ana kaaangen sama umii. Kok Allah kirim umi sama abi ke sini..”

Subhanallah.

Mendengar jawaban istrinya, hancurlah amarah dan keangkuhan sang suami. Hatinya luluh melihat kecerdasan
istrinya dalam menyelamatkan nama baik suaminya di
hadapan mertua.

Segera sang suami keluar rumah. Ia carikan hidangan bagi
mertuanya karena memang hari itu tidak ada masakan di
rumahnya. Sebelum pulang, ia mampir ke toko emas. Dia beli
sabuk emas seharga 10 ribu real.

Di rumah, semua berjalan normal. Seolah tak pernah ada masalah di rumah tangga.

Sepulang mertua, sang suami segera menemui sang
istri. Sang suami minta maaf atas amarah dan khilafnya.

Sabuk emas yang tadi ia beli, dia serahkan kepada sang istri
sambil berkata,” Anti tastahiqqiina ruuhi”…ENGKAU BERHAK
MENDAPATKAN NYAWAKU…

Simak kisahnya bersama Ust DR Syafiq Bin Reza Basalamah
hafidzohullah
Klik http://salamdakwah.com/videos-detail/buruk-namunindah.html Via Akhi Najib

Katak dan Air

Friday, September 19, 2014 | 1:34 AM

Di sekitar kolam yang tak lagi berair, tampak seekor katak sedang gelisah. Tenaganya yang tak lagi penuh, kian mengurangi jarak lompatan yang bisa ia raih. Sudah seharian ini, jerih payahnya mencari sedikit genangan air belum juga membuahkan hasil. Sementara, dahaganya kian tak lagi terbendung.

“Ya Allah, kemana lagi aku harus mencari air?” keluhnya spontan.

Tapi, sang katak tak mau menyerah begitu saja. Dalam sisa-sisa tenaganya, ia merangkak perlahan untuk mencari sedikit genangan air. Dari ujung kolam di sebelah utara, kemudian ia merangkak ke selatan, barat, dan juga timur. Tapi, tetap saja air tak ditemukan.
Saat itulah, tenaganya hampir tak lagi bersisa. Sang katak terkulai lemas tak berdaya.

“Byur!!!” suara siraman air yang begitu melimpah mengenai sekujur tubuh sang katak.

Sontak, ia terbangun dari pingsannya. Dan, sesuatu yang selama ini ia idam-idamkan mengisi hampir seluruh cekungan besar di mana ia berada. Ya, cekungan tanah berukuran sepuluh kali tubuhnya telah terisi air. Sejuk, harum, dan menyegarkan.

DI luar kendali sang katak, seorang anak manusia telah menyiram seember air bekas cuci piring ke arahnya. Walau bekas, bagi sang katak, air itu seperti kucuran air sungai dari surga. “Terima kasih wahai Yang Maha Sayang,” ucap sang katak penuh semangat.

**

Kerap dalam kehidupan, kita selalu terkungkung dalam sebuah logika: semua yang kita dapatkan adalah apa yang kita usahakan. Dengan kata lain, usaha kitalah yang memberikan apa yang kita inginkan.

Tanpa disadari, logika itu telah menjebak kita dalam kesalahan fatal: jerih payah kita adalah Tuhan yang mencukupi kebutuhan kita.

Padahal, betapa banyak orang yang berusaha, hasilnya tak sesuai dengan apa yang diinginkan. Betapa banyak orang yang sudah membanting tulang, hasilnya tetap nihil. Betapa banyak pasangan yang sudah mencoba berbagai cara, sang buah hati tak juga kunjung lahir. Dan seterusnya.

Sebagian kita mungkin lupa bahwa rezeki mengucur melalui dua pintu: dari apa yang kita usahakan, dan dari apa yang telah Allah takdirkan.

Maha Benar Allah dalam firmanNya, “Dan di langit (hujan) terdapat rezeki kamu, dan dari apa yang telah Allah janjikan.” (QS. 51: 22) (Penulis: M.Nuh)

Saku Sang Bocah

KhalifahLife.com - Seorang anak laki-laki empat tahunan tampak gelisah di halaman rumahnya. Tak jauh dari tempat ia berdiri, beberapa anak seusianya sedang asyik mengerumuni tukang es krim keliling. “Bang saya bang, bang saya yang coklat, bang saya yang vanilla,” dan seterusnya, suara anak-anak seperti tak mau bergiliran. Mereka asyik jajan es krim.

Sang bocah bukan tak suka es krim. Ia juga bukan sedang sakit sehingga terlarang untuk mencicipi jajanan kesukaannya. Tapi, uang di sakunya sudah habis. Ia bingung mesti berbuat apa. Tak mungin sang bocah memohon kepada teman-temannya untuk ditraktir. Karena itu hanya akan berujung pada kekecewaan. Paling tidak, ia hanya bisa menunggu kalau-kalau ada temannya yang kekenyangan sehingga tak mampu menghabiskan sisa es krimnya. Tapi, itu terlalu lama, dan kemungkinannya sangat kecil.

Dalam ketidakberdayaan itu, tak ada yang bisa sang bocah lakukan kecuali memohon kepada sang ibu untuk dibelikan es krim. Walaupun, hal itu butuh kesungguhan dan keahlian tersendiri. Apalagi kalau bukan menangis.

Upaya itu menjadi pilihan utamanya, karena ia sadar sudah terlalu banyak uang saku dari ibu yang sudah ia belanjakan untuk jajanan-jajanan lain sebelum datang tukang es krim.

**

Dalam kehidupan yang kerap menyajikan episod keputusasaan, kadang kita lupa mengambil jurus sang bocah: meminta, merengek, dan menangis. Kita seperti terlalu yakin bahwa kita mampu meraihnya tanpa perlu meminta, apalagi merengek untuk bisa dikasihani.

Tak sedikit dari kita yang mungkin lupa, bahwa Allah sangat suka diminta-minta. Dia begitu senang menjadi tempat berlabuhnya hati-hati hamba yang sangat gulana. Dia kian senang ketika sang hamba meminta dengan penuh harap, merengek, dan menangis. “Mintalah kepadaKu, niscaya Aku kabulkan.”

Bahkan, Allah berkehendak menghapus apa-apa yang telah Ia tetapkan, dan menetapkan apa yang telah Ia tetapkan. “Allah berkehendak menghapus apa yang ia kehendaki, dan mengokohkan apa yang Ia kehendaki. Di genggamanNya kitab induk,” QS. 13: 39 (M. Nuh)

Suami Harus Selingkuh

Thursday, September 18, 2014 | 12:08 PM

Khalifahlife.com - Dengan istri yang bau bawang dan daster kumal, rasanya Rais lebih senang cepat-cepat pergi ke kantor dan menjumpai semua wanita yang berpakain rapih dan wangi-wangi. Bahkan terakhir Rais melihat ada beberapa OB yang semuanya berjilbab rapih, menggunakan seragam pink yang enak dipandang. Terus terang agak jauh dari penampilan sang istri yang ketika pulang kerjapun menyambut suami dengan daster yang berbeda namun tetap saja daster!

Tidak bisa dipungkiri oleh Ima, bahwa daster itu makin usang makin enak dipakai, seperti sudah menyatu dengan kulit. Bukan Ima namanya kalau selalu bercerita panjang lebar dan sebetulnya itu pula yang membuat Rais tertarik untuk menikahi Ima. Ceritanya ada-ada saja dan banyak, semuanya menarik, bahkan jemuran jatuh saja, Ima ceritakan dengan lucu, dan kelucuan Ima tentu saja merupakan kesegaran tersendiri.  

Awalnya Rais hanya suka dengan cerita Ima dan lama-lama mencintainya dan kemudian menikahinya, tapi itu dulu, ketika Ima masih kerja di kantor dan pakaiannya masih enak diliat dan masih segar, tidak sepeti sekarang. Memang sih tidak terlalu bau bawang cuma agak apek, dan bau keringat, juga belepotan tangannya dengan adonan tepung buat masak bakwan.

Yah, ketidakpedulian Ima pada penampilan, juga kerepotannya megurus anak dan masakan, tidak salah yaa, kalau akhirnya suami harus selingkuh, atau mencoba untuk selingkuh agar ima sadar bahwa rumah tangga mereka dalam bahaya, dan Ima wajib untuk berpaling dan introspkesi diri. Haruslah kita para istri menunghu suami ketahuan akan berselingkuh atau sudah selingkuh baru kita merias dan bebenah diri..?

Penulis : Fifi P. Jubilea (Founder & Conceptor Jakarta Islamic School)

Pemuda Hafidz, Mujahid Namun Tertolak Masuk Surga

Wednesday, September 10, 2014 | 9:27 AM

Khalifahlife.com - Seorang penghafal Quran seharusnya dekat dengan Allah, terlebih jika ia pun seorang mujahid dimedan perang atas nama Allah. Seharusnya surga begitu dekat dengannya. Namun, tidak begitu dengan kisah pemuda ini.

Kisah pilu seorang tabiin yang hafidz Qur'an namun murtad padahal saat tengah berjihad. Hanya karena asmara

Lelaki gagah itu mengayunkan pedangnya menebas tubuh demi tubuh pasukan romawi. Ia adalah seorang tabiin (270H) yang hafal Qur'an. Namanya adalah sebaik-baik nama, Abdullah bin Abdurrahim.

Keimanannya tak diragukan. Adakah bandingannya didunia ini seorang mujahid nan hafal Quran. Namun lacur akhir hayatnya mati dalam kemurtadan dan hilang hafalannya melainkan 2 ayat sahaja yang tersisa. Yaitu surah al hijr ayat 2-3, rubamaa yawaddulladziina kafaru lau kaanu  muslimiin, dzarhum ya`kulu wayatamatta'u wayulhihimul amal-fasaw faya'lamuun. (Org2 kafir itu diakhirat nanti sering menginginkan andai didunia dulu mereka muslim. Biarkanlah mereka makan dan senang-senang, dilalaikan oleh angan-angan kosong belaka, kelak mereka akan tahu akibatnya).

Seolah ayat ini adalah kutukan sekaligus peringatan ุงَู„ู„ّู‡ yang terakhir namun tak digubrisnya. Apakah penyebabnya?

Penyebabnya adalah wanita. Inilah kisahnya;
Pedangnya masih berkilat-kilat memantul sinar mentari. Masih segar berlumur merahnya darah orang romawi. Ia hantarkan orang romawi itu ke neraka dengan pedangnya. Tak disangka nantinya dirinyapun dihantar ke neraka oleh seorang wanita romawi, tidak dengan pedang melainkan dengan asmara. Kaum muslimin sedang mengepung kampung romawi. Tiba-tiba mata Abdullah tertuju kepada seorang wanita romawi di dalam benteng. Kecantikan dan pesona wanita pirang itu begitu dahsyat mengobrak-abrik hatinya. Dia lupa bahwa tak seorangpun dijamin tak lolos su'ul khotimah.
Dia lupa bahwa maksiat dan pandangan haram adalah gerbang kekufuran. Tak tahan, iapun mengirimkan surat cinta kpd wanita itu. Isinya kurang lebih: "Adinda, bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke pangkuanmu?" Perempuan itu menjawab : "Kakanda, masuklah agama nashrani maka aku jadi milikmu."

Syahwat telah memenuhi relung hati Abdullah sampai-sampai ia menjadi lupa beriman, tuli peringatan dan buta Al Qu'ran. Hatinya terbangun tembok anti hidayah.

Khotamallaahu 'ala qulubihim wa'ala sam'ihim wa'ala abshorihim ghisyawah...
Astaghfirullah, ma'adzallah. Pesona wanita itu telah mampu mengubur imannya di dasar samudra. Demi tubuh cantik nan fana itu ia rela tinggalkan Islam. Ia rela murtad.

Menikahlah dia didalam benteng. Kaum muslimin yang menyaksikan ini sangat terguncang.

Bagaimana mungkin? How come? Bagaimana bisa seorang hafidz yang hatinya dipenuhi Al Qur'an meninggalkan ุงَู„ู„ّู‡ dan menjadi hamba salib? Ketika dibujuk untuk taubat ia tak bisa.

Dikatakannya bahwa ia telah lupakan Qur'an kecuali 2 ayat diatas saja dan ia bahagia hidup berlimpah harta dan keturunan bersama kaum nashrani. Dalam keadaan seperti itulah dia sampai wafatnya.

Ya ุงَู„ู„ّู‡ seorang hafidz nan mujahid sahaja bisa Kau angkat nikmat imannya berbalik murtad jika sudah ditetapkan murtad, apatah lagi hamba Seorang penghafal Quran seharusnya dekat dengan Allah, terlebih jika ia pun seorang mujahid dimedan perang atas nama Allah. Seharusnya surga begitu dekat dengannya. Namun, tidak begitu dengan kisah pemuda ini.

Kisah pilu seorang tabiin yang hafidz Qur'an namun murtad padahal saat tengah berjihad. Hanya karena asmara

Lelaki gagah itu mengayunkan pedangnya menebas tubuh demi tubuh pasukan romawi. Ia adalah seorang tabiin (270H) yg hafal qur'an. Namanya adalah sebaik-baik nama, Abdullah bin Abdurrahim.

Keimanannya tak diragukan. Adakah bandingannya didunia ini seorang mujahid nan hafal quran. Namun lacur akhir hayatnya mati dalam kemurtadan dan hilang hafalannya melainkan 2 ayat sahaja yg tersisa. Yaitu surah al hijr ayat 2-3, rubamaa yawaddulladziina kafaru lau kaanu  muslimiin, dzarhum ya`kulu wayatamatta'u wayulhihimul amal-fasaw faya'lamuun. (Org2 kafir itu diakhirat nnt sering menginginkan andai didunia dulu mrk muslim. Biarkanlah mrk mkn dn senang2, dilalaikan oleh angan2 kosong belaka, kelak mrk akan tahu akibatnya).

Seolah ayat ini adalah kutukan sekaligus peringatan ุงَู„ู„ّู‡ yg terakhir namun tak digubrisnya. Apakah penyebabnya?

Penyebabnya adalah wanita. Inilah kisahnya;
Pedangnya masih berkilat2 memantul sinar mentari. Masih segar berlumur merahnya darah org romawi. Ia hantarkan org romawi itu ke neraka dg pedangnya. Tak disangka nantinya dirinyapun dihantar ke neraka oleh seorang wanita romawi, tdk dg pedang melainkan dg asmara. Kaum muslimin sedang mengepung kampung romawi. Tiba2 mata Abdullah tertuju kpd seorang wanita romawi di dalam benteng. Kecantikan dan pesona wanita pirang itu begitu dahsyat mengobrak-abrik hatinya. Dia lupa bahwa tak seorangpun dijamin tak lolos su'ul khotimah.
Dia lupa bahwa maksiat dan pandangan haram adalah gerbang kekufuran. Tak tahan, iapun mengirimkan surat cinta kpd wanita itu. Isinya kurang lebih: "Adinda, bgm caranya agar aku bs smp ke pangkuanmu?" Perempuan itu mjwb: "Kakanda, masuklah agama nashrani maka aku jd milikmu."

Syahwat telah memenuhi relung hati Abdullah sampai2 ia mjd lupa beriman, tuli peringatan dan buta alquran. Hatinya terbangun tembok anti hidayah.

Khotamallaahu 'ala qulubihim wa'ala sam'ihim wa'ala abshorihim ghisyawah...
Astaghfirullah, ma'adzallah. Pesona wanita itu telah mampu mengubur imannya di dasar samudra. Demi tubuh cantik nan fana itu ia rela tinggalkan islam. Ia rela murtad.

Menikahlah dia didalam benteng. Kaum muslimin yg menyaksikan ini sngt terguncang.

Bgm mungkin? How come? Bgm bisa seorg hafidz yg hatinya dipenuhi alqur'an meninggalkan ุงَู„ู„ّู‡ dn mjd hamba salib? Ketika dibujuk utk taubat ia tak bs.

Dikatakannya bhw ia telah lupakan qur'an kecuali 2 ayat diatas sj dan ia bahagia hidup berlimpah harta dan keturunan bersama kaum nashrani. Dalam keadaan spt itulah dia sampai wafatnya.

Ya ุงَู„ู„ّู‡ seorang hafidz nan mujahid sahaja bs Kau angkat nikmat imannya berbalik murtad jika sudah ditetapkan murtad, apatah lg hamba yang banyak cacat ini. Tak punya amal andalan.

Saudaraku, doakan aku dan aku doakan pula kalian agr ุงَู„ู„ّู‡ lindungi kita dari fitnah wanita dan fitnah dunia serta dihindarkan dari ketetapan yang buruk diakhir hayat.

Ma taraktu ba'di fitnatan adhorro 'ala ar rijaal min nisaa...

"Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang maha dahsyat bahayanya bagi lelaki kecuali fitnah wanita" (muttafaq 'alaih).

Disarikan dr tulisan DR. Hamid Ath Thahir dlm buku Dibawah Kilatan Pedang (101 kisah heroik mujahidin).


Ini Alasan Perceraian yang Diperbolehkan dalam Islam

Thursday, August 28, 2014 | 6:17 PM

Khalifahlife.com - Di dalam agama Islam, pada dasarnya seorang istri dilarang minta cerai (khulu’) dari suaminya kecuali jika didasari dengan alasan2 yg dibenarkan syariat Islam. Diantara alasan2 yg syar’i adalah sebagai berikut :
  1. Suami murtad (keluar dr agama Islam n masuk ke agama lain).
  2. Suami berbuat kekufuran atau kemusyrikan kepada Allah dengan berbagai macam bentuknya. Dan telah ditegakkan hujjah atau disampaikan nasehat kepadanya agar bertaubat darinya tapi tidak mendengar n menerima.
  3. Suami melarang dan menghalangi istri untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban agama, seperti kewajiban sholat 5 waktu, kewajiban zakat, memakai hijab syar’i yang menutupi auratnya, menuntut ilmu syar’i yg hukumnya fardhu ‘ain, dan sebagainya.
  4. Suami memerintahkan n memaksa istri berbuat dosa n maksiat kepada Allah.
  5. Suami berakidah n bermanhaj sesat dan menyesatkan dari agama Allah yang lurus dan haq. Seperti ia menganut paham Syi’ah, Ahmadiyah, ingkar sunnah, dan sebagainya.
  6. Suami bersikap kasar dan keras, serta tidak sayang kepada istri, dan akhlaknya buruk.
  7. Suami menolak dan berpaling dari agama Islam, tidak mau mempelajarinya, dan tidak taat dan tunduk terhadap aturan-aturan Allah SWT.
  8. Suami tidak mampu memberikan nafkah wajib bagi istri, baik nafkah lahir maupun “bathin”. Atau suami tidak fertil, sehingga tdk bisa memberikan keturunan.
  9. Istri merasa benci dan sudah tidak nyaman hidup bersama suaminya, bukan karena agama dan akhlak suami yang baik, tapi karena khawatir tidak bisa memenuhi hak-haknya.
Dengan adanya salah satu alasan dari alasan-alasan ini, maka sang istri boleh minta cerai (khulu’) dari suaminya. Tentunya hal ini dilakukan setelah memberikan nasehat kpdanya secara langsung maupun dengan minta bantuan orang lain yg dianggap mampu menasehatinya n menyingkap kerancuan dan kesesatannya. Dan juga setelah mempertimbangkan antara sisi Maslahat (kebaikan) dan mafsadat (kerusakan).

Adapun minta cerai tanpa alasan syar’i maka hukumnya haram dan termasuk dosa besar. Hal ini berdasarkan hadits shohih berikut ini:

ุนَู†ْ ุซَูˆْุจَุงู†َ ، ู‚َุงู„َ : ู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ : ” ุฃَูŠُّู…َุง ุงู…ْุฑَุฃَุฉٍ ุณَุฃَู„َุชْ ุฒَูˆْุฌَู‡َุง ุงู„ุทَّู„ุงู‚َ ูِูŠ ุบَูŠْุฑِ ู…َุง ุจَุฃْุณٍ ، ูَุญَุฑَุงู…ٌ ุนَู„َูŠْู‡َุง ุฑَุงุฆِุญَุฉُ ุงู„ْุฌَู†َّุฉِ “.
Dari Tsauban radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wanita mana saja yg minta cerai (khulu’) dari suaminya tanpa alasan yg benar (syar’i) , maka diharamkan baginya mencium bau harum Surga.”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah no.2055. Dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani rahimahullah di dlm Shohih Sunan Ibnu Majah).

Kisah Perceraian Sahabat Rasul

Khalifahlife.com - Perceraian adalah perkara halal yang dibenci Allah. Pada masa Rasulullah SAW terdapat beberapa perceraian yang terjadi diantara sahabatnya. Berikut ini kisahnya yang dapat kita ambil ibrah darinya.  

Mengapa ‘Asma binti Abu Bakar diceraikan oleh seorang suami yang kiprahnya dalam medan jihad membuatnya mendapat kabar dijamin masuk surga, Az Zubair bin Awwan? Siapakah sosok Atikah binti Zaid? Mengapa Az Zubair menikahinya? Benarkah ia yang menyebabkan Az Zubair menceraikan ‘Asma? Mengapa seorang yang dijamin masuk surga berani menceraikan putri khalifah pertama, sahabat kepercayaan Rasulullah SAW? Artikel ini mencoba ngengurai kekusutan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

‘Asma binti Abu Bakar adalah shahabiyah yang diberi gelar dzaatun nithaaqain (perempuan pemilik dua selendang) oleh Rasulullah SAW. ‘Asma bertutur “Aku membuat makanan untuk Rasulullah dan ayahku ketika mereka hendak bertolak ke Madinah untuk berhijrah. Aku berkata kepada ayah, ‘aku tidak membawa sesuatu untuk mengikat makanan kecuali selendang pinggangku ini.’ Ayahku berkata, ‘Belahlah selendangmu menjadi dua,’ Aku mengikuti perkataannya, maka aku dijuluki dzaatun nithaaqain” (HR Bukhari).

‘Asma binti Abu bakar memang perempuan pemberani. Tidak salah jika ia ditugasi mengantarkan makanan untuk Rasulullah SAW dalam suasana penuh ancaman kafir Quraisy. Saat ia kecil, ketika ia dan keluarganya masuk Islam, saat keislaman menghadirkan konsekuensi lepasnya nyawa, Asma ditugasi oleh Abu Bakar ra. untuk mengawasi kelangsungan ibadah sahabat-sahabat yang baru masuk Islam. Keceriaannya dan keakrabannya dengan siapapun membuat ayahnya memintanya tetap bermain dan melihat perlakuan kaum kafir terhadap sahabat yang baru masuk Islam. Jika ada sahabat yang terkena diskriminasi, ia harus melaporkannya kepada Abu Bakar.

Az Zubair Bin Awwan adalah sosok sepermainan ‘Asma. Az Zubair dan Thalhah bin Ubaidillah kerap menjadi pengganggu saat ‘Asma bermain bersama Ruqayah binti Muhammad SAW. Walaupun sering mengganggu ternyata dua pemuda tersebut juga menjadi generasi pertama yang memeluk Islam. ‘Asma mengenal Az Zubair dengan segala keberaniannya di medan perang. Tidak ada seorang perempuan pun yang tidak tertarik kepada pendamping setia Rasulullah SAW.

Az Zubair meminang ‘Asma setelah ia melaksanakan hijrah ke Habasiyah. Berberapa hari sebelum Az Zubair berangkat hijrah, ‘Asma memperlihatkan ketertarikannya. Lelaki yang dijuluki Hawari ini pun menyambut ketertarikan ‘Asma dengan jawaban pasti. Beberapa hari setelah pulang dari Habasiyah Abu Bakar bertemu Az Zubair di rumah Rasulullah SAW. Di sana ia menawarkan pernikahan dengan putrinya. Az Zubair menjawab pertanyaan Abu Bakar pada hari yang sama dengan mengunjungi rumahnya. Betapa senangnya hati ‘Asma seketika itu. Az Zubair menerima tawaran ayah ‘Asma. Alasan terbesar Az Zubair menikahi ‘Asma adalah karena ketertarikan ‘Asma kepadanya. Saat peristiwa hijrah ke Madinah, ‘Asma sedang hamil tua dan sebentar lagi akan melahirkan. Abdullah bin Zubair pun lahir dan menjadi bayi pertama yang lahir di Madinah. Kelahirannya menempas kedustaan kaum Yahudi akan kutukan bahwa tidak akan ada bayi yang lahir di Madinah setelah peristiwa hijrah.

‘Asma mendampingi Az Zubair selama 28 tahun. Ia memiliki putra dan putri Abdullah, Urwah, Al Mundzir, Ashim, Al Muhajir, Khadijah Al Kubra, Ummul Hasan, dan Aisyah dalam pernikahannya bersama Lelaki Surga itu.

Dalam pernikahannya, ‘Asma selalu menjaga perasaan suaminya. Ketia ia pulang menempuh jarak 3,4km dari kebun kurma milik suaminya dengan membawa berkilo-kilo kurma, Rasulullah SAW berpapasan dengannya. Ia menawari agar ‘Asma ikut menaiki unta rombongan Rasulullah SAW. Namun, ‘Asma menolak karena ia tahu bahwa suaminya sangat pencemburu. Saat tiba di rumah ia berkata kepada suaminya, “Tadi aku bertemu Rasulullah SAW ketika aku membawa kurma di atas kepalaku. Beliau disertai beberapa orang sahabat. Beliau menyuruh untanya duduk agar aku pergi bersamanya. Aku merasa malu dan teringat sifatmu yang pencemburu.” Az Zubair menanggapinya, “Demi Allah, keadaanmu membawa kurma di atas kepala lebih memberatkan hatiku daripada kau naik unta bersama beliau.
* * *
Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Wanita itu dinikahi karena empat hal : karena hartanya,karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang bergama, (jika tidak) maka celakalah kamu.” (HR. Jamaah kecuali Tirmidzi).

Ia adalah wanita yang sangat cantik. Abdullah bin Abu Bakar, kakak ‘Asma berkata, “Ia adalah wanita yang gerak-geriknya menggerlorakan cinta.” Atikah binti Zaid pertama kali menikah dengan Abdullah bin Abu Bakar. Dengan demikian, Atikah pernah menjadi kakak ipar ‘Asma.

Pada saat menikah dengan Abdullah bin Abu Bakar, Atikah pernah membuat suaminya melupakan perniagaan karena terlalu mencintainya. Oleh sebab itu, Abu Bakar meminta Abdullah menceraikan Atikah. Setelah beberapa saat Abdullah dapat melobi ayahnya dan diizinkan untuk rujuk. Pada sebuah perang, Abdullah bin Abu Bakar syahid di medan jihad. Karena kecintaannya yang besar, ia mewariskan sejumlah harta dan meminta Atikah untuk tidak menikah lagi. Namun, pada saat itu Zaid bin Khatab (salah satu saudara Umar bin Khatab) tertarik kepadanya. Ia teringat dengan ucapan Umar bin Khatab, “Wahai Atikah, janganlah kamu mengharamkan apa yang telah Allah halalkan kepadamu.” Karena perkataan tersebut, setelah masa iddal, Atikah menikah dengan Zaid bin Khatab.

Pada perang Uhud, Zaid bin Khatab syahid. Ia menitipkan istrinya kepada Umar bin Khatab. Oleh sebab itu, Atikah menikah dengan Umar bin Khatab setelah kematian Zaid. Pada saat Umar meminangnya, Atikah meberikan syarat Umar tidak boleh melarangnya shalat ke masjid Nabawi. Umar menyanggupinya walaupun ia kurang setuju karena kecantikan Atikah dapat menimbulkan fitnah yang membahayakan. Suatu hari Abu Musa Al Asy’ari pernah memberi sebuah karpet kepada Atikah. Saat karpet tersebut dibawa ke rumah, Umar marah melihat pemberian tersebut. Ia langsung mendatangi Abu Musa dan bertanya, “Apa alasanmu memberikan barang ini kepada istriku?” Umar mengembalikan karpet tersebut sembari berkata, “kami tidak membutuhkannya.” Kecantikan Atikah membuat suami-suaminya amat menjaganya dan menjadi pencemburu.

Pada 23 Hijriyah Umar bin Khatab syahid karena ditusuk dengan belati oleh Abu Lu’luah, seorang penganut Majusi. Ia melipat kesedihannya dalam sebuah syair:
Hai mata, berikanlah ratapan dan tangisan
Kepada imam yang mulia jangan bosan
Kabar duka, penunggang kuda menyampaikan
Di saat bertugas dan peperangan
Katakan kepada orang-orang susah, matilah!
Karena kematian telah menjemput
Aku tidak bisa tidur, mataku terjaga
oleh isi hati penuh ketakjubab
Hari ini mataku benar-benar terjaga
Aku tangisi Amirul Mukminin dan semuanya
Kepada para pelayan kemanfaatnan dan kelapangan
Keindahan syair itu membuat Az Zubair kagum kepadanya. Kecintaannya terhadap Atikah sangat terlihat dari kekagumannya. Setelah Umar bin Khatab wafat, Atikah dipinang oleh Az Zubair bin Awwam, suami ‘Asma. Az Zubair tetap mengizinkannya untuk shalat ke masjid Nabawi. Namun, ia tetap membuntuti Atikah dari belakang. Tapi tak lama setelah itu, Az Zubair resmi melarang Atikah pergi ke masjid Nabawi dan ia tidak pernah melakukannya lagi. Az Zubair memang pencemburu.

Perhatiannya kepada Atikah seolah menyiratkan pertanyaan di hati ‘Asma, “Az Zubair, kau memberikan padaku segalanya. Menanamkan benih-benih hebat pejuang tauhid. Kau mengokohkanku dengan kisah-kisah pengorbanan tulus dalam setiap desahmu. Kau memberikan segalanya, kecuali cinta yang bergelora. Az Zubair, suamiku, jenis cinta apakah yang kemu miliki untukku?” Kecantikan Atikah membuat Az Zubair harus menjaga istrinya yang satu ini dengan ekstra ketat. Sedangkan ‘Asma yang sejak kecil merupakan perempuan pemberani tentu tidak melahirkan kekhawatiran di hati Az Zubair. Oleh sebab itu, perhatian Az Zubair terhadap ‘Asma tidak sebesar perhatiannya terhadap Atikah. 

Ketidakseimbangan inilah yang menjadi badai dalam pernikahan ‘Asma dan Az Zubair. Pada suatu siang, sekitar tahun ke 29 Hijriyah, setelah selama 28 tahun Asma mendampinginya, Az Zubair menceraikan ‘Asma. Entah karena alasan spesifik apa. Kecenderungan Az Zubair kepada Atikah yang menjadi alasan terbesar perceraian tersebut.

Pada tahun ke 36 Hijriyah Az Zubair syahid saat Atikah berusia lebih dari 50 tahun. Ia adalah wanita yang diketahui seantero dunia telah meratapi kematian suaminya dengan syair. Pada saat itu tidak pernah disebut-sebut tentang ‘Asma binti Abu Bakar. Yang terkenal pada peristiwa kematian Az Zubair adalah syair yang dibuat oleh Atikah:
Anak Jarmuz mengkhianati pemimpin pasukan
Suatu hari tanpa perlawanan
Hai ‘Amr, jika kau beritahu, dia akan siaga
Tidak akan gemetar jiwa dan tangannya
Berapa banyak kesulitan dilewatinya
Dia tidak akan tercela, wahai orang yang akan disiksa
Demi Allah, kau telah membunuh seorang muslim
Layak engkau dihukum, pembunuh dengan sengaja
* * *
Walaupun pernah bersama adalah ‘Asma, ternyata yang menjadi pendampingnya dikala syahid adalah Atikah. Bahkan pada kematian Az Zubair membuat Atikah terkenal sebagai istri para syuhada. Ia sempat dipinang oleh Ali bin Abi Thalib. Namun, pada saat itu, Atikah mengajukan syarat agar Ali tidak berperang karena takut Ali syahid seperti suami-suaminya yang lain. Karena persyaratan itu, Ali tidak jadi menikahinya. Atikah lalu menikah dengan Hasan bin Ali. Inilah pernikahan terakhirnya. Atikah wafat pada tahun 41 Hijriyah.

Setelah perceraian dengan Az Zubair, sejarah ‘Asma binti Abu Bakar adalah sejarah perjuangannya bersama putra-putranya. Ia tidak pernah menikah lagi. Keputusan ini karena perkataan ayahnya, “Putriku, Sabarlah. jika seorang wanita mempunyai suami yang shaleh dan dia meninggal, lalu wanita itu tidak menikah setelah itu, mereka akan dipersatukan kembali di surga.” Asma meninggal tujuh belas hari setelah Abdullah bin Az Zubair meninggal dunia. Ia wafat pada tahun ke 73 Hijriyah. Adz Dzahabi berkata, “Asma adalah orang terakhir yang meninggal di antara golongan kaum Muhajjirin.
Allah menakdirkannya berusia 100 tahun. Ia tidak pikun, giginya tidak satupun yang tanggal, pikirannya pun tetap kuat dan prima. Begitu pun keimanannya masih tetap teguh dalam ketakwaan.

KESIMPULAN

Terkadang dinikahi oleh orang yang dicintai selalu menghasilkan tanya, “Cintakah kau kepadaku?” Seperti pertanyaan ‘Asma ra. kepada Az Zubair ra. yang jawabannya belum dapat ditemukan dalam literatur manapun. Kecantikan dapat menjadi salah satu hal yang menjadi alasan mengapa perempuan dinikahi tapi ketinggian iman merupakan pilihan yang paling menyelamatkan. Di samping keshalihan dan kecerdasan, ternyata kecantikan merupakan kriteria penting yang membuat lelaki memilih istri, termasuk pada sahabat-sahabat Rasulullah SAW. Kecemburuan adalah duri dan belenggu dalam pernikahan terutama pada pernikahan poligami. Hal terpenting dari kisah ini, mempertahankan pernikahan lebih sulit daripada meraihnya.

Sumber : http://www.fimadani.com/mengapa-zubair-bin-awwam-menceraikan-asma-binti-abu-bakar/

Anak Angkat

Wednesday, August 27, 2014 | 4:52 PM

Khalifahlife.com - Anak angkat, haruskah membedakan anak angkat?
“Seharusnya kita sembunyikan saja dia mi , dan tidak usah beritahu siapa-siapa tentang anak angkat kita,” Rani 15 tahun berbisik pada ibundanya yang sibuk mengurus tangan Rayhan yang terluka. Diduga Rayhan mengidap penyakit diabetes, mungkin penyakit bawaan dari ibu kandungnya yang meninggalkan dia di rumah sakit karena tidak ada biaya dan menyerahkannya pada suster yang kemudian suster menyerahkananya pada bu Aisyah, seorang penjaga kantin di rumah sakit Anak Dan Bunda.

Bu Aisyah ingat, pada awalnya tidak ada yang mau menerima bayi kecil yang setiap hari nangis di pojok kamar bayi di rumah sakit, terbungkus erat selimut dan  sesekali dikerubungi oleh lalat yang hinggap pada beberapa bagian yang luka pada tubuhnya. Bila terkena luka sedikit, maka banyak semut yang mengerubungi lukanya, sehingga para suster di rumah sakit harus menjaga ekstra ketat agar di daerah dekat sang bayi tidak ada susu yang tumpah. Yaa, suster-suster yang hebat yang memiliki belas kasih, setiap hari harus sibuk mengurus bayi-bayi yang ditinggal begitu saja di rumah sakit. Terkadang mereka begitu iba sehingga ketika waktu kerja sudah selesai, mereka masih terus menjaga sang bayi dan menyalurkan kasih sayang dengan mendekap sang bayi satu persatu, dimana bayi-bayi lain tidur lelap dalam dekapan sang ibu. Namun bayi-bayi tanpa ibu ini tidur sendiri tanpa ada kehangatan yang mengalir pada tubuhnya, sampai mereka terlelap sendiri dengan kantuk yang luar biasa tanpa kehangatan lengan dan dada ibu.

Bu Aisyah yang bertugas mengantar makanan buat kepala suster, seringkali hanya melewati ranjang bayi Rayhan yang teronggok di pojok ruangan. Sesekali bila tidak ada suster yang menjaga di bangsal itu, bu Aisyah membantu untuk sekedar menepuk-nepuk bayi yang menangjs. Namun tidak ada siapa-siapa yang segera datang padanya, sampai Bu Aisyah berinisiatif mengangkat Rayhan menjadi anak angkatnya yang ke lima, setelah suami dan keempat anaknya menyetujui. Bahkan dua anak perempuan lainnya begitu semangat membantu mengurus bayi Rayhan.

Mulut nyinyir dari para tetangga dan juga saudara tidak digubris oleh bu Aisyah. Mereka memandang anak angkat sebagai mahluk lain dan beberapa saudara kandung bu Aisyah menegaskan bahwa si anak angkat tidak boleh diajak ke acara-acara besar karena susah menjelaskan pada masyarakat tentang siapa dia. Selain itu, yang juga membuat bu Aisyah sedih, ketika ada seorang saudaranya pulang dari luar negeri. Semua keponakan dikasih hadiah namun tidak bagi si anak angkat, lalu pelukan yang berbeda dari paman dan bibi juga perlakuan yang berbeda dari kakek dan nenek. Ah, ingin rasanya Bu Aisyah membawa semua anaknya tinggal di gunung saja agar tidak ada yang membedakan anak kandungnya dengan anak angkatnya.

Sekarang Rayhan, anak angkatnya masih kecil dan belum paham, namun bagaimana nanti bila dia sudah besar dan 'merasakan' jelas perbedaan antara dia dengan saudara-saudara lainnya yang dilakukan orang-orang sekitar bu Aisyah. Seakan-akan anak angkat itu buruk dan akan jadi buruk dan menjadi masyarakat kelas bawah yang miskin. Sehingga dari awal harus menerima perlakuan yang berbeda. “Ahh, bu Aisyah harus struggle dalam membuka pemikiran orang-orang Indonesia yang suka memandang rendah pada anak angkat dan status anak angkat. Sebetulnya tidak ada istilah anak angkat atau anak haram, karena anak baik atau tidak, bukan darimana dia berasal namun bagaimana lingkungan membentuknya seperti hadist Rasulullah yang diriwayatkan dari Abu Hurairah R.A. Rasulullah bersabda:

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, lalu kedua orangtuanya membuatnya Yahudi, Majusi atau Nasrani”

Penulis : Fifi P. Jubilea (Founder & Conceptor Jakarta Islamic School)

Salman Al Farisi [2] - Mencari Kebenaran

Monday, August 25, 2014 | 9:46 PM



Khalifahlife.com - Lihatlah, sekarang dia sedang duduk dibawah pohon rindang didepan rumahnya di kota Madain. Ia menceritakan kepada rekan-rekannya, perjuangan berat yang ia alami demi mencari kebenaran. Bagaimana ia meninggalkan agama nenek moyangnya (bangsa Persi) dan memeluk agam Kristen. Setelah itu, ia memeluk agam Islam. Bagaimana ia meninggalkan kekayaan berlimpah dari orang tuanya dan lebih memilih hidup dalam kemiskinan demi kebebasan pikiran dan jiwanya. Bagaimana ia sampai dijual pasar budak dalam perjalannya mencari kebenaran itu. Bagaimana ia berjumpa dengan Rasulullah dan beriman kepadanya.

Marilah kita dekati majelisnya yang mulia dan kita dengarkan kisah menakjubkan yang ia ceritakan.

“Aku berasal dari wilayah Isfahan, dari desa “Ji,” ayahku seorang kepala wilayah. Aku adalah orang yang paling disayanginya. Aku membaktikan diri dari agama Majusi. Aku bertugas sebagai penjaga api peribadatan agar tetap menyala.

Ayahku memiliki sebidang tanah. Suatu hari aku disuruhnya ke sana. Dalam perjalanan ke tempat tujuan, aku melewati sebuah gereja. Kudengar mereka sedang sembahyang, maka aku masuk untuk melihat apa yang mereka lakukan. Aku kagum melihat cara mereka sembahyang. Aku berkata dalam hati, ``Ini lebih baik agama Majusi yang kuanut selama ini.”

Aku berada di gereja itu sampai matahari terbenam. Aku tidak ke ladang ayahku dan tidak juga pulang, hingga ayah mengirim orang untuk menyusulku.

Karena agama mereka menarik perhatianku, kutanyakan pada orang-orang Kristen itu, dari mana asal usul agama mereka. Mereka menjawab, “Dari negeri Syam.”

Ketika pulang kuceritakan kepada ayah, “Aku melewati suatu kaum yang sedang sembahyang di gereja. Aku tertarik dengan cara sembahyang mereka. Menurutku agama mereka lebih baik dari agama kita.”

Terjadi dialog diantara kami. Ayah marah. Aku dirantai dan dikurung.

Aku kirim kabar kepada orang-orang Kristen bahwa aku telah menganut agama mereka. Aku meminta mereka mengabariku jika ada rombongan dari Syam yang datang. Aku akan ikut mereka saat mereka pulang ke Syam. Permintaanku itu mereka kabulkan. Aku putuskan ikatanku lalu keluar dari kurungan dan bergabung dengan rombongan itu menuju Syam.

Sesampainya disana, aku bertanya tentang ahli agama mereka. Mereka menjawab, “Uskup pemilik gereja.” Maka aku menemuinya, menceritakan keadaanku. Aku tinggal bersamanya, menjadi pelayan gereja, sembahyang dan belajar. Sayang, uskup ini orang yang tidak baik. Ia mengumpulkan sedekah dari warga yang semestinya dibagikan, namun ia simpan untuk kepentingan pribadinya.

Kemudian, uskup itu meninggal dunia. Mereka mengangkat orang lain sebagai gantinya. Uskup baru ini sangat taat beragama. Aku tidak menjumpai orang lain yang lebih zuhud dan lebih rajin beribada darinya.

Aku sangat menghormatinya, melebihi yang lain. Saat ia akan meninggal dunia, aku bertanya kepadanya, “Anda tahu bahwa kematian akan menjemput Anda. Apa yang harus kuperbbuat? Kepada siapa aku harus berguru?”

“Anakku, hanya ada satu orang yang sepertiku. Dia tinggal di Mosul.”

Setelah ia wafat, aku berangkat ke Mosul dan menghubungi pendeta yang disebutkannya. Kuceritakan apa yang terjadi. Aku tinggal bersamnya cukup lama, hingga ia meninggal dunia. Sebelum ia meninggal dunia, aku bertanya kepadanya. Dia menunjukkanku kepada seorang ahli ibadah di Nasibin. Aku datang kepadanya dan kuceritakan keadaanku. Aku tinggal bersamanya cukup lama, hingga ia meninggal dunia. Sebelum dia meninggal, aku bertanya kepadanya. Aku disuruh berguru kepada seorang laki-laki di Amuria, Romawi. Aku berangkat ke sana dan tinggal bersamanya. Untuk memenuhi kebutuhanku, aku beternak sapi dan kambing.

Ketika dia meninggal dunia, aku meintanya menunjukankku orang yang harus kuikuti. Dia berkata, “Anakku, aku tidak menyuruhmu datang ke siapa pun. Saat ini sudah diutus seorang Nabi yang membawa risalah Nabi Ibrahim. Dia akan hijrah ke satu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak diantara dua bebatuan hitam. Jika kamu bisa pergi ke sana, lakukanlah. Dia mempunyai tanda-tanda yang jelas. Dia tidak menerima sedekah, tapi menerima hadiah. Di pundaknya ada tanda kenabian. Jika kamu melihatnya, kamu pasti mengenalinya.”

Suatu hari, ada rombongan lewat. Kutanyakan asal usul mereka Mereka dari Jazirah Arab. Maka aku bertanya kepada mereka, “Maukah kalian membawaku ke negeri kalian, dan sebagai imbalannya kuberikan kepada kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini?”
“Baiklah,” kata mereka.

Aku ikut bersama rombongan itu. Ketika sampai di daerah Wadil Qura, mereka berkhianat. Aku dijual ke seorang Yahudi. Aku melewati daerah yang penuh dengan pohon kurma. Aku megira tempat itulah yang dimaksdu pendeta. Tempat yang akan dijadikan tujuan hijrah Nabi. Tapi ternyata bukan.

Mulai saat itu aku tinggal bersama orang yang membeliku, hingga pada suatu hari datang seorang Yahudi bani Quraidhah yang membeliku dari majikanku saat ini. Lalu aku dibawa ke Madinah. Demi Allah, sejak pertama melihat negeri ini, aku yakin inilah negeri yang dimaksud.
Aku tinggal bersama Yahudi itu dan bekerja dikebun kurma miliknya. Hingga Allah mengutus Rasul-Nya. Hingga dia datang ke Madinah, dan singgah di Quba, di bani Amru bin Auf.

Suatu hari, saat aku berada diatas pohon kurma dan majikanku berada di bawah, sepupu majikannku datang dengan kabar, “Celakalah bani Qailah. Mereka berkerumun menggelilingi seorang laki-laki di Quba. Dia datang dari Mekah dan mengaku seorang Nabi.”

Demi Allah, ketika mendengar berita itu, tubuhku bergetar keras hingga pohon kurma itu seakan berguncang dan hampir saja aku jatuh menimpa majikanku. Aku segera turun dan berkata kepada orang tadi, “Apa yang Tuan katakan? Ada berita apa?”

Majikanku mengangkat tangannya dan memukulku dengan keras. Ia membentak, “Apa urusanmu dengan masalah ini. Sana, kembali bekerja.” Maka aku pun kembali bekerja.

Setelah hari mulai petang, aku berangkat ke Quba dengan membawa sedikit makanan. Aku menemui Rasulullah saat itu bersama beberapa sahabatnya. Aku berkata, “Tuan-tuan adalah perantau yang membutuhkan bantuan. Saya punya makanan yang saya siapkan untuk sedekah. Setelah mendengarkan keadaan Tuan-tuan, saya pikir Tuan-tuan lebih berhak menerimanya.” Lalu makanan itu kutaruh di dekat mereka.

Rasulullah berkata kepada para sahabatnya, “Makanlah dengan menyebut nama Allah.” Sedangkan beliau sendiri tidak ikut makan.

Aku berkata dalam hati, “Demi Allah, ini satu tanda yang disebutkan. Dia tidak memakan sedekah.” Lalu aku pulang.

Keesokan harinya aku kembali menemui Rasulullah dengan membawa makanan. Aku berkata kepadanya, “Aku melihat Tuan tidak makan sedekah. Aku mempunyai makanan yang kuberikan sebagai hadiah untuk Tuan.” Dan, makanan itu kutaruh di dekatnya.

Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya, “Makanlah dengan menyebut nama Allah.” Beliau pun makan bersama mereka.

Aku berkata dalam hati, “Demi Allah, ini tanda kedua. Dia mau memakan hadiah. Lalu aku pulang.

Beberapa hari kemudian, aku kembali menemui Rasulullah yang saat itu berada di pemakaman Baqi,’ sedang mengirngkan jenazah. Beliau bersama para sahabatnya. Beliau mengenakan dua lembar kain lebar. Satu dipakainya untuk sarung dan satu lagi sebagai baju.
Aku mengucapkan salam kepadanya, lalu aku menoleh kearah punggung atasnya. Rupanya beliau mengerti maksudku. Maka beliau menyingkapkan kain burdah dari pundaknya, hingga tanda yang kucari terlihat di antara dua pundaknya. Tanda kenabian seperti yang disebutkan oleh si pendeta.

Melihat itu, aku merangkul dan menciumnya sambil menangis.

Lalu aku dipangil menghadap Rasulullah. Aku duduk di hadapannya. Kuceritakan kisahku kepadanya seperti yang kuceritakan kepada kalian saat ini.
Lalu aku masuk Islam. Saat terjadi Perang Badar dan Uhud, aku tidak bisa ikut karena statusku masih menjadi budak belian.

Suatu hari, Rasulullah memerintahkan, “Mintalah kepada tuanmu agar dia bersedia membebaskanmu dengan uang tebusan.” Maka aku meminta kepada majikanku sebagaimana diperintahkan Rasulullah. Rasulullah juga menyuruh para sahabat untuk membantuku dalam soal keuangan. Akhirnya aku terbebas dari perbudakan. Aku seorang muslim merdeka. Setelah itu aku ikut dalam perang Khandaq dan peristiwa-peristiwa penting lainnya.” [bersambung/dn]

Sumber : Sumber : 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW/Khalid Muhammad Khalid/Al Itishom
end:
 
KANAL : REDAKSI | IKLAN | HUBUNGI KAMI
Copyright © 2011. Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger