Khalifahlife.com - Lihatlah, sekarang
dia sedang duduk dibawah pohon rindang didepan rumahnya di kota Madain. Ia
menceritakan kepada rekan-rekannya, perjuangan berat yang ia alami demi mencari
kebenaran. Bagaimana ia meninggalkan agama nenek moyangnya (bangsa Persi) dan
memeluk agam Kristen. Setelah itu, ia memeluk agam Islam. Bagaimana ia
meninggalkan kekayaan berlimpah dari orang tuanya dan lebih memilih hidup dalam
kemiskinan demi kebebasan pikiran dan jiwanya. Bagaimana ia sampai dijual pasar
budak dalam perjalannya mencari kebenaran itu. Bagaimana ia berjumpa dengan
Rasulullah dan beriman kepadanya.
Marilah kita
dekati majelisnya yang mulia dan kita dengarkan kisah menakjubkan yang ia
ceritakan.
“Aku berasal dari
wilayah Isfahan, dari desa “Ji,” ayahku seorang kepala wilayah. Aku adalah
orang yang paling disayanginya. Aku membaktikan diri dari agama Majusi. Aku
bertugas sebagai penjaga api peribadatan agar tetap menyala.
Ayahku memiliki
sebidang tanah. Suatu hari aku disuruhnya ke sana. Dalam perjalanan ke tempat
tujuan, aku melewati sebuah gereja. Kudengar mereka sedang sembahyang, maka aku
masuk untuk melihat apa yang mereka lakukan. Aku kagum melihat cara mereka
sembahyang. Aku berkata dalam hati, ``Ini lebih baik agama Majusi yang kuanut
selama ini.”
Aku berada di
gereja itu sampai matahari terbenam. Aku tidak ke ladang ayahku dan tidak juga
pulang, hingga ayah mengirim orang untuk menyusulku.
Karena agama
mereka menarik perhatianku, kutanyakan pada orang-orang Kristen itu, dari mana
asal usul agama mereka. Mereka menjawab, “Dari negeri Syam.”
Ketika pulang
kuceritakan kepada ayah, “Aku melewati suatu kaum yang sedang sembahyang di
gereja. Aku tertarik dengan cara sembahyang mereka. Menurutku agama mereka
lebih baik dari agama kita.”
Terjadi dialog
diantara kami. Ayah marah. Aku dirantai dan dikurung.
Aku kirim kabar
kepada orang-orang Kristen bahwa aku telah menganut agama mereka. Aku meminta
mereka mengabariku jika ada rombongan dari Syam yang datang. Aku akan ikut
mereka saat mereka pulang ke Syam. Permintaanku itu mereka kabulkan. Aku
putuskan ikatanku lalu keluar dari kurungan dan bergabung dengan rombongan itu
menuju Syam.
Sesampainya
disana, aku bertanya tentang ahli agama mereka. Mereka menjawab, “Uskup pemilik
gereja.” Maka aku menemuinya, menceritakan keadaanku. Aku tinggal bersamanya,
menjadi pelayan gereja, sembahyang dan belajar. Sayang, uskup ini orang yang
tidak baik. Ia mengumpulkan sedekah dari warga yang semestinya dibagikan, namun
ia simpan untuk kepentingan pribadinya.
Kemudian, uskup
itu meninggal dunia. Mereka mengangkat orang lain sebagai gantinya. Uskup baru
ini sangat taat beragama. Aku tidak menjumpai orang lain yang lebih zuhud dan
lebih rajin beribada darinya.
Aku sangat menghormatinya,
melebihi yang lain. Saat ia akan meninggal dunia, aku bertanya kepadanya, “Anda
tahu bahwa kematian akan menjemput Anda. Apa yang harus kuperbbuat? Kepada
siapa aku harus berguru?”
“Anakku, hanya ada
satu orang yang sepertiku. Dia tinggal di Mosul.”
Setelah ia wafat,
aku berangkat ke Mosul dan menghubungi pendeta yang disebutkannya. Kuceritakan
apa yang terjadi. Aku tinggal bersamnya cukup lama, hingga ia meninggal dunia.
Sebelum ia meninggal dunia, aku bertanya kepadanya. Dia menunjukkanku kepada
seorang ahli ibadah di Nasibin. Aku datang kepadanya dan kuceritakan keadaanku.
Aku tinggal bersamanya cukup lama, hingga ia meninggal dunia. Sebelum dia
meninggal, aku bertanya kepadanya. Aku disuruh berguru kepada seorang laki-laki
di Amuria, Romawi. Aku berangkat ke sana dan tinggal bersamanya. Untuk memenuhi
kebutuhanku, aku beternak sapi dan kambing.
Ketika dia
meninggal dunia, aku meintanya menunjukankku orang yang harus kuikuti. Dia
berkata, “Anakku, aku tidak menyuruhmu datang ke siapa pun. Saat ini sudah
diutus seorang Nabi yang membawa risalah Nabi Ibrahim. Dia akan hijrah ke satu
tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak diantara dua bebatuan hitam. Jika kamu
bisa pergi ke sana, lakukanlah. Dia mempunyai tanda-tanda yang jelas. Dia tidak
menerima sedekah, tapi menerima hadiah. Di pundaknya ada tanda kenabian. Jika
kamu melihatnya, kamu pasti mengenalinya.”
Suatu hari, ada
rombongan lewat. Kutanyakan asal usul mereka Mereka dari Jazirah Arab. Maka aku
bertanya kepada mereka, “Maukah kalian membawaku ke negeri kalian, dan sebagai
imbalannya kuberikan kepada kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini?”
“Baiklah,” kata
mereka.
Aku ikut bersama
rombongan itu. Ketika sampai di daerah Wadil Qura, mereka berkhianat. Aku
dijual ke seorang Yahudi. Aku melewati daerah yang penuh dengan pohon kurma.
Aku megira tempat itulah yang dimaksdu pendeta. Tempat yang akan dijadikan
tujuan hijrah Nabi. Tapi ternyata bukan.
Mulai saat itu aku
tinggal bersama orang yang membeliku, hingga pada suatu hari datang seorang
Yahudi bani Quraidhah yang membeliku dari majikanku saat ini. Lalu aku dibawa
ke Madinah. Demi Allah, sejak pertama melihat negeri ini, aku yakin inilah
negeri yang dimaksud.
Aku tinggal
bersama Yahudi itu dan bekerja dikebun kurma miliknya. Hingga Allah mengutus
Rasul-Nya. Hingga dia datang ke Madinah, dan singgah di Quba, di bani Amru bin
Auf.
Suatu hari, saat
aku berada diatas pohon kurma dan majikanku berada di bawah, sepupu majikannku
datang dengan kabar, “Celakalah bani Qailah. Mereka berkerumun menggelilingi
seorang laki-laki di Quba. Dia datang dari Mekah dan mengaku seorang Nabi.”
Demi Allah, ketika
mendengar berita itu, tubuhku bergetar keras hingga pohon kurma itu seakan
berguncang dan hampir saja aku jatuh menimpa majikanku. Aku segera turun dan
berkata kepada orang tadi, “Apa yang Tuan katakan? Ada berita apa?”
Majikanku
mengangkat tangannya dan memukulku dengan keras. Ia membentak, “Apa urusanmu
dengan masalah ini. Sana, kembali bekerja.” Maka aku pun kembali bekerja.
Setelah hari mulai
petang, aku berangkat ke Quba dengan membawa sedikit makanan. Aku menemui
Rasulullah saat itu bersama beberapa sahabatnya. Aku berkata, “Tuan-tuan adalah
perantau yang membutuhkan bantuan. Saya punya makanan yang saya siapkan untuk
sedekah. Setelah mendengarkan keadaan Tuan-tuan, saya pikir Tuan-tuan lebih
berhak menerimanya.” Lalu makanan itu kutaruh di dekat mereka.
Rasulullah berkata
kepada para sahabatnya, “Makanlah dengan menyebut nama Allah.” Sedangkan beliau
sendiri tidak ikut makan.
Aku berkata dalam
hati, “Demi Allah, ini satu tanda yang disebutkan. Dia tidak memakan sedekah.”
Lalu aku pulang.
Keesokan harinya
aku kembali menemui Rasulullah dengan membawa makanan. Aku berkata kepadanya,
“Aku melihat Tuan tidak makan sedekah. Aku mempunyai makanan yang kuberikan
sebagai hadiah untuk Tuan.” Dan, makanan itu kutaruh di dekatnya.
Rasulullah bersabda
kepada para sahabatnya, “Makanlah dengan menyebut nama Allah.” Beliau pun makan
bersama mereka.
Aku berkata dalam
hati, “Demi Allah, ini tanda kedua. Dia mau memakan hadiah. Lalu aku pulang.
Beberapa hari
kemudian, aku kembali menemui Rasulullah yang saat itu berada di pemakaman
Baqi,’ sedang mengirngkan jenazah. Beliau bersama para sahabatnya. Beliau
mengenakan dua lembar kain lebar. Satu dipakainya untuk sarung dan satu lagi
sebagai baju.
Aku mengucapkan
salam kepadanya, lalu aku menoleh kearah punggung atasnya. Rupanya beliau
mengerti maksudku. Maka beliau menyingkapkan kain burdah dari pundaknya, hingga
tanda yang kucari terlihat di antara dua pundaknya. Tanda kenabian seperti yang
disebutkan oleh si pendeta.
Melihat itu, aku
merangkul dan menciumnya sambil menangis.
Lalu aku dipangil
menghadap Rasulullah. Aku duduk di hadapannya. Kuceritakan kisahku kepadanya
seperti yang kuceritakan kepada kalian saat ini.
Lalu aku masuk
Islam. Saat terjadi Perang Badar dan Uhud, aku tidak bisa ikut karena statusku
masih menjadi budak belian.
Suatu hari,
Rasulullah memerintahkan, “Mintalah kepada tuanmu agar dia bersedia
membebaskanmu dengan uang tebusan.” Maka aku meminta kepada majikanku
sebagaimana diperintahkan Rasulullah. Rasulullah juga menyuruh para sahabat
untuk membantuku dalam soal keuangan. Akhirnya aku terbebas dari perbudakan.
Aku seorang muslim merdeka. Setelah itu aku ikut dalam perang Khandaq dan
peristiwa-peristiwa penting lainnya.” [bersambung/dn]
Sumber : Sumber :
60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW/Khalid Muhammad Khalid/Al Itishom

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !