“Seharusnya kita
sembunyikan saja dia mi , dan tidak usah beritahu siapa-siapa tentang anak
angkat kita,” Rani 15 tahun berbisik pada ibundanya yang sibuk mengurus tangan
Rayhan yang terluka. Diduga Rayhan mengidap penyakit diabetes, mungkin penyakit
bawaan dari ibu kandungnya yang meninggalkan dia di rumah sakit karena tidak
ada biaya dan menyerahkannya pada suster yang kemudian suster menyerahkananya
pada bu Aisyah, seorang penjaga kantin di rumah sakit Anak Dan Bunda.
Bu Aisyah ingat,
pada awalnya tidak ada yang mau menerima bayi kecil yang setiap hari nangis di
pojok kamar bayi di rumah sakit, terbungkus erat selimut dan sesekali dikerubungi
oleh lalat yang hinggap pada beberapa bagian yang luka pada tubuhnya. Bila terkena
luka sedikit, maka banyak semut yang mengerubungi lukanya, sehingga para suster
di rumah sakit harus menjaga ekstra ketat agar di daerah dekat sang bayi tidak
ada susu yang tumpah. Yaa, suster-suster yang hebat yang memiliki belas kasih,
setiap hari harus sibuk mengurus bayi-bayi yang ditinggal begitu saja di rumah
sakit. Terkadang mereka begitu iba sehingga ketika waktu kerja sudah selesai, mereka
masih terus menjaga sang bayi dan menyalurkan kasih sayang dengan mendekap sang
bayi satu persatu, dimana bayi-bayi lain tidur lelap dalam dekapan sang ibu.
Namun bayi-bayi tanpa ibu ini tidur sendiri tanpa ada kehangatan yang mengalir
pada tubuhnya, sampai mereka terlelap sendiri dengan kantuk yang luar biasa
tanpa kehangatan lengan dan dada ibu.
Bu Aisyah yang
bertugas mengantar makanan buat kepala suster, seringkali hanya melewati
ranjang bayi Rayhan yang teronggok di pojok ruangan. Sesekali bila tidak ada
suster yang menjaga di bangsal itu, bu Aisyah membantu untuk sekedar menepuk-nepuk
bayi yang menangjs. Namun tidak ada siapa-siapa yang segera datang padanya, sampai
Bu Aisyah berinisiatif mengangkat Rayhan menjadi anak angkatnya yang ke lima, setelah
suami dan keempat anaknya menyetujui. Bahkan dua anak perempuan lainnya begitu
semangat membantu mengurus bayi Rayhan.
Mulut nyinyir
dari para tetangga dan juga saudara tidak digubris oleh bu Aisyah. Mereka
memandang anak angkat sebagai mahluk lain dan beberapa saudara kandung bu
Aisyah menegaskan bahwa si anak angkat tidak boleh diajak ke acara-acara besar
karena susah menjelaskan pada masyarakat tentang siapa dia. Selain itu, yang
juga membuat bu Aisyah sedih, ketika ada seorang saudaranya pulang dari luar
negeri. Semua keponakan dikasih hadiah namun tidak bagi si anak angkat, lalu
pelukan yang berbeda dari paman dan bibi juga perlakuan yang berbeda dari kakek
dan nenek. Ah, ingin rasanya Bu Aisyah membawa semua anaknya tinggal di gunung
saja agar tidak ada yang membedakan anak kandungnya dengan anak angkatnya.
Sekarang Rayhan,
anak angkatnya masih kecil dan belum paham, namun bagaimana nanti bila dia
sudah besar dan 'merasakan' jelas perbedaan antara dia dengan saudara-saudara
lainnya yang dilakukan orang-orang sekitar bu Aisyah. Seakan-akan anak angkat
itu buruk dan akan jadi buruk dan menjadi masyarakat kelas bawah yang miskin.
Sehingga dari awal harus menerima perlakuan yang berbeda. “Ahh, bu Aisyah harus
struggle dalam membuka pemikiran
orang-orang Indonesia yang suka memandang rendah pada anak angkat dan status
anak angkat. Sebetulnya tidak ada istilah anak angkat atau anak haram, karena
anak baik atau tidak, bukan darimana dia berasal namun bagaimana lingkungan
membentuknya seperti hadist Rasulullah yang diriwayatkan dari Abu Hurairah R.A.
Rasulullah bersabda:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan
fitrah, lalu kedua orangtuanya membuatnya Yahudi, Majusi atau Nasrani”
Penulis : Fifi P. Jubilea (Founder & Conceptor Jakarta Islamic School)
Penulis : Fifi P. Jubilea (Founder & Conceptor Jakarta Islamic School)

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !