Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia: Penjaga Quran
Headlines News :

Latest Post

Showing posts with label Penjaga Quran. Show all posts
Showing posts with label Penjaga Quran. Show all posts

Komitmen Menjadi Bagian Dari Penjaga Al Quran

Tuesday, August 26, 2014 | 9:25 AM


dra. Wiwik Wiryaningsing

Khalifahllife.com - Tahun’70-an hinga 80-an saat anak-anak mudanya terkenal dengan semboyan buku, pesta, dan cinta, Wiwi muda sudah tampil berbeda. Dia termasuk pada barisan anak-anak muda yang telah tekun dengan prinsip-prinsip agama, bahkan sudah mengenakan jibab rapi menutup aurat. Dia berprinsip bahwa Allah pastilah menginginkan hadirnya orang-orang yang berbeda dengan ciri zamannya dan dia ingin termasuk di dalamnya.
Ketika orang lain tidak suka ke masjid, dia menjadikan masjid sebagai tempat yang dirindukan. Ketika orang lain malas melakukan shalat, dia menunggu-nunggu waktu shalat. Ketika orang lain tidak suka Al Qur’an sebagai rujukan. Wiwi begitu yakin bahwa apa yang terjadi atasnya dan keinginannya untuk menjadi bagian tentara penjaga Al Qur’an, semata-mata hidayah dari Allah semata. Prasangka kepada segala sesuatu acapkali mendorong kita untuk menjadikan prasangka itu maujud menjadi takdir. Apalagi, prasangka kita kepada Zat yang Maha Besar.
Abu Hurairah r.a berkata,”Rasulullah saw. Bersabda, Allah telah berfirman,’Aku selalu mengikuti prasangka hamba-Ku dan Aku selalu menyertai dia ketika dia ingat kepada-Ku...”(HR Bukhari dan Muslim).
Prasangka baik itu memang selalu diteguhkan Wiwi. Dia selalu berprasanka bahwa kehidupan dia dan keluarganya ada dalam rekayasa Allah. Keyakinan itulah yang menjadi daya dorong baginya untuk senantiasa tumbuh dan bergantung hanya kepada-Nya. Hal tersebut menjadi sebuah jalan baginya untuk senantiasa terjaga dan menjaga. Wiwi mengibaratkan kisah tersebut seperti penjagaan Allah terhadap nabiyullah, Muhammad saw. Ketika beliau secara manusiawi tertarik kepada keramaian pasar Ukaz, Allah menidurkan nabi-Nya sebagai bentuk perlindungan kepadanya. Ketika prasangka kita bahwa Allah akan senantiasa melindungi dan menyelamatkan kita maka perlindungan dan keselamatanpun terjadilah.
Wiwi dibesarkan dalam keluarga yang tekun beragama meskipun masih bersifat abangan. Ayahnya yang bernama Wage bukan berasal dari keluarga santri. Hidayah Allah Swt, merasuk ke dalam jiwanya saat menikah dengan Ibunda Wiwi yang kemudian melahirkan Wirianingsih. Saat Wiwi berusia tiga tahun dan sering terbangun karena buang air kecil, dia sering melihat ayahadanya shalat malam. Keteladanan ayahanda Wiwi dalam ibadah, tampaknya membekas dalam jiwanya dan membentuk kepribadiannya. Ayahanda Wiwi termasuk disiplin dalam mendidik akhlak putra-putrinya. Contohnya, bagi Wiwi sebagai anak perempuan. Sejak kecil, dia sudah tidak diperkenankan mengenakan rok pendek. Bahkan ketika menginjak dewasa, Wiwi dilarang sama sekali memperlihatkan lutut sehingga kemana-mana dia menggunakan sarung untuk menutup aurat. Keluarga Wiwi saat itu juga menggunakan rumahnya sebagai tempat berkumpul untuk mengaji, Kebiasaan masa kecil ini pula yang menginpirasi Wiwi menjadikan rumahnya sebagai tempat mengaji bagi anak-anaknya dan juga anak-anak tetangganya. Hingga saat ini, rumah keluarga Wiwi senantiasa segar dan harum dengan lantunan Al Qur’an.

Komitmen Menjadi Bagian dari Penjaga Al Quran

Thursday, August 21, 2014 | 11:19 PM

Khalifahlife.com - Pada era teknologi informasi yang serba egosentris dan hedonisme seperti sekarang ini, apa yang dicari sepasang suami-isteri yang begitu yakin bahwa Al Qur’an akan menjadi jalan keluar untuk seluruh problema hidup?

Pasangan H. Mutamimul ‘Ula, S.H. dan Dra. Hj. Wirianingsih telah membuktikannya. Keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah penyembuh bagi duka lara kehiduan telah membawa mereka kepada keberhasilan mendidik sebelas putra-putrinya. Semua putranya menjadi para penghafal Al Qur’an yang tidak hanya cerdas secara ukhrawi, tetapi juga cerdas secara duniawi.


Putra putri Wirianingsih dan Mutamimul ‘Ula yang berjumlah sebelas: tujuh laki-laki dan empat perempuan, seluruhnya mengawali masa kanak-kanak mereka dengan bergaul secara intensif bersama Al Qur’an. Pasangan ini secara sistematis telah merancang kurikulum berbasis Al Qur’an bagi  putra-putrinya. Seteah 25 tahun menikah dan berjuang mendidik putra-putrinya dengan basis Al Qur’an, putra-putri mereka tumbuh menjadi pemuda dan pemudi yang istimewa. Al Qur’an tumbuh di hati mereka. Mewarnai kecerdasan pemikiran dan kebersihan akhlak mereka.


Afzalurahman putra pertama, hafal Al Qur’an pada usia 13 tahun – kini usia 23 tahun – semester akhir Teknik Geofisika ITB. Ketua pembinaan Majelis Taklim Salman ITB dan terpilih sebagai peserta Pertamina Youth Programme 2007. 


Faris Jihady Hanifa, hafal Al Qur’an pada usia 10 tahun dengan predikat mumtaz. Kini usianya 21 tahun dan duduk di semester tujuh Fakultas Syariat LIPIA. Peraih juara I lomba tahfidz Al Qur’an yang diselenggarakan oleh kerajaan Saudi  di Jakarta tahun 2003, juara olimpiade IPS tingkat SMA yang diselenggarakan UNJ tahun 2004, dan sekarang Faris menjadi Sekum KAMMI Jakarta.


Putri ketiganya Maryam Qonitat, hafal Al Qur’an sejak usia 16 tahun. Kini usianya 19 tahun dan duduk di semester 5 Fakultas Ushuludin Universitas Al Azhar Kairo. Pelajar teladan dan lulusan terbaik Pesantren Husnul Khatimah 2006 ini, diikuti pula oleh adik-adiknya yang memiliki hafalan yang berbeda-beda.


Afifah, adiknya, kini mahasiswa Fakultas Hukum UI. Dia menyelesaikan hafalan 29 Juz saat lulus SMA. Yang istimewa adalah putra kedelapan, yakni Muhammad Syaihul Basyir. Waktu duduk di SDIT Al Hikmah. Dia sempat berazam untuk memecahkan rekor hafal Al Qur’an saat lulus SD. Pada saat itu, dia telah hafal 25 Juz Al Qur’an. Kini, azam itu tercapai.


Visi tentang Al Qur’an tidak begitu saja muncul pada pasangan ini. Visi tersebut telah dibangun dan diinternalisasi bahkan sejak mereka belum menikah. Islam yang datang dengan Mujizat Al Qur’annya akan menjadi solusi sepanjang zaman. Bu Wiwi, demikian panggilan akrab dari Wirianingsih, sejak masih gadis adalah sesosok perempuan yang begitu dekat dengan Islam dan tarbiah. Dia lahir dari keluarga yang kental dengan agama. Demikian pula suaminya. Inspirasi surat Al Imran ayat 110 yang berbunyi,”Kuntum khaira umatin ukhrijat linasi, taimuruna bilma’ruf wa tanhauna ‘anil munkar”’, begitu melekat pada dirinya. Cita-citanya untuk mewujudkan keluarga yang mampu mengispirasi dan menjadi teladan bagi masyarakat tertanam begitu kuat dan dalam.
end:
 
KANAL : REDAKSI | IKLAN | HUBUNGI KAMI
Copyright © 2011. Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger