![]() |
| dra. Wiwik Wiryaningsing |
Khalifahllife.com - Tahun’70-an
hinga 80-an saat anak-anak mudanya terkenal dengan semboyan buku, pesta, dan
cinta, Wiwi muda sudah tampil berbeda. Dia termasuk pada barisan anak-anak muda
yang telah tekun dengan prinsip-prinsip agama, bahkan sudah mengenakan jibab
rapi menutup aurat. Dia berprinsip bahwa Allah pastilah menginginkan hadirnya
orang-orang yang berbeda dengan ciri zamannya dan dia ingin termasuk di
dalamnya.
Ketika
orang lain tidak suka ke masjid, dia menjadikan masjid sebagai tempat yang
dirindukan. Ketika orang lain malas melakukan shalat, dia menunggu-nunggu waktu
shalat. Ketika orang lain tidak suka Al Qur’an sebagai rujukan. Wiwi begitu
yakin bahwa apa yang terjadi atasnya dan keinginannya untuk menjadi bagian
tentara penjaga Al Qur’an, semata-mata hidayah dari Allah semata. Prasangka kepada
segala sesuatu acapkali mendorong kita untuk menjadikan prasangka itu maujud
menjadi takdir. Apalagi, prasangka kita kepada Zat yang Maha Besar.
Abu
Hurairah r.a berkata,”Rasulullah saw. Bersabda, Allah telah berfirman,’Aku selalu mengikuti prasangka hamba-Ku dan
Aku selalu menyertai dia ketika dia ingat kepada-Ku...”(HR Bukhari dan
Muslim).
Prasangka
baik itu memang selalu diteguhkan Wiwi. Dia selalu berprasanka bahwa kehidupan
dia dan keluarganya ada dalam rekayasa Allah. Keyakinan itulah yang menjadi
daya dorong baginya untuk senantiasa tumbuh dan bergantung hanya kepada-Nya.
Hal tersebut menjadi sebuah jalan baginya untuk senantiasa terjaga dan menjaga.
Wiwi mengibaratkan kisah tersebut seperti penjagaan Allah terhadap nabiyullah,
Muhammad saw. Ketika beliau secara manusiawi tertarik kepada keramaian pasar
Ukaz, Allah menidurkan nabi-Nya sebagai bentuk perlindungan kepadanya. Ketika
prasangka kita bahwa Allah akan senantiasa melindungi dan menyelamatkan kita
maka perlindungan dan keselamatanpun terjadilah.
Wiwi
dibesarkan dalam keluarga yang tekun beragama meskipun masih bersifat abangan.
Ayahnya yang bernama Wage bukan berasal dari keluarga santri. Hidayah Allah
Swt, merasuk ke dalam jiwanya saat menikah dengan Ibunda Wiwi yang kemudian
melahirkan Wirianingsih. Saat Wiwi berusia tiga tahun dan sering terbangun
karena buang air kecil, dia sering melihat ayahadanya shalat malam. Keteladanan
ayahanda Wiwi dalam ibadah, tampaknya membekas dalam jiwanya dan membentuk
kepribadiannya. Ayahanda Wiwi termasuk disiplin dalam mendidik akhlak
putra-putrinya. Contohnya, bagi Wiwi sebagai anak perempuan. Sejak kecil, dia
sudah tidak diperkenankan mengenakan rok pendek. Bahkan ketika menginjak
dewasa, Wiwi dilarang sama sekali memperlihatkan lutut sehingga kemana-mana dia
menggunakan sarung untuk menutup aurat. Keluarga Wiwi saat itu juga menggunakan
rumahnya sebagai tempat berkumpul untuk mengaji, Kebiasaan masa kecil ini pula
yang menginpirasi Wiwi menjadikan rumahnya sebagai tempat mengaji bagi
anak-anaknya dan juga anak-anak tetangganya. Hingga saat ini, rumah keluarga Wiwi senantiasa segar dan harum dengan lantunan
Al Qur’an.

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !