Home »
Berita Nasional
,
Featured Berita Nasional
,
HeadLines
» انا لله وانا اليه راجعون, Idris Sardi Telah Berpulang ke Rahmatullah
انا لله وانا اليه راجعون, Idris Sardi Telah Berpulang ke Rahmatullah
Monday, April 28, 2014 | 10:43 AM
Khalifahlife.com-انا لله وانا اليه راجعون, Sosok Idris Sardi dalam kancah musik Indonesia tidak asing lagi,Maestro biola yang juga merupakan ayah dari aktor Lukman Sardi ini tadi pagi jam 07.25 berpulang kerahmatullah. Seperti dikutip dalam twitter Fadli Zon.
"Telah Wafat Maestro IDRIS SARDI tadi pagi jam 07,25 di RS Meilia, Cibubur. Semoga almarhum diterima disisi terbaik Allah SWT,"tulisnya dalam akun twitternya pada pukul 08.15 WIB, Senin (28/4).
Dikabarkan bahwa Idris Sardi yang meninggal karena kanker usus ini disemayamkan di Rumah Kreatif Fadlizon beralamat di Bumi Cimanggis Indah Blok B1 No. 9, Jl Pekapuran, Cimanggis pada jam 11.00 pagi ini.
Idris Sardi seperti dikutip dari wikipedia lahir pada 7 Juni 1938 di Batavia, Hindia Belanda yang sekarang bernama DKI Jakarta. Violinist ini menikah sebanyak tiga kali dengan
Zerlita (cerai), Marini (cerai) dan terakhir dengan Ratih Putri. Hasil pernikahannya dengan Zerlita, beliau dikarunia anak Santi Sardi dan Lukman Sardi.
Talenta Idris Sardi sebagai maestro biola ini merupakan keturunan dari Bapaknya, Sardi yang merupakan seorang pemain biola Orkes RRI Studio Jakarta.
Pada usia enam tahun, pertama kali mengenal biola. Pada umur sepuluh tahun ia sudah mendapat sambutan hangat pada pemunculannya yang pertama di Yogyakarta tahun 1949. Boleh dikatakan sebagai anak ajaib untuk biola di Indonesia, karena di usia muda sekali sudah lincah bermain biola.
Tahun 1952 Sekolah Musik Indonesia (SMIND) dibuka, dengan persyaratan menerima lulusan SMP atau yang sederajat. Pada tahun 1952, Idris Sardi baru berusia 14 tahun, sehingga ia belum lulus SMP, namun karena permainannya yang luar biasa ia bisa diterima sebagai siswa SMIND tersebut. Bersama temannya yang juga pemain biola, Suyono (almarhum) namun bukan anak ajaib, yang lebih tua 2 tahun merupakan dua orang siswa SMIND yang berbakat sekali.
Pada orkes slswa SMIND pimpinan Nicolai Varvolomejeff, tahun 1952 Indris yang masih memakai celana pendek dalam seharian duduk sebagai concert master pada usia 14 tahun, duduk bersanding dengan Suyono. Rata-rata siswa SMIND berusia di atas 16 tahun.
Guru biola Idris waktu di Yogyakarta (1952-1954) adalah George Setet, sedangkan pada waktu di Jakarta (setelah 1954) adalah Henri Tordasi. Kedua guru orang Hongaria ini telah mendidik banyak pemain biola di Indonesia (orang Hongaria adalah pemain biola unggul).
Kariernya dimulai saat M. Sardi meninggal, 1953, Idris dalam usia 16 tahun harus menggantikan kedudukan sang ayah sebagai violis pertama dari Orkes RRI Studio Jakarta pimpinan Saiful Bahri.
Pada tahun 60-an, Idris beralih dari dunia musik biola serius, idolisme Heifetz, ke komersialisasi Helmut Zackarias.
Seandainya dulu Idris Sardi belajar klasik terus pada tingkat kelas master dengan Jascha Heifetz atau Yahudi Menuhin, maka ia akan menjadi pemain biola kelas dunia setingkat dengan Heifetz dan Mehuhin. Namun, meskipun dia belum pernah belajar biola di luar negeri, ia tetap setingkat dengan Zacharias.
Orang Indonesia yang pernah belajar dengan Haifetz adalah Ayke (Liem) Nursalim, kini keadaannya tidak dapat main biola lagi akibat kram pada jari-jarinya, dan merupakan wanita pemain biola Indonesia yang pernah terpandang (dulu di usia 4 tahun/1955 di Yogyakarta sudah main di orkes).
Penghargaan yang diraih antara lain sebagai komponis dan ilustrator musik untuk film. Mendapat piala citra untuk Penata Musik Terbaik antara lain dalam film berikut:
"Pengantin Remaja" (1971)
"Perkawinan" (1973)
"Cinta Pertama" (1974)
"Doea Tanda Mata" (1985)
Kehidupan pribadiSunting
Sardi mempunyai seorang murid yang telah sukses menjadi violis perempuan papan atas Indonesia, yaitu Maylaffayza Wiguna. Ia juga pernah terkenal karena memiliki tanda nomor kendaraan "B 10 LA" yang dapat dibaca "biola". Setelah hal ini dipublikasikan secara luas, ia merasa tidak nyaman karena menjadi perhatian masyarakat ke manapun ia pergi. Karena hal ini Sardi mengganti nomor kendaraannya dengan nomor biasa.
Kini, Idris Sardi telah berpulang kepada Allah yang menciptakan manusia pada umur 76 tahun. Selamat Jalan Sang Maestro, sampai kapanpun jasamu akan dikenang bangsa dan semoga menjadi amalan jariyah yang senantiasa mengalir hingga hari pembalasan nanti.(Jwt)
0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !