Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia: Featured Permata Hati
Headlines News :

Latest Post

Showing posts with label Featured Permata Hati. Show all posts
Showing posts with label Featured Permata Hati. Show all posts

Konsep Pernikahan dalam Islam

Thursday, April 24, 2014 | 8:29 PM

Khalifahlife.com - Ketika emansipasi dan kesetaraan gender mulai bergeliat di negeri ini, banyak wanita yang bekerja di sektor-sektor publik. Dan banyak pula orang tua yang menanamkan pada anak-anaknya permata hati keluarga agar mengutamakan sekolah setinggi-tingginnya, kemudian bekerja baru kemudian memikirkan menikah. Hal ini kemudian, rata-rata usia pernikahan dari mempelai wanita diatas 25 tahun. Tidak ada yang salah memang, tetapi banyak orang tua juga yang tidak mengijinkan anaknya menikah muda tetapi mengijinkannya untuk berpacaran.

Mari kita melihat bagaimana konsep pernikahan dalam Islam. Menurut Al Quran surat Ar Rum : 21

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepada-Nya dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir”

Darimana memulai ?

I'am muslimah, I am strong JOSH (Jomblo sampai Halal)

Muslimah Shalihah bukanlah muslimah yang sering gonta ganti pacar, Tapi muslimah shalihah adalah yang menjaga iffah dengan tidak punya pacar karena muslimah shalihah tahu bahwa pacaran adalah haram

Pesan pada diri untuk laki laki:
Jangan tersalah memberikan hati, pada insan yang tak sudi, Pada insan yang tak mengerti, Karena sekali kau memberi, selamanya dia di hati. Apabila sesekali kau dilukai, sampai kapanpun tetap kau akan ingat.

Pesan pada diri untuk perempuan :
Berhati hatilah dalam memberikan hati, berikan ia hanya pada insan yang tahu menghargai, sebab nilai sekeping hati amatlah tinggi, jangan sampai membuat hati terasa ternodai
Di Jalan dakwah aku menikah

Manajemen Keluarga Sakinah :

1. Sibuknya adalah memecahkan masalah besar bukan sebaliknya
a. Masalah besar adalah Tauhid dan pengamalannya
Qs Al Baqarah : 133
Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: Apa yang kamu sembah sepeninggalku? Mereka menjawab: Kami akan menyembah Ilah-mu dan Ilah nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) ilah Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya
b. Rasulullah saw tidak mempermasalahkan tidak adanya makanan di rumahnya
c. Waktu Kumpul Keluarga (WKK) sebagai sarana meluruskan orientasi keluarga

Perbedaan komunikasi antara pria dan wanita
Pria : Rasional, Umum, Status/Kekuasaan
Wanita : Emosional, Detail, Intim

2. Awalnya adalah sangka baik dan kepercayaan
a. Sangka baik adalah awal hubungan harmonis
b. Kisah Haditsul Ifk
c. Kepercayaan dibangun dengan sering memberikan “setoran, bukan “penarikan”

3. Keutamaannya adalah disiplin tanpa disuruh
a. Generasi salaf adalah generasi terbaik karena kedisiplinannya
b. Disiplin ditanamkan sejak kecil melalui keteladanan dan pemahaman
c. Sering-sering menyuruh/mengingatkan bisa menyakitkan dan membuat dosa

4. Interaksinya adalah kelembutan yang menyenangkan
a. Membiasakan magic words
b. Kata-kata kasar menunjukkan jauhnya hati
c. Orang yang potensial menyakitkan hati kita adalah orang yang paling kita cintai

Simpan dulu kepedihanmu, ceritakanlah nanti setelah engkau sukses

5. Nilai-nilainya adalah memberdayakan, bukan menjatuhkan
a. Selalu menumbuhkan sikap positif (positive attitude)
b. Saling memberdayakan dalam empat dimensi (spritual, emosional, mental, dan fisik)
c. Visi besar keluarga muslim adalah menjadi keluarga pemimpin (QS Al Furqon : 74)
6.Ambisinya adalah masuk surga bersama-sama
a. Perintah Allah untuk menjaga keluarga dari api neraka
(QS At Tahrim : 6)
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan

b. Tujuan kita berkeluarga berkumpul di dunia dan akhirat
c. Bayangkan jika salah satu anggota keluarga kita masuk neraka

7. Hatinya adalah cinta walau ada kekurangan
a. Cinta keluarga adalah “aku cinta kamu, walaupun..”
b. Cinta dapat dibangun dengan bersyukur
c. Cinta segitiga adalah kunci memecahkan konflik

Cinta segitiga yang benar, yang menjadi kunci menghadapi konflik adalah : Suami, Istri, Allah

Tutuplah Auratmu Wahai Saudariku

Thursday, March 20, 2014 | 7:03 AM



Percakapan antara seorang wanita dengan ustadz tentang perintah berhijab.

Ustad ( U ) Wanita (W)

W : Saya ga mau berjilbab, itu kuno.
U : Zaman tarzan lebih kuno lg ga pake jilbab.

W : Jilbab belum tentu baik.
U : Yang jilbab belum tentu baik, apalagi yang ga berjilbab.

W : Ga menjamin wanita berjilbab itu solehah.
U : Ga semua wanita berjilbab itu solehah,tapi wanita solehah itu pasti
berjilbab.

W : Saya kmarin liat ada yang berjilbab nyuri.
U : Malah yang ga berjilbab lebih banyak yang nyuri.

W : Lebih baik jilbapin hati dulu (buat hati baik)
U : Ciri-ciri hati muslimah yg baik adalah berjilbab.

W : Kalo jilbab masih ma’siat gimana, kan dosa?
U : Kalo ga berjilbab & maksiat dosanya dobel.

W : Kalo aku pake jilbab, ga ada yang mau sama aku.
U : Banyak yang berjilbab & mereka nikah. Lagian laki-laki baik biasanya
lebih suka nikah dengan Muslimah berjilbab.

W : Kalo calon suamiku ga suka gimana?
U : Jika didepanmu dia ga ta’at pada Allah, siapa yang menjamin
dibelakangmu dia setia padamu?

W : Aku ga mau dikendalikan orang tentang apa yang harus aku pake.
U : Trus kenapa tv, majalah, sinetron bisa kendalikan fashionmu?

W : Aku belum pengalaman pake jilbab.
U : Pake jilbab kaya nikah, pengalaman ga diperluin, yang
penting jalanin dulu.

W : Aku ga bebas kemana-mana, ga bisa nongkrong, clubbing, gosip, kan malu sama jilbab!
U : Jilbabmu mengurangi kemaksiatanmu.
W : Apa nanti kata orang kalo aku pake jilbab?
U : Katanya tadi jadi diri sendiri, ga peduli kata orang laen…

Sahabatku, mengapa muslimat belum berjilbab?
1. Belum tahu tujuan, hikmah & hukum jilbab wajib (QS 33:59)
2. Tahu tetapi belum siap.
3. Sangat cinta dunia.
4. Banyaknya maksiat sehingga merasa belum pantas berjilbab.
5. Pengaruh keluarga, lingkungan, pendidikan, kebiasaan & budaya
sekuler.
6. Anggapan kalau Islam itu hanya ritual sholat, haji dan lain-lain
7. Anggapan yg penting aku baik padahal agama adalah tunduk patuh
pada SYARIATNYA.
8. Pengalaman jelek pada wanita berjilbab yg buruk ahklaknya padahal
Islam adalah agama sampul (jilbab) & isi (ahklak mulia).
9. Merasa tdk cantik dg berjilbab, padahal kecantikan sebenarnya ta’kala
menjadi wanita sholehah.
10. Belum tahu dosa besar dengan siksa pecut api neraka pada bagian aurat yang terbuka.

SubhanAllah, mulailah mempelajarinya, jangan malu, gengsi, minder, menunda-nunda lagi, banggalah sebagai wanita mu’minat & belajarlah
kepada sahabat terdekat yang indah istiqomah dengan jilbabnya, hidup
kita didunia ini sekedar mampir, sahabatku.
ﺻــﺪﻕ ﺍﻟﻠــﻪ ﺍﻟﻌــﻈﻴﻢ ﻭﺻــﺪﻕ ﺭﺳــﻮﻝ ﺍﻟﻠــﻪ ﺍﻟﻨﺒﻲ
ﺍﻟﺤﺒﻴﺒـــ ﺍﻟﻜﺮﻳــــــﻢ
Shodaqallaahul ‘Adziim, wa Shodaqor rasuulullaahi nabiyyil habiibil
kariim..
(Maha Benar ﺍَﻟﻠّﻪُ dengan firman-Nya, dan benar ucapan Rasul, nabi dan
kekasih yg pemurah..)

 

 

Bagaimana Aisyah Menyelesaikan Masalah

Saturday, February 22, 2014 | 1:41 PM

Khalifahlife.com - Ummul Mukninin ‘Aisyah tumbuh besar di rumah Rasulullah nan suci. Hal ini sungguh merupakan anugerah yang sangat besar, karena setiap orang yang dididik langsung oleh Rasulullah pada dasarnya akan menjadi guru dan sekolah yang fenomenal.

Inilah yang benar-benar terjadi pada diri ibunda kita, ‘Aisyah. Nalar dan pemikirannya dipenuhi dengan konsepsi-konsepsi Islam. Tingkah laku dan sikap ‘Aisyah merupakan bentuk praktis dan implementasi dari konsep-konsep Islam. Maka tidak masuk akal jika ‘Aisyah melakukan suatu perbuatan yang menyalahi pemikiran, konsepsi dan tingkah laku yang sudah mendarah daging pada diri dan akalnya.

Sikap seperti ini bukan hanya ada pada diri ‘Aisyah saja, melainkan adalah corak tingkah laku yang ada pada diri sahabat Rasul secara umum. Di situ ditemukan adanya keharmonisan luar biasa antara pikiran dan tingkah laku, yang jarang sekali bertolak belakang dengan Al Quran.

‘Aisyah yang suci -putri dari sahabat Nabi yang jujur- ditimpa musibah paling besar yang mungkin menimpa perempuan bermartabat sepertinya. Ia dituduh berbuat zina. Alangkah berat ujian yang ia terima. Tuduhan itu tidak hanya beredar di kalangan terbatas keluarga dan sahabat dekat, tetapi beredar ke masyarakat dan dibumbui dengan sejumlah propaganda yang licik.

Istri seorang Rasul yang sangat disegani sekaligus dicinta oleh ummat dituduh telah melakukan zina. Zina yang dipandang sebagai aib dan dosa besar bagi setiap perempuan, terlebih jika dilakukan oleh istri Nabi, maka hal tersebut sungguh menjadi suatu masalah dan ujian yang berat bagi ‘Aisyah. Hanya orang dengan kepribadian matang, tangguh dan cerdas seperti ‘Aisyah yang dapat menanggung ujian tersebut dan mampu menemukan solusi sehingga dapat melewati cobaan dengan baik.

Apa yang dilakukan ‘Aisyah menghadapi persoalan rumit ini? Bagaimana dia menghadapi, melawan, dan mengalahkannya?

Tentu wanita muslimah di jaman sekarang pun dapat mengambil hikmah, meneladani sikap dan tindakan ‘Aisyah ketika menghadapi masalah dan ujian yang dihadapinya.

Masalah dan Cara Menghadapinya

Sebelum membahas lebih lanjut tentang sikap dan cara-cara ‘Aisyah dalam menyelesaikan masalah, ada baiknya mengulas sedikit mengenai definisi masalah.

Manusia hidup tentu akan bertemu dengan masalah. Hal tersebut seperti bagian dari skenario yang ditentukan ‎​اَللّهُ baik untuk pembelajaran maupun untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya.

Masalah dapat didefinisikan sebagai perasaan atau kesadaran tentang adanya suatu kesulitan yang harus dilewati untuk mencapai tujuan. Masalah juga dapat diartikan sebagai kondisi disaat kita berbenturan dengan realitas yang tidak diinginkan.

Tanpa sadar kadang masalah yang datang dapat menyita pikiran kita. Disinilah diperlukan sikap dan pengetahuan agar dapat menghadapi masalah dan menemukan solusi yang tepat dan tentunya tidak semakin menjerumuskan kepada masalah lain. Dan yang lebih utama, bagaimana bersikap dan bertindak menghadapi masalah sesuai dengan petunjuk yang diberikan Allah.

Terkadang untuk menyelesaikan masalah butuh waktu, namun terkadang masalah dapat selesai dengan cepat. Bagaimanakah ibunda ‘Aisyah menghadapi persoalannya kala itu?

Persoalan yang dihadapi ‘Aisyah adalah berita bohong. Para kaum munafik menyebarluaskan isu tentang kasus perzinaan ‘Aisyah dengan Shafwan bin Mu’aththal. Ketika pulang dari sebuah peperangan, ‘Aisyah terlambat dari rombongan. Ia pulang diantar Shafwan dan menaiki untanya. Setelah itu isu tentang perzinaan ini pun menyebar luas, laksana api yang dengan cepat membakar rerumputan kering.

Persoalan ‘Aisyah kala itu ada dua hal, pertama, ‘Aisyah mendapati dirinya sendirian karena sudah ditinggal rombongan pasukan. Kedua, ketika isu ini beredar di luar, ia tidak mengetahui bahkan tidak terlintas di dalam pikirannya sama sekali. Lantas apakah yang dilakukan ‘Aisyah untuk menghadapi dua persoalan tersebut?

Sadar Bahwa Tengah Menghadapi Masalah

Harus diketahui bahwa sebuah persoalan tidak akan berarti jika orang yang tertimpa atau memiliki hubungan dengan persoalan tersebut tidak menyadarinya. Begitu pun dengan ‘Aisyah, ia sadar betul akan adanya masalah yang sedang dihadapi. Ketika kembali dari mencari kalung yang hilang dan mendapati rombongan pasukan sudah pergi meninggalkannya, ‘Aisyah sadar kalau ia sedang dalam masalah. Ini persoalan pertama.

Sedangkan terhadap persoalan kedua, dimana ia dituduh melakukan zina, ‘Aisyah segera merasa kalau sedang ada masalah ketika diberitahu Ummu Misthah tentang isu yang sedang beredar di masyarakat. Pada awalnya ‘Aisyah tidak merasakan hal itu. Maka ia heran atas celaan Ummu Misthah terhadap anaknya, dan ia pun membelanya karena Misthah termasuk salah satu sahabat yang ikut dalam perang badar.

Menjaga Emosi dan Tetap Tegar

Ibunda kita ‘Aisyah mampu menahan emosinya di saat menghadapi persoalan yang menimpanya. Padahal situasi yang ia alami kala itu sangat mencekam. Tertinggal sendirian oleh rombongan pasukan di medan perang. Dan ia pun tetap dapat mengontrol dirinya ketika mendengar isu yang sesungguhnya dapat membuatnya tertekan. Tentu saja ‘Aisyah kaget dan limbung atas isu-isu yang tersebar luas menyangkut dirinya. Namun meskipun begitu, ‘Aisyah tetap sabar karena mengingat firman Allah,

“Maka hanya bersabar itulah yang terbaik (buatku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan. (Yusuf [12]:18)

Ketegaran hati yang dimiliki ‘Aisyah tercermin dengan selalu memohon perlindungan Allah melalui doa, shalat, zikir, berbaik sangka kepada Allah dan umat muslim yang terkait dengan isu tentang dirinya, serta mengharap datangnya kebaikan. Sisi keimanan secara umum juga sangat berpengaruh dalam hal ini, sehingga keimanan harus tetap dijaga pada setiap fase penyelesaian masalah.

Semua inilah yang dilakukan oleh ‘Aisyah. Meskipun isu-isu itu mampu membuat ‘Aisyah terpukul, tapi ia tetap tidak kehilangan akal sehat.

Terhadap persoalan pertama, ‘Aisyah menyimpulkan kalau rombongan pasukan memang sudah meninggalkannya, dan ia tertinggal sendirian. Hal ini membuat ‘Aisyah mengkhawatirkan diri sendiri kalau sampai meninggal dunia, mendapat musibah, atau mengalami tindak kekerasan. Sedangkan terhadap persoalan kedua, ‘Aisyah sudah menyimpulkan dan mengetahuinya. Isu yang beredar saat itu adalah ia dituduh berbuat zina. ‘Aisyah sudah memikirkan tuduhan tersebut dan konsekuensi yang mungkin timbul karenanya.

Memikirkan Solusi

‘Aisyah memikirkan solusi yang mungkin berguna untuk menyelesaikan persoalannya. Yang terbersit dalam benak ‘Aisyah waktu itu adalah sejumlah hal berikut:

1.Menyusul rombongan pasukan. Tapi ia tidak memiliki kendaraan, sedang malam sudah gelap dan ia pun rasanya tidak mungkin berjalan sendirian

2.Tetap berada di tempat semula sambil bersembunyi

3.Pergi ke tempat lain

4.Menunggu di tempat semula dengan harapan rombongan pasukan atau sebagian mereka akan kembali lagi ke tempat itu. Sebab apabila rombongan tahu kalau ia tidak ada, tentu mereka akan segera kembali ke tempat semula untuk mencari.

5.Mencari seseorang yang mungkin tertinggal dari rombongan seperti yang ia alami, atau menunggu seseorang yang mengikuti rombongan pasukan dari jauh.

Sedangkan terhadap persoalan kedua, yang terbersit pada benak ‘Aisyah adalah;

1.Membela diri

2.Menyerahkan hal itu kepada Rasul, sementara ia tetap berada di rumahnya. Namun sepertinya ‘Aisyah melihat kalau Rasulullah terpengaruh dengan isu tersebut, di samping isunya sudah menyebar luas di masyarakat

3.Pulang ke rumah bapak ibunya, bersabar dan menyerahkan semuanya kepada Allah

4.Menerapkan solusi paling tepat di antara solusi-solusi yang ada

Solusi

‘Aisyah memilih untuk tetap berada di tempat semula dengan harapan rombongan pasukan atau sebagian dari mereka kembali lagi untuk menjemput. Benar saja, Shafwan datang. Waktu itu, ‘Aisyah menyangka kalau Shafwan memang diutus rombongan untuk menjemputnya. Oleh karena itu, ‘Aisyah langsung menaiki unta Shafwan tanpa berbicara sedikit pun. Dan karena anggapan seperti ini juga, ‘Aisyah tidak pernah terbetik dalam pikirannya bakal ada isu-isu miring tentang dirinya. Sebab ia menyangka bahwa Shafwan memang diutus rombongan untuk mencari dan membawanya menyusul rombongan.

Sedangkan mengenai masalah tuduhan zina, ‘Aisyah meminta izin kepada Rasulullah untuk pulang ke rumah keluarganya. Sebab persoalan ini butuh kejelasan lebih lanjut selagi belum turun wahyu yang menjelaskannya. Selain itu, menghadapi persoalan semacam ini juga butuh kepala dingin agar bisa berpikir tenang. Kepulangan ‘Aisyah ke rumah orangtuanya mengandung banyak himah dan kecerdikan. Oleh karena itu, Rasul pun segera memenuhi keinginan ‘Aisyah tersebut.
end:
 
KANAL : REDAKSI | IKLAN | HUBUNGI KAMI
Copyright © 2011. Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger