Khalifahlife.com - Kenaikan Solar bersubsidi Rp.5.500 menjadi Rp.7.500 yang diumumkan
sejak 18 November 2014 lalu sudah mulai menuai hasil secara langsung
kepada nelayan. Selain harganya sudah naik, kelangkaan solar juga
menghiasi kehidupan kerja nelayan di seluruh penjuru tanah air. Demikian
dikatakan anggota Komisi IV DPR RI, Ma’mur Hasanuddin dalam pernyataan
persnya, Selasa (25/11/2014).
"Kami memantau
ada beberapa titik wilayah nelayan yang masih dapat dijangkau dengan
komunikasi sederhana. Dan semua senada berkeluh kesah, kehidupan makin
terpuruk dengan tingginya harga solar dan di sertai kelangkaannya," ujar
Ma’mur dari Fraksi PKS DPR.
Ma’mur memantau
beberapa wilayah seperti pantura yang meliputi Semarang, Kendal, Brebes
sampai Tuban. Selain itu juga di teluk Lampung, Pelabuhan Ratu Sukabumi,
Tasikmalaya, Bantan-Bengkalis, Dumai, dan beberapa wilayah lain di
Indonesia timur, semua hampir sama, belum berani melaut karena berhitung
akibat kenaikan solar dan kelangkaan solar.
"Yang
kami pantau itu hanya sekelumit, di daerah-daerah yang tidak terjangkau
lebih banyak lagi nelayan yang menjerit jika di datangi satu-persatu,"
kata anggota komisi yang membidangi Pertanian, Pangan, perikanan,
Kelautan, Kehutanan dan Lingkungan.
Ma’mur
meminta, pemerintah hendaknya menghentikan pencitraan tanpa hasil.
"Kalau mau pencitraan agar dibarengi dengan rasa aman dan rasa nyaman
yang dapat dinikmati seluruh masyarakat, bukan segelintir saja,"
tandasnya.
Saat ini, diakuinya, nelayan tengah
menjerit akibat dilarang beli solar dengan jerigen di SPBU, seharusnya
diberikan solusi dengan dibuatkan SPBU khusus nelayan tradisional. Lebih
bagus lagi jika SPBU khusus nelayan ini harganya disubsidi, karena yang
beli khusus nelayan tradisional, jadi tepat sasaran.
"SPBU
khusus nelayan tradisional ini dapat langsung menjawab 2 persoalan
sekaligus, Solar murah dan menghilangkan kelangkaan," jelas Ma’mur.
Selanjutnya
Ma’mur mengatakan, bahwa dampak terbesar kenaikan BBM kepada nelayan
tertuju pada nelayan dengan kemampuan kapal 5 sampai dengan 10 GT.
Artinya nelayan kecil yang paling menjerit. Yang menjerit bukan saja
buruh nelayan, bahkan pemilik kapal pun sudah menjerit.
"Segala
macam kartu sakti yang dikeluarkan pemerintah tidak akan berpengaruh
terhadap pergolakan hidup yang dialami nelayan akibat kenaikan BBM. Kami
minta pemerintah meneliti ini untuk dibuatkan regulasi yang lebih baik
buat kaum nelayan tradisional”, pungkas Ma’mur Hasanuddin.
Nelayan Sudah Menjerit, Stop Pencitraan
JAKARTA
- Kenaikan Solar bersubsidi Rp.5.500 menjadi Rp.7.500 yang diumumkan
sejak 18 November 2014 lalu sudah mulai menuai hasil secara langsung
kepada nelayan. Selain harganya sudah naik, kelangkaan solar juga
menghiasi kehidupan kerja nelayan di seluruh penjuru tanah air. Demikian
dikatakan anggota Komisi IV DPR RI, Ma’mur Hasanuddin dalam pernyataan
persnya, Selasa (25/11/2014).
"Kami memantau
ada beberapa titik wilayah nelayan yang masih dapat dijangkau dengan
komunikasi sederhana. Dan semua senada berkeluh kesah, kehidupan makin
terpuruk dengan tingginya harga solar dan di sertai kelangkaannya," ujar
Ma’mur dari Fraksi PKS DPR.
Ma’mur memantau
beberapa wilayah seperti pantura yang meliputi Semarang, Kendal, Brebes
sampai Tuban. Selain itu juga di teluk Lampung, Pelabuhan Ratu Sukabumi,
Tasikmalaya, Bantan-Bengkalis, Dumai, dan beberapa wilayah lain di
Indonesia timur, semua hampir sama, belum berani melaut karena berhitung
akibat kenaikan solar dan kelangkaan solar.
"Yang
kami pantau itu hanya sekelumit, di daerah-daerah yang tidak terjangkau
lebih banyak lagi nelayan yang menjerit jika di datangi satu-persatu,"
kata anggota komisi yang membidangi Pertanian, Pangan, perikanan,
Kelautan, Kehutanan dan Lingkungan.
Ma’mur
meminta, pemerintah hendaknya menghentikan pencitraan tanpa hasil.
"Kalau mau pencitraan agar dibarengi dengan rasa aman dan rasa nyaman
yang dapat dinikmati seluruh masyarakat, bukan segelintir saja,"
tandasnya.
Saat ini, diakuinya, nelayan tengah
menjerit akibat dilarang beli solar dengan jerigen di SPBU, seharusnya
diberikan solusi dengan dibuatkan SPBU khusus nelayan tradisional. Lebih
bagus lagi jika SPBU khusus nelayan ini harganya disubsidi, karena yang
beli khusus nelayan tradisional, jadi tepat sasaran.
"SPBU
khusus nelayan tradisional ini dapat langsung menjawab 2 persoalan
sekaligus, Solar murah dan menghilangkan kelangkaan," jelas Ma’mur.
Selanjutnya
Ma’mur mengatakan, bahwa dampak terbesar kenaikan BBM kepada nelayan
tertuju pada nelayan dengan kemampuan kapal 5 sampai dengan 10 GT.
Artinya nelayan kecil yang paling menjerit. Yang menjerit bukan saja
buruh nelayan, bahkan pemilik kapal pun sudah menjerit.
"Segala
macam kartu sakti yang dikeluarkan pemerintah tidak akan berpengaruh
terhadap pergolakan hidup yang dialami nelayan akibat kenaikan BBM. Kami
minta pemerintah meneliti ini untuk dibuatkan regulasi yang lebih baik
buat kaum nelayan tradisional”, pungkas Ma’mur Hasanuddin.[nfl]

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !