Khalifahlife.com - Entah cinta yang seperti apa yang menyatukan jika setiap
hari rasanya bukan kata mesra yang keluar tetapi justru amarah. Memang tidak
semua pasangan itu harus romantis, karena tidak setiap orang dapat dengan
luwesnya mengungkapkan perasaan dan menunjukkannya seperti layaknya kita lihat
disinetron atau film. Banyak cara menunjukkan rasa cinta dan sayang pada
pasangan tetapi tentu bukan dengan amarah, bukan?
Bagi anak kita yang masih kecil, mungkin sebagian amarah kita
adalah bentuk kasih sayang kita agar mereka tidak melakukan hal yang
membahayakan atau salah. Tetapi jika setiap hari kita marah pada suami, apakah
itu bentuk sayang kita?!
"Ayah itu kan lap buat dilantai, bukan untuk meja
makan! Ayah kan sudah diingatkan berkali-kali. Aduh ayah selalu aja lupa, jorok
kan. Ayah tuh diingat-ingat donk!"
Ini adalah omelan-omelan yang biasanya keluar dari mulutku. Yah,
pekerjaan rumahku selain mengajari jagoan-jagoan kecil untuk selalu rapih dan bersih
jika sudah bermain atau melakukan apapun, adalah juga mengingatkan jagoan yang
paling besar untuk rapih. Entah itu hanya meletakkan handuk setelah dipakai,
menyimpan pakaian kotor pada keranjang, dan hal-hal remeh temeh lainnya yang
gak penting. Sungguh sebenarnya tidak penting tapi bagiku itu penting. Coba
tanya ibu-ibu rumah tangga lain, pasti mereka yang punya suami rapih dan bisa
tertib sangat senang.
Eits tapi benar perkara kecil ini sungguh tidak penting, kita
harus tetap bersabar mungkin akan terus mengomel atau mengingatkan tentang
hal-hal kecil itu seumur hidup. Tetapi biarlah, karena ada yang lebih penting
yang harus kita jaga, yaitu keutuhan rumah tangga. Kita mungkin kesal melihat
kebiasaan-kebiasaan suami yang tidak sesuai dengan keinginan dan harapan kita.
Entah misalnya suami yang bisa berjam-jam menghabiskan waktunya untuk
mengutak-atik motornya, atau hobi lainnya. Suami yang kurang rapih cenderung
pelupa, atau suami yang tidak punya inisiatif selalu bertanya dan menurut.
Tiada yang sempurna memang dan butuh waktu dan kesabaran
extra jika kita ingin merubahnya menjadi seperti yang kita inginkan. Namun, ada
beberapa yang sepertinya lebih emosional menghadapi berbagai kekurangan pada
suami. Hal-hal kecil seperti masalah handuk, atau kaca rumah yang kotor dengan
terus mengomel tiada henti.
Suatu kali pergi bersama salah seorang saudara dan
keluarganya. Karena memang telah akrab, tiada basa basi diantara kami. Tetapi ada
yang berubah, entah sejak kapan saudaraku ini menjadi hobi sekali mengomel. Saat
itu suaminya memang melakukan kesalahan kecil, tetapi sepertinya tiada habis
omelan yang keluar dari sang istri. Ini akhirnya merembet, setiap hal yang
dilakukan suaminya nampak salah.
Memang bukan urusan kami, dan karena kami hanya pergi bersama
seharian, jadi kami pikir mungkin saudaraku ini tengah banyak masalah dengan
pekerjaannya. Tetapi, kemudian kami mendengar dari saudara yang lain yang
merasa risih juga ketika melihat kejadian yang kurang lebih sama dengan yang
kualami.
Lama tak pergi bersama saudaraku itu karena kesibukan kami, aku
malah mendengar bahwa suaminya sering curhat pada saudaraku yang lain dan
bilang malah akan menceraikan istrinya jika si istri selingkuh. "Hmm...sepertinya
bukan masalah istrinya yang berselingkuh," kataku dalam hati.
Si suami mungkin curhat akan kecurigaan dia terhadap
istrinya untuk menutupi rasa kesal karena merasa tidak dihormati istrinya. Adakah
lelaki yang dapat menerima ketika istri seringkali mengomeli meski tidak dengan
kata-kata yang kasar tetapi selalu saja bernada kesal dan sedikit melecehkan
untuk hal-hal yang kecil. Salah meletakkan gunting dirumah, lupa membeli susu
saat pulang kantor, cara menyetir yang lamban atau entah mungkin hal-hal keseharian
lainnya.
Masalah kecil ini sungguh dapat merusak keutuhan rumah
tangga. Karena emosi kita perempuan yang katanya suka sangat emosional, jika
tidak kita kontrol justru akan membawa petaka untuk kita. Rasa hormat pada
suami tidak boleh sampai hilang meski suami memiliki banyak kekurangan. Bukan
hanya karena kita kurang bersolek saat menyambut suami yang membuat suami
pindah ke wanita lain, tetapi rasa hormat dan kenyamanan suami saat bersama
kita juga tentu menjadi hal yang sangat penting.
Komunikasi adalah keharusan. Mengungkapkan kekesalan dan
ketidaksetujuan kita pada kebiasaan atau pemikiran suami tentu harus
disampaikan. Tetapi, jangan sampai penyampaian kita yang lebih banyak emosi,
lebih banyak nafsu justru membuat inti dari apa yang ingin kita ungkapkan tidak
ditangkap suami. Suami hanya melihat kita tukang ngomel, tidak punya rasa
hormat sehingga ia mungkin terpikir mencari wanita lain atau malah memilih
mentalaq si istri.
Ingatlah akan cinta yang kalian perjuangkan hingga akhirnya
dipersatukan dalam ikatan yang halal. Ingatlah bahwa ketika pernikahan terjadi,
suami adalah imam yang harus kita hormati bagaikan kita hormat pada orangtua,
karena surga istri terletak pada ridho suami. Ada penyampaian yang baik untuk
semua kekesalan dan ketidaksetujuan kita. Lihatlah suami bukan sebagai orang
yang selalu salah, lihatlah ia sebagai penjaga dan penghibur hati yang selalu
ada disamping kita. Meski kita memiliki pekerjaan yang baik, meski kita
memiliki harta yang cukup, meski kita memiliki teman yang setia, suami lebih
dari semuanya. Karena Allah menyatukan jodoh hingga pernikahan terjadi. Tugas
suami dan istrilah untuk menjaga keutuhannya. Dan jadilah suami yang tegas,
bimbinglah istri dengan kesabaran berilah siraman rohani, atau bersama-sama
mengisi hati dengan ayat-ayat Allah. Karena, hanya dengan mengingat Allahlah
hati menjadi tenang. Wallahu'alam.

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !