Khalifahlife.com - Saat itu Hims digambarkan sebagai
Kufah kedua. Ada kesamaan perilaku penduduknya; sering terjadi pembangkangan
dan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah. Karena pembangkangan sudah
lebih dulu terjadi di Kufah, Irak, maka Hims disebut Kufah kedua. Namun
terhadap kepeimpinan Sa’id-dengan izin Allah-mereka taat dan patuh.
Suatu hari Umar menyampaikan berita
kepada Sa’id, “Orang-orang Syam cinta dan hormat kepadamu.”
Sa’id menjawab, “Bisa jadi karena aku
suka membantu keperluan mereka”
Meskipun demikian, adanya keluhan
dari masyrakat tidak bisa dihindari. Paling tidak sebagai bukti bahwa Hims
masih tetap menjadi saingan berat kota Kufah.
Suatu ketika, saat Khalifah Umar
berkunjung ke Hims, ia bertanya kepada penduduk Hims yang sedang berkumpul,
“Bagaimana pendapat kalian tentang Sa’id?”
Beberapa orang mengemukakan beberapa
keluhan. Rupanya keluhan itu berbalik menjadi sisi positif Sa’id. Ada sisi
keagungan yang terungkap. Sungguh ajaib.
Khalifah Umar meminta agar mereka
mengemukakan keluhan mereka satu demi satu. Maka, atas nama kelompok tersebut,
seorang laik-laki tampil bicara,
“Kami mengeluhkan 4 perkara: pertama, ia baru keluar menemui rakyatnya setelah hari sudah
siang; kedua, ia tidak melayani
seorang pun di malam hari; ketiga,
setiap bulan ada dua hari di mana ia tidak melayani rakyatnya, dan kami tidak
melihatnya sama sekali; dan, ada satu lagi yang sebetulnya bukan kesalahannya
tapi menggangu kami (keempat), yaitu sewaktu-waktu ia jatuh pingsan.” Lalu
laki-laki itu duduk.
Khalifah Umar menunduk sebentar dan
berbisik memohon kepada Allah, “Ya Allah, aku tahu bahwa ia adalah hamba-Mu
yang terbaik, maka jangan Engkau belokkan firasatku ini.”
Lalu Sa’id dipersilahkan untuk
membela dirinya. Ia berkata,
“Mengenai keluhan mereka bahwa aku
tidak keluar menemui mereka kecuali hari sudah siang, demi Allah, sebetulnya
aku tidak ingin menyebutkannya. Kami tidak punya pembantu, maka akulah yang
membuat roti; dari mengaduk tepung hingga roti itu siap dimakan. Setelah itu
aku berwudhu, dan shalat dhuha. Setelah itu, aku keluar menemui mereka.”
Wajah Umar berseri-seri, dan ia
mengucapkan, “Alhamdulillah. Lalu yang kedua?”
Sa’id melanjutkan pembicaraannya,
“Adapun keluhan mereka bahwa aku
tidak melayani mereka di malam hari, maka demi Allah aku benci menyebutkan
sebabnya. Aku telah menyediakan siang hari untuk mereka, sedangkan malam hari
untuk Allah.”
“Mengenai keluhan mereka bahwa dua
hari setiap bulan di mana aku tidak menemui mereka, sebabnya adalah aku tidak mempunyai
pembantu yang mencucikan pakaianku, dan pakaianku tidak banyak. Aku tidak bisa
berganti pakaian dengan leluasa. Aku mencucinya lalu menunggu sampai kering,
hingga baru bisa keluar menemui mereka di sore hari.”
“Tentang keluhan mereka bahwa aku sering
jatuh pingsan, sebabnya adalah ketika di Mekah dulu, aku melihat langsung
bagaimana Khubaib al-Anshari tewas. Tubuhnya disayat-sayat. Orang-orang kafir
Quraisy itu bertanya, ‘Maukah engkau jika Muhammad menggantikanmu, dan kamu
bebas?’ Khubaib menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak ingin berada di rumah bersama
anak dan istriku menikmati kesehatan dan kelezatan hidup, sementara Rasulullah
terkena musibah walau hanya tertusuk duri.’ Saat itu, aku masih kafir. Aku
menyaksikan dengan mata kepala, dan aku tidak bergerak sedikit pun untuk
menolong Khubaib. Karena itu, aku sangat takut akan siksa Allah kelak, hingga
aku jatuh pingsan.”
Selesai sudah pembelaan Sa’id. Kedua
pipinya basah oleh air mata.
Khalifah Umar tidak bisa menahan rasa
harunya. Ia berseru dengan gembira, “Alhamdulillah, firasatku tidak melesat.”
Lalu ia merangkul Sa’id dan mencium keningnya yang bercahaya.
Sumber : 60 Sirah
Sahabat Rasulullah SAW/Khalid Muhammad Khalid/Al Itishom

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !