Sa’d Bin Abi Waqqash [5] – Umur Yang Panjang - Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia
Headlines News :
Home » , , » Sa’d Bin Abi Waqqash [5] – Umur Yang Panjang

Sa’d Bin Abi Waqqash [5] – Umur Yang Panjang

Sunday, October 26, 2014 | 6:40 PM

Khalifahlife.com - Tatkala Sa’d diangkat Khalifah Umar sebagai gubernur Irak, ia berhasil melakukan pembangunan dan perluasan kota. Jita Kufah diperluas Ajaran Islam diberlakukan di wilayah yang luas itu.

Pada suatu hari rakyat Kufah mengadukan Sa’d kepada Khalifah Umar. Rupanya mereka sedang dipengaruhi oleh tabi’at yang mudah dihasut dan suka memberontak. Mereka melontarkan tuduhan lucu, “Sa’d tidak bisa shalat dengan baik.”

Mendengar itu, Sa’d hanya tertawa, “Demi Allah, shalat yang aku lakukan seperti shalat Rasulullah. Memanjangkan dua rakaat pertama dan memendekkan dua rakaat terakhir.”

Sa’d dipanggil menghadap Khalifah di Madinah. Sa’d tidak marah. Saat itu juga ia menghadad Khalifah.

Selang beberapa waktu, Khlaifah bermaksud mengutus Sa’d untuk menjadi gubernur Irak lagi. Akan tetapi, dengan tertawa menjawab,
“Apakah anda hendak mengutusku kepada kaum yang menuduhku tidak bisa shalat dengan baik?”
Sa’d lebih memilih tinggal di Madinah.

Ketika Khalifah Umar dicederai orang, ia memilih enam orang sahabat Rasulullah saw. Yang menjadi penanggung jawab pemilihan Khalifah baru. Enam orang yang diridhai Rasulullah saw. Sewaktu beliau hendak berpulang ke rahmatullah. Dan Sa’d bin Abi Waqqash adalah suatu dari enam orang tersebut.
Bahkan dari ucapan Khalifah Umar terakhir bisa dipahami jika seandainya pemilihan Khalifah baru diserahkan kepadanya, maka dia akan memilih Sa’d.

Sewaktu memberi wasiat terakhir dan ucapan perpisahan kepada sahabat-sahabatnya, Khalifah Umar berkata, “Jika Khalifah dijabat oleh Sa’d, maka itu sudah semestinya. Dan seandainya dijabat oleh orang lain, hendaklah ia menjadikan Sa’d sebagai penasihatnya.”

Sa’d dikaruniai usia panjang. Saat terjadi kekacauan besar, Sa’d tidak ingin campur tangan. Bahkan, ia berpesan kepada keluarga dan putra-putranya agar tidak menyampaikan berita apa pun tentang kekacauan besar itu.

Suatu hari, orang-orang menaruh harapan kepadanya. Keponakannya yang bernama Hasyim bin `Utbah bin Abi Waqqash menemuinya, “Paman, di sini sudah siap 100 ribu pedang. Semuanya menganggap pamanlah yang lebih berhak menjabat sebagai Khalifah.”

Sa’d menjawab, “Dari 100 ribu pedang itu, aku hanya menginginkan sebilah pedang. Jika aku tebaskan kepada orang beriman, maka takkan bisa melukainya sedikit pun. Namun, jika kutebaskan kepada orang kafir, lehernya langsung putus.”

Hasyim paham apa yang dimaksud pamannya. Ia pergi meninggalkan sang paman.
Ketika Mu’awiyah berhasil menduduki jabatan Khalifah, ia bertanya kepada Sa’d, “Mengapa engkau tidak 
ikut berperang di pihak kami?”

Sa’d menjawab, “Aku sedang lewat di suatu tempat yang dilanda topan berkabut gelap. Aku berkata, ‘
Saudara... saudara...’ Kuhentikan kendaraan menunggu jalan terang kembali.”
Mu’awiyah berkata, “Dalam Al-Qur’an tidak disebutkan ‘Saudara... saudara...’ Tetapi Allah berfirman,
‘Jika di antara  orang-orang beriman ada dua golongan yang saling membunuh, maka damaikanlah mereka. Seandainya salah satu di antara kedua golongan itu berbuat aniaya kepada yang lain, maka perangilah yang berbuat aniaya itu sampai mereka kembali kepada perintah Allah.’ (Al-Hujarat: 9)
Engkau tidak berada di pihak yang aniaya, dan tidak pula di pihak yang benar.”

Sa’d menjawab, “Aku tidak mungkin memerangi seorang laki-laki (maksudnya Ali) yang pernah disabdakan 

Rasulullah, ‘Engkau di sampingku, seperti kedudukan Harun di samping Musa. Hanya saja tidak ada nabi sesudahku.’”

Suatu hari di tahun 54 H, sata usia Sa’d sudah lebih dari 80 tahun, ia terlihat di rumahnya, di ‘Aqiq, sedang bersiap-siap hendak berpulang ke rahmatullah.
Detik-detik terakhir ini diceritakan oleh putranya.

“Saat itu kepala ayah di pangkuanku. Aku menangis. Ayah bertanya ‘Apa yang membuatmu menangis, Nak? Allah tidak akan menghukumku. Aku akan menjadi penduduk surga.’”

Kuatnya iman yang dimiliki tidak tergoyahkan oleh apa pun, bahkan kematian.

Rasulullah pernah menyampaikan kabar gembira itu kepadanya, dan ia sangat percaya kepada Rasulullah. Lantas apa yang harus ditakuti? Dengarkan ucapannya, “Allah tidak akan menghukumku. Aku akan menjadi penghuni surga.”

Ia ingin menghadap Allah dengan membawa kenang-kenangan yang paling manis dan mengharukan, masa-masa indah bersama Islam dan Rasulullah.

Ia menyuruh keluarganya mengeluarkan sekali kain tua dari lemari, dan meminta mereka menjadikan kain itu sebagai kafannya nanti. Ia berkata,
“Kain ini kupakai saat menghadapi orang-orang musyrik di Perang Badar. Kali ini sengaja kusimpan untuk hari ini.”

Memang, kain usang yang telah lapuk dan ia tidak dapat dianggap sebagai kain biasa. Ia adalah panji-panji yang senantiasa berkibar di puncak kemuliaan nan membentang. Kemuliaan yang dijalani  dengan keyakinan, ketulusan dan gagah berani.

Akhirnya, jasad pahlawan kita ini dibawa ke Madinah, untuk dimakamkan di Baqi’, berdekatan dengan rekan-rekannya yang telah mendahuluinya menghadap Allah. Dialah Muhajirin yang terakhir meninggal.

Selamat jalan wahai Sa’d....

Selamat jalan wahai pahlawan Qadisiyah, pembebas Mada’in dan pemadam api pemujaan di Persi untk selama-lamanya.... [Tamat/dn]


Sumber :  60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW/Khalid Muhammad Khalid/Al Itishom
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
KANAL : REDAKSI | IKLAN | HUBUNGI KAMI
Copyright © 2011. Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger