Khalifahlife.com - Tatkala Sa’d diangkat Khalifah Umar
sebagai gubernur Irak, ia berhasil melakukan pembangunan dan perluasan kota.
Jita Kufah diperluas Ajaran Islam diberlakukan di wilayah yang luas itu.
Pada suatu hari rakyat Kufah mengadukan Sa’d kepada Khalifah
Umar. Rupanya mereka sedang dipengaruhi oleh tabi’at yang mudah dihasut dan
suka memberontak. Mereka melontarkan tuduhan lucu, “Sa’d tidak bisa shalat
dengan baik.”
Mendengar itu, Sa’d hanya tertawa, “Demi Allah, shalat yang
aku lakukan seperti shalat Rasulullah. Memanjangkan dua rakaat pertama dan
memendekkan dua rakaat terakhir.”
Sa’d dipanggil menghadap Khalifah di Madinah. Sa’d tidak
marah. Saat itu juga ia menghadad Khalifah.
Selang beberapa waktu, Khlaifah bermaksud mengutus Sa’d
untuk menjadi gubernur Irak lagi. Akan tetapi, dengan tertawa menjawab,
“Apakah anda hendak mengutusku kepada kaum yang menuduhku
tidak bisa shalat dengan baik?”
Sa’d lebih memilih tinggal di Madinah.
Ketika Khalifah Umar dicederai orang, ia memilih enam orang
sahabat Rasulullah saw. Yang menjadi penanggung jawab pemilihan Khalifah baru.
Enam orang yang diridhai Rasulullah saw. Sewaktu beliau hendak berpulang ke
rahmatullah. Dan Sa’d bin Abi Waqqash adalah suatu dari enam orang tersebut.
Bahkan dari ucapan Khalifah Umar terakhir bisa dipahami jika
seandainya pemilihan Khalifah baru diserahkan kepadanya, maka dia akan memilih
Sa’d.
Sewaktu memberi wasiat terakhir dan ucapan perpisahan kepada
sahabat-sahabatnya, Khalifah Umar berkata, “Jika Khalifah dijabat oleh Sa’d,
maka itu sudah semestinya. Dan seandainya dijabat oleh orang lain, hendaklah ia
menjadikan Sa’d sebagai penasihatnya.”
Sa’d dikaruniai usia panjang. Saat terjadi kekacauan besar,
Sa’d tidak ingin campur tangan. Bahkan, ia berpesan kepada keluarga dan
putra-putranya agar tidak menyampaikan berita apa pun tentang kekacauan besar
itu.
Suatu hari, orang-orang menaruh harapan kepadanya.
Keponakannya yang bernama Hasyim bin `Utbah bin Abi Waqqash menemuinya, “Paman,
di sini sudah siap 100 ribu pedang. Semuanya menganggap pamanlah yang lebih
berhak menjabat sebagai Khalifah.”
Sa’d menjawab, “Dari 100 ribu pedang itu, aku hanya
menginginkan sebilah pedang. Jika aku tebaskan kepada orang beriman, maka
takkan bisa melukainya sedikit pun. Namun, jika kutebaskan kepada orang kafir,
lehernya langsung putus.”
Hasyim paham apa yang dimaksud pamannya. Ia pergi
meninggalkan sang paman.
Ketika Mu’awiyah berhasil menduduki jabatan Khalifah, ia
bertanya kepada Sa’d, “Mengapa engkau tidak
ikut berperang di pihak kami?”
Sa’d menjawab, “Aku sedang lewat di suatu tempat yang dilanda
topan berkabut gelap. Aku berkata, ‘
Saudara... saudara...’ Kuhentikan kendaraan
menunggu jalan terang kembali.”
Mu’awiyah berkata, “Dalam Al-Qur’an tidak disebutkan
‘Saudara... saudara...’ Tetapi Allah berfirman,
‘Jika di antara orang-orang beriman ada dua golongan yang
saling membunuh, maka damaikanlah mereka. Seandainya salah satu di antara kedua
golongan itu berbuat aniaya kepada yang lain, maka perangilah yang berbuat
aniaya itu sampai mereka kembali kepada perintah Allah.’ (Al-Hujarat: 9)
Engkau tidak berada di pihak yang aniaya, dan tidak pula di
pihak yang benar.”
Sa’d menjawab, “Aku tidak mungkin memerangi seorang
laki-laki (maksudnya Ali) yang pernah disabdakan
Rasulullah, ‘Engkau di
sampingku, seperti kedudukan Harun di samping Musa. Hanya saja tidak ada nabi
sesudahku.’”
Suatu hari di tahun 54 H, sata usia Sa’d sudah lebih dari 80
tahun, ia terlihat di rumahnya, di ‘Aqiq, sedang bersiap-siap hendak berpulang
ke rahmatullah.
Detik-detik terakhir ini diceritakan oleh putranya.
“Saat itu kepala ayah di pangkuanku. Aku menangis. Ayah
bertanya ‘Apa yang membuatmu menangis, Nak? Allah tidak akan menghukumku. Aku
akan menjadi penduduk surga.’”
Kuatnya iman yang dimiliki tidak tergoyahkan oleh apa pun,
bahkan kematian.
Rasulullah pernah menyampaikan kabar gembira itu kepadanya,
dan ia sangat percaya kepada Rasulullah. Lantas apa yang harus ditakuti?
Dengarkan ucapannya, “Allah tidak akan menghukumku. Aku akan menjadi penghuni
surga.”
Ia ingin menghadap Allah dengan membawa kenang-kenangan yang
paling manis dan mengharukan, masa-masa indah bersama Islam dan Rasulullah.
Ia menyuruh keluarganya mengeluarkan sekali kain tua dari
lemari, dan meminta mereka menjadikan kain itu sebagai kafannya nanti. Ia
berkata,
“Kain ini kupakai saat menghadapi orang-orang musyrik di
Perang Badar. Kali ini sengaja kusimpan untuk hari ini.”
Memang, kain usang yang telah lapuk dan ia tidak dapat
dianggap sebagai kain biasa. Ia adalah panji-panji yang senantiasa berkibar di
puncak kemuliaan nan membentang. Kemuliaan yang dijalani dengan keyakinan, ketulusan dan gagah berani.
Akhirnya, jasad pahlawan kita ini dibawa ke Madinah, untuk
dimakamkan di Baqi’, berdekatan dengan rekan-rekannya yang telah mendahuluinya
menghadap Allah. Dialah Muhajirin yang terakhir meninggal.
Selamat jalan wahai Sa’d....
Selamat jalan wahai pahlawan Qadisiyah, pembebas Mada’in dan
pemadam api pemujaan di Persi untk selama-lamanya.... [Tamat/dn]
Sumber : 60 Sirah
Sahabat Rasulullah SAW/Khalid Muhammad Khalid/Al Itishom

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !