Khalifahlife.com - Minggu ini dunia pendidikan Indonesia kembali digemparkan dengan beredarnya video kekerasan yang dilakukan siswa-siswa SD terhadap salah satu teman perempuannya. Kejadian tersebut berlangsung di salah satu sekolah swasta di Sumatera Barat dan di waktu yang seharusnya guru tengah memberikan materi. Namun, guru yang seharusnya mengajar tidak hadir, sehingga siswa tidak melakukan aktivitas belajar.
Video kekerasan yang beredar di dunia maya menampilkan beberapa siswa laki-laki yang tengah memukul dan menendang seorang siswi temannya. Menurut Kepala Bidang TK SD Dinas Pendidikan Pemuda Olah Raga di Bukit Tinggi, Sumatra Barat, Erdi mengatakan, peristiwa itu direkam oleh salah seorang siswa di kelas tersebut. Kemudian siswa tersebut memberikan video kepada ibunya. Lalu, ibunya memberikan rekaman tersebut kepada temannya hingga akhirnya beredar di dunia maya.
Saat diminta keterangan pada anak-anak siswa SD tersebut, mereka mengaku hanya iseng melakukan pemukulan. Setelah didesak, barulah anak-anak bercerita. Menurut salah seorang anak yang melakukan pemukulan itu, ia memukul atas dasar sakit hati kepada siswi berkerudung yang ia pukuli.
"Ibu saya dihina oleh teman ini. Ibu saya disamakan dengan sepatu," kata Erdi mengutip perkataan siswa pelaku pemukulan itu, seperti yang dilansir Republika Online.
Kasus bullying yang dilakukan oleh siswa-siswa sekolah bukan baru pertama kali ini terjadi, sebelumnya kasus-kasus yang serupa juga pernah mencuat seperti kasus bullying yang terjadi di SMA 70, SMA Don Bosco, dan sekolah lainnya.
Bullying yang dilakukan oleh siswa sekolah rata-rata dilakukan secara berkelompok terhadap temannya atau seringkali pula terhadap adik kelas atau juniornya. Pemicu bullying bisa bermacam-macam seperti karena ejekan, pemerasan, atau karena ingin menunjukkan "power" sebagai kakak kelas atau orang yang harus disegani. Dan umumnya bullying terjadi di lingkungan sekolah. Apakah ini menunjukkan rendahnya pengawasan sekolah terhadap siswa/siswi didiknya?
Arti kata bullying memang belum ada dalam terminologi Bahasa Indonesia. Definisinya adalah segala tindakan yang berdampak pada korban berupa rasa terintimidasi, takut, dan tertekan karena dilakukan oleh pelaku menggunakan kekuasaan secara berulang kali. Bullying bisa dilakukan secara verbal (mengatai, menjuluki, menghina, mencela, memfitnah, memaki, atau mengancam, fisik (menendang, mencubit, menghukum dengan lari keliling lapangan, dll), dan mental (menjauhi, meneror, mengintimidasi, diskriminasi, mengabaikan, memelototi, dll). Dalam kaitannya dengan bullying di sekolah, ini bisa dilakukan oleh individu ke individu, kelompok ke individu atau kelompok ke kelompok. Tak jarang pula terjadi dari guru ke siswa. Tujuannya adalah si pelaku ingin menunjukkan power kepada yang lain.
Mengapa bullying bisa terjadi? Banyak faktor pemicu ujar Diena Haryana, Ketua Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA), yayasan yang concern pada bidang pendidikan seperti dikutip dari Tabloid Nova.
Bisa jadi, sambung Diena, karena faktor orangtua di rumah yang tipe suka memaki, membandingkan atau melakukan kekerasan fisik. Anak pun menganggap benar bahasa kekerasan.
“Output-nya, si anak bisa menjadi individu yang merasa rendah diri ataupun pemarah. Di sekolah dia bisa menjadi pembuli (pelaku bullying) atau dibuli (korban bullying). Batas antara pasif dan agresif, kan, demikian tipis. Contohnya, kasus Cho Seung Hui, mahasiswa yang melakukan penembakan sekitar 32 orang di kampus Virginia Tech, Amerika Serikat, 16 April 2007. Ternyata di rumah orangtuanya selalu membandingkan dia dengan kakaknya, lalu di kampus dia diolok-olok terus karena dianggap aneh. Dalam kondisi marah dan tertekan, muncullah sifat agresif negatif dalam dirinya,” papar Diena.
Selain faktor orangtua, teman-teman juga bisa menjadi pemicu. Supaya dianggap 'cool', anak-anak ikut-ikutan menjadi pembuli. Bisa juga, faktor anak-anak yang sangat dimanja di rumah, sehingga semua orang harus tunduk pada dia. Atau, sambungnya, faktor media yang banyak menayangkan tontonan kekerasan.
“Guru juga bisa menjadi pembuli. Misalnya, dengan memberikan hukuman atau mengatai. Belum lama ada kasus anak bunuh diri karena malu tak bisa menggunakan seragam yang disuruh gurunya. Atau tradisi ospek yang belum ditetapkan jelas oleh sekolah aturan mainnya. Misalnya, siswa diminta mengumpulkan tanda tangan seniornya dan para senior boleh melakukan apa saja. Nah, itu semua memperlihatkan betapa parahnya akibat bullying itu,” sambungnya.
Melihat faktor pemicu yang sangat beragam, tentunya kita tidak dapat menyalahkan sekolah karena tidak melakukan pengawasan atau pendidikan yang baik. Peristiwa ini dapat menjadi pelajaran bahwa pendidikan dan penanaman nilai-nilai kebaikan pada anak-anak adalah merupakan tugas yang terintegrasi antara orang tua dan juga guru di sekolah. Orang tua dan guru harus dapat bekerjasama memberikan pemahaman, pendidikan dan juga teladan bagi anak-anak. Terlihat pada kasus bullying di SD Sumatera Selatan tersebut, ternyata siswa yang melakukan bullying menunjukkan perilaku tersebut pada orang tuanya terlebih dahulu. [Wn/berbagai sumber]
asus Bullying di Sekolah Kembali Terjadi, Benarkah Karena Sekolah Kurang Pengawasan
Khalifahlife.com - Minggu ini dunia pendidikan Indonesia kembali digemparkan dengan beredarnya video kekerasan yang dilakukan siswa-siswa SD terhadap salah satu teman perempuannya. Kejadian tersebut berlangsung di salah satu sekolah swasta di Sumatera Barat dan di waktu yang seharusnya guru tengah memberikan materi. Namun, guru yang seharusnya mengajar tidak hadir, sehingga siswa tidak melakukan aktivitas belajar.
Video kekerasan yang beredar di dunia maya menampilkan beberapa siswa laki-laki yang tengah memukul dan menendang seorang siswi temannya. Menurut Kepala Bidang TK SD Dinas Pendidikan Pemuda Olah Raga di Bukit Tinggi, Sumatra Barat, Erdi mengatakan, peristiwa itu direkam oleh salah seorang siswa di kelas tersebut. Kemudian siswa tersebut memberikan video kepada ibunya. Lalu, ibunya memberikan rekaman tersebut kepada temannya hingga akhirnya beredar di dunia maya.
Saat diminta keterangan pada anak-anak siswa SD tersebut, mereka mengaku hanya iseng melakukan pemukulan. Setelah didesak, barulah anak-anak bercerita. Menurut salah seorang anak yang melakukan pemukulan itu, ia memukul atas dasar sakit hati kepada siswi berkerudung yang ia pukuli.
"Ibu saya dihina oleh teman ini. Ibu saya disamakan dengan sepatu," kata Erdi mengutip perkataan siswa pelaku pemukulan itu, seperti yang dilansir Republika Online.
Kasus bullying yang dilakukan oleh siswa-siswa sekolah bukan baru pertama kali ini terjadi, sebelumnya kasus-kasus yang serupa juga pernah mencuat seperti kasus bullying yang terjadi di SMA 70, SMA Don Bosco, dan sekolah lainnya.
Bullying yang dilakukan oleh siswa sekolah rata-rata dilakukan secara berkelompok terhadap temannya atau seringkali pula terhadap adik kelas atau juniornya. Pemicu bullying bisa bermacam-macam seperti karena ejekan, pemerasan, atau karena ingin menunjukkan "power" sebagai kakak kelas atau orang yang harus disegani. Dan umumnya bullying terjadi di lingkungan sekolah. Apakah ini menunjukkan rendahnya pengawasan sekolah terhadap siswa/siswi didiknya?
Arti kata bullying memang belum ada dalam terminologi Bahasa Indonesia. Definisinya adalah segala tindakan yang berdampak pada korban berupa rasa terintimidasi, takut, dan tertekan karena dilakukan oleh pelaku menggunakan kekuasaan secara berulang kali. Bullying bisa dilakukan secara verbal (mengatai, menjuluki, menghina, mencela, memfitnah, memaki, atau mengancam, fisik (menendang, mencubit, menghukum dengan lari keliling lapangan, dll), dan mental (menjauhi, meneror, mengintimidasi, diskriminasi, mengabaikan, memelototi, dll). Dalam kaitannya dengan bullying di sekolah, ini bisa dilakukan oleh individu ke individu, kelompok ke individu atau kelompok ke kelompok. Tak jarang pula terjadi dari guru ke siswa. Tujuannya adalah si pelaku ingin menunjukkan power kepada yang lain.
Mengapa bullying bisa terjadi? Banyak faktor pemicu ujar Diena Haryana, Ketua Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA), yayasan yang concern pada bidang pendidikan seperti dikutip dari Tabloid Nova.
Bisa jadi, sambung Diena, karena faktor orangtua di rumah yang tipe suka memaki, membandingkan atau melakukan kekerasan fisik. Anak pun menganggap benar bahasa kekerasan.
“Output-nya, si anak bisa menjadi individu yang merasa rendah diri ataupun pemarah. Di sekolah dia bisa menjadi pembuli (pelaku bullying) atau dibuli (korban bullying). Batas antara pasif dan agresif, kan, demikian tipis. Contohnya, kasus Cho Seung Hui, mahasiswa yang melakukan penembakan sekitar 32 orang di kampus Virginia Tech, Amerika Serikat, 16 April 2007. Ternyata di rumah orangtuanya selalu membandingkan dia dengan kakaknya, lalu di kampus dia diolok-olok terus karena dianggap aneh. Dalam kondisi marah dan tertekan, muncullah sifat agresif negatif dalam dirinya,” papar Diena.
Selain faktor orangtua, teman-teman juga bisa menjadi pemicu. Supaya dianggap 'cool', anak-anak ikut-ikutan menjadi pembuli. Bisa juga, faktor anak-anak yang sangat dimanja di rumah, sehingga semua orang harus tunduk pada dia. Atau, sambungnya, faktor media yang banyak menayangkan tontonan kekerasan.
“Guru juga bisa menjadi pembuli. Misalnya, dengan memberikan hukuman atau mengatai. Belum lama ada kasus anak bunuh diri karena malu tak bisa menggunakan seragam yang disuruh gurunya. Atau tradisi ospek yang belum ditetapkan jelas oleh sekolah aturan mainnya. Misalnya, siswa diminta mengumpulkan tanda tangan seniornya dan para senior boleh melakukan apa saja. Nah, itu semua memperlihatkan betapa parahnya akibat bullying itu,” sambungnya.
Melihat faktor pemicu yang sangat beragam, tentunya kita tidak dapat menyalahkan sekolah karena tidak melakukan pengawasan atau pendidikan yang baik. Peristiwa ini dapat menjadi pelajaran bahwa pendidikan dan penanaman nilai-nilai kebaikan pada anak-anak adalah merupakan tugas yang terintegrasi antara orang tua dan juga guru di sekolah. Orang tua dan guru harus dapat bekerjasama memberikan pemahaman, pendidikan dan juga teladan bagi anak-anak. Terlihat pada kasus bullying di SD Sumatera Selatan tersebut, ternyata siswa yang melakukan bullying menunjukkan perilaku tersebut pada orang tuanya terlebih dahulu. [Wn/berbagai sumber]
Home »
Berita Nasional
,
Featured Berita Nasional
,
Headline
,
HeadLines
» Bullying di Sekolah Kembali Terjadi, Apakah Sekolah Harus Disalahkan ?

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !