Khalifahlife.com - Apa yang kita lakukan jika Allah Allah memberikan amanah
berupa anak yang memiliki keterbatasan fisik seperti celebral palsy, yaitu
kelumpuhan fungsi motorik akibat gangguan pada otak ?!
Sedih, kecewa atau mungkin marah. Emosi yang umumnya terjadi
dalam keadaan demikian. Tetapi tidak dengan Henny Sulistyowati (33 th), ia
justru sangat bangga pada anaknya Fajar Abdurrohim Wahydiono yang menderita celebral palsy atau kelumpuhan fungsi
motorik akibat ada gangguan pada otak.
Fajar pada usia 9 tahun sudah mampu menghafal 22 juz,
subhanallah. Doa Henny sejak sebelum menikah untuk mempunyai anak yang shalih
dan hafidz Al Quran pun sudah dijawab Allah. Baginya itu sudah lebih dari
cukup. Meski hingga saat ini Fajar masih belum bisa berjalan, belum mampu
menulis dengan baik dan memiliki gangguan emosional akibat cerebral palsy. Namun, itu tidak pernah membuat Henny sedih.
Hingga sekarang, wanita yang tinggal di Bandung ini pun tak
pernah berdoa agar Fajar bisa berjalan. Ia lebih memanjatkan doa yang lebih
akbar lagi, yaitu agar Fajar dapat menjadi anak shalih, ahli surga, dan
pemimpin orang beriman. “Lebih baik Fajar tidak bisa berjalan, tapi dapat
menjadi pemimpin orang beriman, itu sudah cukup. Daripada Fajar bisa berjalan,
tapi ternyata itu malah membawa kemudharatan bagi Fajar buat apa,” ungkap
wanita yang memiliki usaha jilbab anak-anak ini.
Sayang, tak bisa semua orang memahami hal ini. Termasuk dari
orang tua sendiri. Henny seringkali disalahkan bahwa mungkin Fajar belum bisa
berjalan karena tidak pernah didoakan orang tuanya. Padahal bagi Henny, Fajar
bisa berjalan atau tidak, bukanlah masalah. Selama ini pun Henny mengaku tak
pernah merasa kerepotan dan terbeban dengan kondisi Fajar.
Alhamdulillah,
Fajar tidak pernah membuat Henny merasa perlu untuk mengeluh. Sebaliknya Henny
merasa perlu untuk terus bersyukur dapat memiliki anak seperti Fajar. Fajar
jarang sekali rewel, ia selalu ceria dan ramah pada setiap orang, ketika sakit
pun paling Fajar hanya diam saja. Sekalipun Henny harus menggendong Fajar
kemana-mana ia pun merasa itu bukanlah sebagai kendala. Ia pun bersyukur Allah
selalu mencukupkan rizki keluarganya sehingga mereka tak kesulitan secara
financial.
Ketika pertama kali mengetahui Fajar menyandang celebral palsy, Henny dan suaminya Joko Wahyudiono
tentu kaget. Suatu reaksi yang wajar dialami semua orang tua. Ketika itu Fajar
sudah berusia satu tahun saat mereka mengetahui Fajar menyandang celebral
palsy. Awalnya, Henny tidak menyangka karena ia menganggap keterlambatan
yanyang dialami Fajar masih wajar. Fajar yang lahir prematur ini memang
mengalami keterlambatan tumbuh kembang, lehernya baru bisa tegak diusia
tujuhtujuh bulan dan baru bisa duduk diusia satu tahun.
Meski sempat curiga, tapi Henny tak khawatirsetelah dokter
spesialis anak mengatakan Fajar tidak apa-apa. Sampai kemudian saat Fajar
berusia setahun, seorang teman yang bekerja di Yayasan Penyandang Cacat (YPAC)
merujuk Henny agar membawa Fajar ke Surya Kanti, sebuah yayasan sosial di
bidang tumbuh kembang anak. Dari situlah baru ketahuan bahwa Fajar menyandang celebral palsy.
Walau kaget, tapi Henny
dan Joko yakin Allah menghadirkan yang terbaik untuk mereka. Mereka pun
langsung mencari tahu tentang seluk beluk cerebral
palsy. Sepulang dari Surya Kanti, Henny melihat sebuah tayangan di sebuah
televisi yang membahas tentang cerebral
palsy. Joko juga langsung browsing
di internet mengenai cerebral palsy.
Selanjutnya mereka langsung berupaya mencari penanganan yang tepat. Mulailah
Fajar diterapi, baik untuk fisioterapi, terapi bicara hingga terapi berenang.
Saat Fajar berumur satu
tahun, ia sempat terdeteksi memiliki gelombang kejang. Padahal Fajar tak pernah
kejang sebelumnya. Begitu Fajar berusia empat tahun, gelombang kejang itu masih
muncul, sampai kemudian Fajar berusia delapan tahun gelombang kejang itu masih
saja ada. Namun, hingga sekarang Fajar tak pernah sekalipun mengalami kejang.
Karena penasaran, maka
Henny mencoba membawa Fajar untuk CT Scan dan ternyata memang ada kelainan di
otak yang membuat Fajar memiliki rongga terbuka yang memungkinkan masuk cairan
ke otak. Dengan adanya kelainan itu, seharusnya Fajar mengalami kejang aktif
dan hidrosefalus. Tapi tidak demikian halnya dengan Fajar.
Dugaan Henny, kejang yang
tak dialami Fajar kemungkinan besar karena hafalan Al-Quran yang dikuasai
Fajar. Sebab, dari pengetahuan yang didapat Henny, menghafal Al-Quran dapat
menghidupkan sel-sel otak yang masih tidur. “Sel otak Fajar mungkin ada yang
rusak, tapi dapat tertutupi dengan sel yang baru karena teraktifkan lewat
kemampuan Fajar menghafal Quran,” ujarnya.
Sudah sejak lama Henny
menyakini bahwa Al-Quran adalah penyembuh. Maka, ketika ia melahirkan Fajar
dalam kondisi premature, ia pun langsung menyetelkan murrotal Quran untuk Fajar yang masih harus ada di inkubator. Dalam
umurnya yang masih sehari, Fajar sudah langsung mendengarkan dua juz Al Quran.
Saat pulang ke rumah, Henny juga selalu mengisi telinga Fajar dengan untaian murrotal Quran, termasuk ketika tidur.
Hari-hari Fajar pun selalu diisi dengan Al-Quran. Hingga kemudian, ketika Fajar
berusia tiga tahun, saat Fajar pertama kali berbicara, yang keluar pertama kali
dari mulutnya adalah tilawah. Mulanya hanya bagian akhir suatu ayat, kemudian
bagian awal dan akhir, lalu lama-kelamaan bagian awal, tengah dan akhir, hingga
akhirnya dapat keluar satu ayat Al Quran secara utuh dari mulut Fajar. Niat
Henny adalah agar Fajar terbiasa dengan Al Quran. Akan tetapi, ternyata
langkahnya itu dapat membuat Fajar menghafal Al-Quran.
Henny lantas membelikan
Fajar video murrotal Quran yang ada
gambar kartun, tulisan arab dan artinya. Fajar selalu senang jika disetelkan
video ini dan disetel berulang kali. Ternyata saat disetelkan video itu,
telinganya menangkap rekaman lantunan ayat dan matanya menangkap tulisan.
Hingga saat usia Fajar empat tahun, Fajar tiba-tiba membuka mushaf Quran.
Ketika itu, Henny sedang
berada di dapur dan sayup-sayup mendengar ada suara orang mengaji. Ternyata itu
adalah Fajar. Awalnya Henny mengira Fajar melantukan ayat Al-Quran tanpa sesuai
dengan bacaan Al Quran yang dilihatnya. Tapi ternyata yang diucapkan Fajar
sesuai dengan halaman yang sedang dibuka. Subhanallah.
Sejak itu mulailah Fajar
kian sering bermain dengan Al-Quran. Baginya Al Quran sudah seperti maianan
kesayangan. Saat anak-anak seusianya sibuk dengan berbagai mainan seperti
mobil-mobilan atau robot-robotan, Fajar lebih suka berkutat dengan Al Quran.
Kalau ditanya, mau minta dibelikan apa, Fajar selalu menjawab ingin Al Quran
atau pun morrotal Quran. “Jadi,di
rumah koleksi Al Quran kami ada banyak, begitu juga dengan murrotal,” tutur Henny sembari tertawa.
Fajar sangat gandrung
dengan segala hal yang berhubungan dengan Al Quran. Saat melihat tulisan bahasa
Arab yang bukan merupakan ayat Al Quran, Fajar biasanya akan bertanya pada
Henny, apa bacaan tulisan tersebut, keesokan harinya ia sudah langsung bisa
hafal tulisan tersebut. Pernah suatu kali Henny sedang berusaha menghafal
hadits arbain nomor dua, sudah dua
pekan, tapi Henny tak kunjung hafal. Ternyata tanpa dinyana karena sering
mendengar mamanya berusaha menghafal, tiba-tiba Fajar sudah hafal hadits
tersebut.
Ketika usia Fajar empat
tahun, Henny mencoba mencarikan guru mengaji untuk Fajar. Dan setelah mengetes
bacaan Al Quran Fajar selama enam bulan, guru pertama Fajar menyimpulkan bahwa
di usia itu Fajar sudah menghafal Al Quran secara utuh, tapi belum bisa
menghafal dengan urut.
Tapi ternyata tak semua
guru bisa cocok untuk Fajar. Beberapa kali Fajar berganti guru hingga akhirnya
menemukan guru yang pas dan membuat Fajar mau patuh. Dengan Teh Lana, guru
terakhirnya ini, Fajar telah menghafal 22 juz secara berurutan hingga sekarang.
Tinggal delapan juz lagi, insya ‘Allah,
kami sudah mulai mencari pesantren hafalan,” tutur Henny.
Alhamdulillah, Al Quran juga membuat daya tahan tubuh Fajar begitu
kuat. Ia jarang sekali sakit, padahal Fajar memilliki jadwal harian yang sangat
padat. Sedari pagi hingga siang Fajar sekolah, kemudian Fajar mengikuti terapi,
dan pada sore hari menjelang malam Fajar pergi ke tempat les hafalan Al-Quran.
Pernah seisi rumah terkena flu, Fajar tak tertular sama sekali.
Di sekolah Fajar pun
sangat menonjol dalam hal bacaan Al Quran. Bila ada acara sekolah maka Fajar
yang kebagian tugas membaca tilawah. Guru-guru Fajar sudah sangat memahami
kemampuan Fajar dalam bidang hafalan Al Quran ini. Bila Fajar rewel di kelas maka solusinya mudah
saja, dengan disetelkan murrotal
Quran Fajar langsung tenang.
Fajar bersekolah di TK
Mutiara Hati yang terletak di daerah Antapani, Bandung, Jawa Barat, sebuah
sekolah inklusi. Yaitu sekolah umum yang menerima murid berkebutuhan khusus dan
memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Menurut Henny, Fajar
pernah di tes bahwa kemampuan akademis Fajar setara dengan anak usia enam tahun.
Di kelas yang berjumlah 24 siswa itu, Fajar diajar oleh tiga orang guru dan
satu orang guru pendamping yang khusus membantu segala kebutuhan Fajar.
Guru pendamping Fajar
ini, Pak Amy Faizal rutin pula menyetel murrotal
Quran untuk Fajar dari telepon seluler miliknya. Fajar biasanya langsung
bisa menebak surat yang sedang diputar, bukan saja sejak permulaan ayat
pertama, bahkan sejak pembacaan basmalah
di setiap surat. Jadi dari nada dan tekanan surat pembacaan basmallah saja, Fajar sudah dapat
mengetahui surat apa yang sedang diputar. Subhannallah.
Di sekolah Fajar juga
mendapat pembelajaran khusus seperti berkeliling sekolah, meniti papan titian,
mendengarkan cerita, kelas memasak, hingga materi pembiasaan seperti melepas
kancing sendiri sebagai stimulus untuk para anak berkebutuhan khusus. Fajar
begitu bersemangat untuk sekolah. Setiap hal yang ia pelajari di sekolah selalu
diceritakannya kembali kepada Henny sang Mama. Saking semangatnya ketika awal-awal sekolah, Fajar tetap ingin
sekolah di hari Sabtu dan Ahad ketika libur. Berbagai ekstra kurikuler juga
diikutinya, dari mulai sepak bola, berenang, dan tahsin (memperbagus bacaan Al Quran).
Fajar juga dikenal
sebagai anak yang ramah, mudah beradaptasi, cepat bersosialisasi dan mudah
menghafal nama-nama teman sekolahnya. Fajar paling cepat sadar bila ada satu
saja teman sekelasnya yang tidak hadir. Dia juga dapat mengetahui kehadiran
seseorang dari langkah kakinya saja.
Pendengaran Fajar begitu
kuat, kemampuan menghafalnya juga sangat hebat. Henny pun berusaha menjaga
betul kemampuan Fajar agar tidak terkontaminasi hal-hal buruk. Di rumah Henny
sengaja tak memiliki televisi. Selain menyetelkan murrotal Quran, Henny juga lebih senang memberikan Fajar komputer
agar ia dapat melihat video-video Islami kesukaannya.
Di rumah, Fajar juga
selalu ikut ayahnya shalat berjamaah di mesjid. Meski belum bisa shalat
khusyu’, Fajar sudah hafal semua bacaan shalat. Yang lucu saat shalat berjamaah
di masjid, Fajar seringkali membaca keras-keras mengikuti imam yang bersuara nyaring.
Kini Fajar sudah bisa
berjalan sedikit demi sedikit menggunakan alat bantu dan sepatu khusus yang
membuat kakinya bisa tetap tegak. Masalah gerak tangan Fajar yang membuatnya
susah menulis dilatih dengan rangsangan finger
painting. Gangguan emosional Fajar yang membuatnya tak bisa membedakan mana
sedih dan senang juga sedang diterapi.
Bila semula Fajar selalu
tertawa dan sangat sulit untuk sedih, kini ia mulai bisa mengetahui bahwa saat
ada seseorang meninggal maka saatnya bersedih. “Semula bila mendengar ada yang
mengucap innalillah, Fajar malah
tertawa,” ujar Ervi Neni Mariani, salah seorang guru Fajar.
Akan tetapi, kelemahannya
yang sulit merasa sedih atau murung justru menjadi kelebihan tersendiri. Bagi
Fajar semua hal menyenangkan. Senyumnya sangat manis dan meneduhkan. Melihat
tawanya rasanya langsung dapat menggerakkan mulut orang lain untuk ikut
tertawa. Semoga Allah Ta’ala
menjadikan Fajar sebagai pemimpin orang-orang beriman dan ahli surga seperti
doa yang selalu dipanjatkan Sang Mama.
Yakinlah Bunda, Ayah,
Ummi, Abi, Papa, Mama dan seluruh orang tua dimanapun entah apapun kondisi anak
yang telah dianugerahi Allah pada kita, terlahir sempurna atau memiliki
kekurangan, mereka adalah amanah, mereka adalah rizki dari Allah yang harus
disyukuri dan berikanlah kasih sayang yang penuh kepada
mereka.[wn/MajalahAulia]
Sumber : Majalah Aulia
No.01 Tahun X Sya’ban 1433 – Ramadhan 1433 (Juli 2012)

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !