Dengan Keterbatasan Fisik Tak Menyulitkan Fajar Menghafal Al Quran - Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia
Headlines News :
Home » , , » Dengan Keterbatasan Fisik Tak Menyulitkan Fajar Menghafal Al Quran

Dengan Keterbatasan Fisik Tak Menyulitkan Fajar Menghafal Al Quran

Monday, September 1, 2014 | 10:17 PM

Khalifahlife.com - Apa yang kita lakukan jika Allah Allah memberikan amanah berupa anak yang memiliki keterbatasan fisik seperti celebral palsy, yaitu kelumpuhan fungsi motorik akibat gangguan pada otak ?!

Sedih, kecewa atau mungkin marah. Emosi yang umumnya terjadi dalam keadaan demikian. Tetapi tidak dengan Henny Sulistyowati (33 th), ia justru sangat bangga pada anaknya Fajar Abdurrohim Wahydiono yang menderita celebral palsy atau kelumpuhan fungsi motorik akibat ada gangguan pada otak.

Fajar pada usia 9 tahun sudah mampu menghafal 22 juz, subhanallah. Doa Henny sejak sebelum menikah untuk mempunyai anak yang shalih dan hafidz Al Quran pun sudah dijawab Allah. Baginya itu sudah lebih dari cukup. Meski hingga saat ini Fajar masih belum bisa berjalan, belum mampu menulis dengan baik dan memiliki gangguan emosional akibat cerebral palsy. Namun, itu tidak pernah membuat Henny sedih.

Hingga sekarang, wanita yang tinggal di Bandung ini pun tak pernah berdoa agar Fajar bisa berjalan. Ia lebih memanjatkan doa yang lebih akbar lagi, yaitu agar Fajar dapat menjadi anak shalih, ahli surga, dan pemimpin orang beriman. “Lebih baik Fajar tidak bisa berjalan, tapi dapat menjadi pemimpin orang beriman, itu sudah cukup. Daripada Fajar bisa berjalan, tapi ternyata itu malah membawa kemudharatan bagi Fajar buat apa,” ungkap wanita yang memiliki usaha jilbab anak-anak ini.

Sayang, tak bisa semua orang memahami hal ini. Termasuk dari orang tua sendiri. Henny seringkali disalahkan bahwa mungkin Fajar belum bisa berjalan karena tidak pernah didoakan orang tuanya. Padahal bagi Henny, Fajar bisa berjalan atau tidak, bukanlah masalah. Selama ini pun Henny mengaku tak pernah merasa kerepotan dan terbeban dengan kondisi Fajar.

Alhamdulillah, Fajar tidak pernah membuat Henny merasa perlu untuk mengeluh. Sebaliknya Henny merasa perlu untuk terus bersyukur dapat memiliki anak seperti Fajar. Fajar jarang sekali rewel, ia selalu ceria dan ramah pada setiap orang, ketika sakit pun paling Fajar hanya diam saja. Sekalipun Henny harus menggendong Fajar kemana-mana ia pun merasa itu bukanlah sebagai kendala. Ia pun bersyukur Allah selalu mencukupkan rizki keluarganya sehingga mereka tak kesulitan secara financial.

Ketika pertama kali mengetahui Fajar menyandang celebral palsy, Henny dan suaminya Joko Wahyudiono tentu kaget. Suatu reaksi yang wajar dialami semua orang tua. Ketika itu Fajar sudah berusia satu tahun saat mereka mengetahui Fajar menyandang celebral palsy. Awalnya, Henny tidak menyangka karena ia menganggap keterlambatan yanyang dialami Fajar masih wajar. Fajar yang lahir prematur ini memang mengalami keterlambatan tumbuh kembang, lehernya baru bisa tegak diusia tujuhtujuh bulan dan baru bisa duduk diusia satu tahun.

Meski sempat curiga, tapi Henny tak khawatirsetelah dokter spesialis anak mengatakan Fajar tidak apa-apa. Sampai kemudian saat Fajar berusia setahun, seorang teman yang bekerja di Yayasan Penyandang Cacat (YPAC) merujuk Henny agar membawa Fajar ke Surya Kanti, sebuah yayasan sosial di bidang tumbuh kembang anak. Dari situlah baru ketahuan bahwa Fajar menyandang celebral palsy.

Walau kaget, tapi Henny dan Joko yakin Allah menghadirkan yang terbaik untuk mereka. Mereka pun langsung mencari tahu tentang seluk beluk cerebral palsy. Sepulang dari Surya Kanti, Henny melihat sebuah tayangan di sebuah televisi yang membahas tentang cerebral palsy. Joko juga langsung browsing di internet mengenai cerebral palsy. Selanjutnya mereka langsung berupaya mencari penanganan yang tepat. Mulailah Fajar diterapi, baik untuk fisioterapi, terapi bicara hingga terapi berenang.

Saat Fajar berumur satu tahun, ia sempat terdeteksi memiliki gelombang kejang. Padahal Fajar tak pernah kejang sebelumnya. Begitu Fajar berusia empat tahun, gelombang kejang itu masih muncul, sampai kemudian Fajar berusia delapan tahun gelombang kejang itu masih saja ada. Namun, hingga sekarang Fajar tak pernah sekalipun mengalami kejang.
Karena penasaran, maka Henny mencoba membawa Fajar untuk CT Scan dan ternyata memang ada kelainan di otak yang membuat Fajar memiliki rongga terbuka yang memungkinkan masuk cairan ke otak. Dengan adanya kelainan itu, seharusnya Fajar mengalami kejang aktif dan hidrosefalus. Tapi tidak demikian halnya dengan Fajar.

Dugaan Henny, kejang yang tak dialami Fajar kemungkinan besar karena hafalan Al-Quran yang dikuasai Fajar. Sebab, dari pengetahuan yang didapat Henny, menghafal Al-Quran dapat menghidupkan sel-sel otak yang masih tidur. “Sel otak Fajar mungkin ada yang rusak, tapi dapat tertutupi dengan sel yang baru karena teraktifkan lewat kemampuan Fajar menghafal Quran,” ujarnya.

Sudah sejak lama Henny menyakini bahwa Al-Quran adalah penyembuh. Maka, ketika ia melahirkan Fajar dalam kondisi premature, ia pun langsung menyetelkan murrotal Quran untuk Fajar yang masih harus ada di inkubator. Dalam umurnya yang masih sehari, Fajar sudah langsung mendengarkan dua juz Al Quran. Saat pulang ke rumah, Henny juga selalu mengisi telinga Fajar dengan untaian murrotal Quran, termasuk ketika tidur. Hari-hari Fajar pun selalu diisi dengan Al-Quran. Hingga kemudian, ketika Fajar berusia tiga tahun, saat Fajar pertama kali berbicara, yang keluar pertama kali dari mulutnya adalah tilawah. Mulanya hanya bagian akhir suatu ayat, kemudian bagian awal dan akhir, lalu lama-kelamaan bagian awal, tengah dan akhir, hingga akhirnya dapat keluar satu ayat Al Quran secara utuh dari mulut Fajar. Niat Henny adalah agar Fajar terbiasa dengan Al Quran. Akan tetapi, ternyata langkahnya itu dapat membuat Fajar menghafal Al-Quran.

Henny lantas membelikan Fajar video murrotal Quran yang ada gambar kartun, tulisan arab dan artinya. Fajar selalu senang jika disetelkan video ini dan disetel berulang kali. Ternyata saat disetelkan video itu, telinganya menangkap rekaman lantunan ayat dan matanya menangkap tulisan. Hingga saat usia Fajar empat tahun, Fajar tiba-tiba membuka mushaf Quran.

Ketika itu, Henny sedang berada di dapur dan sayup-sayup mendengar ada suara orang mengaji. Ternyata itu adalah Fajar. Awalnya Henny mengira Fajar melantukan ayat Al-Quran tanpa sesuai dengan bacaan Al Quran yang dilihatnya. Tapi ternyata yang diucapkan Fajar sesuai dengan halaman yang sedang dibuka. Subhanallah.

Sejak itu mulailah Fajar kian sering bermain dengan Al-Quran. Baginya Al Quran sudah seperti maianan kesayangan. Saat anak-anak seusianya sibuk dengan berbagai mainan seperti mobil-mobilan atau robot-robotan, Fajar lebih suka berkutat dengan Al Quran. Kalau ditanya, mau minta dibelikan apa, Fajar selalu menjawab ingin Al Quran atau pun morrotal Quran. “Jadi,di rumah koleksi Al Quran kami ada banyak, begitu juga dengan murrotal,” tutur Henny sembari tertawa.

Fajar sangat gandrung dengan segala hal yang berhubungan dengan Al Quran. Saat melihat tulisan bahasa Arab yang bukan merupakan ayat Al Quran, Fajar biasanya akan bertanya pada Henny, apa bacaan tulisan tersebut, keesokan harinya ia sudah langsung bisa hafal tulisan tersebut. Pernah suatu kali Henny sedang berusaha menghafal hadits arbain nomor dua, sudah dua pekan, tapi Henny tak kunjung hafal. Ternyata tanpa dinyana karena sering mendengar mamanya berusaha menghafal, tiba-tiba Fajar sudah hafal hadits tersebut.

Ketika usia Fajar empat tahun, Henny mencoba mencarikan guru mengaji untuk Fajar. Dan setelah mengetes bacaan Al Quran Fajar selama enam bulan, guru pertama Fajar menyimpulkan bahwa di usia itu Fajar sudah menghafal Al Quran secara utuh, tapi belum bisa menghafal dengan urut.

Tapi ternyata tak semua guru bisa cocok untuk Fajar. Beberapa kali Fajar berganti guru hingga akhirnya menemukan guru yang pas dan membuat Fajar mau patuh. Dengan Teh Lana, guru terakhirnya ini, Fajar telah menghafal 22 juz secara berurutan hingga sekarang. Tinggal delapan juz lagi, insya ‘Allah, kami sudah mulai mencari pesantren hafalan,” tutur Henny.
Alhamdulillah, Al Quran juga membuat daya tahan tubuh Fajar begitu kuat. Ia jarang sekali sakit, padahal Fajar memilliki jadwal harian yang sangat padat. Sedari pagi hingga siang Fajar sekolah, kemudian Fajar mengikuti terapi, dan pada sore hari menjelang malam Fajar pergi ke tempat les hafalan Al-Quran. Pernah seisi rumah terkena flu, Fajar tak tertular sama sekali.

Di sekolah Fajar pun sangat menonjol dalam hal bacaan Al Quran. Bila ada acara sekolah maka Fajar yang kebagian tugas membaca tilawah. Guru-guru Fajar sudah sangat memahami kemampuan Fajar dalam bidang hafalan Al Quran ini. Bila Fajar rewel di kelas maka solusinya mudah saja, dengan disetelkan murrotal Quran Fajar langsung tenang.

Fajar bersekolah di TK Mutiara Hati yang terletak di daerah Antapani, Bandung, Jawa Barat, sebuah sekolah inklusi. Yaitu sekolah umum yang menerima murid berkebutuhan khusus dan memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Menurut Henny, Fajar pernah di tes bahwa kemampuan akademis Fajar setara dengan anak usia enam tahun. Di kelas yang berjumlah 24 siswa itu, Fajar diajar oleh tiga orang guru dan satu orang guru pendamping yang khusus membantu segala kebutuhan Fajar.

Guru pendamping Fajar ini, Pak Amy Faizal rutin pula menyetel murrotal Quran untuk Fajar dari telepon seluler miliknya. Fajar biasanya langsung bisa menebak surat yang sedang diputar, bukan saja sejak permulaan ayat pertama, bahkan sejak pembacaan basmalah di setiap surat. Jadi dari nada dan tekanan surat pembacaan basmallah saja, Fajar sudah dapat mengetahui surat apa yang sedang diputar. Subhannallah.

Di sekolah Fajar juga mendapat pembelajaran khusus seperti berkeliling sekolah, meniti papan titian, mendengarkan cerita, kelas memasak, hingga materi pembiasaan seperti melepas kancing sendiri sebagai stimulus untuk para anak berkebutuhan khusus. Fajar begitu bersemangat untuk sekolah. Setiap hal yang ia pelajari di sekolah selalu diceritakannya kembali kepada Henny sang Mama. Saking semangatnya ketika awal-awal sekolah, Fajar tetap ingin sekolah di hari Sabtu dan Ahad ketika libur. Berbagai ekstra kurikuler juga diikutinya, dari mulai sepak bola, berenang, dan tahsin (memperbagus bacaan Al Quran).

Fajar juga dikenal sebagai anak yang ramah, mudah beradaptasi, cepat bersosialisasi dan mudah menghafal nama-nama teman sekolahnya. Fajar paling cepat sadar bila ada satu saja teman sekelasnya yang tidak hadir. Dia juga dapat mengetahui kehadiran seseorang dari langkah kakinya saja.

Pendengaran Fajar begitu kuat, kemampuan menghafalnya juga sangat hebat. Henny pun berusaha menjaga betul kemampuan Fajar agar tidak terkontaminasi hal-hal buruk. Di rumah Henny sengaja tak memiliki televisi. Selain menyetelkan murrotal Quran, Henny juga lebih senang memberikan Fajar komputer agar ia dapat melihat video-video Islami kesukaannya.

Di rumah, Fajar juga selalu ikut ayahnya shalat berjamaah di mesjid. Meski belum bisa shalat khusyu’, Fajar sudah hafal semua bacaan shalat. Yang lucu saat shalat berjamaah di masjid, Fajar seringkali membaca keras-keras mengikuti imam yang bersuara nyaring.

Kini Fajar sudah bisa berjalan sedikit demi sedikit menggunakan alat bantu dan sepatu khusus yang membuat kakinya bisa tetap tegak. Masalah gerak tangan Fajar yang membuatnya susah menulis dilatih dengan rangsangan finger painting. Gangguan emosional Fajar yang membuatnya tak bisa membedakan mana sedih dan senang juga sedang diterapi.

Bila semula Fajar selalu tertawa dan sangat sulit untuk sedih, kini ia mulai bisa mengetahui bahwa saat ada seseorang meninggal maka saatnya bersedih. “Semula bila mendengar ada yang mengucap innalillah, Fajar malah tertawa,” ujar Ervi Neni Mariani, salah seorang guru Fajar.

Akan tetapi, kelemahannya yang sulit merasa sedih atau murung justru menjadi kelebihan tersendiri. Bagi Fajar semua hal menyenangkan. Senyumnya sangat manis dan meneduhkan. Melihat tawanya rasanya langsung dapat menggerakkan mulut orang lain untuk ikut tertawa. Semoga Allah Ta’ala menjadikan Fajar sebagai pemimpin orang-orang beriman dan ahli surga seperti doa yang selalu dipanjatkan Sang Mama.

Yakinlah Bunda, Ayah, Ummi, Abi, Papa, Mama dan seluruh orang tua dimanapun entah apapun kondisi anak yang telah dianugerahi Allah pada kita, terlahir sempurna atau memiliki kekurangan, mereka adalah amanah, mereka adalah rizki dari Allah yang harus disyukuri dan berikanlah kasih sayang yang penuh kepada mereka.[wn/MajalahAulia]


Sumber : Majalah Aulia No.01 Tahun X Sya’ban 1433 – Ramadhan 1433 (Juli 2012)
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
KANAL : REDAKSI | IKLAN | HUBUNGI KAMI
Copyright © 2011. Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger