Bilal Bin Rabah [2] – Budak Yang Merdeka - Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia
Headlines News :
Home » , , , » Bilal Bin Rabah [2] – Budak Yang Merdeka

Bilal Bin Rabah [2] – Budak Yang Merdeka

Thursday, September 18, 2014 | 1:27 PM

Khalifahlife.com - Bilal adalah seorang Habsyi dan berkulit hitam. Takdir telah membawa nasibnya menjadi budak bani Jumah di kota Mekah, karena ibunya juga seorang budak mereka.

Kehidupannya tidak berbeda dengan budak biasa. Hari-harinya berlalu dengan hampa. Ia tidak memiliki hari ini, tidak juga hari besok.

Ia mulai mendengar tentang Muhammad ketika orang-orang Mekah mulai membicarakannya termasuk para tokoh mereka, terutama Umayah bin Khalaf yang merupakan tokoh utama bani Jumah, kabilah tempat Bilal mengabdi.             

Seringkali ia mendengar Umayah membicarakan Rasulullah, baik dengan kawan-kawannya maupun sesama warga kabilahnya. Pembicaraan yang penuh kebencian, kemarahan dan prasangka buruk.

Meskipun pembicaraan Umayah penuh kebencian dan kemarahan, namun gambaran tentang Muhammad dan agama barunya bisa ditangkap oleh Bilal. Ia melihat bahwa agama yang dibawa Muhammad adalah ajaran baru yang berbeda dengan kondisi masyarakat saat itu. Bilal juga menangkap bahwa Umayah dan para pembesar lainnya mengakui kemuliaan dan kejujuran Muhammad saw.

Benar. Ia mendengar ketakjuban dan kebingunan mereka menyikapi agama baru yang dibawa Muhammad saw. Di antara mereka ada yang berkata yang lain, “Muhamad tidak pernah berdusta. Muhammad bukan tukang sihir. Muhammad tidak gila. Namun kita harus menuduhnya pendusta, tukang sihir dan orang gila, agar masyarakat tidak berlomba-lomba mengikuti agamanya.”

Ia mendengar mereka membicarakan sifat-sifat Muhammad; jujur, selalu menepati janji, pribadi yang luhur, berakhlak mulia, berhati dan cerdas.

Ia juga mendengar mereka berbisik-bisik tentang kebencian mereka kepada Muhammad, kesetiaan mereka terhadap nenek moyang mereka, kekhawatiran akan lunturnya kemuliaan Quraisy, di mana saat itu Quraisy menjadi pusat agama dan peribadatan di tanah Arab. Selain itu, mereka juga merasa iri kepada bani Hasyim. Mengapa nabi baru ini muncul dari kalangan bani Hasyim, bukan dari kabilah mereka?

Suatu hari, Bilal bin Rabah mendapat cahaya ilahi. Hatinya tergetar oleh sentuhan cahay itu. Lalu ia datang kepada Rasulullah dan masuk Islam.

Berita keislaman Bilal pun menyebar. Para tokoh bani Jumah pusing tujuh keliling. Kepala mereka yang penuh dengan kesombongan dan tipu daya itu seakan mau pecah. Apalagi Umayah bin Khalaf. 

Keislaman satu budak beliannya merupakan tamparan keras ke wajahnya. Bahkan seakan wajahnya dilempar kotoran yang membuat malu dan hina.

Orang Habsyi yang menjadi budak mereka itu masuk Islam dan menjadi pengikut Muhammad?
“huh, tidak mengapa. Tunggulah! Sebelum matahari terbenam, pasti keislaman budakku ini sudah terbenam lebih dulu,” kata Umayah dalam hati.

Ternyata, matahari pun terbenam tanpa diikuti terbenamnya keislaman Bilal. Bahkan suatu saat nanti, matahari terbenam dan membenamkan berhala-berhala jahiliah dan para pemujanya.

Kiprah Bilal dalam sejarah kehidupan bukan hanya kemuliaan bagi Islam, tetapi kemuliaan bagi seluruh umat manusia. Ia telah mampu menghadapi berbagai macam siksa dengan kesabaran dan ketangguhan tiada tara.

Seakan Allah menjadikannya simbol teladan, bahwa hitamnya warna kulit dan status sebagi budak belian, sama sekali tidak menghalangi kebesaran jiwa, ketika jiwa telah mengenal tuhannya dan mengetahui apa yang harus dilakukannya.

Bilal telah memberikan pelajaran kepada orang-orang di zamannya dan di setiap zaman,kepada orang-orang yang seagama dengannya dan yang tidak seagama. Pelajaran bahwa kemerdekaan jiwa dan kebebasan nurani, tidak dapat ditukar dengan emas sebanyak apa pun atau tidak akan goyah dengan siksa seberat apa pun.

Tanpa baju dan celana panjang, ia dibaringkan di atas bara, dengan tujuan agar ia meninggalkan agamanya. Namun, Bilal menolak.

Rasulullah telah menjadikan budak Habsyi yang lemah ini teladan bagi umat manusia. Teladan menghormati hati nurani dan mempertahankan hak-haknya.

Ia dibaringkan di ladang pasir yang telah berubah menjadi pasir neraka yang sangat panas, lalu ditindih dengan batu besar yang juga panas. Ia seperti berada di antara dua bara api.

Siksaan kejam dan biadab ini mereka ulangi setiap hari, hingga beberapa algojonya merasa kasihan kepadanya. Mereka mau melepaskan Bilal asalkan ia mau sedikit saja memuji tuhan-tuhan mereka, agar orang-orang  Quraisy tidak mencibir mereka atas ketidakberdayaan mereka menghadapi budak sendiri.

Sebetulnya Bilal bisa berpura-pura memuji tuhan-tuhan itu dan ia bisa selamat dari siksaan mereka. Meskipun hanya berpura-pura dan hanya satu kata, ia tidak mau melakukannya.
Benar! Ia tidak mau memuji tuhan-tuhan itu. Dan sebagai gantinya ia melantunkan slogan abadinya, 

“Ahad.... Ahad....”

Mereka berkata, “Katakanlah seperti yang kami katakan.”

Ia menjawab dengan sedikit diplomatis yang menyudutkan para penyiksanya, “Bibrku tidak mampu mengucapkannya.”

Konsekuensinya, Bilal harus tetap menahan teriknya matahari dan panasnya batu padang pasir. Di sore hari, batu itu disingkirkan. Sebagai gantinya, Bilal diikat di tiang kayu, lalu mereka menyuruh anak-anak kecil untuk melemparinya dengan batu. Ia terus melantunkan, “Ahad... Ahad...”

Di malam hari, mereka memberikan tawaran kepada Bilal, “Besok, kamu harus mengatakan yang baik-baik terhadap tuhan-tuhan kami. Katakanlah, `Tuhanku adalah Lata dan Uzaa.’ Kami akan melepaskanmu. Kami lelah menyiksamu. Namun, sepertinya kami yang tersiksa.”

Bilal menggelengkan kepala dan menyebut, “Ahad... Ahad...”

Umayah bin Khalaf marah dan geram, lalu memukul Bilal. Ia berkata, “Kesialan apa yang kamu bawa untuk kami, hai budak celaka. Demi tuhan Lata dan `Uzza, akan kujadikan kamu sebagi contoh bangsa budak dan majikan-majikan mereka!” Dengan hati yang teguh dan suci, Bilal menjawab, 

“Ahad... Ahad...”

Tawar-menawar terus berlangsung. Tokoh-tokoh yang lain berpura-pura menaruh kasihan kepada 
Bilal. Mereka berkata, “Umayah, lepaskanlah dia. Demi tuhan Lata, dia tidak akan disiksa lagi. Bilal adalah bagian dari kami. Ibunya juga. Ia tidak akan rela kalau keislamannya itu menjadikan kami bahan ejekan orang-orang Quraisy.”

Bilal memandang wajah-wajah pendusta itu dengan tajam. Dengan senyum indahnya, ia berkata dengan tenang dan berwibawa,  “Ahad... Ahad...”

Waktu pagi tiba. Siang pun menjelang. Bilal dibawa ke padang pasir. Ia hadapi siksaan itu dengan sabar, tabah, teguh tak tergoyahkan.

Abu Bakar ra. Mendatangi mereka yang sedang menyiksa Bilal. Ia berkata, “Apakah kalian akan membunuh sesorang karena dia mengatakan Tuhanku adalah Allah.’”
Ia berkata kepada Umayah, “Berilah harga yang lebih mahal dari harganya, dan biarkan dia merdeka.”

Seperti orang yang hampir tenggelam diselamtkan oleh sampan penolong. Seperti itulah kondisi Umayah saat itu. Ia merasa sangat beruntung mendengar Abu Bakar hendak membeli budak tersebut. 

Padahal saat itu ia hampir putus asa untuk menundukkan budaknya. Apalagi mereka adalah para pedagang. Menurut mereka lebih menguntungkan jika budak itu dijual daripada disiksa hingga mati.
Mereka menerima tawaran Abu Bakar. Sejak saat itu, Bilal bukan lagi budak belian. Ia sama seperti orang-orang merdeka lainnya.

Ketika Abu Bakar menggandeng Bilal, mengajaknya pergi, Umayah berkata kepada Abu Bakar, “Bawalah dia. Demi tuhan Lata dan Uzza, seandainya engkau hanya menghargainya satu tail emas, aku pasti menerimanya.”

Abu Bakar memahami bahwa kata-kata itu hanyalah basi-basi yang keluar karena keputusasaan. Jadi tidak perlu dijawab. Tetapi, karena ini menyangkut kehormatan seorang laki-laki yang sekarang telah menjadi saudara yang tak berbeda dengan dirinya, Abu Bakar berkata kepada Umayah, “Demi Allah, seandainya kalian menghargainya 100 tail emas, aku pasti membayarnya.”

Abu Bakar bersama Bilal menemui Rasulullah, memberitahukan perilah kebebasan Bilal. Saat itu bagaikan hari raya yang penuh kegembiraan. [bersambung/dn]


Sumber :  60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW/Khalid Muhammad Khalid/Al Itishom
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
KANAL : REDAKSI | IKLAN | HUBUNGI KAMI
Copyright © 2011. Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger