Khalifahlife.com - Bilal adalah seorang Habsyi dan berkulit hitam. Takdir telah
membawa nasibnya menjadi budak bani Jumah di kota Mekah, karena ibunya juga
seorang budak mereka.
Kehidupannya tidak berbeda dengan budak biasa. Hari-harinya
berlalu dengan hampa. Ia tidak memiliki hari ini, tidak juga hari besok.
Ia mulai mendengar tentang Muhammad ketika orang-orang Mekah
mulai membicarakannya termasuk para tokoh mereka, terutama Umayah bin Khalaf
yang merupakan tokoh utama bani Jumah, kabilah tempat Bilal mengabdi.
Seringkali ia mendengar Umayah membicarakan Rasulullah, baik
dengan kawan-kawannya maupun sesama warga kabilahnya. Pembicaraan yang penuh
kebencian, kemarahan dan prasangka buruk.
Meskipun pembicaraan Umayah penuh kebencian dan kemarahan,
namun gambaran tentang Muhammad dan agama barunya bisa ditangkap oleh Bilal. Ia
melihat bahwa agama yang dibawa Muhammad adalah ajaran baru yang berbeda dengan
kondisi masyarakat saat itu. Bilal juga menangkap bahwa Umayah dan para
pembesar lainnya mengakui kemuliaan dan kejujuran Muhammad saw.
Benar. Ia mendengar ketakjuban dan kebingunan mereka
menyikapi agama baru yang dibawa Muhammad saw. Di antara mereka ada yang
berkata yang lain, “Muhamad tidak pernah berdusta. Muhammad bukan tukang sihir.
Muhammad tidak gila. Namun kita harus menuduhnya pendusta, tukang sihir dan
orang gila, agar masyarakat tidak berlomba-lomba mengikuti agamanya.”
Ia mendengar mereka membicarakan sifat-sifat Muhammad;
jujur, selalu menepati janji, pribadi yang luhur, berakhlak mulia, berhati dan
cerdas.
Ia juga mendengar mereka berbisik-bisik tentang kebencian
mereka kepada Muhammad, kesetiaan mereka terhadap nenek moyang mereka,
kekhawatiran akan lunturnya kemuliaan Quraisy, di mana saat itu Quraisy menjadi
pusat agama dan peribadatan di tanah Arab. Selain itu, mereka juga merasa iri
kepada bani Hasyim. Mengapa nabi baru ini muncul dari kalangan bani Hasyim,
bukan dari kabilah mereka?
Suatu hari, Bilal bin Rabah mendapat
cahaya ilahi. Hatinya tergetar oleh sentuhan cahay itu. Lalu ia datang kepada
Rasulullah dan masuk Islam.
Berita keislaman Bilal pun menyebar.
Para tokoh bani Jumah pusing tujuh keliling. Kepala mereka yang penuh dengan
kesombongan dan tipu daya itu seakan mau pecah. Apalagi Umayah bin Khalaf.
Keislaman satu budak beliannya merupakan tamparan keras ke wajahnya. Bahkan
seakan wajahnya dilempar kotoran yang membuat malu dan hina.
Orang Habsyi yang menjadi budak
mereka itu masuk Islam dan menjadi pengikut Muhammad?
“huh, tidak mengapa. Tunggulah!
Sebelum matahari terbenam, pasti keislaman budakku ini sudah terbenam lebih
dulu,” kata Umayah dalam hati.
Ternyata, matahari pun terbenam tanpa
diikuti terbenamnya keislaman Bilal. Bahkan suatu saat nanti, matahari terbenam
dan membenamkan berhala-berhala jahiliah dan para pemujanya.
Kiprah Bilal dalam sejarah kehidupan
bukan hanya kemuliaan bagi Islam, tetapi kemuliaan bagi seluruh umat manusia.
Ia telah mampu menghadapi berbagai macam siksa dengan kesabaran dan ketangguhan
tiada tara.
Seakan Allah menjadikannya simbol
teladan, bahwa hitamnya warna kulit dan status sebagi budak belian, sama sekali
tidak menghalangi kebesaran jiwa, ketika jiwa telah mengenal tuhannya dan
mengetahui apa yang harus dilakukannya.
Bilal telah memberikan pelajaran
kepada orang-orang di zamannya dan di setiap zaman,kepada orang-orang yang
seagama dengannya dan yang tidak seagama. Pelajaran bahwa kemerdekaan jiwa dan
kebebasan nurani, tidak dapat ditukar dengan emas sebanyak apa pun atau tidak
akan goyah dengan siksa seberat apa pun.
Tanpa baju dan celana panjang, ia
dibaringkan di atas bara, dengan tujuan agar ia meninggalkan agamanya. Namun,
Bilal menolak.
Rasulullah telah menjadikan budak
Habsyi yang lemah ini teladan bagi umat manusia. Teladan menghormati hati
nurani dan mempertahankan hak-haknya.
Ia dibaringkan di ladang pasir yang
telah berubah menjadi pasir neraka yang sangat panas, lalu ditindih dengan batu
besar yang juga panas. Ia seperti berada di antara dua bara api.
Siksaan kejam dan biadab ini mereka
ulangi setiap hari, hingga beberapa algojonya merasa kasihan kepadanya. Mereka
mau melepaskan Bilal asalkan ia mau sedikit saja memuji tuhan-tuhan mereka,
agar orang-orang Quraisy tidak mencibir
mereka atas ketidakberdayaan mereka menghadapi budak sendiri.
Sebetulnya Bilal bisa berpura-pura
memuji tuhan-tuhan itu dan ia bisa selamat dari siksaan mereka. Meskipun hanya
berpura-pura dan hanya satu kata, ia tidak mau melakukannya.
Benar! Ia tidak mau memuji
tuhan-tuhan itu. Dan sebagai gantinya ia melantunkan slogan abadinya,
“Ahad....
Ahad....”
Mereka berkata, “Katakanlah seperti
yang kami katakan.”
Ia menjawab dengan sedikit diplomatis
yang menyudutkan para penyiksanya, “Bibrku tidak mampu mengucapkannya.”
Konsekuensinya, Bilal harus tetap menahan
teriknya matahari dan panasnya batu padang pasir. Di sore hari, batu itu disingkirkan.
Sebagai gantinya, Bilal diikat di tiang kayu, lalu mereka menyuruh anak-anak
kecil untuk melemparinya dengan batu. Ia terus melantunkan, “Ahad... Ahad...”
Di malam hari, mereka memberikan
tawaran kepada Bilal, “Besok, kamu harus mengatakan yang baik-baik terhadap
tuhan-tuhan kami. Katakanlah, `Tuhanku adalah Lata dan Uzaa.’ Kami akan
melepaskanmu. Kami lelah menyiksamu. Namun, sepertinya kami yang tersiksa.”
Bilal menggelengkan kepala dan
menyebut, “Ahad... Ahad...”
Umayah bin Khalaf marah dan geram,
lalu memukul Bilal. Ia berkata, “Kesialan apa yang kamu bawa untuk kami, hai
budak celaka. Demi tuhan Lata dan `Uzza, akan kujadikan kamu sebagi contoh
bangsa budak dan majikan-majikan mereka!” Dengan hati yang teguh dan suci,
Bilal menjawab,
“Ahad... Ahad...”
Tawar-menawar terus berlangsung.
Tokoh-tokoh yang lain berpura-pura menaruh kasihan kepada
Bilal. Mereka
berkata, “Umayah, lepaskanlah dia. Demi tuhan Lata, dia tidak akan disiksa
lagi. Bilal adalah bagian dari kami. Ibunya juga. Ia tidak akan rela kalau
keislamannya itu menjadikan kami bahan ejekan orang-orang Quraisy.”
Bilal memandang wajah-wajah pendusta
itu dengan tajam. Dengan senyum indahnya, ia berkata dengan tenang dan
berwibawa, “Ahad... Ahad...”
Waktu pagi tiba. Siang pun menjelang.
Bilal dibawa ke padang pasir. Ia hadapi siksaan itu dengan sabar, tabah, teguh
tak tergoyahkan.
Abu Bakar ra. Mendatangi mereka
yang sedang menyiksa Bilal. Ia berkata, “Apakah kalian akan membunuh sesorang
karena dia mengatakan Tuhanku adalah Allah.’”
Ia berkata kepada Umayah, “Berilah
harga yang lebih mahal dari harganya, dan biarkan dia merdeka.”
Seperti orang yang hampir tenggelam
diselamtkan oleh sampan penolong. Seperti itulah kondisi Umayah saat itu. Ia
merasa sangat beruntung mendengar Abu Bakar hendak membeli budak tersebut.
Padahal saat itu ia hampir putus asa untuk menundukkan budaknya. Apalagi mereka
adalah para pedagang. Menurut mereka lebih menguntungkan jika budak itu dijual
daripada disiksa hingga mati.
Mereka menerima tawaran Abu Bakar.
Sejak saat itu, Bilal bukan lagi budak belian. Ia sama seperti orang-orang
merdeka lainnya.
Ketika Abu Bakar menggandeng Bilal,
mengajaknya pergi, Umayah berkata kepada Abu Bakar, “Bawalah dia. Demi tuhan
Lata dan Uzza, seandainya engkau hanya menghargainya satu tail emas, aku pasti
menerimanya.”
Abu Bakar memahami bahwa kata-kata
itu hanyalah basi-basi yang keluar karena keputusasaan. Jadi tidak perlu
dijawab. Tetapi, karena ini menyangkut kehormatan seorang laki-laki yang
sekarang telah menjadi saudara yang tak berbeda dengan dirinya, Abu Bakar
berkata kepada Umayah, “Demi Allah, seandainya kalian menghargainya 100 tail
emas, aku pasti membayarnya.”
Abu Bakar bersama Bilal menemui
Rasulullah, memberitahukan perilah kebebasan Bilal. Saat itu bagaikan hari raya
yang penuh kegembiraan. [bersambung/dn]
Sumber : 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW/Khalid
Muhammad Khalid/Al Itishom

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !