Sebetulnya ibu agak gelisah karena memikirkan Aisyah
yang merupakan anak perempuan satu-satunya. Ibu juga merasakan tidak ada yang
membantunya di rumah bila ada hal-hal penting yang harus dikerjakan, apalagi
arisan keluarga, pengajian bulanan yang tentu saja ibu sangat membutuhkan
bantuan anak perempuannya. Selain itu ibu juga ingin melatih Aisyah agar dapat
mengerjakan apa yang selama ini ibu lakukan bila ada acara di rumah.
Namun keinginan dan tekad kuat Aisyah sudah
tidak terbendung. Aisyah ini memang memiliki jiwa petualang, namun dari hasil
analisa ibu mendidik Aisyah selama belasan tahun, ibu melihat Aisyah anak yang
memiliki perencanaan dan juga memiliki tanggung jawab. Dan satu lagi ciri khas
Aisyah yang membuat ibu dan ayah akhirnya merelakan Aisyah sekolah di negeri
orang adalah Aisyah memiiki furqon,
dia mampu membedakan yang mana yang baik dan yang mana yang buruk serta dia
memiliki kepribadian yang cukup kokoh sehingga tidak mudah terpengaruh orang
lain.
Analisa setiap orangtua adalah psikolog terbaik
bagi anaknya, karena mereka hidup bersama bertahun-tahun dan mengenali sekali
anak-anaknya dari sejak masih kecil sampai tumbuh dewasa. Dengan diadakannya
komunikasi intensive terus-menerus maka orangtua sebetulnya tidak memerlukan
lagi psikolog untuk menilai anaknya bila sang anak ada masalah karena orangtua
adalah orang yang paling tahu bagaimana anaknya. Dalam kesehariannya, orangtua
lebih megetahui jalur pemikiran, kebiasaan dan juga cara sang anak meyelesaikan
masalah.
Diam-diam, bila kita memperhatikan sikap dan
sifat anak serta kebiasaan yang ada pada dirinya, maka kita telah menganalis
and mempelajari sifat dan sikap si anak yang akhirnya kita pun mampu memutuskan
hendak kemana sang anak dan apakah kita menyetujui apa yang diinginkannya untuk
masa depannya.
Satu hal yang penulis ingat dari ungkapan Ahmad
dani (artis terkenal di Jakarta yang baru-baru ini tertimpa musibah anaknya
kecelakaan) dia menyatakan, “saya tidak perlu psikolog, saya saja yang akan jadi
psikolog bagi anak saya.” Dari kisik-kisik yang saya baca di media, banyak orang
menilai Ahmad Dani sombong dengan perkataannya, namun saya mengerti bahwa terkadang
orangtua memang lebih tahu tentang anaknya dan lebih mampu menjadi pemutus masalah
bagi anaknya daripada diserahkan pada ornag lain. Dan memang sudah seharusnya
demikian, mengingat pribahasa pohon kelapa tidak jatuh jauh dari pohonnya,maka
kita akan melihat juga bahwa yang mengetahui anak kita sebetulnya adalah kita
sendiri yang akhirnya menjadi pemutus sebuah masalah bagi anak kita. Tak heran
akhirnya bunda Aisyah mengatakan, “ya nak ibu mengizinkan kamu sekolah jauh
dari ibu, karena ibu mengenal kamu, dan ibu tahu kamu.”
Aisyah sekarang sudah berusia 16 tahun dan dengan
keinginannya sendiri dia memutuskan untuk sekolah di negeri Jiran (negara
sahabat, sebutlah Malaysia). Jauh dari orangtuanya, dia ingin membuktikan bahwa
dia mampu membahagiakan kedua orangtuanya yang menjadi ahli pendidikan di sebuah
universits terkemuka di negeri ini.
Sebetulnya ibu agak gelisah karena memikirkan Aisyah
yang merupakan anak perempuan satu-satunya. Ibu juga merasakan tidak ada yang
membantunya di rumah bila ada hal-hal penting yang harus dikerjakan, apalagi
arisan keluarga, pengajian bulanan yang tentu saja ibu sangat membutuhkan
bantuan anak perempuannya. Selain itu ibu juga ingin melatih Aisyah agar dapat
mengerjakan apa yang selama ini ibu lakukan bila ada acara di rumah.
Namun keinginan dan tekad kuat Aisyah sudah
tidak terbendung. Aisyah ini memang memiliki jiwa petualang, namun dari hasil
analisa ibu mendidik Aisyah selama belasan tahun, ibu melihat Aisyah anak yang
memiliki perencanaan dan juga memiliki tanggung jawab. Dan satu lagi ciri khas
Aisyah yang membuat ibu dan ayah akhirnya merelakan Aisyah sekolah di negeri
orang adalah Aisyah memiiki furqon,
dia mampu membedakan yang mana yang baik dan yang mana yang buruk serta dia
memiliki kepribadian yang cukup kokoh sehingga tidak mudah terpengaruh orang
lain.
Analisa setiap orangtua adalah psikolog terbaik
bagi anaknya, karena mereka hidup bersama bertahun-tahun dan mengenali sekali
anak-anaknya dari sejak masih kecil sampai tumbuh dewasa. Dengan diadakannya
komunikasi intensive terus-menerus maka orangtua sebetulnya tidak memerlukan
lagi psikolog untuk menilai anaknya bila sang anak ada masalah karena orangtua
adalah orang yang paling tahu bagaimana anaknya. Dalam kesehariannya, orangtua
lebih megetahui jalur pemikiran, kebiasaan dan juga cara sang anak meyelesaikan
masalah.
Diam-diam, bila kita memperhatikan sikap dan
sifat anak serta kebiasaan yang ada pada dirinya, maka kita telah menganalis
and mempelajari sifat dan sikap si anak yang akhirnya kita pun mampu memutuskan
hendak kemana sang anak dan apakah kita menyetujui apa yang diinginkannya untuk
masa depannya.
Satu hal yang penulis ingat dari ungkapan Ahmad
dani (artis terkenal di Jakarta yang baru-baru ini tertimpa musibah anaknya
kecelakaan) dia menyatakan, “saya tidak perlu psikolog, saya saja yang akan jadi
psikolog bagi anak saya.” Dari kisik-kisik yang saya baca di media, banyak orang
menilai Ahmad Dani sombong dengan perkataannya, namun saya mengerti bahwa terkadang
orangtua memang lebih tahu tentang anaknya dan lebih mampu menjadi pemutus masalah
bagi anaknya daripada diserahkan pada ornag lain. Dan memang sudah seharusnya
demikian, mengingat pribahasa pohon kelapa tidak jatuh jauh dari pohonnya,maka
kita akan melihat juga bahwa yang mengetahui anak kita sebetulnya adalah kita
sendiri yang akhirnya menjadi pemutus sebuah masalah bagi anak kita. Tak heran
akhirnya bunda Aisyah mengatakan, “ya nak ibu mengizinkan kamu sekolah jauh
dari ibu, karena ibu mengenal kamu, dan ibu tahu kamu.”
Penulis : Fifi P. Jubilea (Founder & Conceptor Jakarta Islamic School)
Penulis : Fifi P. Jubilea (Founder & Conceptor Jakarta Islamic School)

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !