MUSH’AB BIN UMAIR [3] - Gugur Sebagai Syuhada - Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia
Headlines News :
Home » , , , , » MUSH’AB BIN UMAIR [3] - Gugur Sebagai Syuhada

MUSH’AB BIN UMAIR [3] - Gugur Sebagai Syuhada

Monday, May 5, 2014 | 10:50 PM

Khalifahlife.com - Di pihak lain, orang-orang kafir Quraisy semakin geram. Mereka menyiapkan kekuatan untuk melampiaskan dendam mereka terhadap kaum muslimin. Maka, terjadilah Perang Badar dan kaum kafir Quraisy pun mendapatkan pelajaran pahit yang membuat mereka semakin kalap dan tidak waras. Mereka berusaha menebus kekalahan di Perang Badat itu. Kemudian tibalah Perang Uhud. Rasulullah berdiri ditengah barisan kaum muslimin, menatap setiap wajah: siapa yang sebaiknya membawa bendera pasukan? Ketika itu, terpililah Mush’ab Al-Khair. Ia maju dengan membawa bendera pasukan dengan mantap.

Peperangan berkobar dan berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah kaum Muslimin melanggar perintah Rasulullah. Mereka meninggalkan posisi mereka diatas bukit setelah melihat pasukan musuh lari terbirit-birit. Perbuatan mereka itu secepatnya mengubah suasana. Kemenangan berganti kekalahan.

Tanpa diduga pasukan berkuda musuh menyerang pasukan kaum muslimin dari atas bukit. Pasukan Islam pun kalang kabut.

Melihat barisan kaum muslimin porak-poranda, musuh pun mengarahkan serangan ke Rasulullah saw. Mush’ab bin Umair menyadari suasana gawat ini. Maka diacungkannya bendera pasukan setinggi-tingginya. Dengan suara lantang ia bertakbir, “Allahu Akbar.” Ia maju, menerjang, berkelebat ke sana kemari mengibaskan pedangnya. Ia ingin menyerang sendiri, namun terlihat seperti satu pasukan tentara.

Sungguh, walaupun hanya seorang diri, Mush’ab bertempur laksana sepasukan tentara. Satu tangannya memegang bendera pasukan yang harus berkibar, dan tangan satunya lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam. Jumlah musuh yang dihadapi Mush’ab semakin banyak. Mereka semua ingin menginjak-injak mayatnya untuk menyampai Rasulullah.

Marilah kita dengarkan apa yang diceritakan oleh saksi mata. Bagaimana saat-saat terakhir sebelum Mush’ab bin Umair gugur sebagai syahid.

Ibnu Sa’d menyebutnya bahwa Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil berkata, “Ayahku pernah bercerita begini, `Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera pasukan di perang Uhud. Tatkala barisan kaum muslimin porak-poranda, Mush’ab tetap gigih berperang. Seorang tentara berkuda musuh, Ibnu Qamiah, menyerangnya dan berhasil menebas tangan kanannya hingga putus. Musha’ab mengucapkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah dilalui oleh para Rasul.”

Lalu, bendera itu ia ambil dengan tangan kirinya dan ia kibarkan. Musuh pun menebas tangan kirinya hingga putus. Mush’ab membungkuk kea rah bendera pasukan, lalu dengan kedua pangkal tangannya ia mendekap dan mengibarkan bendera itu, sambil mengucapkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah dilalui oleh para Rasul.”

Orang berkuda itu menyerangnya lagi dengan tombak, menghujamkannya ke dada Mush’ab. Mush’ab pun gugur, dan bendera pun jatuh.”

Gugurlah Mush’ab dan jatuhlah bendera. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada. Ia gugur setelah berjuang dengan gigih. Mengobarkan semua yang dimilikinya demi keimanan dan keyakinannya.

Ia merasa, jika ia gugur, akan sangat terbuka peluang untuk membunuh Rasulullah. Demi cintanya kepada Rasulullah yang tiada terbatas, dan kekhawatiran akan nasib Rasulullah, ia menghibur dirinya setiap kali pedang menebas tangannya, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah dilalui oleh para Rasul.”

Kata-kata ini terus ia ulangi. Kata-kata yang kemudian hari menjadi bagian dari ayat Al-Qur’an. Al-Qur’an yang akan senantiasa dibaca oleh kaum muslimin.

Setelah pertempuran usai, jasad pahlawan gagah pemberani ini ditemukan terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang suci. Solah-olah tubuh yang telah kaku itu takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa musibah. Karena itu, ia menyembunyikan wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang ditakutinya itu. Atau, ia merasa malu karena telah gugur sebelum bisa memastikan keselamatan Rasulullah, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam membela dan melindungi Rasulullah.

Wahai Mush’ab cukuplah bagimu sang Penyayang. Namamu akan selalu dikenang.

Rasulullah bersama sahabat mengitari setiap sudut medan pertempuran untuk menyampaikan salam perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya Mush’ab, bercucurlah air mata beliau dengan deras.

Khabbab bin Arat menceritakan, “Bersama Rasulullah kami hijrah di jalan Allah, untuk menghadap ridha-Nya. Pasti kita mendapat ganjaran di sisi Allah. Diantara kami ada yang lebih dulu meninggal dunia, dan belum menikmati pahalanya di dunia ini sedikit pun. Mush’ab bin Umair adalah satu dari mereka. Ia gugur di Perang Uhud. Tidak ada yang bisa dipakai untuk mengkafaninya kecuali sehelai kain. Jika ditutupkan mulai dari kepalanya, kedua kakinya kelihatan. Jika ditutupkan mulai dari kakinya, kepalanya kelihatan. Maka, Rasulullah bersabda, ‘Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan tutupilah kakinya dengan rumput idzkhir.’”

Betapa pun luka pedih dan duka mendalam menimpa Rasulullah karena Hamzah (paman beliau) gugur dan tubuhnya dirusak oleh orang-orang musyrik, hingga bercucuran air mata beliau. Betapa pun penuhnya medan perang dengan jenazah kaum muslimin, dimana mereka semua adalah panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya. Betapa pun semua itu menggoreskan luka mendalam di hati Rasulullah, tapi beliau menyempatkan berhenti sejenak dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas kepergiannya dan mengeluarkan isi hatinya. Rasulullah berdiri memandangi jasa Mush’ab bin Umair dengan penuh kasih sayang dan cahaya kesetian. Beliau membaca firman Allah,

“Di antara orang-orang mukmin terdapat orang-orang yang telah menepati janji mereka kepada Allah.” (Al-Azhab:23)

Ada kesedihan dimata beliau ketika melihat kain yang dipergunakan mengkafani Mush’ab. Beliau bersabda, “Ketika di Mekah dulu, tak seorang pun yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripada kamu . Tetapi skearang ini rambutmu kusut, hanya dibalut sehelai burdah.”

Dengan kesayuan, Rasulullah melayangkan pandangan ke semua dudut medan perang dan ke arah para syuhada, “Sungguh, pada hari kiamat kelak, dihadapan Allah, Rasulullah akan menjadi saksi bahwa kalian adalah para syuhada.”

Setelah itu, beliau memandang para sahabat yang masih hidup, dan bersabda, “Hai kalian semua, kunjungilah mereka, dan ucapkan salam. Demi Zat uang jiwaku berada ditangan-Nya, tak seorang muslim pun, sampai hari Kiamat kelak, yang mengucap salam kepada mereka, kecuali mereka akan membalas salam itu.”

Ucapan salam untukmu, wahai Mush’ab. [Tamat/dn]


Sumber : 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW/Khalid Muhammad Khalid/Al-Itishom


 
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
KANAL : REDAKSI | IKLAN | HUBUNGI KAMI
Copyright © 2011. Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger