MUSH’AB BIN UMAIR [2] - Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia
Headlines News :
Home » , , , » MUSH’AB BIN UMAIR [2]

MUSH’AB BIN UMAIR [2]

Tuesday, April 29, 2014 | 9:15 AM

Mengemban Amanah

Khalifahlife.com -

Sekarang, Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan tugas sangat penting: menjadi utusan Rasulullah ke Madinah. Tugasnya adalah mengajarkan agama Islam kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan berbai’at kepada Raulullah di bukit Aqabah. Juga untuk mengajak orang lain manganut agam Islam, dan mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijrah Rasulullah ke kota itu.

Sebenarnya, di kalangan para sahabat saat itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush’ab. Tetapi, Rasulullah memilih Mush’ab Al-Khair (Mush’ab yang baik). Rasulullah sadar sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas sangat penting kepada pemuda itu. Meneyerahkan kepadanya masa depan Islam di kota Madinah. Kota yang tak lama lagi akan menjadi kota hijrah, pusat dakwah, tempat berhimpunnya penyebar dan pembela islam.

Mush’ab memikul amanah itu dengan bekal kecerdasan dan akhlak mulia yang dikaruniakan Allah kepadanya. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan keikhlasan, dia berhasil memikat hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun—duyun masuk Islam.

Saat Mush’ab memasuki Madinah, jumlah orang Islam hanya 12 orang. Yaitu, orang-orang yang telah berbai’at di bukit Aqabah. Hanya dalam beberapa bulan, penduduk Madinah sudah berbondong-bondong masuk Islam.

Pada musim haji berikutnya, kamu muslim Madinah mengirim rombongan yang mewakili mereka untuk menemui Nabi. Mereka berjumlah 70 orang yang dipimpin oleh guru mereka, oleh duta yang dikirim Nabi kepada mereka, yaitu Mush’ab bin Umair.

Dengan tindakannya yang tepat dan bijaksana , Mush’ab bin Umair telah membuktikan bahwa Rasulullah saw. Tidak salah memilih orang. Mush’ab benar-benar memahami tugasnya. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah mengajak manusia mencapai hidayah Allah, dan membimbing mereka ke jalan yang lurus. Tugasnya seperti tugas Rasulullah: hanya menyampaikan.

Di Madinah, Mush’ab tinggal sebagai tamu dirumah As’ad bin Zurarah. Dengan didampingi As’ad, ia mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan untuk membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Menyampaikan ”bahwa hanya Allah Tuhan yang berhak disembah” dengan sangat hati-hati.

Ia pernah mengahadapi peristiwa yang mengancam keselamatan diri dan rekannya itu. Tapi, dengan kecerdasan dan kebesaran jiwanya, ia berhasil mengatasinya dengan sangat baik.

Suatu hari, ketika sedang berdakwah di tengah orang-orang suku Abdul Asyhal, tiba-tiba Usaid bin Hudhair, sang kepala suku muncul dengan menghunus tombak. Usaid muncul dengan kemarahan yang membuncah. Ada orang yang akan menyelewengkan penduduknya dari keyakinan mereka. Mengajak mereka meninggalkan tuhan-tuhan mereka dan beralih ke satu Tuhan. Tuhan yang sama sekali belum mereka kenal. Mengajak meninggalkan tuhan-tuhan yang tempatnya jelas, bisa didatangi, dan bentuknya kelihatan. Sedangakan Tuhan yang baru itu tidak bisa dilihat dan tidak bisa dijumpai.

Tak ayal lagi, orang-orang Islam yang ada di tempat itu ketakutan. Akan tetapi, Mush’ab Al-Khair tetap tenang dengan air muka yang tidak berubah.

Seakan hendak menerkam, Usaid mendekati Mush’ab dan As’ad bin Zurarah. Dengan kasar ia berkata, “Apa maksud kalian datang ke kabilah kami ini? Apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tidak nyawa kalian melayang.”

Seperti tenangnya danau mantapnya samudra, laksana damainya cahaya fajar, terpancarlah ketulusan hati Mush’ab Al-Khair, dan bergeraklah bibirnya mengeluarkan kata-kata menyejukkan, “Mengapa anda tidak duduk dan mendengarkan terlebih dahulu? Jika nanti anda teriak, anda dapat menerimanya. Dan jika nanti anda tidak suka, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai.”

Allahu Akbar!!! Sungguh awal yang baik, yang tentu berakhir dengan baik pula.

Usaid adalah orang yang bijak. Dan saat ini, ia diajak oleh Mush’ab untuk berbicara dan meminta pertimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Ia hanya diminta mendengar. Jika ia suka dengan apa yang diakatan Mush’ab, maka ia akan membiarkan Mush’ab berdakwah. Jika tidak suka Ia harus meninggalkan kabilah dan masyarakatnya untuk mencari tempat dan masyrakat lain. Tidak ada yang dirugikan bukan?!

“Baiklah.” Kata Usaid. Lalu ia duduk dan meletakkan tombaknya.

Mush’ab mulai membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan menguraikan dakwah yang dibawa oleh Muhammad saw. Bacaan dan uraian Mush’ab mengalir ke telinga Usaid, memasuki dada dan menerangi hati yang ada didalamnya. Belum usai Mush’ab membaca dan memberikan uraian, tiba-tiba bibir Usaid bergetar dan berkata, “Alangkah indah kata-kata ini. Tidak ada satu kesalahan pun. Apa yang harus dilakukan orang yang mau masuk agama ini?”

Serentak gema tahlil keluar dari bibir kaum muslimin Lailahaillahllah, Muhammadar-rasulullah.”  Tahlil terus bergema seakan ingin mengguncang dunia.

Mush’ab berkata, “hendaklah ia membersihkan pakaian dan badannya, lalu mengucapkan Asyhadu an lailaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah.”

Usaid meninggalkan mereka beberapa saat, kemudian kembali dan air masih menetes dari rambutnya. Ia berdiri dan mengucapkan “Asyhadu an lailaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah.”

Berita ini tersebar dengan sangat cepat, secepat cahaya.

Sa’ad bin Mu’adz juga mendatangi Mush’ab. Setelah mendengar urain Mush’ab, ia pun masuk Islam.

Setelah itu, Sa’ad bin Ubadah juga masuk Islam.

Masuk Islamnya tiga tokoh ini berarti pintu lebar bagi masuk Islamnya para penduduk Madinah. Mereka berkata, “Jika Usaid bin Hudhair, Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad Ubadah sudah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu?! Mari kita menemui Mush’ab dan menyatakan keislaman kita.” Kata orang, “Kebenaran itu terpancar dari setiap kata-katanya.”

Demikianlah duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilangyang tiada tara. Suatau keberhasilan yang layak diperolehnya..

Beberapa tahun kemudian, Rasulullah bersama para sahabatnya hijrah ke Madinah.
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
KANAL : REDAKSI | IKLAN | HUBUNGI KAMI
Copyright © 2011. Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger