Dulu Aku Pecandu Narkoba, Dulu Aku Preman - Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia
Headlines News :
Home » , , , , , , , » Dulu Aku Pecandu Narkoba, Dulu Aku Preman

Dulu Aku Pecandu Narkoba, Dulu Aku Preman

Thursday, April 24, 2014 | 3:28 PM

[caption id="attachment_532" align="alignleft" width="139"]Fifi P. Jubilea Founder & Conceptor JISc & JIBBS Fifi P. Jubilea
Founder & Conceptor JISc & JIBBS[/caption]

Khalifahlife.com - Sang ustad bercerita bahwa dulunya beliau adalah mantan preman lalu bertaubat ketika mendengar adzan. Dia pun segera mengambil air wudhu dan sholat dengan gerakan kaku karena sudah lama tidak sholat. Sang mantan preman itu pun akhirnya belajar agama dengan sungguh-sungguh dan sekarang gemar berdakwah kemana-mana yang tentu saja setelah semua kegiatan premanismenya ditinggalkan jauh-jauh.

Ada lagi seorang ustad yang dengan senyum manis tanpa niat apa-apa mangatakan, bahwa dulunya dia pemakai narkoba dan menunjukkan bekas-bekas luka ditangannya, namun sekarang semua sudah berakhir. Mantan pemakai narkoba tersebut menjadi ustad yang menyenangkan.

Mengapa orang-orang hebat menceritakan masa lalunya yang kurang baik, tentu saja dengan maksud untuk kehidupannya yang buruk agar jangan ditiru dan menceritakan bahwa yang buruk-buruk itu tidak enak, tidak baik dengan kondisi sekarang, maka keimanaan menjadi sesuatu yang  indah dalam  hidupnya.

Seringkali orangtua pun mengatakan demikian juga, dulu ayah rambutnya gondrong, dulu ayah juga merokok, bahkan foto lama ayah yang merokok dengan teman-temannya waktu remaja dulu ada di lemari buku di rumah nenek.

Faizal yang sudah remaja, mendengus, "hfff, enak saja ayah mengatakan, sudahlah Faizal, jangan nakal, jangan coba-coba, ayah ini sudah pernah ngalamin yang buruk-buruk, ayah tahu semuanya, maka ayah sudah tahu baik buruknya, jadi kamu jangan coba-coba berbuat yang  tidak-tidak,” hentak ayahnya marah ketika mendapati  baju Faizal ada sebungkus rokok.

"Ayah juga tahu semua jenis dan merek rokok, namun semuanya sudah ayah tinggalkan, karena semua itu tidak  baik untuk ayah, sekarang malah kamu coba-coba..." Faizal diam saja. Bagi anak remaja bila dimarahi, diam itu efektif, mengurangi kamarahan dan mempercepat masalah.

Faizal pun berikir "ayah mah enak sudah mencoba macam-macam rokok dengan berbagai merek, ustad-ustad yang tobat juga enak udah pernah nyobain pacaran, narkoba, jadi preman, lalu tobat ketika mereka dewasa, nahh.. aku kan belum pernah nyoba apa-apa lalu apa enaknya hidupku?"

Pemikiran itu pasti ada pada anak-anak, pemikiran coba nakal dan coba melakukan kenakalan remaja, apalagi dengan dibekali kisah-kisah taubatnya orang dewasa seperti diatas, maka sang anak akan berpikir, "tidak apa-apa aku nakal sekarang, kalau sudah dewasa aku akan taubat seperti ayah dan para ustad-ustad yang tobat itu.

Hmm, perlukah kita menceritakan masa lalu kita yang buruk ketika kita menegur anak kita...?!
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
KANAL : REDAKSI | IKLAN | HUBUNGI KAMI
Copyright © 2011. Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger