Kisah Maman Supratman , Guru Honorer 75 Tahun dan Mendikbud - Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia
Headlines News :
Home » , , , » Kisah Maman Supratman , Guru Honorer 75 Tahun dan Mendikbud

Kisah Maman Supratman , Guru Honorer 75 Tahun dan Mendikbud

Friday, December 5, 2014 | 9:55 AM


KhalifahLife.com - Nama Maman Supratman beberapa hari belakangan ini mencuat di media sosial. Ia adalah guru honorer aktif selama 40 tahun asal Bekasi yang berusia 75 tahun. Maman mendedikasikan dirinya menjadi guru honorer sejak tahun 1974. Di sekolahnya, dia mengajar mata pelajaran kesenian khususnya angklung. Nama tersebut muncul dalam surat yang ditujukan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional yang jatuh setiap tanggal 25 November.

Dalam surat itu disebutkan, sebagai guru honorer, Maman mengabdi dengan penuh kesetiaan dan loyal mengajar di sekolah negeri tanpa mengeluh. Bahkan Maman dianggap mampu mengilhami rekan guru lainnya yang lebih muda dari usianya. Pria ini juga masih berprestasi hingga saat ini, di antaranya melestarikan angklung dan kesenian tradisional lainnya. Penulis surat meminta kepada Mendikbud agar
Maman mendapatkan penghargaan sebagai guru mulya.

Sebagai respon atas dedikasi Maman , Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan akhirnya menemui  Maman Supratman, untuk memberi semangat dan apresiasi yang tinggi kepadanya.

“Saya, atas nama pemerintah ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi. Insya Allah guru seperti Pak Maman ini, kami sebutnya guru mulia, yang bisa jadi contoh buat semua,” kata Menteri Anies saat mendatangi Maman di SMPN 17 Bekasi, Jawa Barat, Selasa (2/12),  didampingi oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kemdikbud Hamid Muhammad.

Mendikbud mengatakan pengabdian Maman yang tulus ini dapat menjadi teladan serta apa yang dikerjakan Maman tidak ternilai.

“Dihargai berapa pun tidak ternilai karena kemuliaan itu tidak bisa dirupiahkan,” katanya.

Sebelumnya, Maman menjadi perbincangan di media sosial facebook setelah pemilik akun Sukamto MPd mengunggah cerita tentang Maman di akun facebooknya.

Dia mengunggah profil Maman disertai foto saat mengenakan seragam PGRI pada 25 November lalu, yang bertepatan dengan peringatan Hari Guru.

Sukamto merupakan guru bahasa Indonesia di SMPN 17 Bekasi. Sampai Selasa (2/12/2014) siang statusnya mendapatkan 22.684 likes dan dibagikan sebanyak 7.431 kali.

Menanggapi ini, Kepala Sekolah SMPN 17 Bekasi Untung Hartono mengaku termotivasi oleh semangat mendidik Maman.  Maman selalu aktif dalam setiap kegiatan di sekolah.

“Ke mana pun dia selalu ikut dan mendampingi. Dia tidak mau ketinggalan,” kata Kepsek.

Maman mengatakan, dia menjadi guru awalnya karena tidak sengaja. Saat itu dia bekerja di pabrik kertas dan kemudian berhenti bekerja pada tahun 1970. Setelah itu dia berjualan angklung buatannya sendiri.

“Tahun 1976 ada sekolah yang pesan alat musik angklung. Saya akhirnya ditawari menjadi guru kesenian,” cerita Maman.

Maman pertama kali mengajar di SMP 1 Pondok Gede, yang sekarang bernama SMPN 6 Bekasi. Saat ada pengangkatan pegawai dirinya juga mengajukan pemberkasan namun terkendala usia.

“Saya sudah berumur 40, sedangkan batas usia saat itu 37 tahun,” katanya.

Beberapa tahun kemudian ada pemutihan pengangkatan pengawai. Batas usianya dinaikkan menjadi 39 tahun.  Namun lagi-lagi Maman tidak bisa diangkat karena usianya saat itu sudah 42 tahun.

Tetapi, meski berstatus honorer tidak menjadi halangan baginya untuk menularkan ilmu ke anak didiknya.

“Saya tidak pikir, pokoknya kerja. Saya sudah tua begini cuma ingin menurunkan ilmu,” katanya.

Jawaban Mendikbud Terkait  Surat Terbuka Tentang Maman Supratman 

Sebelum menemui Maman Supratman, Mendikbud menjawab surat terbuka yang ditujukan kepadanya. Mendikbud mengatakan, kini saatnya mengubah cara pandang masyarakat terhadap guru.

“Kita harus melihat guru sebagai profesi yang mulia.Terlepas dari berbagai macam persoalan yang meliputi guru, kita harus menjadikan mereka sebagai orang-orang penting. VIP-kan guru-guru kita!” tegas Mendikbud dalam acara Silaturahim dengan Kepala Dinas Pendidikan Seluruh Indonesia di Plaza Insan Berprestasi, Kemendikbud, Jakarta, Senin (1/12).

Menurut Mendikbud, tugas pemerintah adalah meningkatkan kesejahteraan guru. Sementara tanggung jawab masyarakat adalah menurunkan pengeluaran guru. Jika kedua hal ini sama-sama dilakukan, maka guru akan semakin sejahtera.

“Ajak seluruh masyarakat menurunkan biaya. Beri diskon kepada guru,” tuturnya.

Mendikbud memberikan contoh partisipasi masyarakat yang menurunkan biaya pengeluaran guru. Contoh itu datang dari sebuah bengkel kecil di Yogyakarta yang sempat ia kunjungi beberapa hari yang lalu.

“Bengkel ini memberikan diskon 50 persen untuk jasa dan 15 persen untuk suku cadang khusus untuk guru,” katanya.

Dalam bahan paparannya di hadapan perwakilan pemerintah
daerah yang mengurusi pendidikan dan kebudayaan, Mendikbud mengingatkan agar semua pihak melepaskan guru dari semua kepentingan politik praktis, baik di pusat maupun di daerah.

Mantan Rektor Universitas Paramadina ini kembali menegaskan agar tidak memandang masalah pendidikan sebagai tugas pemerintah semata. Pendidikan harus menjadi tanggung jawab semua orang dan jika ini dilakukan, maka efeknya akan sangat luar biasa.

“Peraturan memang mudah dibuat, namun akan lebih dahsyat jika itu adalah datang dari panggilan hati semua orang yang sudah merasakan manfaat pendidikan di Indonesia,” kata Mendikbud. (kemdikbud)

Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
KANAL : REDAKSI | IKLAN | HUBUNGI KAMI
Copyright © 2011. Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger