Dialah laki-laki yang dipilh khalifah Umar untuk memipin pertempuran Qadishiyah yang dahsyat itu.
Khalifah mengetahui semua keistimewaan yang dimiliki Sa’d. Karena itu, ia dipilih untuk mengemban tugas yang berta ini.
Sa’d adalah orang yang doanya dikabulkan. Jika ia berdoa agar kaum muslimin mendapat kemenangan, pasti Allah akan mengabulkannya.
Sa’d selalu makan makanan yang halal, bersih kata-katanya, dan suci hatinya.
Sa’d selalu mengambil bagian dalam setiap peperangan yang diikuuti oleh Rasulullah, termasuk dalam Perang Badar, dan Perang Uhud.
Dan satu lagi yang tak dapat dilupakan Umar, satu keistimewaan yang amat penting yang harus dimiliki oleh siapa saja yang akan menghadapi tugas berat, yaitu kekuatan iman.
Umar tidak lupa akan kisah Sa’d dengan ibunya sewaktu ia masuk Islam dan menjadi pengikut Rasulullah. Semua cara telah ditempuh sang ibu untuk mengembalikan Sa’d ke pelukan agama nenek moyang mereka.
Namun, semuanya gagal. Maka, sang ibu menggunakan cara lainnya.
Wanita itu menyatakan akan mogok makan dan minum, sampai Sa’d bersedia kembali ke agama nenek moyangnya. Mogok makan ia jalani, hingga tubuhnya lemah dan hampir mati.
Tetapi Sa’d tidak terpengaruh. Ia tidak akan menggadaikan keislamannya, meskipun nyawa ibunya sebagai taruhan.
Ketika kondisi sang ibu semakin parah, beberapa orang keluarganya membawa Sa’d kepadanya untuk menyaksikannya kali yang terakhir, dengan harapan hatinya akan menjadi lunak jika melihat ibunya sedang sekarat.
Sesampainya di sana, Sa’d menyaksikan suatu pemandangan yang dapat meluluhkan hatinya. Bahkan batu batu keras pun bisa luluh.
Tapi, keimanannya terhadap Allah dan Rasulullah lebih kuat dari baja dan batu karang mana pun.
Didekatkan wajahnya ke wajah ibunya. Ia berkata dengan suara keras agar terdengar oleh ibunya,
“Demi Allah, Ibu harus tahu, seandainya Ibu mempunyai
seratus nyawa, lalu keluar satu per satu, aku tidak akan meninggalkan agama
yang sekarang kupeluk. Sekarang terserah Ibu, mau makan atau tidak.”
Akhirnya sang Ibu mengalah.
Dan turunlah firman Allah yang memuji sikap tegas Sa’d ra.
“Dan jika keduanya memaksamu untuk
mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu,
maka janganlah kamu mengikuti keduanya.” (Luqman: 15)
Nah, bukankah dia singa yang menyembunyikan kukunya?
Kalau begitu, pantaslah Khalifah Umar menyerahkan panji Qadisiyah di tangan kanannya, dan mengirimnya untuk mengahalu pasukan Persi yang jumlahnya lebih dari 100 ribu prajurit terlatih dengan senjata dan peralatan perang yang paling ditakuti dunia saat itu. Dan, pasukan itu dipimpin oleh panglima perang paling lihai.
Betul. Tentara musuh yang menakutkan inilah yang akan dijumpai Sa’d dan pasukannya yang hanya berjumlah 30 ribu, dan hanya bersenjatakan tombak, panah dan pedang. Akan tetapi pasukan ini sama sekali tidak gentar karena dalam dada mereka menyala semangat agama baru, semangat keimanan, dan kerinduan untuk syahid.
Kedua pasukan sudah berhadapan. Ya..., mereka sudah berhadapan, namun belum saling bertempur.
Sa’d masih menunggu arahan dari Khalifah Umar.
Surat pertama Khalifah diterimanya. Surat itu berisi arahan agar pasukan segera ke Qadisiyah yang merupakan gerbang untuk memasuki Persi.
“Wahai Sa’d bin Uhaib, janganlah mudah terpedaya oleh sanjungan. Jika ada yang menyanjungmu sebagi paman dan sahabat Rasulullah, maka ketahuilah bahwa semua itu tidak berlaku di sisi Allah. Hanya ketaatan sesoranglah yang bermanfaat di sisi Allah. Yang berpangkat dan rakyat jelata sama saja di mata Allah. Allah adalah Tuhan mereka, dan mereka adalah hamba-Nya. Mereka berbeda dalam kesehatan. Dan mereka akan mendapatkan nikmat di sisi Allah dengan ketaatan mereka. Maka perhatikanlah segala sesuatu yang pernah engkau lihat pada Rasulullah saw. Semenjak ia diutus sampai meninggalkan kita. Pegang teguhlah, karena itulah yang harus diikuti.
Kabarkan kepadaku mengenai kondisi kalian: bagaimana posisi kalian dan di mana posisi pasukan musuh? Kabarkan semuanya dengan rinci, seolah-olah aku melihat kalian secara langsung.”
Sa’d pun menulis surat kepada Khalifah Umar, mengabarkan segala sesuatu, bahkan sepertinya ia menjelaskan posisi setiap prajurit secara rinci.
Sa’d telah sampai di Qadisiyah. Sementara itu, seluruh tentara dan rakyat Persi berhimpun. Sesuatu yang belum pernah mereka lakukan selama ini. Kendali pimpinan dipegang oleh Rustum. Seorang panglima pilih tanding dan termasuk panglima terlihai saat itu.
Sebagai balasan surat dari Sa’d yang baru dikirimnyam Khalifah Umar mengirimkan balasannya,
“Jangan sekali-kali gentar dengan persiapan mereka, dan
cerita tentang mereka. Mohonlah pertolongan kepada Allah dan pasrahkan kepada-Nya.
Pilihlah orang-orang yang cerdas dan tabah, lalu utuslah untuk menyeru mereka
ke jalan Allah. Dan jangan lupa mengirim kabar kepadaku setiap hari.”
Khalifah Umar megirimkan jawaban yang berisi arahan, dan agar Sa’d tidak gentar.
Sa’d bin Abi Waqqash adalah tentara berkuda yang lihai dan gagah beranim paman Rasululah, generasi pertama yang masuk Islam, pahlawan dari berbagi perjuangan bersenjata. Tebasan pedang dan bidikan panahnya tak pernah melesat. Hari ini, ia tampil memimpin pasukan di satu medan perang terbesar dalam sejarah. Ia seorang panglima, tapi tak ubahnya seorang prajurit biasa. Kemahirannya dalam berperang dan kedudukannya sebagai panglima, tidak menjadikannya hanya mengandalkan pendapatnya semata. Ia selalu menghubungi Khalifah; Amirul Mu’minin di Madinah yang jaraknya demikian jauh. Setiap hari ia mengirimkan sepucuk surat untuk bermusyawarah dan bertukar pendapat, padahal pertempuran besar itu telah hampir berkecamuk.
Sebab, Sa’d tahu bahwa usulan yang datang dari Madinah sana bukan hanya pendapat Khalifah Umar. Khalifah pasti telah bermusyawarah dengan kaum muslimin di sana, termasuk para sahabat terbaik. Karena itu, apa pun kondisi peperangan yang ada di hadapannya, ia dan pasukannya tidak mau kehilangan berkah dan manfaat musyawarah, terutama yang dihasilkan oleh para tokoh kam muslimin yang di dalamnya ada Umar ra., sang inspirator.
Sumber : 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW/Khalid Muhammad Khalid/Al Itishom

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !