Sa’d Bin Abi Waqqash [2] – Tetap Memimpin Perang di Tengah Sakit - Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia
Headlines News :
Home » , , , » Sa’d Bin Abi Waqqash [2] – Tetap Memimpin Perang di Tengah Sakit

Sa’d Bin Abi Waqqash [2] – Tetap Memimpin Perang di Tengah Sakit

Thursday, October 23, 2014 | 9:34 AM



Khalifahlife.com - Pesan Umar dilaksanakan oleh Sa’d. Beberapa orang diutus untuk mengajak Rustum, panglima tentara Persi untuk beriman kepada Allah dan memeluk Islam.

Dialog panjang berlangsung antara utusan Sa’d dengan Rustum. Di pengujung dialog utusan muslimin berkata,
“Sesungguhnya Allah telah memilih kami untuk membebaskan hamba-hamba-Nya dari pemujaan berhala kepada pengabdian terhadap Allah yang Maha Esa; dari memandang dunia secara luas; dan dari kezaliman pihak penguasa kepada keadilan Islam. Maka siapa saja yang bersedia menerima, tentu kami terima dan kami biarkan mereka. Tetapi siapa saja yang memerangi kami, tentu mereka kami perangi pula hingga kami mencapai apa yang telah dijanjikan Allah.”

Rustum bertanya, “Apa yang dijanjikan Allah kepada kalian?”

Mereka menjawab, “Surga bagi kami yang mati syahid, dan kemenangan bagi yang masih hidup.”

Para utusan Kembali kepada panglima pasukan Islam, Sa’d, dan meyampaikan bahwa pihak Persi memilih perang. Sa’d menangis. Andai saja perang sudah mulai beberapa waktu yang lalu, atau bisa diundur beberapa waktu karena saat itu ia sedang sakit parah hingga sulit bergerak. Bisul bermunculan di sekujur tubuhnya hingga ia tidak dapat duduk, apalagi harus menunggangi kuda dan terjun ke medan perang.
Andai saja perang berlangsung sebelum ia sakit. Atau, sesudah bisul-bisulnya pecah dan mengering, tentu ia bisa bertempur secara total.

Adapun sekarang, ia sedang sakit.

Tetapi, ia telah belajar dari Rasulullah untuk tidak mengatakan “andai saja,” karena kata “andai saja” menandakan ketidakberdayaan, dan seorang muslim sejati tidak pernah kehilangan akal dan strategi.

Saat itu juga, “singa yang menyembunyikan kukunya” itu berdiri di hadapan pasukannya, menyampaikan pidato yang penuh gelora. Ia memulai dengan membaca firman Allah,
“Dan sesungguhnya Kami menulis dalam Zabur sesudah (sesudah Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini diwarisi hamba-hamba-Ku yang saleh.” (Al-Anbiya: 105)

Setelah menyampaikan pidatonya Sa’d melakukan sahlat zuhur bersama pasukannya. Sambil menghadap mereka, ia mengucapkan takbir empat kali. Allahu Akbar..., Allahu Akbar..., Allahu Akbar..., Allahu Akbar...

Alam pun bergemuruh dengan suara takbir. Lalu Sa’d mengulurkan tangannya ke depan, ke arah pasukan musuh, dan berseru, “Marilah bergegas menuju berkah yang dijanjikan Allah.”

Dengan meningkatkan ketabahan menanggung sakit yang dideritanya, Sa’d masuk ke kemah yang ia jadikan markas komando, lalu bersandar di sebuah bantal. Sedikit saja serangan dari orang-orang Persi ke kemah itu, akan menyebabkan panglima pasukan Islam ini jatuh ke tangan mereka, hidup atau mati. Tetapi, ia tidak gentar dan tidak merasa takut.

Bisul-bisul pecah, tetapi ia tidak peduli, karena ia sibuk memberikan komando kepada pasukannya dan terus bertakbir. “Majulah ke kanan... Tutup pertahan sebelah kiri... Awas didepanmu, hai Mughirah... Ke belakang mereka, hai Jarir... Pukul, hai Nu’man... Serbu, hai Asy’ats... Hantam, hai Qa’qa’... Majulah semua, hai sahabat-sahabat Muhammad saw...”

Suaranya yang berwibawa dan penuh semangat mampu mengubah seorang prajurit menjadi satu pasukan tersendiri.

Tentara Persi berjatuhan, tak ubahnya lalat-lalat yang terkapar. Paganisme dan penyembahan terhadap api juga terkubur bersama mereka.

Setelah melihat tewasnya panglima besar dan prajurit-prajurit pilihan mereka, sisa-sisa pasukan musuh lari tunggang-langgang. Pasukan Islam terus mengejar mereka hingga ke Nahawand lalu ke Mada’in. Mereka masuk ke Mada’in, mengambil singgasan dan mahkota Kisra.

Di pertempuran Mada’in kiprah Sa’d sangat besar. Pertempuran ini terjadi kira-kira dua tahun setelah pertempuran Qadisiyah.

Setelah Perang Qadisiyah, terjadi perang-perang kecil antara sisa-sisa pasukan Persi dan kaum muslimin. Akhirnya semua sisa tentara Persi berhimpun di kota Mada’in, bersiap untuk melakukan pertempuran terakhir dan menentukan.

Sa’d menyadari bahwa semakin lama, maka pasukan Persi di Mada’in akan semakin kuat. Tentu ini tidak menguntungkan bagi pasukan Islam. Karena itu, pasukan Islam harus secepatnya menyerang mereka. Namun sepertinya mustahil karena antara pasukannya dan Mada’in terbentang sungai Tigris yang lebar. Alirannya sangat deras karena sedang banjir meluap-luap.

Di sinilah strategi dan keberanian Sa’d teruji. Benarlah apa yang diakatakan Abdurrahman bin Auf, bahwa Sa’d adalah “singa yang menyembunyikan kukunya.” Tiada yang mustahil di mata Sa’d.

Sa’d memerintahkan pasukannya untuk menyebrangi sungai Tigris, dan mencari daerah yang dangkal agar lebih mudah untuk disebrangi. Dan akhirnya, mereka menemukannya, walaupun untuk menyebrangi-nya tidak luput dari bahaya yang mengancam.

Sebelum tentara memulai penyebrangan, panglima besar Sa’d menyadari pentingnya pengamanan pinggiran seberang sungai yang hendak dicapai, yakni daerah yang ada dalam kekuasaan dan pengawasan musuh.
Ketika itu disiapkannya dua kompi tentara. Pasukan pertama yang dinamakan “kompi gerak cepat,”dikomadani oleh Qa’qa bin `Amr.

Adapun tugas dari kedua kompi ini ialah menerjuni bahaya dan meretas jalan yang aman menuju pinggir sungai daerah musuh dan melindungi induk pasukan yang akan mengiringi mereka dari belakang. Dan mereka telah menuaikan tugas itu dengan kemahiran yang menakjubkan.

Strategi Sa’d pun berhasil, hingga membuat kagum para ahli sejarah.

Salman al-Farisi, kawan seperjuangnya dalam pertempuran itu, juga hampir-hampir tak percaya akan hasil yang telah dicapai. Bahkan ia sampai bertepuk tangan karena takjub dan bangga. Saat itu ia berkata,

“Agama Islam masih baru. Tetapi lautan sudah dapat mereka taklukan, sebagaimana daratan juga sudah mereka kuasai. Demi Allah yang nyawa Salman berada di tangan-Nya, mereka akan keluar dari sungai ini berbondong-bondong, sebagaiaman mereka telah memasukinya berbondong-bondong.”

Dan benarlah apa yang diaktakannya itu. Sebagaimana mereka terjun ke sungai berbondong-bondong, mereka juga keluar dari sungai dan mencapai seberang sana berbondong-bondong. Tak seorang prajurit pun hanyut terseret air. Bahkan mereka sampai di seberang sana dengan badan yang masih segar. Tidak sedikit pun ada tanda-tanda kelelahan.

DI ceritakan bahwa saat menyebrang, ada tempat minum seorang prajurit jatuh ke air. Maka ia tidak ingin jadi satu-satunya orang yang kehilang barang waktu penyebrangan itu. Ia meminta tolong kepada teman-temannya untuk mendapatkan barang itu kembali. Kebetulan satu ombak besar melemparkan tempat minum itu ke dekat rombongan hingga mereka dapat memungutnya.

Ada catatan sejarah yang melukiskan pasukannya agar membaca, Hasbunallahu wa ni’mal wakiil (cukuplah Allah bagi kita, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong), Lalu ia menggerakan kudanya menerjuni sungai, dan diikuti oleh pasukannya. Tidak seorang pun tertinggal.

Mereka berjalan di atas air, seperti berjalan di atas tanah. Dari tepi sungai yang satu ke tepi lainnya telah dipenuhi oleh pasukan yang begitu banyak hingga permukaan air tidak kelihatan. Mereka menyebrangi sungai itu sambil bercakap-cakap, seperti mereka berjalan di daratan saja. Sebabnya tidak lain karena mereka merasa yakin dengan pertolongan Allah.” [bersambung/dn]

Sumber :  60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW/Khalid Muhammad Khalid/Al Itishom
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
KANAL : REDAKSI | IKLAN | HUBUNGI KAMI
Copyright © 2011. Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger