Dialog panjang berlangsung antara utusan Sa’d dengan Rustum.
Di pengujung dialog utusan muslimin berkata,
“Sesungguhnya Allah telah memilih kami untuk membebaskan
hamba-hamba-Nya dari pemujaan berhala kepada pengabdian terhadap Allah yang
Maha Esa; dari memandang dunia secara luas; dan dari kezaliman pihak penguasa
kepada keadilan Islam. Maka siapa saja yang bersedia menerima, tentu kami terima
dan kami biarkan mereka. Tetapi siapa saja yang memerangi kami, tentu mereka
kami perangi pula hingga kami mencapai apa yang telah dijanjikan Allah.”
Rustum bertanya, “Apa yang dijanjikan Allah kepada kalian?”
Mereka menjawab, “Surga bagi kami yang mati syahid, dan
kemenangan bagi yang masih hidup.”
Para utusan Kembali kepada panglima pasukan Islam, Sa’d, dan
meyampaikan bahwa pihak Persi memilih perang. Sa’d menangis. Andai saja perang
sudah mulai beberapa waktu yang lalu, atau bisa diundur beberapa waktu karena
saat itu ia sedang sakit parah hingga sulit bergerak. Bisul bermunculan di
sekujur tubuhnya hingga ia tidak dapat duduk, apalagi harus menunggangi kuda
dan terjun ke medan perang.
Andai saja perang berlangsung sebelum ia sakit. Atau, sesudah
bisul-bisulnya pecah dan mengering, tentu ia bisa bertempur secara total.
Adapun sekarang, ia sedang sakit.
Tetapi, ia telah belajar dari Rasulullah untuk tidak
mengatakan “andai saja,” karena kata “andai saja” menandakan ketidakberdayaan,
dan seorang muslim sejati tidak pernah kehilangan akal dan strategi.
Saat itu juga, “singa yang menyembunyikan kukunya” itu
berdiri di hadapan pasukannya, menyampaikan pidato yang penuh gelora. Ia
memulai dengan membaca firman Allah,
“Dan sesungguhnya Kami menulis dalam
Zabur sesudah (sesudah Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini
diwarisi hamba-hamba-Ku yang saleh.” (Al-Anbiya: 105)
Setelah menyampaikan pidatonya Sa’d melakukan sahlat zuhur
bersama pasukannya. Sambil menghadap mereka, ia mengucapkan takbir empat kali.
Allahu Akbar..., Allahu Akbar..., Allahu Akbar..., Allahu Akbar...
Alam pun bergemuruh dengan suara takbir. Lalu Sa’d
mengulurkan tangannya ke depan, ke arah pasukan musuh, dan berseru, “Marilah
bergegas menuju berkah yang dijanjikan Allah.”
Dengan meningkatkan ketabahan menanggung sakit yang
dideritanya, Sa’d masuk ke kemah yang ia jadikan markas komando, lalu bersandar
di sebuah bantal. Sedikit saja serangan dari orang-orang Persi ke kemah itu,
akan menyebabkan panglima pasukan Islam ini jatuh ke tangan mereka, hidup atau
mati. Tetapi, ia tidak gentar dan tidak merasa takut.
Bisul-bisul pecah, tetapi ia tidak peduli, karena ia sibuk
memberikan komando kepada pasukannya dan terus bertakbir. “Majulah ke kanan...
Tutup pertahan sebelah kiri... Awas didepanmu, hai Mughirah... Ke belakang
mereka, hai Jarir... Pukul, hai Nu’man... Serbu, hai Asy’ats... Hantam, hai
Qa’qa’... Majulah semua, hai sahabat-sahabat Muhammad saw...”
Suaranya yang berwibawa dan penuh semangat mampu mengubah
seorang prajurit menjadi satu pasukan tersendiri.
Tentara Persi berjatuhan, tak ubahnya lalat-lalat yang
terkapar. Paganisme dan penyembahan terhadap api juga terkubur bersama mereka.
Setelah melihat tewasnya panglima besar dan prajurit-prajurit
pilihan mereka, sisa-sisa pasukan musuh lari tunggang-langgang. Pasukan Islam
terus mengejar mereka hingga ke Nahawand lalu ke Mada’in. Mereka masuk ke
Mada’in, mengambil singgasan dan mahkota Kisra.
Di pertempuran Mada’in kiprah Sa’d sangat besar. Pertempuran
ini terjadi kira-kira dua tahun setelah pertempuran Qadisiyah.
Setelah Perang Qadisiyah, terjadi perang-perang kecil antara
sisa-sisa pasukan Persi dan kaum muslimin. Akhirnya semua sisa tentara Persi
berhimpun di kota Mada’in, bersiap untuk melakukan pertempuran terakhir dan
menentukan.
Sa’d menyadari bahwa semakin lama, maka pasukan Persi di
Mada’in akan semakin kuat. Tentu ini tidak menguntungkan bagi pasukan Islam.
Karena itu, pasukan Islam harus secepatnya menyerang mereka. Namun sepertinya
mustahil karena antara pasukannya dan Mada’in terbentang sungai Tigris yang
lebar. Alirannya sangat deras karena sedang banjir meluap-luap.
Di sinilah strategi dan keberanian Sa’d teruji. Benarlah apa
yang diakatakan Abdurrahman bin Auf, bahwa Sa’d adalah “singa yang
menyembunyikan kukunya.” Tiada yang mustahil di mata Sa’d.
Sa’d memerintahkan pasukannya untuk menyebrangi sungai
Tigris, dan mencari daerah yang dangkal agar lebih mudah untuk disebrangi. Dan
akhirnya, mereka menemukannya, walaupun untuk menyebrangi-nya tidak luput dari
bahaya yang mengancam.
Sebelum tentara memulai penyebrangan, panglima besar Sa’d
menyadari pentingnya pengamanan pinggiran seberang sungai yang hendak dicapai,
yakni daerah yang ada dalam kekuasaan dan pengawasan musuh.
Ketika itu disiapkannya dua kompi tentara. Pasukan pertama
yang dinamakan “kompi gerak cepat,”dikomadani oleh Qa’qa bin `Amr.
Adapun tugas dari kedua kompi ini ialah menerjuni bahaya dan
meretas jalan yang aman menuju pinggir sungai daerah musuh dan melindungi induk
pasukan yang akan mengiringi mereka dari belakang. Dan mereka telah menuaikan
tugas itu dengan kemahiran yang menakjubkan.
Strategi Sa’d pun berhasil, hingga membuat kagum para ahli
sejarah.
Salman al-Farisi, kawan seperjuangnya dalam pertempuran itu,
juga hampir-hampir tak percaya akan hasil yang telah dicapai. Bahkan ia sampai
bertepuk tangan karena takjub dan bangga. Saat itu ia berkata,
“Agama Islam masih baru. Tetapi lautan sudah dapat mereka
taklukan, sebagaimana daratan juga sudah mereka kuasai. Demi Allah yang nyawa
Salman berada di tangan-Nya, mereka akan keluar dari sungai ini
berbondong-bondong, sebagaiaman mereka telah memasukinya berbondong-bondong.”
Dan benarlah apa yang diaktakannya itu. Sebagaimana mereka
terjun ke sungai berbondong-bondong, mereka juga keluar dari sungai dan
mencapai seberang sana berbondong-bondong. Tak seorang prajurit pun hanyut
terseret air. Bahkan mereka sampai di seberang sana dengan badan yang masih
segar. Tidak sedikit pun ada tanda-tanda kelelahan.
DI ceritakan bahwa saat menyebrang, ada tempat minum seorang
prajurit jatuh ke air. Maka ia tidak ingin jadi satu-satunya orang yang
kehilang barang waktu penyebrangan itu. Ia meminta tolong kepada teman-temannya
untuk mendapatkan barang itu kembali. Kebetulan satu ombak besar melemparkan
tempat minum itu ke dekat rombongan hingga mereka dapat memungutnya.
Ada catatan sejarah yang melukiskan pasukannya agar membaca,
Hasbunallahu wa ni’mal wakiil (cukuplah Allah bagi kita, dan Dia-lah
sebaik-baik Penolong), Lalu ia menggerakan kudanya menerjuni sungai, dan
diikuti oleh pasukannya. Tidak seorang pun tertinggal.
Mereka berjalan di atas air, seperti berjalan di atas tanah. Dari
tepi sungai yang satu ke tepi lainnya telah dipenuhi oleh pasukan yang begitu banyak
hingga permukaan air tidak kelihatan. Mereka menyebrangi sungai itu sambil
bercakap-cakap, seperti mereka berjalan di daratan saja. Sebabnya tidak lain
karena mereka merasa yakin dengan pertolongan Allah.” [bersambung/dn]
Sumber : 60 Sirah Sahabat
Rasulullah SAW/Khalid Muhammad Khalid/Al Itishom

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !