Abdullah Bin Umar [1] – Lelaki Shalih Yang Menolak Menjadi Hakim - Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia
Headlines News :
Home » , , , , , » Abdullah Bin Umar [1] – Lelaki Shalih Yang Menolak Menjadi Hakim

Abdullah Bin Umar [1] – Lelaki Shalih Yang Menolak Menjadi Hakim

Monday, September 29, 2014 | 10:21 AM

Khalifahlife.com - Di usianya yang sudah renta, ia bercerita, “Saya sudah berbaiat kepada Rasulullah. Sampai hari ini, saya belum menyalahi sumpah itu. Saya tidak pernah bersumpah setia kepada orang yang memicu kekacauan. Saya juga tidak membangunkan orang mukmin dari tempat tidurnya.”

Ini gambaran singkat kehidupan laki-laki shalih yang diberi usia lebih dari 80 tahun. Ia memulai hubungan dengan Rasulullah dan dengan Islam sejak berusia 13 tahun, ketika menyertai ayahnya pergi ke perang Badar. Berharap bisa diterima sebagai pasukan yang diberangkatkan ke Badar. Akan tetapi ia ditolak karena usianya belum mencukupi.

Sejak saat itu, bahkan beberapa waktu sebelumnya, ketika ia menemani ayahnya hijrah ke Madinah, hubungan anak yang cepat dewasa ini dengan Rasulullah dan Islam sudah di mulai.
Sejak saat itu hingga ia wafat pada usia lebih dari 85 tahun, akan kita dapati bahwa dia adalah laki-laki yang tekun beribadah dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Pendiriannya itu tidak sedikit pun  bergeser. Sumpah setianya tidak pernah ia ingkari.

Keistimewaan yang dimiliki Abdullah bin Umar sangat banyak dan sungguh memikat. Ilmunya sangat luas, rendah hati, teguh pendirian, dermawan, shalih, tekun beribadah, dan sungguh-sungguh dalam meneladani Rasullah. Semua keistimewaan inilah yang menempa dan membentuk kepribadiannya yang istimewa dan luar biasa. Kepribadian yang bersih dan jujur.
Dari ayahnya (Umar bin Khaththab) ia telah belajar banyak kebaikan. Dan bersama ayahnya ia berguru kepada Rasulullah tentang semua kebaikan dan keagungan.

Seperti ayahnya, ia telah mencapai puncak keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah, kesetiannya mengikuti jejak langkah Rasulullah, sangat menakjubkan.

Apa pun yang dilihatnya dilakukan Rasulullah, maka ia akan menirunya apa adanya. Misalnya, Rasulullah saw. Pernah melakukan shalat di suatu tempat, maka Ibnu Umar melakukannya juga di tempat itu. Rasulullah pernah berdoa di suatu tempat dengan berdiri, maka Ibnu Umar berdoa di tempat itu dengan berdiri. Rasulullah pernah berdoa di suatu tempat dengan duduk, maka Ibnu Umar berdoa di tempat itu dengan duduk. Rasulullah pernah menghentikan untanya di tengah perjalanan lalu turun dan shalat dua rakaat, maka Ibnu Umar melakukan hal yang sama di tempat yang sama.

Di suatu tempat di kota Mekah, sebelum Rasulullah turun dari untanya, tiba-tiba unta tersebut berputar dua kali bukan atas perintah penunggangnya. Setelah itu, Rasulullah turun dari unta lalu shalat dua rakaat. Suatu ketika, Ibnu Umar melewati tempat itu, ia turun dari untanya dan shalat dua rakaat. Ia lakukan seperti yang dilakukan Rasulullah.

Ittiba’nya kepada Rasulullah dalam bentuk seperti ini sempat membuat kagum Ummul Mu’minin Aisyah ra. Ia pernah berkata, “Tidak seorang pun yang ittiba’ kepada Rasulullah melebihi ittiba’nya Ibnu Umar.”

Ia dikaruniai usia panjang yang ia isi dengan kesetiaan penuh kepada Rasulullah. Hingga orang-orang shalih yang hidup semasa dengannya berdoa, “Ya Allah, jangan Engkau panggil Ibnu Umar selama aku masih hidup, agar aku bisa meneladaninya, karena aku tidak melihat orang lain yang serupa dengan Rasulullah selain dia.”

Perhatiannya yang mendalam terhadap setiap perilaku Rasulullah menjadikannya sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Hanya hadits-hadits yang ia hafal betul, huruf demi huruf, yang ia sampaikan ke orang lain.
Orang-orang yang hidup semasa dengannya berkata, “Tak seorang pun dari sahabat Nabi yang lebih berhati-hati dalam menyampaikan hadits, tidak mau menambahi atau mengurangi sedikit pun, yang melebihi Ibnu Umar.”

Ia juga sangat berhati-hati dalam berfatwa.

Pernah suatu hari, ia ditanya. Ia hanya menjawab, “Aku tidak mempunyai pengetahuan tentang apa yang engkau tanyakan.” Orang itu pun meninggalkan Ibnu Umar. Belum jauh orang itu pergi, Ibnu Umar menggesek telapak tangannya tanda gembira seraya berkata sendiri, “Ibnu Umar ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya, maka ia berkata tidak tahu.”

Ia menghindari ijtihad dalam berfatwa karena takut salah, meskipun ia tahu bahwa Islam memberikan satu pahala bagi yang salah dalam berijtihad dan dua pahala bagi yang ijtihadnya sesuai dengan syariat Islam. Namun keshalihan dan kehati-hatiannya memilih untuk tidak berfatwa.

Ia juga menghindar dari jabatan sebagi hakim. Padahal saat itu jabatan sebagai hakim adalah jabatan tertinggi. Jabatan yang memberikan kekayaan dan derajat sosial. Akan tetapi Ibnu Umar sama sekali tidak membutuhkan kekayaan dan status sosial.

Suatu hari ia dipanggil oleh Khalifah Utsman ra., dan diminta untuk menduduki jabatan hakim agung. Ibnu Umar ra. Menolak. Khalifah terus memintanya, namu ia tetap menolak.
Khalifah berkata, “Apa engkau melanggar perintahku?”

“Sama sekali tidak. Hanya saja yang kutahu, hakim itu ada tiga macam: Hakim yang memutuskan perkara tidak didasari ilmu, maka dia akan masuk neraka. Hakim yang memutuskan perkara semaunya saja, maka dia akan masuk neraka. Dan hakim yang memutuskan perkara dengan berijtihad dan hasil ijtihad tepat, maka ia tidak mendapat apa-apa, tidak berdosa dan tidak mendapat pahala. Demi Allah, sunguh aku memohon kepadamu, agar aku dijauhkan dari jabatan ini.”

Khalifah menerima keberatan itu setalah mendapat jaminan bahwa Ibnu Umar tidak akan memberitahukan hal itu kepada siapa pun, karena Ibnu Umar punya tempat tersendiri di hati kaum muslimin. Jika orang-orang shalih tahu penolakan Umar terhadap jabatan hakim, maka Khaifah tidak akan mendapatkan orang shalih yang mau menjadi hakim.

Mungkin ada yang mengira bahwa sikap Ibnu Umar ini tidak tepat. Akan tetapi Ibnu Umar tidak akan menolak jabatan hakim manakala tidak ada lagi yang layak menjadi hakim. Kenyataanya, selain Ibnu Umar, ada banyak generasi sahabat yang shalih. Di antara mereka ada yang terjun di bidang peradilan dan fatwa.

Penolakkan Ibnu Umar tidak menjadikan tugas peradilan terbengkalai atau dipegang orang-orang yang tidak layak memegang jabatan itu.
Ibnu Umar lebih memilih hidup jauh dari hiruk-pikuk dunia dan memilih  menyibukkan diri untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.

Pada saat itu, kaum muslimin semakin maju, Kekayaan dan jabatan terbuka luas. Tidak sedikit dari kaum muslimin yang tergoda oleh harta dan jabatan. Ini yang menjadikan beberapa generasi sahabat, termasuk Ibnu Umar, memilih menolak godaan duniaa itu, dan menjadi teladan dalam kezuhudan.  [bersambung/dn]

Sumber :  60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW/Khalid Muhammad Khalid/Al Itishom
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
KANAL : REDAKSI | IKLAN | HUBUNGI KAMI
Copyright © 2011. Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger