Bahkan, jiwanya semakin bersemangat melihat dekatnya tujuan itu.
Ia memasuki kota dengan menyamar. Ia seperti orang yang hendak melakukan peribadatan kepada berhala-berhala di sekitar Ka’bah. Ia seperti musafir yang tersesat atau singgah sebentar untuk istirahat. Padahal, seandainya orang-orang Mekah mengetahui bahwa kedatangannya itu untuk menemui Muhammad SAW. dan mendengar keterangannya, pastilah mereka akan membunuhnya.
Ia sadar akan hal itu. Ia juga tidak takut dibunuh, asalkan setelah ia bertemu dengan Muhammad. Setelah ia beriman dengan laki-laki itu, jika dakwahnya patut diterima.
Ia selalu memasang telinga. Setiap kali ada orang berbicara tentang Muhammad SAW., ia menyimak dengan seksama dan hati-hati.
Akhirnya dari banyak cerita yang ia dengar, ia tahu di mana bisa menemui Muhammad SAW.
Di suatu pagi, ia pergi ke tempat itu. Ia mendapati Muhammad saw. Duduk seorang diri. Ia mendekat dan berkata, “Selamat pagi, wahai kawan sebangsa.” Rasul menjawab, “Semoga kesejahteraan selalu menyertaimu, wahai sahabat.”
Kata Abu Dzar, “Senandungkan kepadaku syair ciptaanmu.”
Rasul menjawab, “Aku tidak punya syair yang bisa kusenandungkan. Ini adalah Al-Qur’anul karim.”
“Kalau begitu, bacakanlah,” kata Abu Dzar.
Maka Rasulullah membacakan ayat Al-Qur’an dan Abu Dzar mendengarkan dengan baik.
Belum banyak ayat yang dibaca oleh Rasulullah saw. Abu Dzar mengucapkan, “Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan `abduhu wa rasulih (aku bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya).”
Rasulullah bertanya, “Engkau dari mana, saudara sebangsa?”
“Dari suku Ghifar,” jawab Abu Dzar
Rasulullah tersenyum senang dan takjub. Abu Dzar pun tersenyum. Ia tahu mengapa Rasul takjub ketika mendengar bahwa orang yang masuk Islam berada di hadapannya ini adalah dari suku Ghifar.
Suku Ghifar adalah perampok yang sangat kejam. Bahkan sudah menjadi simbol perampokan. Rombongan pedagang yang kemalaman di wilayah Ghifar akan berakhir mengenaskan. Sekarang, saat Islam baru saja lahir dan bergerak dengan sembunyi-sembunyi, ada orang Ghifar yang sengaja datang untuk masuk Islam!
Abu Dzar menceritakan sendiri kisah itu. “Maka, pandangan Rasulullah pun turun naik, sangat takjub karena aku dari Ghifar. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki.”
Betul. Allah member petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki. Dan Abu Dzar termasuk orang yang dikehendaki Allah memperoleh petunjuk. Orang yang dipilih-Nya mendapat kebaikan.
Sejak dulu, Abu Dzar sudah bisa memilah-milah, antara yang benar dan yang salah. Ia meyakini adanya satu Pencipta yang Maha Agung. Karena itulah, ketika ia mendengar munculnya seorang nabi yang menentang berhala-hala itu dan mengajak manusia untuk menyembah Allah yang Maha Esa dan Mahaperkasa, maka ia pun menyiapkan bekal dan bergegas ingin menemui nabi tersebut.
Saat itu juga Abu Dzar masuk Islam. Ia terhitung sebagai orang kelima atau keenam yang masuk Islam. Jadi, ia telah masuk di hari-hari pertama, bahkan bisa dikatakan di menit-menit pertama.
Saat ia masuk Islam, dakwah yang dilakukan Rasulullah masih sembunyi-sembunyi, baik kepada Abu Dzar maupun kepada lima orang lainnya yang telah masuk Islam. Dan bagi Abu Dzar, tidak ada yang dapat dilakukannya kecuali merahasiakan keimanan itu dalam dada, lalu meninggalkan kota Mekah secara diam-diam dan kembali kepada kaumnya.
Tetapi Abu Dzar yang nama aslinya Jundub bin Junadah adalah orang yang berkarakter pemberani dan revolusioner. Ia telah diciptakan untuk menentang segala bentuk kebatilan. Dan sekarang kebatilan itu berada di depan matanya. Ia melihat patung-patung pahatan. Para pemujanya lebih dulu ada dibandingkan patung-patung itu. Patung-patung bisu itu disembah dan diagung-agungkan.
Memang, ia melihat Rasulullah memilih berdakwah secara sembunyi-sembunyi pada hari-hari tersebut. Akan tetapi, menurutnya, harus ada yang meneriakkan dakwah ini. Dan itu akan ia lakukan sebelum pergi meninggalkan kota Mekah.
Saat baru saja mengucapkan syahadat, ia bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kukerjakan?”
Rasul menjawab, “Kembalilah kepada kaummu sampai ada perintah dariku.”
Abu Dzar berkata, “Demi Zat yang jiwaku berada ditangan-Nya, aku tidak akan pulang ke kampungku sebelum meneriakkan Islam di Ka’bah.”
Bukanlah sudah saya jelaskan kepada Anda bahwa Abu Dzar adalah pemberani dan revolusioner? Apakah setelah menemukan dunia baru (Rasulullah dan risalah Islam yang dibawanya), ia bisa pulang dengan diam-diam? Sungguh sangat berat baginya!!!
Lihatlah, ia masuk Masjidil Haram lalu berseru sekencang-kencangnya,
“Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah.”
Menurut saya, inilah kali pertama Islam disuarakan dengan terang-terangan, menantang kesombongan orang-orang Quraisy dan memekakkan telinga mereka. Diteriakkan oleh orang asing yang tidak mempunyai kedudukan, keluarga, dan pembela di kota Mekah.
Abu Dzar sudah tahu risiko yang akan ia hadapi. Orang-orang kafir Quraisy mengepung dan memukulinya hingga ia pingsan.
Peristiwa ini didengar oleh Abbas (paman Nabi). Maka ia bergegas mendatangi tempat itu. Ia tidak bisa menyelamatkan Abu Dzar jika tidak menggunakan siasat. Abbas berkata kepada orang-orang yang memukuli Abu Dzar;
“Wahai kaum Quraisy, kalian adalah para pedagang yang pasti melewati wilayah Ghifar. Dan orang ini termasuk tokoh suku Ghifar. Jika dia menggerakan kaumnya, kafilah dagang kalian akan celaka.”
Mereka berhenti memukuli Abu Dzar dan meninggalkannnya. Akan tetapi, bukan Abu Dzar jika ia menyerah begitu saja. Apalagi ia sudah menikmati asyiknya tantangan dalam membela agama Allah. Ia tidak akan meninggalkan Mekah sebelum menikmati keasyikan itu lagi.
Esok harinya, ia melihat dua wanita sedang menyembah berhala Usaf dan Na’ilah. Abu Dzar segera menghampiri keduanya, lalu di hadapan mereka berhala-berhala itu dihina sejadi-jadinya. Kedua wanita itu berteriak minta tolong. Orang-orang berdatangan, lalu menghujani Abu Dzar dengan pukulan hingga tak sadarkan diri.
Ketika siuman, ia berseru “Tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad itu utusan Allah.”
Rasulullah SAW. memahami karakter murid barunya itu. Beliau tahu bahwa Abu Dzar memiliki keberanian yang menakjubkan untuk melawan kebatilan. Akan tetapi, saatnya belum tiba. Maka, Rasulullah mengulangi perintahnya agar ia pulang ke kampungnya, dan jika nanti ia mendengar tampilnya Islam secara terang-terangan, ia bisa mengambil peran yang semestinya.
Abu Dzar kembali kepada keluarga dan kaumnya. Ia menceritakan kepada mereka tentang Nabi yang mengajak manusia menyembah Allah semata, dan membimbing mereka supaya berakhlak mulia. Satu per satu, mereka masuk Islam. Bahkan dakwahnya tidak terbatas pada kaumnya. Ia juga berdakwah di suku Aslam. Ia sebarkan cahaya di tengah-tengah mereka. [bersambung/dn]
Sumber : 60 Sirah Sahabat Rasulullah
SAW/Khalid Muhammad Khalid/Al Itishom

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !