![]() |
| Ustadzah Kinkin Anida |
Khalifahlife.com - Akhir-akhir ini berita kekerasan seksual pada anak yang
terjadi tentu telah membuat khawatir semua orang tua. Dan belum lagi berita
mengenai perkosaan baik terhadap anak dibawah umur maupun pada remaja-remaja putri
sungguh membuat orang tua merasa perlu menjaga putra-putrinya dengan lebih
ketat lagi.
Tetapi benarkah penjagaan yang ketat atau istilahnya ekstra
protektif yang harus dilakukan terhadap anak-anak kita, agar mereka terhindar
dari berbagai kejahatan dan terlebih lagi kekerasan seksual?
Kekerasan seksual yang sering kita dengar beritanya lebih
banyak menunjukkan bahwa pelaku kekerasan adalah orang-orang yang dekat dengan
lingkungan kita. Tetangga, saudara, pegawai atau guru disekolah dan bahkan
orang tua sendiri yang kurang imannya. Dapatkah kita menjaga anak-anak dari
mereka yang dekat dengan kita dan mungkin telah kita percaya dapat pula menjaga
anak kita?!
Sahabatku hanya kepada Allahlah kita beriman, hanya kepada
Allahlah kita memohon agar Allah senantiasa menjadi pelindung bagi keluarga
kita, karena hanya Allahlah sebaik-baik pelindung. Oleh karena itu, jagalah
Allah disetiap perilaku dan aktivitas kita. Tanamkanlah pula pada buah hati
kita untuk menjaga Allah, selalu ingat pada Allah, bahwa Ialah pencipta dan
pelindung yang selalu melihat kita.
Kekerasan seksual dan segala bentuk kejahatan seksual yang
terjadi dimasyarakat kita ini menunjukkan minimnya benteng agama pada keluarga,
serta masih rendahnya pendidikan orang tua mengenai adab-adab yang harus
diajarkan sesuai tuntunan Rasulullah pada anak-anak.
Rasul telah memberikan teladan dan panduan agar kita menjaga
rasa malu, bahkan disaat kita berada di kamar mandi pun. Rasul menganjurkan
untuk memakai kain basah dan tidak sepenuhnya telanjang pada saat mandi.
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Pemalu, Maha
Menutupi, Dia mencintai rasa malu dan ketertutupan. Apabila salah seorang dari
kalian mandi, maka hendaklah dia menutup diri.”
[Shahîh: HR.Abû Dawud (no. 4012), an-Nasâ-i (I/200), dan
Ahmad (IV/224) dari Ya’la Radhiyallahu 'anhu]
Tanamkanlah dan berilah pengertian sejak anak-anak kita
balita mengenai rasa malu. Ceritakanlah dengan bahasa yang dimengerti oleh
mereka bahwa rasa malu adalah bagian dari akhlak seorang muslim/muslimah.
“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam
adalah malu.” [Shahîh: HR.Ibnu Mâjah (no. 4181) dan ath-Thabrâni dalam
al-Mu’jâmush Shaghîr (I/13-14) dari Shahabat Anas bin Malik t . Lihat Silsilah
al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 940)]
Ajarkan pada buah hati tentang rasa malu yang merupakan
bagian dari iman seorang muslim, rasa malu yang dapatnya mencegah dari
perbuatan maksiat, rasa malu yang dapat mendatangkan pertolongan Allah. Dan
bukan rasa malu karena tabiat atau kebiasaan.
Malu berbalut penghargaan diri seperti menjaga aurat dari
orang yang tidak sepantasnya untuk melihat aurat. Berilah teladan dan
pengertian batasan aurat dan siapa saja yang boleh melihat aurat kita.
Ajarkanlah buah hati kita untuk memakai pakaian yang baik menutupi auratnya,
dan ceritakanlah bagaimana seharusnya seorang lelaki dan perempuan berpakaian.
Sampaikan pula bagaimana tidak boleh ada seseorang yang bukan muhrim untuk
melihat bahkan memegang aurat kita.
Dan bukan rasa malu karena kekurangan, baik kekurangan
materi dibandingkan dengan tetangga atau saudara ataupun malu karena kondisi
fisik. Bukan pula malu untuk bertanya karena ketidaktahuan, dan tidak mau
dibilang bodoh atau ketinggalan zaman. Inilah malu yang berupa tabiat dan
kebiasaan yang seringkali dijumpai pada masyarakat kita.
Peliharalah rasa malu karena Allah, dan inshaAllah ini
menjadi benteng awal penjagaan kita sebagai orang tua untuk menjaganya dari
segala kejahatan dan kekerasan dari lingkungan luar. Wallahualam.

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !