Khalifahlife.com - Kelahiran
bayi merupakan saat yang membahagiakan dan sekaligus mendebarkan bagi
seorang Ibu. Karena pasca kelahiran, seorang Ibu masih harus terus
memantau ekstra perkembangan si kecilnya. Pasti Anda sering mendengar
bayi kuning? Jika mengalaminya, Anda tidak perlu panik jika ini terjadi
pada buah hati
yang baru saja lahir. Segera kembali ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Bayi
kuning, ada dua macam. Yaitu yang faali (fisiologis) dan patologis.
Yang patologis adalah yang dapat menganggu tumbuh kembang bayi di
kemudian hari. "Yang faali disebut juga kuning yang normal. Umumnya
terjadi di hari kedua atau ketiga setelah kelahiran hingga 7 atau 14
hari. Walaupun secara faali, tetapi perlu diwaspadai. Karena kuning yang
faali mungkin mempunyai latar belakang patologis," jelas Prof. Dr. dr.
Nartono Kadri, Sp.A(K) , dari Bagian Perinatologi, Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran UI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Selain
itu, bayi yang minum ASI dapat juga terlihat kuning pada minggu pertama
dan kedua, yang berangsur-angsur akan hilang sendiri. "Ini gejala
biasa. Di dalam ASI ada komponen yang memengaruhi timbulnya kuning pada
bayi. Tidak berbahaya, kok," jelas Nartono.
Kendati
demikian, lanjutnya, orangtua harus tetap waspada. Terutama kalau si
bayi sedang dalam keadaan sakit yang berkaitan dengan acidosis (penyakit
yang berhubungan dengan menurunnya kadar pH darah).
Misalnya, sesak napas atau mencret berat. "Sebab, kadar bilirubin bebas bisa meningkat," tandas dr. Natono.
Nah, inilah beberapa tindakan yang biasanya dilakukan untuk menangani bayi kuning.
1.
Melakukan terapi sinar (blue light). Terapi ini disebut juga sebagai
fototerapi. Terapi sinar lampu biru ini menggunakan lampu yang memiliki
panjang gelombang tertentu. Sebanyak 12 buah lampu disusun secara
pararel. Pada bagian bawah lampu terdapat kaca yang disebut flexy glass
untuk meningkatkan energi sinar sehingga intensitasnya lebih efektif.
Sinar dari lampu tersebut kemudian diarahkan pada tubuh bayi. Berapa
lama waktu yang dibutuhkan untuk menyinari, tentunya berbeda-beda pada
setiap bayi.
2. Pengobatan. Pemberian
obat-obatan atau antibiotika bila penyebabnya adalah suatu infeksi.
Namun, terapi pengobatan ini tidak dijadikan pilihan utama, karena
biasanya bayi sudah bisa ditangani dengan terapi sinar. Yang jelas, bila
sudah ada perbaikan, penggunaan obat-obatan segera dihentikan.
3.
Pemberian cairan yang cukup. Berikan cukup cairan (ASI) untuk
mengurangi sirkulasi enterohepatik dan menurunkan bilirubin lewat fecees
dan urin yang dikeluarkan si kecil. Tentunya hal ini juga dilakukan di
bawah pengawasan dokter. Karena dalam beberapa kasus, kadar bilirubin
bayi justru bisa meningkat karena ASI. Biasanya ASI akan dihentikan dulu
sementara. Setelah kadar bilirubin kembali normal, pemberian ASI boleh
dilanjutkan. Karena itulah pemberian ASI sebaiknya dilakukan di bawah
pengawasan dokter.
4. Melakukan transfusi tukar
darah bila kadar bilirubin melebihi 20 mg/dl. Proses ini dilakukan
secara bertahap. Bila dengan sekali tukar darah kadar bilirubin sudah
menunjukkan angka yang menggembirakan maka terapi transfusi bisa
dihentikan. Terapi ini terbilang efektif untuk menurunkan kadar
bilirubin yang tinggi.
Bagaimanapun,
pencegahan akan lebih baik daripada mengobati. Saat ini tenaga medis
melakukan pemeriksaan rutin bilirubin total bayi, sehingga dapat
diketahui kadarnya sebelum bayi dibawa pulang dari tempat persalinan.[nfl]

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !