Mu’adz Bin Jabal [2] – Senilai dengan Umat Yang Tunduk dan Patuh Pada Allah - Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia
Headlines News :
Home » , , » Mu’adz Bin Jabal [2] – Senilai dengan Umat Yang Tunduk dan Patuh Pada Allah

Mu’adz Bin Jabal [2] – Senilai dengan Umat Yang Tunduk dan Patuh Pada Allah

Thursday, November 6, 2014 | 10:47 AM



Khalifahlife.com - Mu’adz pindah ke Syam. Ia tinggal bersama parapenduduk pribumi dan para pendatang, mengajarkan kepada mereka ajaran agama Islam.

Ketika gubernur wilayah Syam, Abu Ubaidillah, yang juga teman dekat Muadz, meninggal dunia, Khalifah Umar mengangkatnya sebagai gubernur pengganti. Beberapa bulan ia memikul tanggung jawab itu, ia dipanggil menghadap ke haribaan ilahi.

Khalifah Umar ra. pernah berkata, “Seandainya aku mengangkat Mu’adz sebagai pengganti, lalu aku ditanya oleh Allah mengapa aku mengangkatnya, maka akan aku jawab, ‘Aku dengar Nabi-Mu bersabda, “Saat ulama menghadap Allah ‘Azza wa jalla, pastilah Mu’adz ada di antara mereka.””

Mengangkat sebagai pengganti yang dimaksud Khalifah Umar di sini ialah penggantinya sebagai Khalifah bagi seluruh kaum muslimin, bukan kepala wilayah atau daerah.

Sesaat menjelang wafat, Khalifah Umar ditanya, “Jika engkau memilih penggantimu, siapakah yang kau pilih?”

Khalifah menjawab, “Seandainya Mu’adz bin Jabal masih hidup, tentu aku mengangkatnya sebagai Khalifah. Kemudian aku menghadap Allah dan ditanya, ‘Siapa yang kamu angkat menjadi pemimpin umat Muhammad?’ Aku akan menjawab, ‘Aku mengangkat Muadz bin Jabal, karena aku pernah mendengar Rasulullah saw. Bersabda, “Mu’adz bin Jabal adalah pemimpin para ulama di hari Kiamat.””

Suatu hari, Rasulullah saw. Bersabda, “Hai Mu’adz, demi Allah aku sungguh sayang kepadamu. Setiap kali engkau selesai shalat jangan lupa mengucapkan, ‘Ya Allah, bantulah aku untuk selalu ingat, bersyukur dan beribadah kepada-Mu dengan baik.’”

Begitulah semestinya, “Ya Allah, bantulah aku...” Rasulullah saw. Selalu mengulang-ulang kandungan makna pesan ini agar manusia sadar bahwa mereka tidak mempunyai daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung.

Muadz sendiri sudah memahami tujuan pesan ini bahkan sudah mempraktikannya. Di suatu pagi, Rasulullah menemuinya dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu di pagi ini?” Ia menjawab, “Di pagi ini aku benar-benar beriman, ya Rasulullah.”

Rasulullah bertanya, “Apa buktinya?”

Muadz menjawab, “Di setiap pagi, aku merasa tidak akan hidup sampai sore hari. Dan di setiap sore aku merasa tidak akan hidup sampai pagi hari. Setiap aku melangkahkan satu kaki, aku merasa tidak bisa melangkahkan kaki yang satunya. Aku seperti melihat umat demi umat dipanggil melihat catatan amalnya. Aku seperti melihat penduduk surga sedang menikmati yang tersedia di surga, dan penduduk neraka sedang merasakan siksa neraka.”

Rasulullah bersabda, “Kamu sudah mengetahuinya, maka pegang hingga yang tampak olehnya hanyalah Allah.

Sungguh tepat gambaran yang diberikan Ibnu Mas’ud tentang kepribadiannya, “Mu’adz itu senilai dengan satu umat yang tunduk dan patuh kepada Allah. Kami menganggap Mu’adz serupa dengan Nabi Ibrahim as.”

Mu’adz senantiasa mengajak manusia untuk terus belajar dan mengingat Allah. Ia selalu mengajak manusia untuk menuntut ilmu yang bermanfaat. Ia berpesan, “Waspadalah terhadap tergelincirnya orang pandai . Kenalilah kebenaran dengan kebenaran, karena kebenaran mempunyai cahaya.”

Menurut Mu’adz, ibadah hendaklah dilakukan dengan tepat dan tidak berlebihan. Suatu hari, seorang laki-laki berkata kepadanya, “Ajarilah aku.” Muadz menjawab, “Apakah kamu akan mematuhi pelajaran yang kuberikan kepadamu?” Laki-laki itu menjawab, “Ya. Aku sangat berharap bisa mematuhimu?”

Muadz berkata, “Berpuasalah, tapi jangan setiap hari. Lakukanlah shalat malam, tapi jangan sepanjang malam. Berikan waktu untuk tidur. Bekerjalah mencari nafkah, tapi jangan yang haram. Dan jangan mati kecuali dalam keadaan muslim.”

Menurutnya, ilmu yang sudah dipelajari harus diamalkan. Ia pernah berpesan, “Belajarlah sesukamu, tapi ketahuilah bawa ilmu yang kamu pelajari itu tidak akan bermanfaat kecuali jika kamu amalkan.”

Menurutnya, beriman dan mengingat Allah artinya selalu menghadirkan keagungan-Nya, dan pengawasan yang kontinyu terhadap perilaku diri.

Aswad bin Hilal bercerita, “Kami pernah berjalan bersama Mu’adz. Lalu ia berkata kepada kami, ‘Marilah kita duduk untuk mempertebal keimanan sejenak.’”

Sikapnya yang lebih banyak diam, bisa jadi disebabkan ia selalu merenung dan berfikir, sebagaimana yang pernah ia katakan kepada Rasulullah, bahwa setiap kali ia melangkahkan satu kakinya, ia merasa tidak akan bisa menggerakkkan kaki yang satunya. Sebabnya ialah ia larut dalam zikir dan instropeksi diri.

Akhirnya, ajal Muadz mendekat, dan ia dipanggil mengahadap Allah.

Di saat-saat terakhir menjelang kematiannya, tanpa sadar, ia mengucapkan kata-kata yang merupakan intisari dari seluruh hidupnya. Ia memandang ke atas dan memohon kepada Tuhannya yang Maha pengasih,

“Ya Allah, sesungguhnya, selama ini aku takut kepada-Mu, tetapi hari aku mengharapkan-Mu. Ya Allah, engkau mengetahui bahwa kecintaanku terhadap dunia bukan untuk membuat taman pribadi yang dialiri sungai-sungai, atau untuk memperbanyak perkebunanku. Tetapi, untuk minum orang yang kehausan, menghadapi musim paceklik, dan untuk bekal mencari ilmu, menambah keimanan dan ketaatan.”

Ia bentangkan tangannya seakan ingin berjabat tangan dengan kematian. Ia berkata, “Selamat datang, wahai kematian. Engkau adalah kekasih yang datang saat diperlukan.       

Muadz pergi ke pangkuan ilahi. [Tamat/dn]

Sumber :  60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW/Khalid Muhammad Khalid/Al Itishom
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
KANAL : REDAKSI | IKLAN | HUBUNGI KAMI
Copyright © 2011. Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger