Muadz berasal dari kalangan kaum Anshar. Ikut dalam Bai’at Aqabah kedua. Karena itu, dia termasuk as-Sabiqunal Awwalun (golongan yang pertama masuk Islam).
Orang yang mempunyai kemantapan iman seperti ini, mustahil absen dalam peristiwa penting atau peperangan yang diikuti Rasulullah. Begitulah Muadz. Keutamaannya yang paling istimewa adalah pemahamannya yang sangat dalam terhadap ajaran Islam hingga Rasulullah bersabda, “Umatku yang paling tahu tentang hahal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal.”
Kecerdasannya seperti Umar ra. Ketika hendak diutus Rasulullah ke Yaman, beliau bertanya kepadanya, “Muadz, apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili?”
Muadz, “Kitabullah”
Rasulullah, “Jika kamu tidak mendapatinya dalam Kitabullah?”
Muadz, “Dengan Sunah Rasul.”
Rasulullah, “Jika tidak kamu dapati dalam Sunah Rasulullah?”
Muadz, “Aku gunakan pikiran untuk berijtihad, dan aku tidak putus asa.”
Wajah Rasulullah berseri-seri lalu bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah memudahkan utusan Rasulullah untuk menempuh jalan yang diridhai Rasulullah.”
Kesetiaan Mu’adz kepada Kitabullah dan Sunah Rasulullah tidak membelenggu daya pikirnya, dan tidak menjadi penghalang bagi akalnya untuk memahami berbagai kebenaran yang masih tersembunyi, yang masih menunggu orang-orang yang mau menyingkapnya.
Kecerdasan dan keberaniannya berpendapat, bisa jadi dua hal yang mengantakannnya mencapai kekayaan ilmu tentang ajaran Islam melebihi rekan-rekannya, sehingga ia mencapai derajat yang disabdakan Rasulullah, “Orang yang paling tahu tentang halal dan haram.”
Catatan sejarah menggambarkannya sebagai otak yang cemerlang yang mampu memutuskan persoalan dengan baik.
`A’idzullah bin Abdillah menceritakan,
“Suatu hari, di awal pemerintahan Khalifah Umar, aku masuk masjid bersama beberapa orang sahabat Rasulullah. Aku duduk di majelis yang dihadiri oleh tiga puluh orang lebih. Setiap orang menyebutkan sebuah hadits yang mereka terima dari Rasulullah saw. Di antara mereka, ada seorang anak muda yang berkulit sawo matang, baik tutur katanya, dan enak dipandang. Di antara mereka, ia yang paling muda. Jika ada permasalahan tentang suatu hadits, mereka menanyakan kepada pemuda itu, lalu ia memberi jawaban. Ia tidak bicara kecuali jika ditanya. Ketika majelis berakhir, aku mendekatinya dan bertanya, “Siapakah engkau ini?” Ia menjawab, “Muadz bin Jabal.”
Abu Muslim Al-Khaulani menceritakan, “Aku masuk masjid HImis. Aku dapati sekumpulan orang tua duduk mengelilingi seorang anak muda yang giginya putih berkilat. Anak muda itu diam.
Tetapi bila orang-orang itu merasa raggu tentang sesuatu masalah, mereka bertanya kepadanya. Aku bertanya kepada orang yang di sebelahku, ‘Siapakah anak muda ini?’ Ia menjawab, ‘Muadz bin Jabal.’ Aku langsung simpati kepadanya.”
Shahar bin Hausyab menceritakan, “Jika para sahabat Rasulullah sedang berbincang-bincang, dan di antara mereka terdapat Mu’adz bin Jabal, mereka meminta pendapatnya sebagai rasa hormat mereka kepadanya.”
Khalifah Umar juga banyak bertanya kepada Muadz. Bahkan ia pernah berkata, “Seandianya tidak dibantu Muadz, Umar pasti telah celaka.”
Mu’adz memiliki otak yang terlatih baik. Tutur katanya menarik dan memuaskan. Penjelasannya mengalir dengan tenang dan cermat.
Catatan sejarah di atas, kerap menceritakan bahwa Muadz selalu menjadi rujukan rekan-rekannya. Ia diam dikelilingi mereka, dan hanya berbicara ketika ditanya. Jika ada permasalahan yang diperselihsikan, Muadz menjadi tempat rujukan. Jika ia berbicara, seolah-olah dari mulutnya keluar cahaya dan mutiara. Begitulah yang digambarkan orang-orang yang masih hidup semasa dengannya.
Keistimewaan ini sudah dimiliki Muadz sejak Rasulullah masih hidup hingga setelah beliau wafat, padahal usianya masih muda. Ia meninggal pada masa pemerintahan Khalifah Umar di usianya yang ke-33 tahun.
Mu’adz adalah seorang yang murah tangan, lapang dada dan tinggi budi pekertinya. Tidak suatu pun yang diminta darinya, kecuali diberikan dengan cukup dan dengan hati yang ikhlas. Bahkan semua hartanya dihabiskan untuk sedekah.
Saat Rasulullah saw. Wafat, Mu’adz masih berada di Yaman, yakni sejak ia dikirim Nabi ke sana untuk mengajarkan ajaran Islam kepada penduduk Yaman.
Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar, ia kembali ke Madinah. Umar ra. mengetahui bahwa Muadz kaya raya. Maka, Umar mengajukan usulan kepada Khalifah agar kekayaan Muadz di bagi dua. Namun, tanpa menunggu jawaban Abu Bakar, Umar segera pergi ke rumah Mu’adz dan mengemukakan masalah tersebut.
Mu’adz adalah seorang yang bersih tangan dan suci hati. Jika sekarang ia menjadi kaya raya, maka kekayaan itu diperolehnya secara halal, tidak pernah diperolehnya secara haram. Bahkan, ia tidak pernah menerima barang yang syubhat (kehalalannya diragukan). Karen itu, ia menolak usulan Umar ra.
Umar tidak bisa berbuat apa-apa, lalu ia pamit pergi.
Keesokan harinya, Muadz bergegas ke rumah Umar. Sesampai di sana, ia langsung merangkul Umar dan menangis. Lalu ia berkata, “Semalam, aku bermimpi masuk kolam yang penuh air. Aku hampir tenggelam, lalu engkau datang menyelamatkanku.”
Setelah itu, keduanya menghadap Khalifah Abu Bakar ra. Muadz memohon kepada Khalifah untuk membagi dua kekayaannya. Khalifah menjawab, “Aku tidak akan mengambil sedikitpun dari kekayaanmu.”
Umar memandang Muadz dan berkata, “Sekarang, hartamu telah halal dan baik untuk dinikmati.”
Jika ada kekayaan Muadz yang diperoleh dengan cara yang haram tentu Khalifah Abu Bakar ra. yang shalih ini akan menyitanya. Umar juga tidak bermaksud menuduh Muadz yang bukan-bukan. Yang perlu diingat bahwa masa itu adalah masa gemilang, penuh dengan tokoh-tokoh utama yang berpacu mencapai puncak keutamaan. Di antara mereka ada yang berjalan secara santai, tak ubah burung yang terbang berputar-putar; ada yang berjalan cepat, dan ada pula yang berjalan perlahan. Mereka semua berjalan dalam kafilah yang sama: kafilah kebaikan. [Bersambung/dn]
Sumber : 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW/Khalid Muhammad Khalid/Al Itishom
.jpg)
0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !