Khalifahlife.com
- Ucapan Miqdad yang di kemukakan saat Rasulullah meminta pendapat pada sahabat,
tidak saja menggambarkan keberaniannya, tetapi juga melukiskan sikap bijaknya,
dan pola pikirnya yang mendalam.
Dan memang demikianlah sifat Miqdad.
Ia orang yang bijak, dan cara pandangnya sangat tajam. Itu tidak hanya terlihat
pada ucapannya, tetapi terlihat juga pada prinsip hidup dan perilakunya yang
lurus. Semua pengalamannya adalah sumber bagi sikap bijak dan pola pikirnya.
Ia pernah diangkat oleh Rasulullah
sebagai gubernur di suatu wilayah. Tatkala ia kembali dari tugasnya, Nabi
bertanya, “Bagaimana dengan jabatanmu?” Ia jawab dengan jujur, “Engkau telah
menjadikanku menganggap diri ini di atas rakyat sedang mereka di bawahku. Demi
yang telah mengutusmu membawa kebenaran, mulai saat ini saya tidak akan menjadi
pemimpin sekalipun untuk dua orang.”
Jika ini bukan sikap bijak, lantas
apa?
Jika dia bukan seorang yang bijak,
lantas apa?
Ia adalah seorang laki-laki yang tidak
tertipu oleh dirinya dan kelemahannya.
Ia menjadi gubernur, lalu dirinya
dikuasai kemegahan dan pujian. Kelemahan ini disadarinya hingga ia bersumpah
akan menghindarinya dan menolak untuk menjadi gubernur lagi setelah pengalaman
pahit itu.
Dan ia menepati janjinya itu. Sejak
saat itu, ia tak pernah menerima jabatan pemimpin.
Ia sering mengucapkan sabda Nabi
saw., yang berbunyi “Orang yang
berbahagia ialah orang yang dijauhkan dari kehancuran.”
Di antara sikap bijaknya adalah
kehati-hatiannya dalam menilai orang. Sikap ini juga ia pelajari dari
Rasulullah saw. Yang telah menyampaikan kepada umatnya, “Berubahnya hati
manusia lebih cepat dari periuk yang sedang mendidih.”
Miqdad sering menangguhkan penilaian
terakhir terhadap seseorang sampai dekat saat kematian mereka. Tujuannya ialah
agar orang yang akan dinilainya tidak mengalami hal baru lagi. Adakah perubahan
setelah kematian?
Sikap bijaknya terlihat sangat jelas
dalam dialog berikut. Seorang temannya menceritakan, “Suatu hari, kami duduk
dekat Miqdad. Tiba-tiba seorang laki-laki lewat dan berkata kepada Miqdad,
‘Sungguh berbahagialah kedua mata yang telah melihat Rasulullah saw. Ini. Demi
Allah, kami sangat senang jika dapat melihat apa yang kau lihat, dan
menyaksikan apa yang kau saksikan.”
Miqdad menghampirinya dan berkata,
“Apa yang mendorong kalian ingin menyaksikan peristiwa yang tidak
dipertontonkan oleh Allah, padahal kalian tidak tahu bagaimana kondisi kalian
jika menyaksikannya? Demi Allah, ada orang-orang yang hidup di masa Rasulullah
saw. Tapi mereka dijeremuskan Allah ke neraka jahannam. Sebaiknya kalian
bersyukur kepada Allah yang menghindarkan kalian dari sebagai orang-orang yang
beriman kepada Allah dan Nabi kalian!”
Sungguh satu sikap bijak yang luar
biasa.
Tidak seorang pun yang beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya yang kalian temui, kecuali ia menginginkann hidup di masa
Rasulullah dan dapat melihatnya.
Tetapi penglihatan Miqdad yang tajam
dapat menembus sesuatu yang tidak terjangkau oleh keinginan itu.
Bukankah tidak mustahil ia berada di
barisan orang-orang kafir?
Tidakkah lebih baik jika ia bersyukur
kepada Allah yang telah menghidupkannya di masa di mana Islam telah tersebar
luas, sehingga ia bisa melaksanakan ajaran Islam dengan mudah.
Demikianlah pandangan Miqdad,
memancarkan sikap bijak dan kecerdasan. Dan setiap tindakan dan ucapannya membuktikan
bahwa ia adalah orang yang bijak dan memiliki pola pikir yang mendalam.
Kecintaaan Miqdad kepada Islam tidak
terkira besarnya. Selain itu, ia orang yang bijak dan memahami permasalahan
dengan benar.
Cinta yang mendalam dan tertata menjadikan
pemiliknya sebagai orang yang istimewa. Ia tidak berhenti pada rasa cinta tapi
tahu akan semua konsekuensinya.
Inilah tipe Miqdad bin `Amr. Cintanya
kepada Rasulullah menumbuhkan rasa tanggung jawab atas keselamatan Rasulullah.
Setiap didengar ada kehebohan di Madinah, maka dengan secepat kilat Miqdad
telah berada di ambang pintu rumah Rasulullah menunggang kudanya, ambil
menghunus pedang atau tombaknya.
Cintanya kepada Islam menyebabkan
bertanggung jawab untuk membela ajaran Islam. Tidak saja dari tipu daya
musuh-musuhnya, tetapi juga dari kekeliruan rekan-rekannya sendiri.
Suatu ketika, ia berada dalam pasukan
kecil yang berhasil di kepung oleh pasukan musuh. Komandan pasukan
memerintahkan agar tidak seorang pun menggembalakan hewan tunggangannya. Tetapi
salah seorang anggota pasukan tidak mengetahui larangan itu, dan melanggarnya.
Sebagai akibatnya ia menerima hukuman yang rupanya lebih besar dari yang
seharusnya, atau bahkan ia semestinya tidak layak menerima hukuman.
Maqdad lewat di depan orang yang kena
hukuman itu. Orang itu sedang menangis dan berteriak-teriak. Ketika ditanya ia
mengisahkan apa yang telah terjadi. Miqdad menggandeng tangan orang itu, lalu
diajak pergi menghadap komandan. Terjadi dialog antara Miqdad dengan komandan.
Dan akhirnya, terbukti bahwa komandanlah yang bersalah.
Miqdad berkata kepada komandan,
“Sekarang berilah kesempatan kepadanya untuk melakukan qishash.”
Komandan itu patuh pada saran Miqdad.
Namun tentara itu memaafkan. Miqdad melihat pemandangan ini dengan takjub. Ia
mencium kebesaran Islam yang telah memberikan keluhuran. Ia berkata, “Saat aku mati,
Islam sudah dihormati.”
Itulah cita-citanya, yaitu kejayaan
Islam saat ia meninggal dunia. Ia perjuangkan cita-cita ini dengan penuh
kesabaran dan pengorbanan, bersama rekan-rekannya yang lain. Hingga ia layak
menyandang sabda Nabi saw., “Sesungguhnya Allah menyuruhku
menyayangimu, dan memberitahuku bahwa Dia menyayangimu.” [Tamat/dn]
Sumber : 60 Sirah
Sahabat Rasulullah SAW/Khalid Muhammad Khalid/Al Itishom

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !