Khalifahlife.com - Aliya bersungut-sungut dengan peluh yang membasahi
wajahnya, rasanya sangat tidak tepat bila ibu menegur Aliya soal buku-buku
Aliya yang ditaruh di dapur dan dipenuhi semut.
Yaa, mungkin Aliya belajar sambil membawa kue ke dalam kamar sehingga ketika
Aliya tertidur, sisa kue-kuenya menjadi jatah para semut yang mungkin sudah mengintai
sejak selepas adzan magrib berkumandang dan tak ayal, buku-buku Aliya dikerubungi
semut. Mungkin karena terburu-buru hendak ke sekolah dan saat ini try out-try out sudah berjalan dengan
penuh keseruan, Aliya melupakan dulu semut dan bukunya.
Try out ke-2 yang dilaksanakan
pada senin pagi tadi, yang sebenarnya Aliya tidak yakin mampu menyelesaikannya,
harus diakui merupakan latihan ujian yang membuat Aliya merasa minder dan cemas
menghadapi ujian nasional pada bulan mei nanti. Siapa sih di dunia ini yang tidak
cemas dengan yang namanya UN..? Walaupun artis tercantik sekalipun, aktor
terganteng sekalipun, pemain sepakbola terhebat sekalipun, kalau tahu bagaimana
rasanya jadi remaja yang mempunyai otak pas-pas-an, memiliki kedisiplinan yang
biasa-biasa saja, nafsu main juga tinggi, serta nafsu makan kurang dapat
dikendalikan, pasti akan stres menghadapi ujian nasional tingkat negara. Aliya
salah satu remaja yang serius menghadapi ujian nasional dengan segerombolan try
out-try outnya, juga merasakan tingkat stress yang sama, kepanikan yang
teratur, datang dan pergi, dan kemudian menunggu nilai akhir dengan wajah biasa
saja namun hati berdegup-degup.
Nilai try
out pertama Aliya cutup mencemaskan, Aliya merasa belum berani menghadapi
ibu maka Aliya pun memilih berjalan kaki untuk memperlambat waktu sampai ke rumah. Aliya yang waktu itu
berwajah berpeluh, alis mata agak dinaikkan dan raut wajah lesu cukup membuat hati
ibu iba. Namun ibu hanya diam saja ketika melihat Aliya juga memilih diam saja.
Ketika siang menjelang sore pada hari itu, Aliya terlihat merasa agak tenang
sedikit namun ibu masih enggan menyenggol Aliya dengan pertanyaan-pertanyaan,
karena khawatir akan membuat Aliya menjadi sensitif. Ibarat gelas agak retak,
maka Aliya harus diperlakukan hati-hati.
Ibu cukup bahagia kok punya anak ke-dua seperti
Aliya, selalu naik kelas, walaupun hampir
11 tahun bersekolah, Aliya belum pernah jadi juara kelas. Namun sikap Aliya
yang merasa wajib pakai jilbab dan anti pacaran serta malas
nongkrong-nongkorong di mal, sebagaimana layaknya anak gadis seusianya, cukup
membuat ibu merasa haru dan tidak banyak mengusik Aliya dengan permintaan ini
itu. Yaa, ibu tahu kok, akademik memang penting, tapi tidak sangat penting
dibandingkan keimanan. Ibu masih memegang prinsip bahwa keimanan bisa dibawa ke
dalam kubur, namun ijazah dengan angka delapan tidak bisa meluluskan manusia
dari pertanyaan malaikat munkar dan nakir di alam kubur.
Aliya termenung di dalam kamarnya, melihat
hasil nilai try out yang cenderung ke
angka 7. Angka 7 sebenarnya adalah angka yang Aliya suka, karena angka 7 baginya
terkesan misterius dan kebetulan juga tanggal lahirnya Aliya jatuh ditanggal 7.
Namun Aliya tidak begitu peduli dengan
segala macam mistik angka 7, gak penting..! yang penting sekarang adalah bagaimana
memenuhi harapan ayah dan ibu yang sudah berkali-kali merencanangkan dan
membicarakan sekolah Persada Nusantara yang mana semua anaknya pintar-pintar.
Untuk nilai nem-nya saja disekolah tersebut di atas 9 dan untuk diterimanya
harus melewati penyaringan berkali-kali seperti teh, yang akhirnya menjadi
jernih.
Aliya menyadari bahwa dirinya kurang mampu,
karena itu adalah sekolah para bintang. Namun membayangkan wajah ayah yang
penuh harapan serta senyum ibu yang penuh keinginan agar Aliya bisa diterima di
SMU Persada Nusantara membuat Aliya menjadi gelisah. Jujur Aliya juga kesal
dengan sekolah yang hanya mau menerima para orang pinter saja, sehingga yang
tidak pinter bakalan jadi rakyat pinggiran dan yang pinter bias jadi seperti
pejabat yang tinggal dikantor mewah. Dari gaya jalannya juga bisa berubah lho kalau
diterima di sekolah yang mayoritas anaknya atau bahkan keseluruhan anaknya
cerdas cerdas.
Aliya menulis dalam diarynya, mengungkapkan isi
hatinya: dear diary, kamu tahu gak, betapa gak enaknya jadi anak yang otaknya
biasa-biasa saja yang sudah niat belajar sungguh-sungguh, namun karena rasa
kantuk menyerang dengan hebat ketika buku-buku mulai dibuka maka memilih tidur
sejenak dengan nyenyaknya yang kemudian malah bangunnya di pagi hari yaitu sebelum
subuh yang akhirnya langsung untuk belajar dan belajar. Akhir cerita, aku hanya
mendapat nilai 6 atau 7 saja. Hal ini kemudian membuat orangtuaku yang penuh harapan
agar masuk sekolah terbaik, sementara disana-sini bermunculan sekolah yang
hanya mau terima anak-anak pinter saja. Menurutku yaa diary, seharusnya sekolah
yang baik itu adalah sekolah yang mampu mendidik anak-anak dari yang tidak
pintar menjadi pintar, dari yang tidak disiplin menjadi disiplin, dari yang berotak
udang kayak aku gini menjadi otak lobster, yang menerima anak-anak dengan wajah
cemerlang namun nilai pas-pasan. Dear diary, menurutku seharusnya ditutup saja
sekolah untuk para bintang, karena sekolah macam itu hanya menerangi bintang,
artinya sudah pinter lalu diasah agar semakin pintar sehingga guru-guru yang bagus
hanya ngurusin yang pintar dan tidak tersisa lagi guru yang pintar untuk anak
yang tidak pintar kayak aku ini. Dear diary, coba bantu aku bertanya pada
mereka, buat apa bikin sekolah yang
hanya menerangi para bintang..??
Penulis : Fifi P. Jubilea (Founder and Conceptor Jakarta Islamic School)

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !