Menerangi Bintang - Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia
Headlines News :
Home » , » Menerangi Bintang

Menerangi Bintang

Wednesday, November 19, 2014 | 1:21 PM



Khalifahlife.com - Aliya bersungut-sungut dengan peluh yang membasahi wajahnya, rasanya sangat tidak tepat bila ibu menegur Aliya soal buku-buku Aliya yang ditaruh di dapur dan dipenuhi semut.  Yaa, mungkin Aliya belajar sambil membawa kue ke dalam kamar sehingga ketika Aliya tertidur, sisa kue-kuenya menjadi jatah para semut yang mungkin sudah mengintai sejak selepas adzan magrib berkumandang dan tak ayal, buku-buku Aliya dikerubungi semut. Mungkin karena terburu-buru hendak ke sekolah dan saat ini try out-try out sudah berjalan dengan penuh keseruan, Aliya melupakan dulu semut dan bukunya.

Try out ke-2 yang dilaksanakan pada senin pagi tadi, yang sebenarnya Aliya tidak yakin mampu menyelesaikannya, harus diakui merupakan latihan ujian yang membuat Aliya merasa minder dan cemas menghadapi ujian nasional pada bulan mei nanti. Siapa sih di dunia ini yang tidak cemas dengan yang namanya UN..? Walaupun artis tercantik sekalipun, aktor terganteng sekalipun, pemain sepakbola terhebat sekalipun, kalau tahu bagaimana rasanya jadi remaja yang mempunyai otak pas-pas-an, memiliki kedisiplinan yang biasa-biasa saja, nafsu main juga tinggi, serta nafsu makan kurang dapat dikendalikan, pasti akan stres menghadapi ujian nasional tingkat negara. Aliya salah satu remaja yang serius menghadapi ujian nasional dengan segerombolan try out-try outnya, juga merasakan tingkat stress yang sama, kepanikan yang teratur, datang dan pergi, dan kemudian menunggu nilai akhir dengan wajah biasa saja namun hati berdegup-degup.

Nilai try out pertama Aliya cutup mencemaskan, Aliya merasa belum berani menghadapi ibu maka Aliya pun memilih berjalan kaki untuk memperlambat  waktu sampai ke rumah. Aliya yang waktu itu berwajah berpeluh, alis mata agak dinaikkan dan raut wajah lesu cukup membuat hati ibu iba. Namun ibu hanya diam saja ketika melihat Aliya juga memilih diam saja. Ketika siang menjelang sore pada hari itu, Aliya terlihat merasa agak tenang sedikit namun ibu masih enggan menyenggol Aliya dengan pertanyaan-pertanyaan, karena khawatir akan membuat Aliya menjadi sensitif. Ibarat gelas agak retak, maka Aliya harus diperlakukan hati-hati.

Ibu cukup bahagia kok punya anak ke-dua seperti Aliya, selalu naik kelas, walaupun hampir  11 tahun bersekolah, Aliya belum pernah jadi juara kelas. Namun sikap Aliya yang merasa wajib pakai jilbab dan anti pacaran serta malas nongkrong-nongkorong di mal, sebagaimana layaknya anak gadis seusianya, cukup membuat ibu merasa haru dan tidak banyak mengusik Aliya dengan permintaan ini itu. Yaa, ibu tahu kok, akademik memang penting, tapi tidak sangat penting dibandingkan keimanan. Ibu masih memegang prinsip bahwa keimanan bisa dibawa ke dalam kubur, namun ijazah dengan angka delapan tidak bisa meluluskan manusia dari pertanyaan malaikat munkar dan nakir di alam kubur.

Aliya termenung di dalam kamarnya, melihat hasil nilai try out yang cenderung ke angka 7. Angka 7 sebenarnya adalah angka yang Aliya suka, karena angka 7 baginya terkesan misterius dan kebetulan juga tanggal lahirnya Aliya jatuh ditanggal 7. Namun Aliya tidak begitu peduli  dengan segala macam mistik angka 7, gak penting..! yang penting sekarang adalah bagaimana memenuhi harapan ayah dan ibu yang sudah berkali-kali merencanangkan dan membicarakan sekolah Persada Nusantara yang mana semua anaknya pintar-pintar. Untuk nilai nem-nya saja disekolah tersebut di atas 9 dan untuk diterimanya harus melewati penyaringan berkali-kali seperti teh, yang akhirnya menjadi jernih.

Aliya menyadari bahwa dirinya kurang mampu, karena itu adalah sekolah para bintang. Namun membayangkan wajah ayah yang penuh harapan serta senyum ibu yang penuh keinginan agar Aliya bisa diterima di SMU Persada Nusantara membuat Aliya menjadi gelisah. Jujur Aliya juga kesal dengan sekolah yang hanya mau menerima para orang pinter saja, sehingga yang tidak pinter bakalan jadi rakyat pinggiran dan yang pinter bias jadi seperti pejabat yang tinggal dikantor mewah. Dari gaya jalannya juga bisa berubah lho kalau diterima di sekolah yang mayoritas anaknya atau bahkan keseluruhan anaknya cerdas cerdas.

Aliya menulis dalam diarynya, mengungkapkan isi hatinya: dear diary, kamu tahu gak, betapa gak enaknya jadi anak yang otaknya biasa-biasa saja yang sudah niat belajar sungguh-sungguh, namun karena rasa kantuk menyerang dengan hebat ketika buku-buku mulai dibuka maka memilih tidur sejenak dengan nyenyaknya yang kemudian malah bangunnya di pagi hari yaitu sebelum subuh yang akhirnya langsung untuk belajar dan belajar. Akhir cerita, aku hanya mendapat nilai 6 atau 7 saja. Hal ini kemudian membuat orangtuaku yang penuh harapan agar masuk sekolah terbaik, sementara disana-sini bermunculan sekolah yang hanya mau terima anak-anak pinter saja. Menurutku yaa diary, seharusnya sekolah yang baik itu adalah sekolah yang mampu mendidik anak-anak dari yang tidak pintar menjadi pintar, dari yang tidak disiplin menjadi disiplin, dari yang berotak udang kayak aku gini menjadi otak lobster, yang menerima anak-anak dengan wajah cemerlang namun nilai pas-pasan. Dear diary, menurutku seharusnya ditutup saja sekolah untuk para bintang, karena sekolah macam itu hanya menerangi bintang, artinya sudah pinter lalu diasah agar semakin pintar sehingga guru-guru yang bagus hanya ngurusin yang pintar dan tidak tersisa lagi guru yang pintar untuk anak yang tidak pintar kayak aku ini. Dear diary, coba bantu aku bertanya pada mereka, buat apa bikin  sekolah yang hanya menerangi para bintang..??

Penulis : Fifi P. Jubilea (Founder and Conceptor Jakarta Islamic School)

Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
KANAL : REDAKSI | IKLAN | HUBUNGI KAMI
Copyright © 2011. Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger