Khalifahlife.com - “Parenting,” istilah keren untuk
orangtua yang belajar kiat-kiat menjadi orangtua yang berhasil. Parenting ini
terkenal dimana-mana dan pengikutnya tidak habis-habis, karena setiap hari ada saja
orang yang menikah yang kemudian mempunyai anak lalu anaknya bertambah besar
dan besar sehingga merasa perlu mengikuti kegiatan parenting. Jangankan orang
awam, bahkan seorang trainer dan pendidik sekalipun merasa perlu belajar dari
seseorang atau membaca buku atau juga diskusi tentang pendidikan anak.
Fase-fase dalam mendidik anak
juga selalu dinamis. Dimulai dari anak bayi, lalu balita, lalu pra-remaja,
remaja dan seterusnya. Bahkan sebetulnya ketika sudah menikah pun, anak tetap
saja anak dan mendidik anak yang sudah menikah, mempunyai seninya tersendiri. Maka
ketika menjadi orangtua tidak ada istilah
berhenti untuk belajar. Terkadang seorang pendidik terkaget-kaget melihat
kenyataan yang terjadi pada anaknya sendiri dan berpikir “kok lain yah dengan
teori yang dijelaskan dan didapatkan dari mana mana.
Jawabannya adalah ternyata setiap
anak diciptakan berbeda. Jangankan dengan anak yang berbeda keluarga, anak yang
dari satu rahim saja memiliki karakter yang berbeda. Apalagi dari lain rahim
dari berbagai suku, berbagai bangsa pasti berbeda-beda juga. Oleh karena itu
terkadang belum tentu suatu metode pendidikan untuk anak kita, akan cocok juga
dengan anak dari tetangganya.
Metode pendidikan selalu
berkembang dan berubah-ubah dengan sangat bervariasi. Kesesuaian metode pendidikan
yang dapat dipakai oleh orangtua bila kebetulan ada kasus-kasus yang terjadi
yang sama dengan kondisi anaknya walaupun belum tentu sama seratus persen. Sebenarnya yang paling mengerti kemauan anaknya
adalah orangtuanya sendiri karena mereka hidup bertahun-tahun bersama sejak anak
lahir sampai beranjak dewasa, tinggal diatap yang sama dan memiliki kultur yang
sama, karena itu ketika akhirnya orangtua tidak percaya diri dan malah
mengalihkan pendidikan anak pada orang lain, jangan salahkan pihak lain bila
tidak tepat dalam mendidik anak-anak.
Seringkali orangtua tidak percaya
diri, mungkin karena terlalu sayang pada anak namun menginginkan penddikan yang
terbaik yang dia yakin bisa didapat dari orang lain atau institusi di luar
keluarga yang dikenalnya, atau mungkin juga karena orang tua merasa dia kurang ilmunya.
Sebetulnya mendidik anak sendiri itu bisa dilakukan oleh orangtua manapun asalkan
orangtuanya mempersiapkan dirinya terlebih dahulu. Orangtua ingin anak yang seperti
apa, maka dibuatlah langkah-langkah yang harus diterapkan dalam mendidik anak,
namun ketahuilah bahwa siapapun di dunia ini, anak siapapun dia, baik itu anak
ayam, anak kucing, anak kambing atau anak manusia, mereka belajar pertamakali
dan seterusnya dari lingkungan terdekatnya.
Anak kucing belajar menjilati
tubuhnya dan menggunakan pasir untuk menyimpan kotorannya, anak burung belajar
makan ulat, itu semua karena dilihat dari sejak kecil dilingkungan sesamanya.
Contoh lain adalah seorang anak dari Amerika, dia makannya kentang bukan nasi dikarenakan
semua orang dilingkungannya di daerahnya makan kentang tidak nasi. Begitu pula
di Indonesia, semua anak makan nasi karena semua orang di seluruh Indonesia
yang dilihat dan yang dikenalnya makan
nasi. Perpaduan yang sedap dan lezat bagi anak Indonesia adalah makan daging
pedas rendang dipadu dengan nasi panas, namun di barat orang makan daging
dengan bumbu bakar dan kentang.
Jadi kembali pada pendidikan
anak, seharusnya orangtua membentuk lingkungan yang baik yang sesuai dengan
keinginan orangtua dalam tujuan pendidikannya. Maka bila anak mendapat
lingkungan yang baik dalam pembentukan pendidikan, niscaya orangtua akan mendapatkan
anak yang baik pula. Jadi, tidak usah berpikir untuk menyerahkan pendidikan
anak kepada pihak lain. Seharusnya orangtua lah yang wajib memiliki ilmu dalam
pendidikan dan memberikan lingkungan yang baik bagi si anak agar anak-anak menjadi
anak yang sesuai harapan.

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !