Sering Dilecehkan, Muslimah Berjilbab Pertimbangkan untuk Pindah dari Prancis - Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia
Headlines News :
Home » , » Sering Dilecehkan, Muslimah Berjilbab Pertimbangkan untuk Pindah dari Prancis

Sering Dilecehkan, Muslimah Berjilbab Pertimbangkan untuk Pindah dari Prancis

Wednesday, October 22, 2014 | 9:09 PM

KhalifahLife.com | Satu dekade setelah larangan jilbab dimulai pada tahun 2004, Muslimah berjilbab di Prancis harus berjuang melawan kesalahpahaman, pelanggaran hak dan serangan Islamofobia untuk mendapatkan penerimaan sosial di masyarakat, dengan beberapa dari mereka melihat imigrasi sebagai satu-satunya solusi untuk kehidupan yang lebih baik.

"Saya mengatakan pada diriku sendiri bahwa masa depan saya mungkin tidak di sini," kata Sarah B. dalam sebuah wawancara di sebuah restoran cepat saji di Paris, seperti dilaporkan Women's eNews Selasa kemarin (21/10/2014).

"Jika saya tidak dapat diterima, saya akan pergi. Saya tidak ingin melawan seluruh hidup saya hanya untuk diterima. Saya juga ingin hidup damai dan bebas seperti wanita lain."

Sarah merupakan gadis berusia 18 tahun berasal dari pinggiran kota Paris.

Muslimah muda mengatakan selama lima tahun ia semakin serius mempertimbangkan untuk meninggalkan Prancis.

"Mungkin Kanada atau Inggris. Atau saya hanya akan kembali ke tanah air orangtua saya di Maroko," tambahnya.

Penderitaannya di negara kelahirannya dimulai setelah ia memutuskan untuk berjilbab pada tahun 2011.

Larangan jilbab pada tahun 2004, ia terpaksa harus melepas jilbabnya setiap kali ia memasuki sekolah tinggi tempat studi keperawatan nya.

"Saya suka Prancis. Ini adalah negara yang telah menawarkan saya banyak hal tapi saya juga berhak atas kebebasan saya. Saya memiliki hak untuk menjadi diri saya sendiri," ujar Sarah. "Rasanya sakit," katanya, ketika ditanya tentang bagaimana perasaannya ketika dia harus melepas jilbabnya ketika masuk ke sekolah.

"Hal pertama ketika Anda tinggal di sini adalah harus merasa seperti waga Prancis, tapi saya tidak merasa seperti orang Prancis. Masalahnya adalah kami tidak akan pernah dilihat sebagai orang Prancis, kita hanya dilihat sebagai Muslim," tambah Sarah.

Pada tahun 2004, Prancis melarang Muslim mengenakan jilbab di tempat umum. Beberapa negara Eropa mengikuti langkah Prancis.

Prancis juga melarang pemakaian cadar di depan umum pada tahun 2011. Mereka yang tidak akan melepas cadar mereka akan harus membayar denda sebesar 150 euro ($ 190).

Di tempat kerja, diskriminasi terhadap Muslimah berjilbab terjadi selama satu dekade terakhir.

Alih-alih meninggalkan Prancis, beberapa Muslimah memilih e-working di mana mereka bisa tersembunyi dari masyarakat atau bekerja dari belakang layar.

Lainnya memilih tren lain dengan, meluncurkan situs e-marketing untuk menjual produk mereka sendiri berupa industri makanan halal, kosmetik dan kecantikan, produk farmasi dan permainan belajar bagi anak-anak.

Namun demikian, imigrasi tampaknya satu-satunya solusi bagi banyak Muslimah yang menghadapi pelecehan di tangan orang-orang Prancis, hanya karena mereka mengenakan jilbab.

Laila Glovert, 33 tahun, yang meninggalkan Prancis empat tahun lalu ke London setelah dipukul beberapa kali dengan troli belanja sewaktu berjalan-jalan di Paris.

Meninggalkan negara asalnya, dia kemudian bekerja sebagai penasihat kesehatan di klinik London untuk membantu orang berhenti merokok.

"Say tidak pernah akan kembali ke Prancis," tegas Glovert, yang masuk Islam 13 tahun lalu, mengatakan kepada Women's eNews dalam sebuah wawancara email.[af/onislam]
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
KANAL : REDAKSI | IKLAN | HUBUNGI KAMI
Copyright © 2011. Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger