Khalifahlife.com - Siang yang terik kulalui dengan duduk di ruang tamu dan menonton telvisi, tidak ada acara yang menarik dan mendidik, segera chanel berganti dengan cepat, dan akhirnya ketika sudah bosan dan lelah, tombol off pun sudah siap kutekan. Mataku terpaku pada sebuah iklan telvisi yang menayangkan sebuah kejadian yang sangat mengharukan.
Dimulai dengan adegan seoarang nenek sedang menggunting pohon mawar. Tak lama datang suaminya, seorang kakek yang berwajah segar dengan rambut sudah memutih membawa selang air. Sang kakek terihat mesra mendampingi nenek menyiangi kebun yang luas dan cantik.
Adegan ditimpali oleh tingkah si kakek mendapati mainan mobil-mobilan di gudang dekat kebun milik anak bungsunya yang sekarang sudah berunur 30 tahun.
Sambil mengelus mobil mainan tersebut, si kakek terbayang sewaktu anak bungsunya yang gembul dan lucu memonyongkan mulutnya menangis minta ayahnya mendorong mobil mobilan. Di sisi lain dari kebun tersebut istrinya (digambarkan si nenek sewaktu masih muda) sedang mengiris kue dengan anak gadisnya yang sekarang sudah berusia 35 tahun. Di sebelah meja di pinggir kebun yang cantik itu, seorang anak lelaki remaja sedang duduk mengangkat kaki sambil membaca buku dengan kacamata bertengger di hidungnya.
Sejenak sang kakek kembali ke alam nyatanya, yaitu sekarang mereka hanya tinggal berdua saja, dan semua anak sudah pergi mencari penghidupan dan masa depan masing-masing.
Sayup sayup kakek mendengar nenek, istrinya yang masih cantik walau rambut sudah memutih, sedang menelpon anaknya satu persatu. “Kenapa Dinaa, kamu enggak bisa apa ninggalin praktek, kan setiap hari kamu praktek? Sudah berapa lama kamu tidak singgah ke rumah ibu? Bukankah besok seharusnya libur, dan jarang-jarang lho bapak mau dirayakan ulang tahunnya dengan segala macam pesta. Apalagi pesta ulang tahun yang memang tidak ada dalam Islam. Tapi kali ini ibu sengaja, Nak, membuat event itu sebagai ajang pertemuan kita sekelaurga. Eh kamu malah sibuk praktek terus menerus. Apakah uangmu sekarang masih juga tidak cukup...?” demikian nenek mengungkapkan kekesalan dan kekecewaan pada
Dina anak gadisnya yang sudah punya suami dan 3 orang anak. Namun kesibukannya sebagai seorang dokter membuat dia hampir tidak pernah berkunjung menjenguk ayah dan ibunya.
Diam-diam kakek mengeluh dalam hatinya karena ternyata kakek pun baru saja mendapat sms dari putra bungsunya yang meminta pengertian ayahnya untuk tidak dijenguk selama 4 bulan ini. Ia harus berlayar ke 4 negara di Eropa. Ya bungsunya yang dulu diingat berpipi montok dan lucu, sekarang sudah menjadi pelaut dan harus berlayar sepuluh bulan dalam setahun.
Waktu dua bulan yang tidak berlayar pun sudah dihabiskannya untuk bermain dan bersenang senang bersama kawan-kawannya.
Hanya 3 hari sebelum si bungsu berlayar lagi, dia datang dan pamit pada ayah dan ibunya, itupun banyak sisa waktu dihabiskan untuk tidur atau mengurung diri dikamar dengan facebook-nya.
Adegan berikut digambarkan kedatangan si anak sulung lelaki dengan mobil mewah dan mengenakan dasi serta jas yang tampak licin tersetrika. Itu pun hanya datang mencium tangan ayah dan ibunya. Rupanya kedatanagnnya hanya untuk mengambil jam tangan istrinya yang tertinggal dikamar mandi, sewaktu mereka berkunjung dua buan yang lalu. Dengan bergegas si anak sulung yang gagah dan gaya, mencium kening ibunya dan tangan ayahnya dan dengan setengah berlari keluar memacu mobil mewahnya meninggalkan rumah masa kecilnya bersama ayah ibu yang sudah tua yang hanya mampu terdiam melihat fenomena yang ada.
Airmataku berlinang sempurna, perlahan namun pasti adegan iklan itu begitu menyentuh hatiku.
Walau tujuan dari pada adegan iklan itu sebetulnya menawarkan pasangan manula untuk pergi bersiar dengan layanan istimewa ketika anak dan cucu sudah tidak peduli lagi karena masing-masing sudah sibuk sendiri, namun cuplikan adegan sebelum pesan dari perusahaan kapal pesiar itu membuat aku manjadi berfikir tentang orang tuaku dan juga tentang diriku bila sudah tua nanti.
Betapa pentingnya seorang anak untuk tidak meninggalkan orang tuanya dalam keadaan tua dan renta dengan segenap kerinduan di dada terhadap kedekatan dan masa kecil dengan anak-anak yang begitu jelas terekam dalam benak orang tua yang sudah renta.
Ada baiknya juga bila kenangan anak-anak kita sewaktu mereka masih kecil kita rekam dalam bentuk video agar bila sudah tua nanti mereka ingat apa yang telah dilakukan oleh ayah ibunya.
Dengan video itu mudah-mudahan membuat mereka teringat bagaimana besar pengorbanan ayah dan ibu dalam menyenangkan anak-anaknya, dimana hal itu tidak cukup hanya dengan berkunjung sesekali saja.
Ingatlah, penyesalan itu mungkin akan ada, ketika ternyata waktu berjalan terus dan kita menjumpai telpon yang lambat kita angkat karena sibuk dengan kerjaan kita, terus berdering. Ketika hand phone kita angkat, sebuah berita disampaikan melalui sms dengan jengkel karena lambatnya hand phone diangkat.
“Ibu sudah meninggal, sakit, kamu dimana sih, telepon angkat dong..!” wass, bapak!.
Dan isak tangis yang terjadi kemudian rasanya percuma. Perlukah kita harus meninggal dulu sebagai orang tua, barulah anak-anak kita bergegas mengunjungi kita dengan istri dan anaknya. Entahlah, namun kurasa kedekatan orang tua dan anak harus terus dipupuk dan dibangun agar anak-anak ketika sudah dewasa menyadari bahwa masih ada orang tua yang harus dijenguk sebanyak waktu yang kita punya, bukan hanya untuk kerja dan keluarga kita saja.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kami jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai, Rabb-ku, kasihilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’” (QS. Al-Israa': 23-24)
Penulis : Fifi P. Jubilea (Founder and Conceptor Jakarta Islamic School)

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !