Khalifahlife.com - Buku adalah gudang ilmu, begitu kata
pepatah. Tetapi di era digital ini, sangat sulit untuk membuat anak suka
membaca, mereka lebih menyukai menonton televisi yang lebih visual atau bermain
games di komputer, tablet atau handphone. Namun, sedikit sekali tayangan
televisi atau games yang baik untuk perkembangan anak-anak. Mohammad Fauzil
Adhim yang aktif menulis tentang keluarga dan pelatihan parenting membagikan
kisahnya tentang usaha untuk menjadikan anak suka membaca. Berikut penuturan
kisahnya.
Anak saya tujuh. Sebelum anak
pertama lahir, salah satu obsesi kami memang ingin menjadikan anak senang
membaca. Untuk itu, saya berusaha mempelajari berbagai teori tentang
mengajarkan membaca kepada anak sejak usia paling dini. Ada berbagai macam
literatur, tetapi intinya anak-anak memerlukan buku-buku yang secara khusus
dirancang untuk anak, berbahan tebal, warnanya atraktif, sedikit tulisan banyak
gambar (wordless picture book) dan yang jelas: harga buku semacam itu sangat
mahal untuk ukuran kami yang baru menikah. Apalagi sama-sama masih kuliah.
Tapi demi sebuah cita-cita, kami
tetap berusaha membeli buku-buku yang khusus dirancang untuk anak tersebut.
Mahal memang, tapi cita-cita memang memerlukan pengorbanan. Kami bacakan buku
kepada anak pertama saya, Fathimatuz Zahra, semenjak kira-kira usia 6 minggu.
Bisa apa anak di usia itu? Yang paling pokok bukan bisa atau tidak. Yang paling
penting ketika itu adalah membentuk reading pattern (pola membaca)
sehingga anak “memiliki kebutuhan membaca” pada waktu-waktu tersebut. Kami
membacakan buku untukFathimah sehabis memandikannya, serta saat anak menetek
mau tidur. Ini kemudian memang menjadi pola di usia-usia berikutnya. Ini pula
yang berperan penting menjadikan anak suka membaca sehingga usia 4 tahun sudah
lancar membaca. Tetapi mampu membaca di usia 4 tahun sama sekali bukan target.
Tidak penting usia berapa membaca. Yang paling penting adalah ada tidaknya,
kuat tidaknya, sikap positif terhadap membaca yang akan berperan penting
membentuk budaya membaca.
Saya justru menghindari mengajari
anak agar terampil membaca sebelum usia 7 tahun. Dari berbagai riset dan
pengalaman berbagai negara maju, pembelajaran membaca secara formal sebaiknya
dimulai usia 7 tahun. Jika anak lancar membaca sebelum masuk sekolah dasar, itu
semata karena anak sangat tertarik membaca sehingga akhirnya terdorong untuk
belajar membaca.
Lebih baik terampil membaca
belakangan, tetapi minat baca sangat besar dan rasa ingin tahu terhadap ilmu
begitu tinggi daripada lancar membaca saat masih TK, tapi baru di sekolah
menengah saja gairah mereka membaca sudah tidak ada. Ini bisa terjadi manakala
kita hanya sibuk mengajari membaca. Bukan membuatnya tertarik.
Saya tidak berpanjang-panjang dengan
masalah ini. Kembali pada pengalaman mengasuh anak agar suka membaca. Jika pada
anak pertama dan kedua kami memang berusaha keras agar dapat membelikan
buku-buku yang khusus dirancang untuk anak, belakangan kami lebih menekankan
pada bagaimana anak akrab dengan suasana membaca. Sehari-hari anak melihat
bahwa membaca itu asyik,membaca itu membuka wawasan dan menambah pengetahuan,
membaca itu jalan untuk meraih ilmu yang bermanfaat. Medianya tak harus buku
yang khusus dirancang untuk anak. Kami menceritakan apa saja yang kami
baca, berdiskusi atau merisaukan apa yang dibahas di surat kabar maupun
buku, dan kadang melibatkan anak dalam pembicaraan penting yang ada di buku.
Kami sering menjadikan buku sebagai acuan; sumber rujukan. Disamping itu, anak
memang akrab dengan buku. Dimana-mana ada buku; ruang tamu, kamar pribadi,
ruang tengah, mobil dan tas untuk bepergian ada buku. Ini memberi “pesan” kepada
anak bahwa buku itu penting.
Pada anak-anak berikutnya, kami
membacakan tidak secara khusus buku untuk anak seusianya. Dalam buku Membuat
Anak Gila Membaca, memang kami sempat membahas bahwa kita perlu membacakan
buku benar-benar sesuai usianya. Tapi dalam perkembangannya, kami mendapati
tidak demikian. Menjadikan anak suka membaca tidak harus dengan mengeluarkan
uang besar untuk membeli buku-buku eksklusif. Yang paling penting adalah
kesediaan kita mendampingi anak membaca.
Ada memang sejumlah buku yang
“khusus anak usia balita.” Ini sisa kakaknya, meskipun sudah banyak yang sobek.
Ada juga hadiah. Tapi yang paling penting adalah mengakrabkan dan menjadikan
anak merasa bahwa buku sangat berharga. Ini akan lebih mudah lagi manakala di
rumah tidak ada TV.
Jika untuk menjadikan anak
suka membaca tak harus berbiaya tinggi, mengapa kita harus grogi sebelum
memulai? Koran bekas, kertas yang sudah tak terpakai dan buku apa pun yang
bagus isinya meskipun seakan bukan untuk anak, semuanya merupakan media
mengenalkan membaca kepada anak sekaligus menjadikan mereka suka baca.
Murah bukan?
Biayanya mungkin murah, dapat
menggunakan media buku/tulisan apa saja, namun terkadang sulit dilakukan tanpa
komitmen dari orang tua. Waktu orang tua yang terbatas khususnya bagi yang
kedua orang tua bekerja, ataupun misalnya jika ayah bekerja dan ibu di rumah
tetapi kemudian sudah kehabisan tenaga dengan berbagai pekerjaan rumah. Tetapi
tentunya semua itu kembali kepada kita sebagai orang tua, apa yang kita
harapkan dari anak-anak kita dan apa yang terbaik bagi anak kita, tentu harus
ada pengorbanan. Pengaturan waktu dan komitmen adalah keharusan, luangkan waktu
untuk membaca bersama anak-anak dan istiqomah untuk terus menjalankannya.
InsyaAllah semua usaha dan pengorbanan kita akan berbuah pahala dan semoga
kebaikan akan tertanam dalam diri anak kita melalui bacaan-bacaan yang baik.
Yuk, biasakan budaya membaca dan
batasi intensitas anak-anak kita dengan televisi khususnya pada
tayangan-tayangan yang tidak mendidik.
sumber kisah :
http://ridhoadhie.wordpress.com/2013/07/01/menjadikan-anak-suka-membaca-by-mohammad-fauzil-adhim/

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !