Sa’id Bin ‘Amir [1] – Gubernur yang Zuhud - Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia
Headlines News :
Home » , , » Sa’id Bin ‘Amir [1] – Gubernur yang Zuhud

Sa’id Bin ‘Amir [1] – Gubernur yang Zuhud

Monday, November 24, 2014 | 6:20 PM



Khalifahlife.com - Adakah yang mengenal namanya?

Siapakah di antara kita yang pernah mendengarnya sebelum ini?

Bisa jadi, kebanyakan dari kita, atau bahkan kita semua, belum pernah mendengarnya sama sekali.

Dan saya yakin, kalian sekarang bertanya-tanya, siapakah kiranya Sa’id bin `Amir ini?

Tentu! Sebentar lagi kalian akan mengetahui siapakah Sa’id.

Sa’id adalah satu dari deretan sahabat Rasulullah yang ditokohkan, meskipun namanya tidak seterkenal nama-nama lain. Ia teladan dalam ketakwaan yang tidak mau menonjolkan diri.

Mungkin ada baiknya kita kemukakan di sini bahwa ia tidak pernah absen dalam semua perjuangan dan jihad yang dihadapi Rasulullah saw. Tetapi, itu telah menjadi pola dasar kehidupan semua orang Islam. Tidak selayaknya bagi orang yang beriman akan tinggal berpangku tangan dan tidak mengambil bagian dalam peristiwa yang dihadapi Nabi, baik di kancah peperangan maupun di luar arena perang.

Sa’id memeluk Islam tidak lama sebelum pembebasan Khaibar. Dan sejak memeluk Islam dan berbai’at kepada Rasulullah saw, seluruh kehidupannya, segala wujud dan cita-citanya dibaktikan kepada Islam dan Rasulullah. Ketaatan, kezuhudan, keshalihan, keluhuran, ketinggian, dan semua sifat baik ada pada manusia suci dan baik ini. Dia-lah saudara tua kita.

Jika kita ingin melihat kebesarannya, kita harus jeli dan cermat agar tidak terkecoh, dan akhirnya kita bisa mendapati kebesaran itu.

Ketika mata kita tertuju kepada Sa’id di tengah keramaian, kita tidak akan mendapati sesuatu yang menarik. Mata kita hanya akan mendapati seorang prajurit lusuh dengan rambut tidak terurus. Pakaian dan penampilannya tidak beda dengan orang-orang miskin lainnya. Jika ini yang kita jadikan pedoman, tentu kita tidak akan mendapati sesuatu. Kebesaran laki-laki ini lebih sejati dibandingkan hanya berupa penampilan luar dan kemewahan. Ia jauh tersembunyi di sana, di balik kesederhanaan dan kesahajaannya. Apakah kalian tahu mutiara yang terpendam di perut kerang? Nah, keadannya mirip seperti itu.

Ketika Khalifah Umar bin Khaththab memecat Mu’awiyah dari jabatannya sebagai gubernur wilayah Syam, ia mencari-cari penggantinya.

Metode pencarian yang digunakan Khalifah Umar sangat hati-hati, karena ia yakin bahwa apapun kesalahan yang dilakukan oleh pimpinan daerah maka orang yang pertama kali dimintai pertanggung jawab oleh Allah adalah pemimpin tertinggi, yaitu dirinya sendiri. Setelah itu pimpinan daerah. Standar penilaian pun dibuat sesempurna dan secermat mungkin.     

Syam saat itu adalah wilayah yang sudah maju dan cukup luas. Sementara itu, kehidupan di sana sebelum datangnya Islam mengikuti peradaban yang silih berganti. Selain itu, Syam merupakan pusat perdagangan yang penting dan tempat yang tepat untuk bersenang-senang. Syam wilayah yang penuh godaan. Karena itu, yang cocok menjadi gubernur Syam adalah orang suci yang ditakuti oleh setan apa pun. Orang suci yang zuhud, ahli ibadah, taat pada agama, dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah.

Tiba-tiba Umar berseru, “Aku sudah menemukannya! Panggilah Sa’id bin `Amir.”

Kemudian, Sa’id menghadap Khalifah, dan ditawari untuk menjadi gubernur Syam yang berpusat di Hims. Tetapi Sa’id menolak, “Jangan hadapkan aku dengan ujian berat, wahai Khalifah.”

Dengan nada keras Umar menjawab, “Demi Allah, kau tidak boleh menolak. Kalian sudah meletakkan amanah dan tanggung jawab pemerintahan kepadaku, lalu setelah itu kalian meninggalkan aku sendiri?”

Sa’id pun menerima tanggung jawab itu. Dan memang ucapan Khalifah Umar itu layak mendapatkan hasil yang diharapkan. Sungguh tidak adil bila mereka membebankan tanggung jawab sebagai Khalifah kepada Umar, lalu mereka meninggalkannya mengurus pemerintahan sendirian. Jika orang-orang seperti Sa’id bin `Amir menolak untuk memikul tanggung jawab, lantas di mana Khalifah Umar akan mendapat orang yang bisa membantunya memikul tanggung jawab berat ini.             

Maka berangkatlah Sa’id ke Hims, dengan ditemani Istrinya. Keduanya masih pengantin baru. Semenjak kecil istrinya adalah wanita yang amat cantik.

Umar membekali mereka dengan harta yang cukup.      

Ketika keduanya sudah nyaman di Hims, sang istri bermaksud menggunakan harta yang telah diberikan Khalifah Umar sebagai bekal mereka. Ia meminta suaminya membeli pakaian yang layak dan perlengkapan rumah tangga, lalu menyimpan sisanya.

Sa’id berkata, “Maukah kamu aku tunjukan yang lebih baik dari rencanamu itu? Kita sekarang berada di suatu negeri yang amat pesat perdagangannya, pasarnya sangat rami. Harta ini lebih baik kita serahkan kepada seseorang untuk dijadikan modal dagang sehingga harta kita akan berkembang.”

Sang istri bertanya, “Bagaimana jika rugi?”

Sa’id menjawab, “Aku akan sediakan jaminan”.

“Baiklah kalau begitu,” kata sang istri menyetujui.

Kemudian Sa’id pergi membeli sebagaian keperluan hidup dari jenis yang amat bersahaja. Lalu uang lainnya dibagi-bagikannya kepada orang-orang yang miskin dan yang membutuhkan.

Hari-hari pun berlalu. Dari waktu ke waktu sang istri menanyakan perdagangan mereka dan sudah berapa keuntungannya.

Sa’id menjawab, “Bisnisnya lancar, dan keuntungannya terus meningkat.”

Suatu hari, sang istri mengajukan pertanyaan serupa di hadapan seorang kerabat yang mengetahui permasalahan yang sebenarnya. Laki-laki itu tersenyum lalu tertawa, sehingga sang istri pun curiga. Ia mendesak Sa’id untuk menceritakan yang sebenarnya.

Sa’id berkata, “Semua harta kita aku sedekahkan.”

Wanita itu pun menangis. Ia menyesal karena ia tidak jadi membeli keperluannya, dan harta itu pun tidak tersisa.

Sa’id memandangi istrinya yang sedang menangis. Tetes air mata yang membasahi pipi, menambah kecantikan wajah sang istri. Sebelum ia terlena oleh kecantikan sang istri yang benar-benar mempesona, ia mengalihkan pandangannya ke surga. Di sana, rekan-rekannya sudah menikmati apa yang tersedia di surga.

Ia berkata, “Rekan-rekanku telah mendahuluiku menemui Allah. Aku tidak ingin menyimpang dari jalan mereka, walaupun ditukar dengan dunia dan segala isinya.”

Karena takut tergoda oleh kecantikan istrinya itu, maka ia berkata seolah-olah ditunjukan kepada dirinya yang sedang berhadapan dengan istrinya,

“Dik, kau kan tahu bahwa di surga terdapat bidadari-bidadari canti yang bermata jeli. Andai saja satu dari mereka menampakkan wajahnya di muka bumi, maka akan terang-benderanglah seluruh bumi. Cahayanya mengalahkan sinar matahari dan bulan. Mengorbankan dirimu demi untuk mendapatkan mereka, tentu lebih utama daripada mengorbankan mereka demi untuk menuruti kemauanmu.”

Pembicaraan itu pun berakhir seperti saat dimulai; tenang penuh senyum dan kerelaan. Sang istri sadar bahwa tiada yang lebih utama baginya kecuali mengikuti jalan yang ditempuh suaminya; zuhud dan ketakwaan. [bersambung/dn]


Sumber :  60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW/Khalid Muhammad Khalid/Al Itishom
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
KANAL : REDAKSI | IKLAN | HUBUNGI KAMI
Copyright © 2011. Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger