Abu Dzar Al Ghifari [3] - Berjalan Sendirian, Mati Sendirian, Dibangkitkan Sendirian - Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia
Headlines News :
Home » , , » Abu Dzar Al Ghifari [3] - Berjalan Sendirian, Mati Sendirian, Dibangkitkan Sendirian

Abu Dzar Al Ghifari [3] - Berjalan Sendirian, Mati Sendirian, Dibangkitkan Sendirian

Tuesday, September 9, 2014 | 10:04 PM

Khalifahlife.com - Abu dzar telah mencurahkan segala tenaganya untuk melakukan perlawanan secara damai dan menjauhkan diri dari segala godaan kehidupan dunia. Ia akan menghabiskan sisa hidupnya untuk meluruskan penyalahgunaan kekuasaan dan harta kekayaan, karena keduanya merupakan godaan dan cobaan. Abu Dzar khawatir jika kawan-kawannya yang selama ini memikul panji-panji Islam bersama Rasulullah saw. tergoda dan tergelincir, padahal mereka harus tetap mengemban risalah Islam.
Selain itu, harta dan pemerintahan adalah urat nadi kehidupan sebuah masyarakat. Jika keduanya disalahgunakan maka masyarakat akan menghadapi bahaya serius.

Abu Dzar berharap tidak seorang pun dari generasi sahabat yang duduk di pemerintahan atau menumpuk harta kekayaan, dan tetap menjadi pelopor dakwah dan berkonsentrasi pada ibadah.

Ia sudah mengetahui besarnya tipu daya dunia dan tipu daya harta. Ia juga sadar bahwa Abu Bakar dan Umar tidak akan hidup kembali. Ditambah lagi ia sering mendengar Nabi saw. Memperingatkan para sahabatnya akan godaan kekuasaan, “Jabatan adalah amanah. Dan di hari Kiamat kelak akan menyebabkan kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengembannya dengan benar, dan menunaikan kewajibannya.”

Abu Dzar betul-betul memegang prinsipnya, sampai-sampai ia menjauhi rekan-rekannya yang duduk di pemerintahan yang secara otomatis menjadi kaya raya.

Suatu hari, Abu Musa al-Asy’ari menemuinya. Abu Musa membentangkan tangannya dan berkata, “Senang berjumpa denganmu wahai Abu Dzar, saudaraku.”

Akan tetapi, Abu Dzar menolak, seraya berkata, “Aku bukan saudaramu lagi. Sebelum kamu menjadi gubernur, aku memang saudaramu, tetapi sekarang tidak.”

Demikian juga ketika Abu Hurairah yang memeluknya sambil mengucapkan selamat. Abu Dzar menyingkirkan pelukan itu, “Menyingkirlah dariku. Bukankah engkau sudah menjadi seorang pejabat, mendirikan bangunan-bangunan megah, beternak dan bertani?”

Abu Hurairah menyangkal semua tuduh itu.

Bisa jadi sikap Abu Dzar ini berlebihan. Tetapi ia mempunyai alasan yang disadari kebenaran dan keimanan. Abu Dzar bersikap dengan cita-cita dan perbuatan nyata. 

Dengan perilaku dan pikirannya. Sesuai yang digariskan oleh Rasulullah dan dua sahabatnya; Abu Bakar dan Umar.

Jika sebagian orang menganggap parameter ini terlalu ideal dan tak mungkin ditiru, maka Abu Dzar melihatnya sebagai teladan yang menggariskan jalan hidup dan amal perbuatan, terutama bagi mereka yang hidup di masa Rasulullah. Mereka yang pernah shalat berjamaah bersama beliau, dan telah berjanji setia kepada beliau.

Sebagaima telah kita sebutkan, bahwa dengan penglihatannya yang tajam ia merasakan kalau harta dan kekuasaan berpengaruh besar terhadap masa depan suatu bangsa. Karena itu, setiap ketimpangan yang terjadi di pemerintahan atau ketimpangan dalam pembagian harta kekayaan harus segera diluruskan.

Dengan sekuat tentang Abu Dzar mengisi hidupnya untuk meneladani Rasulullah dan dua sahabatnya; Abu Bakar dan Umar. Ia terus berusaha mempertahankan prinsip itu.

Abu Dzar adalah mahaguru dalam hal menjauhkan diri dari kekuasaan dan harta kekayaan.
Suatu hari ia ditawari untuk menjadi gubernur Irak. Ia menjawab, “Tidak. Demi Allah, kalian tidak akan berhasil merayuku dengan dunia kalian ini.”

Pada kesempatan lain, seorang kawan melihatnya memakai jubah usang. Orang itu berkata, “Bukankah kamu punya baju lain? Beberapa hari yang lalu akau melihatmu punya dua baju baru.”

Abu Dzar menjawab, “Kawan, dua baju itu sudah kuberikan kepada orang yang lebih membutuhkannya.”

Orang itu berkata, “Demi Allah, kamu juga membutuhkannya.”
Abu Dzar menjawab, “Ya Allah, ampunilah kami. Kawan, tidakkah kamu lihat saya senang memakai jubah ini? Aku punya satu lagi untuk shalat Jum’at. Aku juga punya seekor kambing perah, dan seekor keledai tunggangan. Nikmat apa lagi yang lebih besar dari yang kita miliki ini?”

Pada suatu hari, ia duduk menyampaikan sebuah hadits, “Rasulullah berpesan 7 perkara kepadaku: aku disuruh mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka; aku disuruh melihat orang yang lebih rendah dariku, dan tidak melihat orang yang berada di atasku; aku disuruh untuk tidak meminta sesuatu kepada orang lain; aku disuruh menyambung silahturahmi; aku disuruh mengatakan yang benar meskipun pahit; aku disuruh untuk tidak takut pada cercaan siapa pun ketika menegakkan agama Allah; dan aku disuruh banyak mengucapkan ‘Laa haula walaa quwwata illa billah’  (tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).’”

Sungguh, ia menjalankan pesan ini, hingga ia ibarat hati nurani bagi bangsa dan kaumnya.
Imam Ali berkata, “Hari ini, sudah tidak ada lagi orang yang tidak takut cercaan orang lain ketika menegakkan agama Allah, selain Abu Dzar.”
Hidupnya dibaktikan untuk menentang penyalahgunaan kekuasaaan dan penumpuk harta, menghancurkan kebatilan dan menegakkan kebenaran, dan memikul semua tugas penasihat dan pemberi peringatan.

Ia dilarang memberi fatwa, maka suaranya semakin lantang. Ia berkata kepada orang yang melarangnya, “Demi zat yang nyawaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian menaruh pedang di leherku, dan aku masih bisa menyampaikan sabda Rasulullah, pasti kusampaikan sebelum kalian menebas leherku.”

Andai saja semua kaum muslimin mendengarkan pesan Abu Dzar ini, tentu bahaya ini sudah mati di sarangnya sebelum menjadi besar. Lihatlah setelah itu, bahaya itu semakin besar dan menggerogoti pemerintahan, masyarakat dan Islam itu sendiri. Sungguh sangat mengerikan.

Sekarang Abu Dzar  sedang menghadapi sakaratul maut di Rabadzah, tempat yang dipilihnya sebagai tempat tinggal setelah terjadi perbedaan pendapat dengan Khalifah Utsman ra.

Marilah kita ucapan salam perpisahan dan selamat jalan. Marilah kita saksikan akhir dari kehidupan yang luar biasa.
Seorang perempuan kurus berkulit cokelat duduk di dekatnya sambil menangis. Dialah istrinya.

Abu Dzar bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis. Mati itu pasti datang.”
Wanita itu menjawab, “Engkau akan meninggal dunia, dan aku tidak punya kain yang cukup untuk mengkafanimu.”

Abu Dzar tersenyum dan berkata, “Tenanglah. Jangan menangis. Suatu hari, ketika aku berada dekat Rasulullah bersama beberapa orang sahabat, aku mendengar beliau bersabda, `Seorang dari kalian akan mati yang ada di majelis Rasulullah saat itu telah meninggal di tengah-tengah masyarakat. Hanya aku yang masih hidup, dan sekarang akan mati di padang pasir, jauh dari masyarakat. Lihatlah ke jalan. Akan datang serombongan orang beriman. Demi Allah, aku tidak bohong dan tidak dibohongi.”

Lalu ruhnya kembali ke hadirat Allah.

Dan sungguh benar ucapannya. Di tengah sahara sana, terlihat serombongan orang beriman sedang menempuh perjalanan. Mereka dipimpin oleh Ibnu Mas’ud, sahabat Rasulullah.

Sebelum ke tempat Abu Dzar, Ibnu Mas’ud sudah diperlihatkan gambaran sesosok tubuh kurus kering terbujur seperti tubuh mayat, dan disebelahnya ada seorang wanita tua dengan seorang anak. Keduanya menangis.

Dibelokannya kekang hewan tunggangan ke tempat itu, diikuti dari belakang oleh anggota rombongan. Ketika melihat tubuh yang terbujur kaku itu, ia langsung bisa mengenalinya. 

Dia adalah saudaranya sesama muslim; Abu Dzar.

Ibnu Mas’ud tak kuasa menahan tangis. Ia berkata, “Sungguh benar Rasulullah yang pernah bersabda, ‘Kamu berjalan sendirian, mati sendirian, dan dibangkitkan sendirian.’”

Setelah itu, ia duduk, menjelaskan maksud dari sabda Rasulullah itu.

Peristiwa itu terjadi di Perang Tabuk, tahun 9 H. Rasulullah menyuruh kaum muslimin bersiap menghadapi pasukan Romawi yang mulai menyerang wilayah Islam. Saat itu musim paceklik. Jarak yang akan ditempuh sangat jauh dan musuh pun sangat kuat.
Sejumlah orang minta izin tidak ikut berangkat dengan berbagai  alasan.
                     
Rasulullah dan pasukan Islam berangkat. Jauhnya perjalanan menambah lelah dan sulit. Tidak sedikit anggota pasukan yang tertinggal dari rombongan. Setiap ada seseorang yang tertinggal, mereka mengadu ke Rasulullah, “Ya Rasul, si fulan tertinggal.” Beliau menjawab, “Biarkanlah. Jika dia membawa manfaat, Allah pasti akan membawanya bergabung dengan kita. Jika tidak, maka Allah telah meringankan beban kita.”

Pada suatu saat, mereka melihat-lihat pasukan, ternyata mereka tidak menemukan Abu Dzar. Maka mereka berkata kepada Rasulullah saw., “Abu Dzar tertinggal, keledainya sulit berjalan.”

Rasulullah menjawab dengan jawaban yang sama.
Memang keledai Abu Dzar tidak begitu kuat. Apalagi ditambah jauhnya perjalanan, kehausan, dan terik matahari yang sangat panas.
Abu Dzar sudah berusaha dengan berbagai cara agar keledainya mau berjalan tapi tidak berhasil.

Kalau begitu, Abu Dzar bisa ketinggalan rombongan, maka ia turun dari keledai. Ia panggul perbekalannya. Ia meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki, di tengah sahara yang sangat menyengat. Ia berjalan agak cepat agar bisa menyusul rombongan Rasulullah.

Menjelang pagi hari, ketika rombongan pasukan mulai menghentikan perjalanan dan beristirahat, tiba-tiba seorang dari anggota rombongan melihat dari kejauhan kepulauan debu yang membanyangi sesosok manusia. Ia melapor ke Rasulullah, “Ya Rasul, laki-laki itu berjalan sendirian.”

Rasulullah bersabda, “Mudah-mudahan orang itu Abu Dzar.”

Mereka melanjutkan pembicaraan sambil menunggu pendatang itu mendekat, agar bisa dikenali.

Orang itu semakin dekat, langkahnya bagai disentakkan dari pasir lembut yang membara, sementara beban di punggung bagai menyelimuti tubuhnya. Namun ia tetap gembira karena berhasil menyusul Rasulullah dan saudara-saudara seperjuangan.

Ketika sudah bisa terlihat oleh anggota pasukan yang berada di ujung rombongan, ada yang berseru, “Ya Rasulullah, demi Allah, dia adalah Abu Dzar.”

Abu Dzar langsung menuju ke tempat Rasulullah beristirahat.

Ketika melihat kedatangan Abu Dzar, Rasulullah langsung tersenyum gembira, “Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Dzar. Ia berjalan sendirian, mati sendirian dan dibangkitkan sendirian.”

Peristiwa itu terjadi 20 tahun yang lalu atau lebih. Kini, Abu Dzar meninggal dunia sendirian 
di padang pasir Rabadzah, setelah ia berjuang sendirian. Sejarah juga akan menulisnya secara tersendiri karena sikap zuhud dan perjuangnnya yang tiada dua. Dan di akhirat kelak, Allah akan membangkitkannya sendiri karena kebaikannya sangat banyak. Tidak seorang pun bisa disandingkan dengannya. [Tamat/dn]

Sumber :  60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW/Khalid Muhammad Khalid/Al Itishom


Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
KANAL : REDAKSI | IKLAN | HUBUNGI KAMI
Copyright © 2011. Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger