Khalifahlife.com - Abu dzar telah mencurahkan segala
tenaganya untuk melakukan perlawanan secara damai dan menjauhkan diri dari
segala godaan kehidupan dunia. Ia akan menghabiskan sisa hidupnya untuk
meluruskan penyalahgunaan kekuasaan dan harta kekayaan, karena keduanya
merupakan godaan dan cobaan. Abu Dzar khawatir jika kawan-kawannya yang selama
ini memikul panji-panji Islam bersama Rasulullah saw. tergoda dan tergelincir,
padahal mereka harus tetap mengemban risalah Islam.
Selain itu, harta dan pemerintahan
adalah urat nadi kehidupan sebuah masyarakat. Jika keduanya disalahgunakan maka
masyarakat akan menghadapi bahaya serius.
Abu Dzar berharap tidak seorang pun
dari generasi sahabat yang duduk di pemerintahan atau menumpuk harta kekayaan,
dan tetap menjadi pelopor dakwah dan berkonsentrasi pada ibadah.
Ia sudah mengetahui besarnya tipu
daya dunia dan tipu daya harta. Ia juga sadar bahwa Abu Bakar dan Umar tidak
akan hidup kembali. Ditambah lagi ia sering mendengar Nabi saw. Memperingatkan
para sahabatnya akan godaan kekuasaan, “Jabatan adalah amanah. Dan di hari
Kiamat kelak akan menyebabkan kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang
mengembannya dengan benar, dan menunaikan kewajibannya.”
Abu Dzar betul-betul memegang
prinsipnya, sampai-sampai ia menjauhi rekan-rekannya yang duduk di pemerintahan
yang secara otomatis menjadi kaya raya.
Suatu hari, Abu Musa al-Asy’ari
menemuinya. Abu Musa membentangkan tangannya dan berkata, “Senang berjumpa
denganmu wahai Abu Dzar, saudaraku.”
Akan tetapi, Abu Dzar menolak,
seraya berkata, “Aku bukan saudaramu lagi. Sebelum kamu menjadi gubernur, aku
memang saudaramu, tetapi sekarang tidak.”
Demikian juga ketika Abu Hurairah
yang memeluknya sambil mengucapkan selamat. Abu Dzar menyingkirkan pelukan itu,
“Menyingkirlah dariku. Bukankah engkau sudah menjadi seorang pejabat,
mendirikan bangunan-bangunan megah, beternak dan bertani?”
Abu Hurairah menyangkal semua tuduh
itu.
Bisa jadi sikap Abu Dzar ini berlebihan.
Tetapi ia mempunyai alasan yang disadari kebenaran dan keimanan. Abu Dzar
bersikap dengan cita-cita dan perbuatan nyata.
Dengan perilaku dan pikirannya.
Sesuai yang digariskan oleh Rasulullah dan dua sahabatnya; Abu Bakar dan Umar.
Jika sebagian orang menganggap
parameter ini terlalu ideal dan tak mungkin ditiru, maka Abu Dzar melihatnya
sebagai teladan yang menggariskan jalan hidup dan amal perbuatan, terutama bagi
mereka yang hidup di masa Rasulullah. Mereka yang pernah shalat berjamaah
bersama beliau, dan telah berjanji setia kepada beliau.
Sebagaima telah kita sebutkan,
bahwa dengan penglihatannya yang tajam ia merasakan kalau harta dan kekuasaan
berpengaruh besar terhadap masa depan suatu bangsa. Karena itu, setiap
ketimpangan yang terjadi di pemerintahan atau ketimpangan dalam pembagian harta
kekayaan harus segera diluruskan.
Dengan sekuat tentang Abu Dzar
mengisi hidupnya untuk meneladani Rasulullah dan dua sahabatnya; Abu Bakar dan
Umar. Ia terus berusaha mempertahankan prinsip itu.
Abu Dzar adalah mahaguru dalam hal
menjauhkan diri dari kekuasaan dan harta kekayaan.
Suatu hari ia ditawari untuk
menjadi gubernur Irak. Ia menjawab, “Tidak. Demi Allah, kalian tidak akan
berhasil merayuku dengan dunia kalian ini.”
Pada kesempatan lain, seorang kawan
melihatnya memakai jubah usang. Orang itu berkata, “Bukankah kamu punya baju
lain? Beberapa hari yang lalu akau melihatmu punya dua baju baru.”
Abu Dzar menjawab, “Kawan, dua baju
itu sudah kuberikan kepada orang yang lebih membutuhkannya.”
Orang itu berkata, “Demi Allah,
kamu juga membutuhkannya.”
Abu Dzar menjawab, “Ya Allah,
ampunilah kami. Kawan, tidakkah kamu lihat saya senang memakai jubah ini? Aku
punya satu lagi untuk shalat Jum’at. Aku juga punya seekor kambing perah, dan
seekor keledai tunggangan. Nikmat apa lagi yang lebih besar dari yang kita
miliki ini?”
Pada suatu hari, ia duduk
menyampaikan sebuah hadits, “Rasulullah berpesan 7 perkara kepadaku: aku
disuruh mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka; aku disuruh
melihat orang yang lebih rendah dariku, dan tidak melihat orang yang berada di
atasku; aku disuruh untuk tidak meminta sesuatu kepada orang lain; aku disuruh
menyambung silahturahmi; aku disuruh mengatakan yang benar meskipun pahit; aku
disuruh untuk tidak takut pada cercaan siapa pun ketika menegakkan agama Allah;
dan aku disuruh banyak mengucapkan ‘Laa haula walaa quwwata illa billah’
(tiada daya dan kekuatan kecuali
dengan pertolongan Allah).’”
Sungguh, ia menjalankan pesan ini,
hingga ia ibarat hati nurani bagi bangsa dan kaumnya.
Imam Ali berkata, “Hari ini, sudah
tidak ada lagi orang yang tidak takut cercaan orang lain ketika menegakkan
agama Allah, selain Abu Dzar.”
Hidupnya dibaktikan untuk menentang
penyalahgunaan kekuasaaan dan penumpuk harta, menghancurkan kebatilan dan
menegakkan kebenaran, dan memikul semua tugas penasihat dan pemberi peringatan.
Ia dilarang memberi fatwa, maka
suaranya semakin lantang. Ia berkata kepada orang yang melarangnya, “Demi zat
yang nyawaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian menaruh pedang di leherku,
dan aku masih bisa menyampaikan sabda Rasulullah, pasti kusampaikan sebelum
kalian menebas leherku.”
Andai saja semua kaum muslimin
mendengarkan pesan Abu Dzar ini, tentu bahaya ini sudah mati di sarangnya
sebelum menjadi besar. Lihatlah setelah itu, bahaya itu semakin besar dan
menggerogoti pemerintahan, masyarakat dan Islam itu sendiri. Sungguh sangat
mengerikan.
Sekarang Abu Dzar sedang menghadapi sakaratul maut di Rabadzah,
tempat yang dipilihnya sebagai tempat tinggal setelah terjadi perbedaan
pendapat dengan Khalifah Utsman ra.
Marilah kita ucapan salam
perpisahan dan selamat jalan. Marilah kita saksikan akhir dari kehidupan yang
luar biasa.
Seorang perempuan kurus berkulit
cokelat duduk di dekatnya sambil menangis. Dialah istrinya.
Abu Dzar bertanya kepadanya, “Apa
yang membuatmu menangis. Mati itu pasti datang.”
Wanita itu menjawab, “Engkau akan
meninggal dunia, dan aku tidak punya kain yang cukup untuk mengkafanimu.”
Abu Dzar tersenyum dan berkata,
“Tenanglah. Jangan menangis. Suatu hari, ketika aku berada dekat Rasulullah
bersama beberapa orang sahabat, aku mendengar beliau bersabda, `Seorang dari
kalian akan mati yang ada di majelis Rasulullah saat itu telah meninggal di
tengah-tengah masyarakat. Hanya aku yang masih hidup, dan sekarang akan mati di
padang pasir, jauh dari masyarakat. Lihatlah ke jalan. Akan datang serombongan
orang beriman. Demi Allah, aku tidak bohong dan tidak dibohongi.”
Lalu ruhnya kembali ke hadirat
Allah.
Dan sungguh benar ucapannya. Di
tengah sahara sana, terlihat serombongan orang beriman sedang menempuh
perjalanan. Mereka dipimpin oleh Ibnu Mas’ud, sahabat Rasulullah.
Sebelum ke tempat Abu Dzar, Ibnu
Mas’ud sudah diperlihatkan gambaran sesosok tubuh kurus kering terbujur seperti
tubuh mayat, dan disebelahnya ada seorang wanita tua dengan seorang anak.
Keduanya menangis.
Dibelokannya kekang hewan
tunggangan ke tempat itu, diikuti dari belakang oleh anggota rombongan. Ketika
melihat tubuh yang terbujur kaku itu, ia langsung bisa mengenalinya.
Dia adalah
saudaranya sesama muslim; Abu Dzar.
Ibnu Mas’ud tak kuasa menahan
tangis. Ia berkata, “Sungguh benar Rasulullah yang pernah bersabda, ‘Kamu
berjalan sendirian, mati sendirian, dan dibangkitkan sendirian.’”
Setelah itu, ia duduk, menjelaskan
maksud dari sabda Rasulullah itu.
Peristiwa itu terjadi di Perang
Tabuk, tahun 9 H. Rasulullah menyuruh kaum muslimin bersiap menghadapi pasukan
Romawi yang mulai menyerang wilayah Islam. Saat itu musim paceklik. Jarak yang
akan ditempuh sangat jauh dan musuh pun sangat kuat.
Sejumlah orang minta izin tidak
ikut berangkat dengan berbagai alasan.
Rasulullah dan pasukan Islam
berangkat. Jauhnya perjalanan menambah lelah dan sulit. Tidak sedikit anggota
pasukan yang tertinggal dari rombongan. Setiap ada seseorang yang tertinggal,
mereka mengadu ke Rasulullah, “Ya Rasul, si fulan tertinggal.” Beliau menjawab,
“Biarkanlah. Jika dia membawa manfaat, Allah pasti akan membawanya bergabung
dengan kita. Jika tidak, maka Allah telah meringankan beban kita.”
Pada suatu saat, mereka
melihat-lihat pasukan, ternyata mereka tidak menemukan Abu Dzar. Maka mereka
berkata kepada Rasulullah saw., “Abu Dzar tertinggal, keledainya sulit
berjalan.”
Rasulullah menjawab dengan jawaban
yang sama.
Memang keledai Abu Dzar tidak
begitu kuat. Apalagi ditambah jauhnya perjalanan, kehausan, dan terik matahari
yang sangat panas.
Abu Dzar sudah berusaha dengan
berbagai cara agar keledainya mau berjalan tapi tidak berhasil.
Kalau begitu, Abu Dzar bisa
ketinggalan rombongan, maka ia turun dari keledai. Ia panggul perbekalannya. Ia
meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki, di tengah sahara yang sangat
menyengat. Ia berjalan agak cepat agar bisa menyusul rombongan Rasulullah.
Menjelang pagi hari, ketika
rombongan pasukan mulai menghentikan perjalanan dan beristirahat, tiba-tiba
seorang dari anggota rombongan melihat dari kejauhan kepulauan debu yang
membanyangi sesosok manusia. Ia melapor ke Rasulullah, “Ya Rasul, laki-laki itu
berjalan sendirian.”
Rasulullah bersabda, “Mudah-mudahan
orang itu Abu Dzar.”
Mereka melanjutkan pembicaraan
sambil menunggu pendatang itu mendekat, agar bisa dikenali.
Orang itu semakin dekat, langkahnya
bagai disentakkan dari pasir lembut yang membara, sementara beban di punggung
bagai menyelimuti tubuhnya. Namun ia tetap gembira karena berhasil menyusul
Rasulullah dan saudara-saudara seperjuangan.
Ketika sudah bisa terlihat oleh
anggota pasukan yang berada di ujung rombongan, ada yang berseru, “Ya
Rasulullah, demi Allah, dia adalah Abu Dzar.”
Abu Dzar langsung menuju ke tempat
Rasulullah beristirahat.
Ketika melihat kedatangan Abu Dzar,
Rasulullah langsung tersenyum gembira, “Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu
Dzar. Ia berjalan sendirian, mati sendirian dan dibangkitkan sendirian.”
Peristiwa itu terjadi 20 tahun yang
lalu atau lebih. Kini, Abu Dzar meninggal dunia sendirian
di padang pasir
Rabadzah, setelah ia berjuang sendirian. Sejarah juga akan menulisnya secara
tersendiri karena sikap zuhud dan perjuangnnya yang tiada dua. Dan di akhirat
kelak, Allah akan membangkitkannya sendiri karena kebaikannya sangat banyak.
Tidak seorang pun bisa disandingkan dengannya. [Tamat/dn]
Sumber : 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW/Khalid
Muhammad Khalid/Al Itishom

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !