Khalifahlife.com - Waktu
terus berjalan. Rasulullah pun sudah hijrah ke Madinah dan menetap di sana
bersama kaum muslimin.
Suatu
hari, satu barisan panjang yang terdiri dari para pengendara dan pejalan kaki
menghampiri kota Madinah. Derap langkah rombongan ini mengepulkan debu yang
tidak sedikit. Seandainya bukan Karena suara takbir mereka yang menggema, pasti
mereka disangka pasukan musuh yang bermaksud menyerang kota Madinah.
Rombongan
besar itu semakin dekat. Lalu memasuki kota. Menuju ke arah Masjid Nabawi dan
kediaman Rasulullah.
Ternyata
rombongan itu adalah kabilah Ghifar dan Aslam, para lelaki dan perempuan,
anak-anak dan orang tua. Mereka dipimpin oleh Abu Dzar. Mereka semua sudah
masuk Islam.
Rasulullah
semakin takjub dan kagum.
Kemarin,
beliau begitu takjub ketika di hadapannya berdiri seorang laki-laki dari Ghifar
yang menyatakan keislamannya. Saat itu beliau bersabda, “Sungguh, Allah member
hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.”
Dan
hari ini, seluruh warga Ghifar datang dan sudah memeluk Islam. Sudah beberapa
tahun yang lalu mereka masuk Islam melalui dakwah Abu Dzar. Warga Aslam juga
ikut bersama mereka.
Mereka
yang selama ini dikenal sebagai komplotan perampok yang ditakuti dan kaki
tangan setan, sekarang menjadi pendukung kebenaran.
Tidakkah
ini bukti bahwa Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya?
Rasulullah
memandang mereka dengan pandangan penuh haru dan cinta. Beliau memandang ke
kabilah Ghifar dan bersabda,
“Allah memberikan
maghfirah (ampunan) kepada kabilah Ghifar.” Lalu memandang ke kabilah Aslam dan
bersabda, “Allah memberikan keselamatan kepada kabilah Aslam.”
Lalu yang diperoleh
Abu Dzar sang mubalig ulung yang berjiwa besar dan bercita-cita mulia itu?
Apakah Rasulullah tidak memberikan sambutan istimewa untuknya?
Tentu. Ia
mendapatkan balasan yang tak terhingga dan ucapan selamat yang menyejukkan.
Di dadanya akan
disematkan bintang tertinggi, dan sejarah hidupnya akan selalu dikenang.
Generasi demi generasi akan selalu mengingat kata-kata Rasulullah tentang Abu
Dzar, “Tidak akan ada lagi orang sejujur Abu Dzar.”
Tidak akan ada lagi
orang sejujur Abu Dzar?
Artinya, Abu Dzar
adalah orang yang sangat jujur. Dan itulah jalan hidupnya yang telah dibacakan
oleh Rasulullah. Orang yang sangat jujur. Semua kehidupan Abu Dzar penuh dengan
kejujuran. Kejujuran yang terpancar dari hatinya Kejujuran yang bersumber dari
keyakinannya.
Ia menjalani
hidupnya dengan penuh kejujuran. Tidak menipu dirinya atau menipu orang lain,
dan tidak mau ditipu orang lain. Kejujuran bukan berarti diam membisu. Baginya,
kejujuran yang tidak diekspresikan dalam kata-kata atau tingkah laku bukanah kejujuran.
Kejujuran adalah memperlihatkan kebenaran dan menentang kebatilan. Kejujuran
adalah loyalitas kepada kebenaran, keberanian mengekspresikan kebenaran, dan
gerakan seirama dengan kebenaran.
Dengan
penglihatannya yang tajam, bagai menembus kealam gaib yang jauh tidak
terjangkau atau samudera yang tidak terselami. Rasulullah saw. Menampakkan
segala rintangan yang akan dialami Abu Dzar sebagai konsekuensi dari kejujuran
dan ketegasannya. Beliau berpesan kepadanya untuk selalu sabar dan
berhati-hati.
Suatu hari
Rasulullah bertanya kepadanya, “Abu Dzar,
apa yang akan kamu perbuat jika kamu hidup di bawah pemerintahan para pemimpin
yang menguasai harta pampasan perang untuk kepentingan mereka sendiri?”
Abu Dzar menjawab,
“Demi yang telah mengutusmu dengan kebenaran, akan kutebas mereka dengan
pedangku!”
Rasulullah
bersadba, “Maukah kuberitahu tindakan yang lebih baik. Bersabarlah hingga kamu
berjumpa denganku.”
Tahukah anda,
mengapa Rasulullah mengajukan pertanyaan seperti itu?
Para pemimpin dan harta.
Inilah permasalahan yang akan dihadapi Abu Dzar. Permasalahan yang terkait
dengan masyarakat dan masa depan. Rasulullah sudah mengetahuinya, maka beliau
menanyakan hal tersebut kepada Abu Dzar, lalu membekalinya dengan nasihat
berharga, “Bersabarlah sampai kamu
menemuiku.”
Abu Dzar pasti akan selalu
ingat wasiat gurunya ini. Ia tidak akan menggunakan pedangnya untuk
menghentikan para pemimpin yang seenaknya memakan harta umat. Namun, ia juga
tidak akan tinggal diam.
Rasulullah melarangnya
menggunakan pedang untuk menghentikan para pemimpin itu, tapi beliau tidak
melarangnya menggunakan kata-kata.
Itu pasti akan dia lakukan.
Masa Rasulullah pun berlalu.
Tibalah masa Abu Bakar lalu masa Umar. Masa-masa ini, godaan hidup tidak bisa
unjuk gigi. Nafsu serakah sama sekali tidak mendapatkan jalan. Tidak ada penyelewengan-penyelewengan
yang harus ditentang oleh Abu Dzar. Kecaman-kecaman kerasnya belum diperlukan.
Khalifah Umar mengharuskan
para pemimpin daerah dan orang-orang kaya untuk tetap hidup sederhana.
Jika ada pemimpin daerah,
baik di Irak, Syam. Shan’a, atau di negeri lain yang memakan kue yang tidak
terjangkau oleh rakyat miskin, maka berita itu akan sampai ke Khalifah, dan
pemimpin daerah tersebut pasti dipanggil menghadap untuk
mempertanggungjawabkannya.
Abu Dzar merasa lega dan
tenang, karena tidak mendapati penyalahgunaan perasaan dan penumpukan harta,
sebab Khalifah Umar melakukan pengawasan ketat terhadap para pejabat, dan
melakukan pemerataan kekayaan. Dengan demikian, ia bisa lebih banyak menghabiskan
waktunya untuk ibadah dan berjihad. Ia juga masih terus meluruskan
kesalahan-kesalahan yang ada meskipun hanya sedikit yang terjadi.
Akan tetapi, setelah Khalifah
terbesar yang sangat adil dan paling mengagumkan wafat, terasa adanya celah
yang amat dalam. Seiring dengan perluasan wilayah Islam, ambisi dan keinginan
meraih jabatan dan menikmati kekayaan juga bertambah.
Abu Dzar melihat bahaya ini.
Kepentingan pribadi sudah
hampir menyesatkan orang-orang yang tugasnya sehari-hari menegakkan panji-panji
Allah. Dunia dengan daya tarik tipu muslihatnya yang mempesona sudah hampir
memperdayakan orang-orang yang mengemban risalah untuk mempergunakan dunia
sebagai ladang kebajikan. Harta yang dijadikan Allah sebagai pelayan yang harus tunduk kepada manusia sudah hampir
berubah menjadi tuan yang mengendalikan manusia.
Padahal mereka adalah
generasi sahabat yang telah lama mendampingi Muhammad saw. Muhammad saw. yang
di waktu wafatnya, baju besinya sedang tergadai, padahal penghasilannya dari
harta rampas an perang sangat besar.
Allah menciptakan kekayaan
bumi untuk semua manusia. Mereka mempunyai hak yang sama untuk menikmati
kekayaan itu. Tetapi sekarang dimonopoli oleh sekelompok manusia.
Jabatan yang merupakan amanah
untuk dipertanggungjawabkan kelak di pengadilan Ilahi, berubah menjadi alat
untuk berbuat sewenang-wenang, mengumpulkan kekayaan, dan hidup
bermegah-megahan yang pasti membawa kehancuran.
Abu Dzar melihat semua ini.
Ia langsung menghunuskan pedang dan mengibaskannya di udara. Kemudian ia
mengahadapi masyarakat dengan pedangnya yang tidak pernah melesat.
Akan tetapi
saat itu juga ia mendengar getaran hatinya yang menyuarakan kembali pesan
Rasulullah. Ia langsung menyarungkan pedangnya. Tidak sepantasnya ia menghunus
pedang untuk menghadapi saudaranya sesama muslim.
“Seorang mukmin tidak membunuh mukmin yang lain kecuali Karena salah.”
(An-Nisa’:92)
Sekarang bukan saatnya
membunuh, tetapi mengingatkan mereka. Bukan pedang yang saat ini dibutuhkan,
tetapi kata-kata yang dapat dipertanggungjawabkan. Yang dibutuhkan adalah
nasihat kebenaran yang tidak berdampak negatif.
Dulu Rasulullah telah
menyatakan di hadapan para sahabatnya bahwa di bawah langit ini takkan pernah
lagi muncul orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar.
Orang yang memiliki
keistimewaan seperti ini, tidak memerlukan lagi pedang sebagai senjata. Satu
kata yang diucapkannya, akan lebih mengena daripada ribuan pedang.
Maka, dengan kejujuran dan
keberaniannya ia akan menemui para pemimpin, orang-orang kaya, dan mereka yang
terlena dengan dunia. Ia akan menjelaskan kepada mereka bahwa perilaku mereka
itu membahayakan Islam. Islam datang untuk membimbing manusia bukan untuk
mengambil pajak dari mereka. Islam mengajarkan kenabian bukan kerajaan. Islam
datang dengan kasih sayang bukan dengan ancaman dan siksa. Islam mengajarkan
sikap tawadhu’ bukan sewenang-wenang. Islam mengajarkan persamaan bukan
pengkastaan; kesahajaan bukan keserakahan; kesederhanaan bukan keborosan;
kedamaian dan kebijaksaan dalam menghadapi hidup, bukan terpedaya dan mati-matian
dalam mengejar hidup.
Abu Dzar menemui mereka
semua, hingga Allah memberikan keputusan di antara mereka dengan benar. Dia-lah
sebaik-bik pemberi putusan.
Maka Abu Dzar mendatangi
pusat-pusat kekuasaan dan gudang harta. Dengan kata-katanya, ia ingin mengubah
mental mereka satu per satu.
Hanya dalam beberapa hari, ia
ibarat panji yang di bawahnya bernanung
rakyat yang banyak dan golongan pekerja. Namanya dikenal dimana-mana, bahkan di
negeri yang belum ia kunjungi. Setiap Abu Dzar mengunjungi suatu daerah, atau
bahkan ketika namanya sampai ke daerah itu, sudah membuat repot orang-orang
yang terlena dengan kekuasaan dan kekayaan.
Seandainya pelopor pola hidup
sederhana ini ingin membuat satu bendera untuk dirinya dan dakwahnya, maka
lambang yang akan terpampang pada bendera itu adalah sebuah setrika yang merah
menyala. Semboyan dan nyanyian yang selalu diulang-ulang oleh Abu Dzar, juga
oleh para pengikutnya seolah-olah lagu perjuangan, ialah kalimat berikut,
“Beritakanlah kepada para
penumpuk harta, yang menumpuk emas dan dua perak. Mereka akan disetrika dengan
setrika api nereka. Pada hari Kiamat kelak kening dan pinggang mereka akan
disetrika.”
Setiap ia mendaki bukit,
menuruni lembah, memasuki kota, dan setiap ia berhadapan dengan seorang
pejabat, ia selalu menyampaikan kalimat itu.
Dan ketika melihat kedatangan
mereka, masyarakat akan menyambutnya dengan ucapan, “Berikan kepada para
penumpuk harta bahwa mereka akan disetrika dari api neraka.”
Kalimat ini benar-benar telah
menjadi semboyan seluruh hidupnya, tatkala melihat kekayaan ditimbun dan
dimonopoli. Tatkala ada pengusaha yang zalim dan sewenang-wenang, dan tatkala
cinta dunia telah merajalela dan hampir saja melumat hasil yang telah dicapai
di tahun-tahun kerasulan, berupa kemuliaan, keshalian, kesungguhan dan
keikhlasan.
Abu Dzar memulai dakwahnya di
wilayah yang paling sewenang-wenang dan paling kaya. Di sana, di wilayah syam.
Wilayah terluas dan tersubur. Kekayaan mengalir tanpa batas. Semua kebutuhan
duniawi terpenuhi terutama bagi mereka yang punya jabatan. Gubernur Syam saat
itu adalah Mu’awiyah bin Abu Sufyan.
Syam dipenuhi ladang-ladang subur,
bangunan-bangunan megah, dan kekayaan melimpah yang dapat menggelincirkan para
pelopor dakwah. Sebelum bahaya ini menimpa, Abu Dzar harus mencegahnya. Ia
singsingkan lengan baju, lalu bersegera ke Syam.
Baru saja ia datang di Syam,
masyarakat sudah menyambutnya dengan antusias dan penuh kerinduan. Mereka
mendampinginya ke mana saja ia pergi. “Ceritakan kepada kami, wahai Abu Dzar,
wahai sahabat Rasulullah.”
Abu Dzar memandangi orang-orang
yang sedang berkerumun di sekitarnya dengan seksama. Ternyata mereka adalah
orang-orang miskin. Sementara di dekat situ terdapat bangunan-bangunan megah
dan ladang-ladang subur terhampar luas.
Ia berkata dengan suara lantang,
“Aku heran terhadap orang yang tidak punya makanan di rumahnya, mengapa ia
tidak mendatangi orang-orang itu dengan menghunuskan pedangnya.”
Tetapi ia segera teringat pesan
Rasulullah yang menyuruhnya memilih cara bertahap daripada cara revolusi.
Menggunakan kata-kata daripada pedang. Maka ia tinggalkan bahasa perang dan
kembali menggunakan bahasa logika dan kata-kata jitu. Ia sampaikan kepada
orang-orang itu bahwa mereka semua sama tak ubahnya gigi-gigi yang berjejer.
Mereka semua setara dalam rezeki. Tidak ada kelebihan seseorang dari lainnya
kecuali dengan takwa. Pimpinan harus yang pertama kali merasakan lapar jika
rakyatnya kelaparan, dan yang terakhir merasakan kenyang jika rakyatnya bisa
makan.
Dengan ucapan dan keberaniannya,
Abu Dzar ingin membentuk satu pendapat umum di setiap wilayah, yang nantinya
menjadi kekuatan tersendiri untuk mencegah para pengusaha menyalahgunakan
kekuasaan-nya dan monopol kekayaan.
Dalam beberapa hari saja wilayah
Syam seakan berubah menjadi sarang lebah yang tiba-tiba menemukan ratu yang
mereka taati. Seandainya Abu Dzar memberikan perintah untuk berontak, pastilah
api pemberontakkan akan berkobar. Tetapi seperti yang kita tahu, ia hanya ingin
membentuk satu pendapat umum yang harus dihormati. Alhasil, nasihat-nasihatnya
menjadi buah bibir di tempat-tempat pertemuan, di masjid dan di jalan-jalan.
Dan puncaknya adalah saat ia
berdaialog dengan Mu’awiyah di depan umum. Peristiwa ini akhirnya didengar di
semau penjuru Syam.
Abu Dzar yang disebut Nabi sebagai
orang yang paling benar ucapannya itu menemui Mu’awiyah tanpa rasa takut. Ia
menanyakan harta kekayaan Mu’awiyah seblum dan sesudah menjadi gubernur. Ia
bertanya tentang rumah Mu’awiyah di Mekah dan istananya di Syam.
Setelah itu, ia bertanya kepada
sejumlah sahabat Nabi saw. Yang dulu menyertai Mu’awiyah pindah ke Syam, yang
sekarang berada di majelis itu. Mereka ditanya tentang ladang dan rumah mewah
mereka, “Bukankah sewaktu Al-Qur’an diturunkan, kalian bersama Rasulullah?
Al-Quran turun ditengah-tengah kalian. Kalianlah yang ikut dalam
peristiwa-peristiwa penting bersama Rasulullah. Tidakkah kalian jumpai firman
Allah yang berbunyi,
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya
pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa merekaakan
mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam neraka
Jahanam, lalu dibarknya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu
dikatakan) kepada mereka, ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu
sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan.’” (At-Taubah:24-35)
Mu’awiyah memotong, “Ayat ini
diturunkan berkaitan dengan Ahlul Kitab”
Abu Dzar menjawab, “Tidak. Ayat ini
diturunkan untuk kita dan mereka.”
Abu Dzar melanjutkan ucapannya,
menasihati Mu’awiyah dan orang-orang yang bersamanya agar melepaskan ladang dan
bangunan megah, dan agar tidak menyimpan harta kekayaan itu kecuali sekedar
untuk keperluan sehari-hari.
Berita tentang Abu Dzar dan dialog
ini tersebar luas. Semboyannya bergema dimana-mana, dirumah-rumah dan di
jalan-jalan, “Sampaikan kepada pada penumpuk harta, pada hari Kiamat kelak
mereka akan disetrika api neraka.”
Mu’awiyah mulai terusik. Kata-kata
sang pelopor kesederhanaan terus menggaungu tidurnya. Akan tetapi ia juga sadar
akan kedudukan Abu Dzar di hati rakyat. Ia tidak mungkin mengambil tindakan
keras kepada Abu Dzar. Maka ia menulis surat kepada Khalifah Utsman bin Affan,
“Abu Dzar sudah merusak pola pikir orang-orang Syam.”
Sebagai jawabannya, Khalifah Utsman
mengirim surat kepada Abu Dzar, memintanya datang ke Madinah.
Abu Dzar berkemas, lalu berangkat
ke Madinah. Sungguh pemandangan yang sangat mengharukan saat penduduk Syam
melepas kepergian Abu Dzar. Mereka seakan kehilangan induk mereka. Sungguh
peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Aku tidak memerlukan kekayaan
dunia kalian.”
Itulah yang dikatakan Abu Dzar
kepada Khalifah Utsman sesampaianya ia di Madinah. Dan terjadi dialog panjang
di antara keduanya.
Dari hasil dialog dengan Abu Dzar,
dan dari berita yang berdatangan dari seluruh pelosok negeri tentang dukungan
rakyat kepada seruan Abu dari seluruh pelosok negeri tentang dukungan rakyat
kepada seruan Abu Dzar, Utsman menyadari sepenuhnya bahaya gerakan ini dan
kekuatannya. Karena itu ia memutuskan untuk membatasi langkah Abu Dzar, yaitu
dengan menyuruh Abu Dzar tinggal di Madinah.
Keputusan itu disampaikan Khalifah
secara lembut dan bijaksana “Tinggallah di sini, di sampingku. Akan kami
sedakan unta yang akan mengeluarkan susu di pagi dan sore hari.”
Abu Dzar menjawab, “Saya tidak
membutuhkan kekayaan kalian.”
Benar. Abu Dzar sudah tidak
memerlukan kekayaan dunia. Ia adalah orang suci yang butuh kekayaan ruhiyah dan
ingin menjalani hidup untuk memberi, bukan untuk mengambil.
Abu Dzar meminta kepada Khalifah
Utsman r.a. agar ia diberi izin tinggal di Rabdzah. Ia pun diberi izin.
Di tengah gejolak penentangannya
itu, Abu Dzar tetap memlihara amanah Allah dan Rasul-Nya, dan meresapi nasihat
yang diberikan oleh Nabi saw. Agar tidak menggunakan senjata. Seolah-olah
Rasulullah telah melihat semua yang belum terjadi; masa depan Abu Dzar,
sehingga nasihat berharga itu diberikan.
Oleh karena itu, Abu Dzar tidak
menyembunyikan kemarahannya ketika orang-orang yang suka membuat kekacauan memanfaatkan
gerakannya untuk memenuhi keinginan dan siasat licik mereka.
Suatu hari, sewaktu ia berada di
Rabadzah, rombongan dari Kufah datang menemuinya. Mereka memintanya untuk
memulai pemberontakan terhadap Khalifah.
Abu Dzar langsung memarahi mereka, dan
berkata, “Demi Allah, seandainya Khalifah Utsman menyalibku di tiang kayu yang
tinggi atau di atas bukit sekalipun, aku akan patuh. Aku jalani dengan sabar
seraya berharap pahala dari Allah. Itulah yang terbaik untukku.
Seandainya ia menyuruhku berkelana
dari satu ujung dunia ke ujung dunia yang lain, aku akan
patuh. Aku jalani
dengan sabar seraya berharap pahala dari Allah. Itulah yang terbaik untukku.
Seandainya ia menyuruhku pulang,
aku akan patuh. Aku jalani dengan sabar seraya berharap pahala dari Allah.
Itulah yang terbaik untukku.”
Dia sama sekali tidak meninginkan
kepentingan duniawi. Karena itu, Allah memberinya pandangan hati yang tajam.
Karena itu, Allah memberinya pandangan hati yang tajam. Ia melihat bahaya yang
tersembunyi di balik pemberontakan bersenjata, maka ia menjauhi cara itu. Ia
juga tahu apa akibatnya bila ia membisu, maka ia tidak mau diam saja. Ia angkat
suara, dan tidak menghunus pedang, tetapi menyerukan kebenaran dan kesungguhan.
Tidak ada rayuan yang mampu menggodanya, dan tidak ada risiko yang mampu
menghalanginya. [bersambung/dn]
Sumber : 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW/Khalid
Muhammad Khalid/Al Itishom

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !