“Betul-betul tidak ada perhatian
dari kedua orangtuanya,” seorang guru mengeluhkan kepada sesama temannya
mengenai tingkah polah seorang anak usia 9 tahun yang kerap membuang apapun
yang bukan miliknya keluar kelas, sehingga teman-temannya sangat marah dan
beramai-ramai ingin memukul sang anak.
Peristiwa ini pun akhirnya
menjadi perhatian besar seluruh sekolah. Rumitnya lagi ketika sudah menjadi
perhatian besar seluruh sekolah maka akhirnya dipanggilkan psikolog untuk
meneliti dan mempelajari apa masalah yang menyebabkan sang anak menjadi begitu
hiperaktif luar biasa. Solusi yang timbul pun cukup dipahami oleh orangtua anak
yang bersangkutan yaitu mesti memberi perhatian lebih kepada anak serta diajak
untuk berkomunikasi dan berkasih sayang.
Namun, solusi dan ketenangan itu
hanya berjalan seminggu saja. Pada minggu berikutnya sang anak perempuan yang
cukup manis ini membuang sepatu sang ibu guru ke selokan depan sekolah, bahkan
membanting-banting pintu kelas dan menumpahkan seluruh isi tempat sampah. Hal
ini tentunya merupakan kerjaan tambahan bagi sang ibu guru yang semestinya
mengajarkan pelajaran sekolah sesuai dengan kurikulum yang berlaku, namun
waktunya dihabiskan untuk mengurus anak yang satu ini. Selain itu juga kasihan
kawan-kawan yang lain bila ibu guru hanya memperhatikan satu anak saja,
sementara anak-anak yang lain pun membutuhkan perhatian dan pendidikan yang
sama dan hal seperti ini kurang menjadi perhatian bagi orangtua.
Bagi mereka sudah cukup
memasukkan anak ke sekolah, sudah cukup memasukan anak ke sekolah yang
berlangsung dari pagi sampai petang sehingga masalah-masalah seakan selesai
setelah memasukan anaknya ke sekolah. Mereka tidak disibukkan dengan ulah polah
dan tingkah sang anak yang menyusahkan dan melelahkan karena semuanya sudah
dibebankan pada sang ibu guru di sekolah dari sejak mengajarkan Matematika, Bahasa
Indonesia, membaca, menulis halus, mengeja bahkan makan dengan tangan kanan dan
sholat serta kalimat apa yang dibaca setelah menguap pun semua diajarkan oleh
sang ibu guru. Subhanallah, ini betul-betul guru ekstra.
Sebaiknya memang walaupun para
orangtua sudah menyerahkan anak-anaknya ke sekolah untuk di didik, namun juga turut
membantu perkembangan pendidikan anaknya di rumah, sehingga selaras dengan apa
yang diajarkan di sekolah. Misalkan sang guru mengajarkan pelajaran akademik
dan moral, maka orangtua juga membantu menguatkan pelajaran akademik dengan
melihat pekerjaan rumah anak-anak, juga moral dan akhlak apa yang dibangun di
sekolah. Apa yang mereka dapatkan di sekolah seharusnya diajarkan lagi di
rumah, diingatkan kembali dan bahkan bila perlu ditambahkan sehingga sang guru
merasa senang mendidik anaknya. Guru juga tidak merasa sendirian, ada kawan
lain yang bantu menyokong, ada yang support, bersama-sama menanam dan berharap
hasil kelak, dengan senyum di bibir melihat sang anak kelak mungkin menjadi
salah satu presiden di Indonesia, mengapa tidak?!
Penulis : Fifi P. Jubilea (Founder & Conceptor Jakarta Islamic School)
Penulis : Fifi P. Jubilea (Founder & Conceptor Jakarta Islamic School)

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !