Tri Mumpuni, Perempuan Pemberdaya Listrik - Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia
Headlines News :
Home » , , , » Tri Mumpuni, Perempuan Pemberdaya Listrik

Tri Mumpuni, Perempuan Pemberdaya Listrik

Friday, April 25, 2014 | 10:03 AM

" Hidup Sekali, Hiduplah yang berarti"itulah prinsip yang dipegang oleh Ibu Puni, sapaan akrab beliau

Khalifahlife.com-Tri Mumpuni, namanya dalam kancah socialeunterpreneur tidak asing lagi. Ide beliau dalam memanfaatkan sumber air melimpah di daerah-daerah terpencil untuk dijadikan sebagai pembangkit listrik telah menerangi lebih dari 60 daerah terpencil di Nusantara serta satu desa di Filipina. Bersama suaminya,Iskandar Budisaroso Kuntoadji ia kembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) sehingga listrik bisa hidup dengan bantuan turbin.

Perempuan tangguh ini , mulai menjalankan idenya dibawah naungan yayasan Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (Ibeka) yang dipimpinnya). Secara bertahap langkah demi langkah agar listrik bisa menjadi fasilitas memudahkan masyarakat desa meningkatkan kesejahteraan mereka.

Baginya, tujuan utama bukan listrik tetapi pemberdayaan ekonomi masyarakat meningkat.

Berkat idenya ini, beliau memperoleh penghargaan dari Ramon Magsasay dan bahkan Barack Obama memuji dedikasi membangun listrik untuk masyarakat miskin ini pada pembukaan untuk “Presidential Summit on Entrepreneurship pada 27 April 2010 lalu” di Washington, DC

“Dan dengan wirausahawan berjiwa sosial seperti Bu Puni, yang telah membantu masyarakat pedesaan di Indonesia untuk membangkitkan listrik, serta pemasukan dari tenaga air,” puji Presiden AS Barack Obama,dikutip dalam artikel biografirumus.web.id

Perempuan yang memiliki target menerangi 1000 desa ini juga dinobatkan oleh Republika sebagai Tokoh Perubahan pada 2011 lalu.


Berikut Biografi serta perjalanan beliau dalam kancah sosial disajikan wikipedia :

Nama : Tri Mumpuni Wiyatno
Lahir : 6 Agustus 1964 (umur 49)
Kota Asal : Semarang, Jawa Tengah
Kebangsaan. :Indonesia
Nama lain : Puni
Almamater : IPB Jurusan Sosial Ekonomi, dan Fakultas Pertanian
Universidad da Costa Rica, 1992
Chiang Mai University, Thailand, 1993
Pekerjaandirektur Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan, pemberdaya listrik
Dikenal karenaMendapat Ashden Awards 2012
AgamaIslam
PasanganIskandar Budisaroso Kuntoadji
AnakAyu Larasati (21 tahun)
Asri Saraswati (19 tahun)
Orang tuaWiyatno (alm.) dan Gemiarsih
Tri Mumpuni Wiyatno (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 6 Agustus 1964; umur 49 tahun) adalah seorang pemberdaya listrik di lebih dari 60 lokasi terpencil di Indonesia yang mendapat penghargaan Ashden Awards 2012.

Kehidupan awal dan masa muda

Tri Mumpuni lahir di Semarang pada tanggal 6 Agustus 1964. Ia merupakan anak dari pasangan Wiyatno (alm.) dan Gemiarsih.[1] Kedua orang tuanya mengajarkan untuk berbagi dan memberi. Bahkan, pada kelas 4 SD ia sudah ikut ibunya keliling ke kampung-kampung mengobati orang yang kena penyakit koreng. Dari pengalaman itulah, ia mendapat pelajaran bahwa dari proses hubungan manusia itu uang bukan segala-galanya.

Sewaktu masih muda, ia sudah terbiasa melihat dan membantu ibunya yang aktif dalam kegiatan sosial. Ia juga bercita-cita sebagai dokter, bidang yang sama sekali bertolak belakang dengan keadaannya sekarang ini.
Kontribusi

Ia dikenal sebagai tokoh yang mengembangkan mengembangkan kemandirian masyarakat di kawasan terpencil melalui pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) telah diakui baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Dirinya tidak jarang berhari-hari tinggal di satu desa yang jauh dari akses infrastruktur dan informasi, hanya untuk memastikan kesiapan masyarakat membangun listrik mikro hidro.

Latar belakang dan langkah-langkah pembangunan
Ide awal pembangunan PLTMH berawal dari seringnya Tri Mumpuni bersama suaminya, Iskandar Budisaroso Kuntoadji berkeliling ke desa-desa dan melihat sumber air yang melimpah namum belum ada kabel distribusi listrik dilokasi tersebut, barulah ia melakukan tindakan.[1]

Sebelum diadakan pembangunan, ia dan suami bicarakan kepada kepala desa setempat untuk kemungkinan untuk membangun pembangkit listrik dengan memanfaatkan aliran sungai untuk menghasilkan listrik dari sebuah turbin.

Langkah selanjutnya Tri Mumpuni adalah mengumpulkan data untuk melihat kemungkinannya secara teknis serta menghitung rencana anggaran biaya kemudian mencari sumber dana untuk pembangunan pembangkit.


Setelah itu, ia bersama IBEKA mengirimkan tim sosial untuk membangun komunitas yang baik beberapa minggu dengan masyarakat agar terjalin hubungan yang baik. Langkah awal yang didekati adalah tokoh agama atau tokoh adat setempat.[3] Barulah kemudian masyarakat membentuk organisasi yang akan mengurus turbin, dengan menentukan ketua hingga operator yang tahu bongkar pasang mesin dan organisasi tersebut harus diberi pengetahuan tentang pengoperasian mesin hingga perawatannya

Selanjutnya, agar pembangkit listrik tenaga air itu dapat menjalankan fungsinya terus-menerus maka daerah tangkapan air di hulu harus dipertahankan seluas 30 kilometer persegi. Tidak boleh ada penebangan hutan dan vegetasi.

Manfaat Pengabdian

Hingga sekarang Puni dan suaminya sudah menerangi 65 lokasi dengan tenaga mikrohidronya.[2] Bagi alumnus IPB ini listrik bukan tujuan utamanya, tetapi bagaimana membangun potensi desa supaya mereka berdaya secara ekonomi dan lainnya. Dengan begitu, mereka bisa mengenali peradabannya dan membangun peradabannya

Bahkan, tak sedikit orang yang menawarinya untuk masuk partai politik dalam negeri. Namun, ia dengan tegas menolak tawara itu karena di Indonesia belum pernah ada anggota dewan yang dipuji oleh rakyat. Kini, di luar negeri, aktivitasnya semakin luas. Filipina menjadi satu negara yang memasuki tahap implementasi pengembangan listrik mikrohidro, sedangkan Rwanda dan Kenya masih dalam tahap pelatihan

Sekarang, ia banyak mendapat pembiayaan dari pihak dalam maupun luar negeri.


Prestasi


Ashden Award 2012 dan ia mendapat bantuan sebanyak £20.000 atau sekitar Rp300 juta
Climate Hero 2005 dari World Wildlife Fund for Nature.
Penghargaan Ramon Magsaysay 2011, penghargaan ini ia dapat bersama Hasanain Junaini.



Awal Mula Pembangunan PLTMH :

Tri pertama kali membangun pada tahun 1997 Dusun Palanggaran dan Cicemet, enklave di Gunung Halimun, Sukabumi, Jawa Barat, yang mereka terangi dengan listrik tahun 1997. Untuk mencapai tempat itu harus berjalan kaki sembilan jam atau naik motor yang rodanya diberi rantai sebab jalan setapaknya licin.

“Uang dari listrik dipakai membangun jalan berbatu yang bisa dilalui kendaraan beroda empat. Ini membuka peluang membantu 10 dusun lain,” kata Puni. Yang banyak membantu adalah kedutaan Jepang

Ia sama sekali tidak mendapat bantuan dari manapun. Awalnya masyarakat masih susah dimintai iuran. Namun setelah enam bulan berlalu, Puni kembali lagi ke Dusun Palanggaran. Hal tak disangka pun terjadi. Di desa tersebut sudah memiliki kas sebesar Rp 23 juta. Uang dari listrik dipakai membangun jalan berbatu yang bisa dilalui kendaraan kendaraan beroda empat. Ini membuka peluang membantu 10 dusun lain.(Jwt/wikipedia/berbagaisumber)
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
KANAL : REDAKSI | IKLAN | HUBUNGI KAMI
Copyright © 2011. Situs Portal Berita Keluarga Muslim Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger