Khalifahlife.com - Isu penggunaan hijab atau kerudung di institusi kepolisian ternyata tidak hanya bergulir di Indonesia. Di Finlandia salah satu negara di benua Eropa dengan jumlah muslim minoritas juga memiliki tuntutan yang sama agar wanita muslim disana dapat diterima sebagai anggota polisi dan tidak perlu meninggalkan kerudung mereka yang sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslimah.
Melihat mimpinya untuk bergabung dengan polisi hancur karena hijabnya, seorang Muslim Finlandia telah mendesak pemerintah untuk mengizinkan hijab Islam di seragam polisi untuk mendorong integrasi minoritas dalam masyarakat.
"Saya ingin menjadi bagian dari masyarakat, tetapi masyarakat tidak menginginkan saya," seorang wanita Muslim 38 tahun, yang dilarang bergabung dengan polisi Finlandia, mengatakan pada YLE Kamis, 3 April lalu.
"Masyarakat tampaknya hanya menerapkan norma-norma tertentu ditempat kerja tertentu di mana 'tutup kepala' kita tersembunyi dari warga negara lain," tambahnya.
Hijab : Segala Hal Tentangnya?
Mimpi wanita Muslim untuk bergabung dengan polisi Finlandia telah hancur setelah gagal meyakinkan para pejabat keamanan untuk menerima pakaian Islam nya.
Ditanya bagaimana ia akan bereaksi jika dia tidak diizinkan untuk mengenakan jilbab selama jam kerja? Wanita Muslim menyarankan kompromi yang akan "kompatibel dengan seragam polisi."
Namun, saran nya ditolak.
"Menurut pewawancara hal tersebut tidak mungkin untuk dinegosiasikan, dan saya pun tidak masuk ke sekolah kepolisian," kata wanita Muslim tersebut.
"Saya selalu ingin bergabung dengan kepolisian dan sekarang saya telah dipaksa untuk menyerah pada mimpi saya.
"Hijab adalah identitas dan agama saya; saya tidak dapat melepaskannya selama jam kerja."
Tidak seperti pembatasan hijab di Finlandia, Swedia memungkinkan wanita Muslim berhijab untuk bergabung dengan kepolisian.
"Kerudung, turban dan kopiah Yahudi diperbolehkan karena polisi Swedia ingin orang-orang dari berbagai latar belakang yang berbeda untuk menjadi polisi," kata Carolina Ekéus polisi Swedia.
"Selain itu, mengizinkan penggunaan hijab dipandang sebagai langkah kesetaraan."
Islam melihat hijab sebagai kewajiban dalam berpakaian, bukan simbol agama yang menampilkan afiliasi seseorang.
Kasus ini bukanlah yang pertama dalam memicu perdebatan di Finlandia yang berkisar seputar pakaian keagamaan.
Pekan lalu, pengadilan Helsinki menjatuhkan denda kepada manajer pengecer pakaian karena diskriminasi terhadap karyawan Muslim berhilbab.
Hijab telah berada di pusaran badai sejak Perancis melarang hijab di tempat umum pada tahun 2004.
Sejak itu, beberapa negara Eropa mengikuti.
keragaman
Wanita Muslim Finlandia menuntut perubahan peraturan polisi yang akan membantu dalam memecahkan beberapa masalah imigran di masyarakat.
"Kami, para wanita Muslim yang mengenakan hijab, diperlukan dalam polisi Finlandia," kata pendaftar wanita di kepolisian yang ditolak ketika diwawancarai oleh Silminnäkijä dari Onislam.
"Sebagai contoh saya akan tahu cara lain untuk memecahkan masalah imigran' dari petugas polisi lainnya.
Saya juga bisa melatih polisi lain dalam isu-isu agama dan budaya."
Menurut Universitas Akademi Kepolisian Finlandia, petugas keamanan dari latar belakang agama dan etnis yang beragam diperlukan.
Salah seorang dari Akademi Kepolisian mengatakan bahwa targetnya adalah bagian dari strategi perekrutan mereka."
"Kami ingin polisi menjadi lebih beragam."
Disamping isu tersebut, sebelumnya seorang Pejabat Polisi Nasional berpendapat bahwa simbol agama selama bekerja menunjukkan "sikap negatif."
Dewan polisi mengatakan bahwa : "kerudung akan berisiko untuk ketidakberpihakan polisi dan kehandalan."
"Membiarkan kerudung dapat menyebabkan permintaan lain untuk hak-agama terkait, misalnya hak untuk melakukan sholat," Dewan Polisi mengemukakan alasan penolakannya.
"Penggunaan kerudung dapat berisiko terhadap reputasi polisi yang tidak memihak dan dapat dipercaya."
Para pejabat pemerintah dan pemimpin politik memiliki pendapat yang sama, dan tetap menyerukan untuk melarang penggunaan hijab.
"Sangat penting bahwa polisi dipandang sebagai mewakili kekuasaan resmi, bukan keyakinan agama tertentu," kata pemimpin Kristen Demokrat.
"Jika polisi dapat dipanggil untuk menangani panggilan darurat di mana orang-orang dengan latar belakang ideologi tertentu yang bertentangan dengan satu sama lain, maka seragam resmi juga menunjukkan ketidakberpihakan polisi.
"Saya yakin beberapa orang bisa melepaskan kerudungnya untuk urusan yang resmi," kata Rasanen, yang menyarankan orang-orang yang merasa didiskriminasi oleh hukum untuk membuat pengaduan resmi.
Ada sekitar 40.000 sampai 45.000 Muslim di antara 5,2 juta penduduk Finlandia.
Bagi wanita Muslim Finlandia, menegakkan larangan hijab akan mencerminkan prasangka terhadap minoritas.
"Ini memalukan bahwa Dewan Polisi bersembunyi di balik kode seragam resmi, bukan dengan sederhana mengatakan bahwa kita tidak menerima kamu," kata pemohon yang ditolak.
"Tidak ada gunanya untuk berbicara kesetaraan dan demokrasi di Finlandia, ketika aturannya tidak berlaku untuk semua kelompok."[wn/onislam]
Home »
Berita Internasional
,
HeadLines
,
hijab
,
jilbab
,
jilbab polwan
,
kerudung
,
polisi
» Muslim Finlandia Ingin Polisi Juga Diperbolehkan Menggunakan Hijab
0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !